Setuju om, makanya g tanya kapan itu? Klo skrg mah semuanya rebutan  "lik no" n 
yg ga akomodir hal2 seperti itu bakalan sepi, liat aja aliran yg dulu amat 
sangat hujat imlek dll skrg malah rayain pake upacara gede2an. Waktu sd yg 
katolik jg tiap imlek dikasih libur kok buat yg merayakan ( tentetif gitu klo 
istilah skrg) ga usah ajuin ijin segala. Emang yayasan n aliran kedua skolah 
ini ( sd n smp) beda. Jadi pas tk sampe sd gak pernah bolos emang dikasih 
libur, pas smp maksain diri bolos dengan segala konsekwensinya karena khusus 
hari itu hak ijin dicabut. Hehehe
Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "Jimmy Tanaya" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Mon, 08 Sep 2008 05:39:58 
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: Re: Bls: Bls: [budaya_tionghua] fwd: Imlek di Kalangan 
Tionghoa-Kristen di Indonesia


Gung,

Rasanya kita sepaham bahwa pengalaman individual (anecdote evidence)
tidak dapat dijadikan dasar untuk suatu generalisir. Bukankah demikian? 

Sebagai contoh lain, saya waktu sekolah baik dari SD sampe SMA, nggak
pernah ada masalah tuh dengan soal ijin merayakan imlek. Baik yg
berupa ijin pulang lebih awal (karena ada ulangan, tuh guru
menyebalkan hehehe), maupun ijin tidak masuk. Sekolah saya dulu campur
aduk dari sekolah kresten sampe katholik.

mohon dicatat bahwa saya tidak mengatakan pengalaman anda salah.
Pengalaman anda benar dan dirasakan oleh sebagian orang juga. Demikian
pula pengalaman saya (dan tin taitai) juga benar. Masalah hanya
terjadi saat ada pihak yg mencoba membenturkan 2 kebenaran ini demi
mencari satu kebenaran absolut.

Nah, sekarang coba kita berusaha memahami situasi saat itu. 
1. Di Indonesia sampai dengan 2001, imlek belum dinyatakan sebagai
hari libur nasional/fakultatif.
2. Sekolah sudah merancang jadwal sekolah dan kurikulum selama satu
tahun, lengkap dengan hari libur ini itu yg biasanya disesuaikan juga
dengan nafas sekolah tersebut (artinya kalo sekul kresten/katolik ya
pasti lebih banyak libur natal-paskah, etc; sementara madrasah lebih
mementingkan idul fitri, dll; ini amat sangat wajar kan?).
3. Semua murid (dan guru) yg masuk di sekolah tsb baik langsung maupun
tidak langsung mengikatkan diri pada jadwal yg sudah dibuat tersebut
dan peraturan sekolah.

Nah sekarang mari kita diskusi:
A. apakah sebelum 2001, tindakan tidak meliburkan imlek itu diskriminatif?
Menurut saya, tidak. Karena apa? karena sekolah hanya mengikuti
peraturan negara.
B. Apakah negara diskriminatif?
Menurut saya, tidak. Karena tidak disemua negara (belum berkembang,
berkembang, maupun maju), hari raya imlek dinyatakan sebagai libur
nasional. Lah kalo demikian, kok cuma indonesia yg kita cap
'diskriminatif'?
C. Mengapa sekolah tidak meliburkan?
Menurut saya, mereka memberikan prioritas pada hal2 lain yg senafas
dengan ciri sekolah.
D. mengapa sekolah tidak meluluskan permintaan ijin (sampe bolos segala)?
Nah, ini yg kita juga tidak saling tahu kan. Cuma, saya berandai2
saja. Bayangkan bagi suatu sekolah yg mayoritas muridnya merayakan
imlek. Kalo semua/banyak murid minta ijin, apakah pengajaran dapat
dilakukan secara efektif pada hari tersebut? merugikan murid (yg ijin
dan tidak) dan guru juga kan. sama juga, kalo ada bolos masal; yg
kesusahan ya sekolah, guru2nya, dan murid2nya. Tidak gampang lho
mengganti 1 hari hilang kedalam hari yg lain.
Jadi ya wajar saja kalo sekolah mencoba 'mencegah' permintaan ijin
(dan bolos) masal tersebut dengan hukuman yg lebih berat, kasih
ulangan, dll. 

Tentu ini masih dugaan.


salam,
jimmy

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Yg anda alami itu kapan? 5 taon terakhir? 10? Apa dari dulu? Jaman g
smp hampir setiap taon dihukum bersihin sekolah ama suster kepala
sekolah gara2 bolos waktu imlek, padahal klo hari biasa bolos paling
diomelin doank. Hehehe gereja katolik jg baru ijinin imlek, hio dll
setelah taon 1900an, sebelumnya sama aja kyk gereja kristen. Mungkin
moderator bisa bagi2 disini sikap vatikan kepada budaya tionghoa
sebelumnya. Thx



Reply via email to