mmhhh....untung gw orang betawi bukan orang jakarta (??!!...)

  ----- Original Message ----- 
  From: Satria Yuliafianto 
  To: Satria Yuliafianto 
  Sent: Thursday, February 15, 2007 11:38 AM
  Subject: [bonsi97] FW: Angin Goreng Sutiyoso



  ------ Forwarded Message
  From: Andro <[EMAIL PROTECTED]>
  Date: Thu, 15 Feb 2007 10:58:13 +0700
  To: <Undisclosed-Recipient:;;;;;;;;;;;;;;;;>
  Subject: Fw: Angin Goreng Sutiyoso


   
  Angin Goreng Sutiyoso 

   

  Eddy Santosa - detik.com <http://detik.com/> 

   

  Den Haag - Banjir karena siklus lima tahunan? Ah, Gubernur Sutiyoso sedang 
jualan angin goreng. Kok warga Jakarta mau melahapnya begitu saja.

  "Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima tahunan," (Sutiyoso, 
4/2/2007). 

  Warga Jakarta, yang dirugikan harta, benda, kehidupan sosial dan psikisnya, 
kok diam saja? Coba periksa statistik sejarah, apa betul ada siklus lima 
tahunan banjir bandang menenggelamkan Jakarta? Sejak kapan?

  Menyimak pernyataan Sutiyoso dan tayangan tangis-derita warga Jakarta di NOS, 
VRT Belgia dan CNN, saya langsung meraih pena. Warga Jakarta, bicaralah dan 
ambillah sikap. Pernyataan ini kata ungkapan Belanda: gebakken lucht. Secara 
harfiah "angin goreng" alias omong kosong, atau menurut bahasa kampungnya 
Sutiyoso (Semarang): nggedebus.

  Mengapa Sutiyoso tidak secara ksatria mengatakan, "Maaf saudara-saudara, kami 
telah keliru membuat kebijakan tata kota, sehingga saudara menanggung derita 
dan kerugian tiada terkira?" 

  Jawabnya simpel saja: kalau Sutiyoso jujur seperti itu dan pasang badan 
memikul tanggung jawabnya, maka itu sama saja harakiri. Padahal kabar burung 
mengatakan bahwa dia masih berambisi jadi presiden. Bisa wassalam dia. 

  Tenggelamnya Jakarta itu lebih disebabkan oleh kombinasi moral hazzard, 
disintegritas dan inkompetensi pejabat DKI, dengan penanggungjawab akhir: 
gubernur, dari sejak sebelum Sutiyoso. Dan soal siklus lima tahunan itu 
Sutiyoso ada benarnya. Setiap ada pergantian gubernur, pelenyapan daerah hijau 
dan resapan air selalu terulang. 

  Berapa kali sudah Perda tentang Tata Ruang dilanggar, ribuan hektar daerah 
hijau dan resapan air dikorbankan dan disulap menjadi beton-beton "penampung 
air"? Jika dibandingkan dengan masterplan tata ruang warisan Belanda, yang 
sudah ratusan tahun berpengalaman mengatur Jakarta, berapa besar sudah yang 
diacak-acak?

  Adalah lucu menangani kawasan ibukota yang begitu luas dan letaknya rendah 
dengan hanya meributkan Banjir Kanal Timur (BKT), seolah-olah ini satu-satunya 
jawaban mengatasi banjir. Simpul masalah utama adalah ketiadaan daerah resapan 
karena telah berubah jadi beton. Sehingga setiap hujan, Jakarta menjadi kolam 
beton terbesar di dunia, menenggelamkan semuanya. 

  Sekiranya daerah resapan mencukupi, air akan cepat reda, merembes ke tanah. 
Baru kelebihannya akan mengalir di atas permukaan tanah, mencari kanal-kanal. 
Kanal-kanal itu, kalau dilihat di Belanda, fungsinya sekunder, sebagai saluran 
akhir dari luapan curah hujan. Sudah daerah resapan air tiada, kanal-kanal di 
Jakarta tidak dirawat pula. Ya, banjirlah. 

  Sutiyoso rupanya tidak sendirian dalam jualan angin goreng. Menteri PU Djoko 
Kirmanto, mengutip Menristek, juga sami mawon dengan bungkus terkesan ilmiah, 
"...return period banjir kali ini 30 tahun," Aduh! Sudah begitu, bulan purnama 
disalahkan juga. "Bulan purnama menjadi salah satu penyebab."

  Karena bangsa Indonesia adalah bangsa beragama, maka kalau bulan purnama ikut 
menjadi penyebab, ya ini artinya juga kesalahan Tuhan. Enak nian pejabat 
Indonesia tinggal menyalahkan alam dan Tuhan. Lalu apa gunanya akal dan segala 
sumber daya yang sudah dikaruniakan? Apa pula gunanya ilmu yang disandang? 
Seharusnya semua fenomena alam itu dikenali, dikendalikan dan ditundukkan, 
dengan perencanaan dan pembangunan yang baik. 

  Negeri Belanda itu letaknya rendah di muara Laut Utara dan sekitar 60% 
wilayahnya berada di bawah permukaan laut. "Negeri" ini bisa dihuni berkat 
tanggul-tanggul dan kanal-kanal. Bandara Schiphol itu berada -3m dapl. Tapi 
meskipun hujan badai mengamuk, air laut pasang, Schiphol tidak tenggelam. 

  Kecelakaan pernah sekali terjadi di 1953. Tanggul Zeeland jebol, 
mengakibatkan separuh wilayah Belanda tenggelam, 1.836 orang tewas, ribuan 
lainnya mengungsi. Sebenarnya sejak 1920 DPU-nya Belanda sudah mendeteksi ada 
kelemahan di tanggul itu, namun kabinet saat itu lebih memprioritaskan 
pembangunan tanggul Botlek, Brielse Maas (1950) dan Braakman (1952). Ini 
menunjukkan, tanpa kendali manusia Belanda tiada. 

  Lain cerita negeri orang, lain cerita kita. Ketika hari cerah, para pemimpin 
kita berpolah, melanglang buana bak raja diraja dari negeri dongeng. Uang 
dihamburkan, salah prioritas, keliru penggunaan. Siapa mengurusi kanal dan 
kali? Berapa kali dalam periode kali dikeruk? Siapa menjatuhkan sanksi kalau 
sampah dibuang sesuka hati? 

  Kini? Gambar-gambar televisi internasional menjadi karikatur yang 
menyedihkan: Jakarta seperti kampung Indian di muara Amazone. Presiden, 
gubernur seolah tidak becus mengurus secuil Jakarta. Dan lagi-lagi kita 
menengadahkan tangan menerima uluran bantuan. 

  Salah siapa? Masihkah menyalahkan bulan dan Tuhan ataukah ini semua akumulasi 
dari kebobrokan dan ketidakbecusan pejabat kita? (es/es)

   

  .
   


  ------ End of Forwarded Message


   

Kirim email ke