------ Forwarded Message
From: "rubina"
Date: Thu, 8 Dec 2005 08:21:10 +0700
Subject: FW: Insinyur SUSAH jadi Direktur
----- > Dear Machiners,
> Apakah ada yang CARE, bahwa kalau para tukang
> Insinyur itu 'Susahnya minta ampun' untuk bisa
> menjadi seorang Direktur Perusahaan (kecuali bikin
> perusahaan sendiri). Atau, jangankan direktur
> perusahaan. Jadi General Manager saja sudah susah
> payah. Bahkan ini terjadi di perusahaan Manufaktur.
> Paling banter para tukang insinyur ini jadi kuli
> Pabrik (Factory Manager). Kenapa bisa begini ??!!
>
> Coba simak data yang saya punya.
> Dari survey yang saya lakukan terhadap lebih dari
> seribu perusahaan (95% industri manufaktur) di
> Cikarang, Cibitung, Karawang, Cikampek dan
> sekitarnya. (terdiri dari perusahaan PMA, Local dan
> Campuran), Eksekutif yang berlatar belakang Sarjana
> Teknik dan menduduki jabatan General Manager atau
> diatasnya, hanya ada 7 % saja. Tetapi jika ditambah
> dengan Insinyur Plus (+ MBA atau MM) meningkat
> menjadi 18 %. Coba bandingkan dengan lulusan Sarjana
> Ekonomi, yang lebih dari 60 %. Namun kalau
> dipersempit dengan 'Jalur Karir' yang dilalui, si
> tukang Insinyur. Lebih sedih lagi. Karena, Eksekutif
> berlatar belakang Sarjana Teknik yang berkarir
> melalui 'Jalur Operasional' (bagian produksi,
> engineering dan sejenisnya) cuma 1,4 % saja, Sisanya
> dari 'Jalur Marketing' 16 % dan 0,6 % dari 'Jalur
> Finance'.
>
> Data Quesioner : + 1900 perusahaan
> Data Responden : 1018 perusahaan
>
> Latar Belakang Pendidikan VS Jabatan/Posisi GM dan
> Direktur
> Sarjana Teknik (saja) : 7 % dari total
> responden
> Sarjana Teknik (+ MM/MBA) : 18 % dari total
> responden
>
> Jabatan/Posisi GM atau Direktur VS Jalur Karir
> Jalur Karir Sarjana Teknik
> Total Responden
> Marketing : 16 %
> 55 %
> Produksi/Operasi : 1,4 %
> 5 %
> Finance : 0,6 %
> 35 %
> HRD : 0 %
> 1 %
> Others : 0 % +
> 4 % +
> Total : 18 %
> 100 %
>
> NOTE : Hasil survey merupakan salah satu bahan dalam
> penulisan THESIS yang disusun penulis, dan bersifat
> Internship.
>
> KESIMPULAN :
> 1. Karena Machiners sudah terlanjur mendapat stempel
> tukang insinyur. Kudu nambah elmu ekonomi (S2 saja
> sekalian; karena kursus2 kurang mempan) biar karier
> eksekutif-nya bisa terdongkrak keatas. (Tetapi kalau
> sudah punya MM atau MBA juga, belum mendapat
> jaminan; karena tidak otomotis. Hanya memperbesar
> peluang saja).
> 2. Jangan berkarir dari bidang Operations, seperti
> Produksi, QC, Maintenance, Purchasing, dan
> sejenisnya. Tetapi berkarir-lah mulai dari Sales
> Engineer; karena peluangnya lebih besar. Bagi yang
> sudah terlanjur; buruan aja deh pindah. Mendingan
> telat sekarang daripada nyesel seumur hidup.
> 3. Machiners yang sudah jadi GM atau Chief
> Eksekutif. Segera Bersyukurlah kepada ALLAH SWT,
> karena Anda sudah diberi mukjizat.
> 4. Kalau punya anak, jangan disuruh jadi Insinyur
> (kecuali kalau mau diwarisi perusahaan).
> 5. Data ini hanya merupakan statistik (data tahun
> 2002), Mungkin 5 atau 10 tahun lagi berubah. Berdo'a
> saja lah......
>
> RENUNGAN :
> Orang2 yang jago Marketing dan Finance, lebih
> disukai oleh Pemilik Perusahaan untuk memimpin
> perusahaannya. Para Tukang Insinyur SADAR kah.....
> atas fenomena ini ????!!! (kayaknya Organisasi
> setingkat PII juga belum pernah mikirin ini).
>
>
------ End of Forwarded Message
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "bonsi97" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
