Bismillahirrahmanirahim.
   
  Ketika dawai cinta dipetik oleh Sang Pembawa Berkah dari surga
  Mengalun indah berjuta makna
  Menawarkan madu yang tiada lagi tersisa
  Hanya cinta sejati yang menjadi tambatan luka
  Dua insan mencoba menggugurkan dosa-dosa
  Berikan kekuatan untuk menyempurnakan
  Ya Allah tamparlah rayuan yang mengundang karma
  Jauhkanlah kami dari kesalahan sebagaimana Kau menjauhkan antara Timur dan 
Barat
  Basuhkanlah nurani kami yang kotor dengan air salju yang menyejukkan jiwa
  BarokAllah Azza Wajalla.
   
  Cerita ini terinspirasi dari seorang teman, cukup memukau pribadinya, aku 
salut sama kamu prent, caramu menjalin silaturahmi dengan sesama kadang gak 
bisa diterima dengan akal, khususnya bergaul dengan mahluk Allah yang halus 
perawainya yaitu wanita, mereka memang lemah tapi sebenarnya sangat kuat. Aku 
nilai sih jahat banget mengatakan itu, cuma ya begitulah janji, harus ditepati, 
perjanjian dengan Tuhan lebih utama, tapi syukurlah akhirnya Mulya bisa 
mengambil hikmah, terima kasih juga buat Mulya yang mau meluangkan waktu untuk 
share, semoga sukses selalu buat gadis yang bernama lengkap Putri Kamulyan 
Restu, pesanku cuma satu terus beribadah ya, jadilah yang tercantik di surga 
jangan cuma diangkasa, denger-denger udah gak jadi Pramugari ya???
   
  ****
  Masih berdiri tenang didepan Salaf, mata Mulya tajam memandang seakan 
menerobos alam fikirannya, Mulya ingat hari ini adalah pertemuan mereka, 
sekaligus awal dari perpisahan jarak antara mereka yang cukup jauh dan lama, 
Basoka (singkatan:Bandara Soekarno Hatta) adalah suatu tempat yang menjadi 
saksi bisu perpisahan mereka, mungkin hukumnya wajib dimasukkan dalam album 
kelabu.
  “rupanya telponku kemarin gak sia-sia, kau datang tepati janjimu dengan 
memakai jilbab yang aku sarankan” ucap Salaf seketika.
  Mulya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata, jilbab warna hijau muda memang 
sangat cocok dengan kulit Mulya yang kuning langsat, leher jenjangnya tampak 
sopan terbalut kain yang ada pernik-pernik perak dibelakangnya, kebiasaan 
tersenyum dalam segala situasi membuat kecantikannya tambah beberapa kilo. 
  “sekali pun aku gak pernah berfikir kamu berbohong, sejak kita kenal, kamu 
gak pernah sekalipun memupuskan harapanku” lanjutnya, mata Salaf memalingkan 
pandangan dari Mulya, antrian orang masuk keruang executive lounge bandara 
lebih menarik daripada mempermasalahkan kecantikan Mulya, Salaf tak mau jika 
perasaan sucinya terkotori rayuan syaitan.
   
  Angin kencang membelai lembut menyibakkan ujung kain yang terbentuk atas 
keanggunan gadis berwajah lembut, sekarang makin sipitkan mata yang tak mau 
berkedip, mulutnya seakan mengucapkan kata tapi tak mampu bicara, telapak 
tangannya saling tumpuk menyilang lambang kesopanan orang-orang jawa untuk 
berhadapan dengan orang yang disayangi maupun dihormati.
  “hari ini cerah, aku gak tau ada rencana apa Allah untuk diriku, sejak 
semalam aku gak bisa tidur, setelah shalat Tahajjud aku lantunkan ayat Al 
Qur’an sampai menjelang fajar” ucap Mulya sedikit tersendat.
  “Yakin berangkat ke Banjarmasin, mas? Alasan apa yang menguatkan untuk 
meninggalkan Jakarta? mas anggap Mulya apa selama ini? Apa Mulya menjadi 
pengganggu? Mulya semakin tidak mengerti dengan sikapmu, mas tahu perasaanku 
tapi akhirnya mas juga yang menguburkan cin…ta… itu” ucap tertatih-tatih 
dibarengi hembusan nafas yang cukup panjang guna menimbulkan rasa plong dihati. 
Tapi tidak dalam kenyataannya, masih ada duri yang menancap didadanya, masih 
terasa sesak.
  Berdesir merana hati seakan menggugurkan bunga-bunga cinta yang terlanjur 
bersemi ditaman kalbu, harapan yang dulu pernah terbesit akan yakin terbalaskan 
cinta Salaf, kini tenggelam sebelum berlabuh ke dermaga tujuan. Sejak bertemu 
pandangan pertama lah yang menggelantungi fikiran Mulya. 
  Salaf adalah seorang lelaki yang tak mudah mengatakan cinta, pemuda yang taat 
beribadah itu membuat partikel terkecil dalam pembuluh darah Mulya mengetok 
palu memutuskan untuk bersimpati kepada Salaf, ditambah perhatian yang lebih 
membuat hati Mulya terbang melayang ke surga. Hari ini adalah hari yang na’as 
ketika dalam peraduan dua insan salah satunya dianggap tak bersambut.
   
  “aku gak mungkin berdiri di tiang yang kuyakin tak pernah ada, meskipun aku 
selalu merindukannya” batin Mulya, sekejap matanya terpejam dan tak lama 
terbuka lagi.
  “sebelum mas pergi, sudikah jawab pertanyaanku dengan jujur?” pinta Mulya 
dengan suara pelan. Seketika Salaf mengangguk tanda setuju.
  “apa mas mencintai Mulya?”
  “iya…aku mencintaimu” jawab Salaf.
  “aku bahagia mendengarnya, seberapa besar cinta mas? Kenapa mas malah memilih 
pergi jauh dari Mulya?”
  “cintaku kepada Mulya tak sebesar kekaguman seorang nelayan memandang luasnya 
lautan, tak setebal rasa bangga Gajah Mada mencintai Nusantara, cintaku hanya 
setipis bulu alis yang kamu punya, maafkan aku” tegas dan lugas Salaf 
mengutarakan perasaannya.
   
  Setetes air tiba-tiba keluar dari mata indah Mulya yang tertutup, 
dibiarkannya mengalir dipipi, tak ada niat untuk menghapusnya. Betapa ia tak 
percaya seorang pangeran yang sering muncul dalam mimpi hanya segitu besarnya 
rasa trisno (jawa:suka) kepadanya. Tak pernah terbayangkan rasa sakit yang 
bergejolak dalam batinnya, mungkin hatinya seolah dicacah-cacah dengan belati 
yang ketul (jawa:tumpul). Merajut kesedihan apakah mungkin bakal berkesudahan 
secara mudah, apakah ini yang ditakdirkan Allah pada hambanya yang hina, begitu 
cinta ada didepan mata kenapa Kau menjauhkan dari dekapan, merpati yang 
terlanjur sayang dengan tuannya bisa dipastikan kembali dalam sangkar yang 
dicintainya. Tapi Salaf bukan merpati, dia seorang hamba Allah yang mempunyai 
kewajiban dan tanggung jawab. Mungkin ini awal dari kehidupan mereka, awal dari 
kebahagian batin akan dicoba dengan beling-beling (baca:pecahan kaca) yang 
berserakan dibawah alas kakinya. Justru beling itulah nantinya yang akan
 menjadi hikmah luar biasa. Bismillah…
   
  “aku pergi untuk memenuhi janji, janji kepada Allah, aku ingin sedikit 
mewujudkan rasa syukurku kepadaNya, pak Kyai Fahrur menyarankan untuk 
menjalankan puasa Dala’il (arti:puasa yang dilakukan setiap hari kecuali 
tasyrik dalam jangka waktu tertentu atau seumur hidup bagi kalangan sufi dengan 
catatan telah mendapat ijazah dari Ulama), sebagai tempat konsentrasi ibadah 
aku memilih Martapura, cinta kepada Allah hukumnya wajib…Mulya, cintaku 
kepadaNya melebihi segala-galanya” amat tegas penjelasan Salaf, bertambah deras 
air mata yang jatuh dipipi Mulya mendengar penjelasan itu.
   
  “apa janji itu gak bisa dipenuhi dijakarta?” kenapa harus jauh dari keluarga 
dan ju..ga…Mulya…???” tanya Mulya dan tiba-tiba bibirnya tersenyum menandakan 
sedikit lega serta bangga, bangga kepada sosok pemuda yang dicintai begitu 
mengagumkan pribadinya. Sangat bersyukur Allah mempertemukannya dengan pemuda 
yang tak hanya tampan tetapi juga memiliki religi yang kuat. 
  Tangan Mulya menyambut sapu tangan yang sejak tadi diulurkan Salaf, mulai 
menghapus sedikit demi sedikit linangan air mata, Maha Suci Allah yang telah 
menciptakan wanita dengan keunikannya, suka dan duka susah dibedakan, keduanya 
sering ditandai dengan isakan tangis dan derai airmata, tak berapa lama 
bertambah mengembang senyum gadis cantik itu untuk mulai membuka mata hati 
menyadari itu semua.
  “mungkin dijakarta sulit konsentrasi, disamping itu aku juga membantu dakwah 
paman Mudasir disana, aku perlu kekhusu’kan Mulya, selama 5 tahun kita bakal 
terpisah luasnya lautan, jika Allah mengijinkan kita bertemu lagi, aku ingin 
Mulya jadi pendampingku untuk berjuang dijalan Allah, mau kan jadi istriku??” 
ajakan Salaf merubah harapan cinta Mulya yang semula sirna kini kembali terbit, 
alasan Salaf yang begitu bijaksana membuat hati Mulya kembali menampakkan 
otot-otot kuat, memandang kehidupan cerah jika sabar menunggu 5 tahun kedepan. 
Amin…
   
  “tidak perlu dijawab mau atau gak menjadi istri mas, Mulya rasa mas sudah 
bisa menebak jawabannya, Mulya bangga dengan mas, ketika pemuda sekarang 
bersahabat akan gemerlapnya dunia dengan sibuk mengumpulkan harta tapi mas 
memilih dekat kepada Allah dengan sibuk mengumpulkan pahala, semoga Allah 
mengijabahi (arti:mengabulkan) niat tulus mas, Mulya adalah hamba yang tak 
sempurna, tak berhak juga menghalangi janji mas kepada Allah, Mulya ikhlas 
berpisah selama 5 tahun, Mulya akan sabar menunggu” jawab gadis jelita yang 
mempunyai tinggi 170 cm itu.
  Suara riuh ramai orang berlalu lalang diarea Basoka tak menyurutkan pertemuan 
mengharukan dua insan, seandainya saling adu pandang mereka dimengerti 
orang-orang sekitar, mungkin suasana hati haru mendung bisa mengalahkan 
cerahnya awan yang menyelimuti bandara siang itu. 
  *** cape nulisnya bersambung aja deh ***
   
  ShodaqAllahul’adzim.
  “shalawat dan salam Sang Pangeran Cinta Muhammad SAW”

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke