|
CERITA TENTANG ORANG MISKIN DAN TERBELAKANG - 02 Maret 2007 - 11:50 (Diposting oleh: Editor) Oleh: Eni Kusuma
Sebenarnya ini hanyalah cerita mengenai saya. Cerita yang tidak begitu spesial untuk dikisahkan. Sama seperti orang-orang miskin lainnya. Terutama yang hidup di desa-desa di wilayah Indonesia (namun saya lebih beruntung hidup di pinggiran kota kecil). Seperti halnya orang miskin pada umumnya, saya pun tinggal bersama kedua orangtua yang hidup sangat pas-pasan. Boleh dibilang kami hidup dengan gali lubang tutup lubang untuk menyambung hidup.
Usaha apa pun telah dilakoni orangtua saya, dari jualan kue, kerupuk, nasi bungkus, disambi juga dengan memulung sampah di dekat rumah, tapi belum menampakkan hasil hingga berkali-kali mengalami kegagalan. Mungkin karena sumber daya manusianya yang enggan untuk "belajar". Saya rasa orang miskin lebih "ngeyel" atau tidak mau mendengar nasihat seseorang yang lebih tahu. (Duh... dosa-dosa-dosa, maafkan saya bapak dan ibu). Mungkin ini subjektif, namun yang saya tahu, lingkungan kami memang miskin namun orang-orangnya sok. Yang tak "tahu" sok tahu, yang "tahu" pun tidak mau berbagi, dan yang hidup berkecukupan pun sok gengsi dan pamer kekayaan yang secuil.
Dan seperti yang telah saya baca di Pembelajar.com, yaitu artikel dari Andrew Ho yang berjudul "Kegigihan" bahwa orang susah itu suka mencari kejelekan orang lain. Maka, gosip menggosip pun menjadi budaya di sana, di antara para tetangga ...he he he... Mungkin saya dijitak orang sekampung kalau pulang nanti....tobat aja dah.
Suatu ketika, saya mendapati Ibu menangis (kalau Bapak sih cuma diam). Rupanya beliau ketakutan sama orang yang mau nagih utang. Karena biaya sekolah saya dan dua kakak perempuan saya dulu pun dari ngutang sana sini. Pemandangan ini memang kerap sekali saya dapati semenjak saya masih sekolah, bahkan kadang Ibu sembunyi di belakang lemari. Oke, mungkin ini lucu. Namun tidak bagi saya ketika itu. Saya sebagai anaknya pun kerap disindir oleh tetangga. Maka saya pun anti sosialisasi ceritanya.
Namun tangisan Ibu kali ini lebih serius. Setelah konfirmasi ke kakak saya, dia mengiyakan, kali ini benar-benar kritis. Ibu terlibat hutang rentenir yang selama ini ditutup-tutupi. Dengan bermodal uang Rp50 ribuitu juga dapat dari ngutangsaya pun pergi tanpa restu karena saya tidak diizinkan menjadi seorang pembantu. Maklum, gengsi pada tetangga.
Tujuan saya ke Malang mencari PJTKI. Dari situ saya berangkat ke Hongkong, menjadi pembantu rumah tangga. Berharap dapat uang banyak untuk membayar hutang agar kehidupan orangtua saya damai. Apalagi saya mempunyai kemenakan yatim yang harus sekolah.
Itulah sekilas potret orang-orang miskin yang ada di sekitar kita yang terwakili oleh saya. Tidak saja orang kaya, orang miskin pun punya ego dan gengsi. Serta budaya gosip-menggosip antara tetangga memang telah benar-benar membudaya di kalangan masyarakat kita. Waktu hanya dihabiskan untuk berdiskusi tentang hal-hal yang tak bermutu. Tak heran, Indonesia benar-benar terbelakang.
Jika saja mereka bahu-membahu, saling mendukung dan menyemangatibukan dengan saling menjatuhkanmungkin kita bisa berharap kehidupan akan menjadi lebih baik. Saya rasa bukan SDM saja yang menjadi kendala bagi masyarakat kita, tetapi kepribadian juga menjadi faktor penentu. Dan semua itu berawal dari tidak sukanya masyarakat kita akan "membaca". Terutama membaca hal-hal yang bermutu. Tidak saja membaca, namun bisa menyadari dan mengamalkan makna yang ada.
Kehidupan di desa-desa pun sangat memprihatinkan. Para TKW yang mengadu nasib di luar negeri pun sebagian besar berasal dari keluarga petani yang miskin. Dan kita tidak bisa mengelak jika masih ada saudara-saudara kita yang masih makan tiwul atau gaplek atau hanya dengan bubur dan garam. Apa sih yang salah dari mereka?
Jika Anda bertanya pada saya. Saya pasti mengangkat bahu. Saya benar-benar tidak tahu, kenapa mereka sedemikian terbelakang. Tidak ada keberaniankah mereka untuk keluar mengadu nasib dan belajar dari orang lain? Mungkin. Tidakkah mereka punya semangat untuk belajar dan berpikir kreatif? Mungkin. Tidak terlintaskah di benak mereka untuk belajar dari hidup? Mungkin. Sedangkan petunjuk tentang hidup sudah tersebar bahkan sampai ke desa-desa melalui kitab-kitab suci mereka? Ataukah mereka salah dalam memaknai? Sehingga banyak dari mereka yang percaya akan takhyul yang justru menyimpang dari ajaran agamanya?
Berbeda di desa berbeda pula di kota. Dalam kesempatan ini pula, saya akan menceritakan tentang keadaan rekan-rekan saya di tanah rantau. Ini berdasarkan pengamatan saya yang bergaul dengan sesama rekan TKI. Kebanyakan mereka silau akan kehidupan di kota. Keliru dalam memaknai apa itu kebebasan. Terutama bebas yang bertanggung jawab. Memang tidak semuanya, namun sedikit dari mereka yang benar-benar mempunyai tujuan hidup.
Jika Anda bertanya lagi kepada saya mengenai rekan-rekan saya yang terlibat dalam kebebasan seksual dari yang heteroseksual dan homoseksual alias lesbian, saya juga pasti akan mengangkat bahu. Apakah mereka terlalu rapuh dalam mengarungi cobaan-cobaan di tanah rantau dengan melampiaskan ke dalam kenikmatan sesaat? Mungkin.
Sedangkan mereka dan kita semua berhak untuk memilih mau menjadi apa kita dalam setahun, dua tahun, lima tahun bahkan sepuluh tahun yang akan datang. Jika dari sekarang mereka tidak memikirkan untuk menginvestasikan kegiatan yang positif, yang akan menunjang hidupnya kelak? Sungguh, saya tidak bisa berkata apa- apa lagi. Apalagi mereka terpengaruh oleh wacana tentang homoseksual yang dilegalkan atas nama HAM.
Jadi, bagaimana menurut Anda?[ek]
* Eni Kusuma adalah alumnus SMU 1 Banyuwangi yang saat ini bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga (TKW) di Hong Kong. Di sela-sela kesibukannya sebagai pemburu devisa, ia masih sempat aktif sebagai moderator milis Backhomers, serta jadi aktivis di milis De Kossta dan milis Penulis Best Seller. Eni adalah penggagas rubrik "So What Gitu Loh!" di majalah PEDULI yang terbit di Hongkong. Eni suka menulis cerpen, puisi, dan pernah menulis sebuah naskah novel. Puisi Eni bersama 100 penyair Indonesia dibukukan dalam buku berjudul "Jogja 5,9 Skala Richter". Eni suka menulis artikel yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai pembantu rumah tangga, serta proses pembelajarannya melalui bahasa tulisan. Saat ini, kumpulan artikel motivasi Eni sedang diproses menjadi sebuah buku oleh sebuah penerbit di Jakarta. Eni dapat dihubungi di: [EMAIL PROTECTED]
[Pembelajar.Com::]
|