------ Forwarded Message
From: Andro <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 15 Feb 2007 10:58:13 +0700
To: <Undisclosed-Recipient:;;;;;;;;;;;;;;;;>
Subject: Fw: Angin Goreng Sutiyoso


 
Angin Goreng Sutiyoso

 

Eddy Santosa - detik.com <http://detik.com/>

 

Den Haag - Banjir karena siklus lima tahunan? Ah, Gubernur Sutiyoso sedang
jualan angin goreng. Kok warga Jakarta mau melahapnya begitu saja.

"Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima tahunan," (Sutiyoso,
4/2/2007). 

Warga Jakarta, yang dirugikan harta, benda, kehidupan sosial dan psikisnya,
kok diam saja? Coba periksa statistik sejarah, apa betul ada siklus lima
tahunan banjir bandang menenggelamkan Jakarta? Sejak kapan?

Menyimak pernyataan Sutiyoso dan tayangan tangis-derita warga Jakarta di
NOS, VRT Belgia dan CNN, saya langsung meraih pena. Warga Jakarta, bicaralah
dan ambillah sikap. Pernyataan ini kata ungkapan Belanda: gebakken lucht.
Secara harfiah "angin goreng" alias omong kosong, atau menurut bahasa
kampungnya Sutiyoso (Semarang): nggedebus.

Mengapa Sutiyoso tidak secara ksatria mengatakan, "Maaf saudara-saudara,
kami telah keliru membuat kebijakan tata kota, sehingga saudara menanggung
derita dan kerugian tiada terkira?"

Jawabnya simpel saja: kalau Sutiyoso jujur seperti itu dan pasang badan
memikul tanggung jawabnya, maka itu sama saja harakiri. Padahal kabar burung
mengatakan bahwa dia masih berambisi jadi presiden. Bisa wassalam dia.

Tenggelamnya Jakarta itu lebih disebabkan oleh kombinasi moral hazzard,
disintegritas dan inkompetensi pejabat DKI, dengan penanggungjawab akhir:
gubernur, dari sejak sebelum Sutiyoso. Dan soal siklus lima tahunan itu
Sutiyoso ada benarnya. Setiap ada pergantian gubernur, pelenyapan daerah
hijau dan resapan air selalu terulang.

Berapa kali sudah Perda tentang Tata Ruang dilanggar, ribuan hektar daerah
hijau dan resapan air dikorbankan dan disulap menjadi beton-beton "penampung
air"? Jika dibandingkan dengan masterplan tata ruang warisan Belanda, yang
sudah ratusan tahun berpengalaman mengatur Jakarta, berapa besar sudah yang
diacak-acak?

Adalah lucu menangani kawasan ibukota yang begitu luas dan letaknya rendah
dengan hanya meributkan Banjir Kanal Timur (BKT), seolah-olah ini
satu-satunya jawaban mengatasi banjir. Simpul masalah utama adalah ketiadaan
daerah resapan karena telah berubah jadi beton. Sehingga setiap hujan,
Jakarta menjadi kolam beton terbesar di dunia, menenggelamkan semuanya.

Sekiranya daerah resapan mencukupi, air akan cepat reda, merembes ke tanah.
Baru kelebihannya akan mengalir di atas permukaan tanah, mencari
kanal-kanal. Kanal-kanal itu, kalau dilihat di Belanda, fungsinya sekunder,
sebagai saluran akhir dari luapan curah hujan. Sudah daerah resapan air
tiada, kanal-kanal di Jakarta tidak dirawat pula. Ya, banjirlah.

Sutiyoso rupanya tidak sendirian dalam jualan angin goreng. Menteri PU Djoko
Kirmanto, mengutip Menristek, juga sami mawon dengan bungkus terkesan
ilmiah, "...return period banjir kali ini 30 tahun," Aduh! Sudah begitu,
bulan purnama disalahkan juga. "Bulan purnama menjadi salah satu penyebab."

Karena bangsa Indonesia adalah bangsa beragama, maka kalau bulan purnama
ikut menjadi penyebab, ya ini artinya juga kesalahan Tuhan. Enak nian
pejabat Indonesia tinggal menyalahkan alam dan Tuhan. Lalu apa gunanya akal
dan segala sumber daya yang sudah dikaruniakan? Apa pula gunanya ilmu yang
disandang? Seharusnya semua fenomena alam itu dikenali, dikendalikan dan
ditundukkan, dengan perencanaan dan pembangunan yang baik.

Negeri Belanda itu letaknya rendah di muara Laut Utara dan sekitar 60%
wilayahnya berada di bawah permukaan laut. "Negeri" ini bisa dihuni berkat
tanggul-tanggul dan kanal-kanal. Bandara Schiphol itu berada -3m dapl. Tapi
meskipun hujan badai mengamuk, air laut pasang, Schiphol tidak tenggelam.

Kecelakaan pernah sekali terjadi di 1953. Tanggul Zeeland jebol,
mengakibatkan separuh wilayah Belanda tenggelam, 1.836 orang tewas, ribuan
lainnya mengungsi. Sebenarnya sejak 1920 DPU-nya Belanda sudah mendeteksi
ada kelemahan di tanggul itu, namun kabinet saat itu lebih memprioritaskan
pembangunan tanggul Botlek, Brielse Maas (1950) dan Braakman (1952). Ini
menunjukkan, tanpa kendali manusia Belanda tiada.

Lain cerita negeri orang, lain cerita kita. Ketika hari cerah, para pemimpin
kita berpolah, melanglang buana bak raja diraja dari negeri dongeng. Uang
dihamburkan, salah prioritas, keliru penggunaan. Siapa mengurusi kanal dan
kali? Berapa kali dalam periode kali dikeruk? Siapa menjatuhkan sanksi kalau
sampah dibuang sesuka hati?

Kini? Gambar-gambar televisi internasional menjadi karikatur yang
menyedihkan: Jakarta seperti kampung Indian di muara Amazone. Presiden,
gubernur seolah tidak becus mengurus secuil Jakarta. Dan lagi-lagi kita
menengadahkan tangan menerima uluran bantuan.

Salah siapa? Masihkah menyalahkan bulan dan Tuhan ataukah ini semua
akumulasi dari kebobrokan dan ketidakbecusan pejabat kita? (es/es)

 

.
 
 

------ End of Forwarded Message

Kirim email ke