Dari milist tetangga saya dapatkan tulisan Mega, seorang PRT (Pembantu RUmah Tangga) di HK, yang cukup menarik menceritakan budaya Tionghoa-HK yang dinikmatinya itu. Mengikuti upacara tradisi "Bun Festival Day" di Cheung Chao dengan kerumunan orang begitu banyaknya sampai melumber. Padahal saya yang sudah lebih 30 tahun sampai sekarang ini belum pernah sekalipun ngikutin secara langsung, ogah berdesak-desak dengan orang banyak, rasanya sudah cukup nonton di-tv aja, deh.
Apa ada yang tahu dan ingat, ada tidak tradisi budaya memuja dewa-laut begitu dikalangan Tionghoa-Indonesia, ya? Salam, ChanCT ----- Original Message ----- From: Mega To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Saturday, June 10, 2006 8:12 AM Subject: #sastra-pembebasan# Bun Festival ¡V Upacara Adat China Bertabur Roti Bak Pao Bun Festival ¡V Upacara Adat China Bertabur Roti Bak Pao Pada hari Jumat 5 Mei 2006, sepanjang jalanan menuju Star Ferry di Central, Hong Kong, tampak cantik. Sebuah gapura besar berdiri kokoh dengan dekorasi warna kas China yaitu merah dan kuning. Menara- menaraan bambu berbalut roti Bak Pao tiruan, setinggi kurang lebih dua puluh meter berdiri tegak di pertigaan terminal bus yang bersebelaham dengan Star Ferry. Semua ini adalah sebagai pertanda masyarakat Hong Kong menyambut datangnya ¡§Bun Festival Day¡¨ (Hari Festival Roti). Hari masih pagi dan loket belum dibuka, namun Star Ferry sudah ramai dipenuhi calon penumpang yang terdiri dari masyarakat lokal dan wisatawan asing. Beruntung saya diajak majikan untuk menonton berlangsungnya Festival Roti, salah satu upacara adat masyarakat China, yang hanya diadakan di pulau Cheung Chau. Festival Roti, dirayakan satu tahun sekali dengan tujuan melakukan pemujaan kepada sang dewa laut dan merupakan pengusiran terhadap roh jahat yang bergentayangan.Ritual upacara yaitu dengan membakar dupa, membunyikan tetabuhan. Kemudian dilanjutkan acara hiburan, yang tujuan hiburan itu, masih dalam rangkaian proses persembahan untuk Dewa mereka, menggelar opera tradisional dan karnaval dengan mendandani bocah-bocah kecil dengan baju etnik beraneka warna. Penyeberangan dengan ferry memakan waktu kurang lebih satu jam. Cheung Chau adalah pulau kecil yang menyajikan keindahan pantai Tung Wan, kuil Pak Tai dan deretam pertokaan yang menjual hasil kerajian masyarakat China dan juga hasil kerajinan dari berbagai negara. Selain itu juga memanjakan selera makan pengunjung lewat berbagai pilihan restoran yang berjejer panjang dengan menu khas makanan China dan sea food. Tapi sehubungan dengan berlangsungnya Bun Festival, seluruh restoran selama tiga hari, tidak menyajikan makanan dari jenis hewan, melainkan cuma Sik Chai yaitu istilah vegetarian. Saya mencicipi sepotong roti kecil, gratis yang di tawarkan penjual roti yang terletak di Pak She Praya Street, roti dalam bentuk utuhnya adalah bulat putih dengan isi di dalamnya seperti kue wajik (kue kas Jawa yang terbuat dari ketan dan gula Jawa). Roti itu dihiasi dengan huruf China berwarna merah bertuliskan ¡§Beng Ngon¡¨ yang berarti keselamatan. Sehingga roti kecil itu disebut Beng Ngon Pao (Beng Ngon artinya selamat dan Pao artinya roti) yang mana di Indonesia dikenal sebagai Bak Pao. ¡§Puluhan ribu Beng Ngon Pao untuk upacara adat ini, juga yang terletak di menara Beng Ngon Pao yang terlihat berdiri tegak itu, adalah buatan perusahaan toko roti kami,¡¨ kata salah satu penjual roti dengan mata berbinar. Saya merespon promosinya dengan senyum saja. Sambil dalam hati mengguman, lha wong penjual punya banyak cara, untuk membuat laris dagangannya. Saya kemudian berjalan mendekati menara Beng Ngon Pao, yang kurang lebih setinggi 20 meter dengan lebar kurang lebih 7 meter. Menara roti Beng Pao ini, menurut cerita dari Mr Chung Kwok Lok, seorang warga Hong Kong yang sudah puluhan tahun menetap di Cheung Chau, adalah untuk menghormati arwah pendudukyang telah meninggal di pulai ini pada abad 19. Masih menurutnya lagi, untuk membuat menara itu diperlukan 80. 000 roti Beng Ngon. Memandang menara dengan tumpukan puluhan ribu roti kecil ini, tentunya membuat kagum seluruh pengunjung. Tumpukan menara roti-roti kecil ini dianggap sangat suci. Di masa lalu orang-orang berlomba memanjat menara dan memunguti roti-roti kecil ini di tengah malam pada hari pertama festival. Di acara panjat menara roti ini pun akan meraih piala dan hadiah lainnya. Sebagai catatan pemanjat yang bisa mengambil banyak roti yang terletak di posisi paling tinggi akan mendapatkan nilai yang terbaik. Roti tersebut dikumpulkan pada kantung yang terletak di punggung si pemanjat. Untuk menghindari adanya kecelakaan, jauh hari sebelumnya peserta pemanjat menara roti dibatasi pesertanya, dan mereka diwajibkan mengikuti latihan semacam panjat tebing. Hal ini dilakukan untuk menghindari terulangnya kejadian tragis di tahun 1978, yaitu menara roboh dan kurang lebih 100 orang mengalami luka- luka berat. Setelah puas mengagumi tegaknya menara Bak Pao, saya berlalu menuju kuil Pak Tin. Bau asap dupa menyengat kuat padahal saya masih berjalan dalam jarak puluhan meter sebelum sampai di kuil dan kepulan asap duka pedas menyerang mata.. Terlihat ribuan masyarakat HK khusuk memuja dewanya. Saya sungguh tertarik dengan keindahan bentuk aneka dupa, ada yang berukuran serangkulan tangan saya dan ada yang berbentuk melingkar seperti obat nyamuk dalam ukuran besar juga, bergelantungan di atap kuil, perempuan¡Vperempuan selain menyalakan dupa juga mempersembahnkan bunga dan sesajian kepada dewa mereka. Tiba-tiba dari arah jalan Pak She Praya, berkumandang tetabuhan mengiringi arak-arakkan puluhan barongsai yang kemudian disusul oleh peserta karnaval yang membawa barang antik khas China, antara lain kereta kuno China. Anak-anak kecil berpakaian adat China, dibantu kaki sambung dari bahan bambu sehingga terlihat tinggi, diarak mengelilingi perkampungan di Pulau Cheng Chau. Karena karnaval upacara adat dimulai pukul 2 siang, bocah-bocah kecil bermata sipit dengan dandanan rada menor, pipi dipulas merah jambu dengan bibir merah merekah, membuat wajah mereka makin nampak cantik dan imut. Mungkin karena persiapan karnaval mulai dari pagi hari, ada bocah peserta karvanal yang rewel bahkan menangis, tentunya karena capek dan panasnya udara di musim panas. Tapi kerewelan mereka malah membuat suasana karnaval makin semarak . Penonton kian membanjiri pulau Cheng Chau, mereka berebut tempat, agar bisa mengabadikan jalannya upacara. Tepat pada pukul 00.00 dini hari, ritual panjat menara roti digelar. Itulah puncak upacara Bun Festival. Setelah acara selesai, roti-roti tersebut akan dibuang begitu saja. (Mega Vristian, PRT di HK ). _________________________ SASTRA-PEMBEBASAN, wacana sukasamasuka sastrakitakita Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free. http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
