bagi teman-teman yang suka baca, silahkan...
Perasaan gelisah masih tertanam dalam hati Kemal, duduk dikursi busa yang
terbalut kain bercorak kembang-kembang guna menunggu giliran masuk keruangan
Direksi, tampak pintu bertuliskan Ruang Direktur tepat berada didepan Kemal
duduk menunggu, jantung berdegup semakin kencang tak beraturan, sesekali ia
menengadahkan dagu untuk menatap sesaat tulisan itu tapi tak bertahan lama,
lalu wajahnya tertunduk lesu dengan masih menyimpan perasaan tanya, tak
biasanya seorang karyawan rendahan dipanggil langsung oleh direktur untuk
menghadap ke ruangannya, jika orang yang mempunyai kesalahan atau ijin untuk
mengundurkan diri atau ada kepentingan lain yang harus minta keputusan Direktur
itu lumrah (jawa:wajar) untuk menghadap, tapi Kemal termasuk karyawan biasa
yang mempunyai tanggung jawab hanya kepada kepala Divisinya, tak ada
kepentingan apa-apa untuk menghadap Direktur, kalaupun ada kesalahan hanya
Managernya yang dipanggil, ia pun juga tak ada niat untuk resign
(arti:mengundurkan diri).
mbak
mbak Desi, ada apa sih aku dipanggil pak Prakoso? tanyanya penuh
khawatir, seiringan wanita berambut panjang lurus berjalan didepannya, wanita
yang biasa dipanggil mbak Desi itu adalah tukang terima telpon (baca:operator).
Biasanya siapa saja yang ada kepentingan telepon masuk atau keluar harus
berhadapan dengannya, suaranya memang merdu tak salah jika pak Prakoso
menunjuknya sebagai operator, selain suaranya yang sesuai dengan wajah, ia juga
cukup cekatan dalam bekerja.
lah
meneketehe
hayooo dimarahin kali celetuknya sambil melempar senyum dan
berlalu.
yeee
ditanya serius malah bercanda balas Kemal.
bismillah
semoga gak ada apa-apa ucapnya dalam hati. Kembali menundukkan
kepala, meskipun melihat kebawah tapi ia tak memperhatikan apa-apa yang ada
dibawahnya. Lalu matanya terpejam tak lama terbuka lagi, mulutnya sambil
berkomat-kamit membaca doa agar diberi rasa tenang.
Seketika muncul wanita berjilbab berdiri didepan Kemal, wanita itu
memberanikan diri tuk menyapanya, tapi masih ragu.
maaf mas
sandal yang mas pakai, itu sandal saya sapanya halus, meskipun
kata yang ia ucapkan sedikit, tapi membuat lawan bicara seakan terpaku melihat
kesopanan nada bicara yang memikat.
Wanita berjilbab lebar itu menarik senyum yang anggun disertai dengan
anggukan kepala tanda hormat membuat orang berfikir 13 kali jika ingin
mengacuhkannya, Kemal sejenak berfikir siapa wanita itu yang mengaku-ngaku
sandal yang ia pakai adalah sandal miliknya, ia tak pernah melihatnya dalam
lingkungan kantor, bagaimana ia masuk, siapa namanya, mungkin terlalu banyak
pertanyaan yang muncul dalam benaknya, dengan segera ia patahkan dengan
memandang alas kakinya.
masyaAllah
aku dari tadi bawa sandal, kenapa gak kerasa ya?! celetuknya
tanpa ada rasa salah.
Memang panggilan mendadak pak Prakoso membuatnya gugup, Kemal mendengar kabar
disuruh menghadap penguasa perusahaan tempat ia bekerja setelah selesai
melaksanakan shalat sunnah menjelang pertengahan hari. Dengan terburu-buru ia
memakai sandal yang ada diMusholla, tanpa melihat sandal siapa yang ia pakai,
pikirnya sandal yang berada disitu adalah sandal umum.
Sangat disayangkan sebuah gedung berlantai 10 hanya memiliki satu Musholla
yang hanya berkapasitas 50 jamaah, disetiap lantai dihuni satu macam
perusahaan, setiap perusahaan minimal memiliki 20 orang pegawai muslim yang
aktif shalat berjamaah, bisa dibayangkan jika waktunya shalat wajib tiba banyak
yang bersabar menunggu giliran. Tapi tidak apa-apa, menunggu giliran masuk
surga lebih hasanah daripada menunggu dalam hal kesesatan, Allah lebih suka
menguji umatnya yang taat dengan kesabaran namun Allah akan membalasnya kelak
dengan memberikan nikmat lebih dari yang kita bayangkan, itu janjiNya.
Suara pintu terbuka, itu terdengar dari suara pintu ruang direktur, tapi
Kemal masih mencoba menenangkan rasa malunya terhadap wanita yang tak ia kenal.
sekarang giliranmu ucap pak Karto yang baru saja keluar dari ruangan pak
Prakoso, wajahnya berbinar-binar mungkin ia menerima keputusan yang
menyenangkan. Kemal menginginkan situasi yang sama menimpa dirinya. Tanpa
berfikir panjang Kemal dengan segera masuk keruangan direktur tanpa memakai
alas kaki.
permisi pak
maaf saya menghadap tidak memakai alas kaki, lupa
sapanya malu
sambil nyengir ragu, rasa malu ditambah takut bercampur aduk entah apa jadinya,
yang pasti sekujur tubuh gemetar tak tertahankan.
wis ora popo, aku cuma sebentar saja, mau ngobrol sedikit sama kamu tangan
pak Prakoso menarik pundak Kemal untuk menawarkan duduk diruangannya, bahasa
tubuh pak Prakoso langsung dimengerti karyawan yang usianya termuda
diperusahaannya itu.
terima kasih, pak jawab Kemal, hatinya sedikit rileks karena ucapan pak
Prakoso membuat ketegangan menjadi lebur, sapa ramahnya melelehkan ragu yang
semula membatu.
saya ingin menyerahkan surat ini kepadamu dengan tangan saya sendiri, saya
ingin kamu menerima tantangan yang saya tawarkan, nanti kamu buka sendiri
isinya apa, sudah saatnya saya menunjuk anak muda yang kreatif seperti kamu
ucap pak Prakoso pelan nan tegas.
saya tidak mengerti maksut bapak? sahut Kemal.
Kemal adalah seorang anak muda yang sudah empat tahun bekerja diperusahaan
itu, ia dikenal sebagai tukang gambar sipil maupun gambar elektro, ia sangat
paham membaca gambar apalagi mengakumulasi project lewat gambar tehnik, melihat
kemampuan yang dimiliki Kemal, seorang penguasa perusahaan sudah jauh hari
meliriknya untuk menawarkan tantangan yang lebih menguji kekreatifannya,
mempercayakan untuk menangani project dari awal sampai akhir. Itu memang bukan
pekerjaan yang gampang bagi pemuda seusia Kemal, ia harus bisa mandiri berfikir
bagaimana caranya project itu terselesaikan dengan cepat dan hemat, itulah yang
diinginkan semua perusahaan, mengefisiensikan pengeluaran dan meraup
sebanyak-banyaknya keuntungan.
sudah
surat itu kamu baca dirumah saja, oh ya kapan kamu nikah? pertanyaan
pak Prakoso menyimpang jauh dari apa yang sedang diangankan Kemal, belum tuntas
ia bertanya-tanya apa isi yang ada didalam bungkusan amplop coklat yang
dipegang, sudah muncul pertanyaan yang mengundang gundah dalam batinnya selama
ini.
Semua orang sangat menginginkan pernikahan, begitu juga Kemal, hanya lewat
sunah Rasul itulah yang bisa menghalalkan hubungan antara lawan jenis yang
saling menyinta, jika sudah waktunya tiba obat untuk tambatan rindu hanyalah
halalnya bercinta, jika berkobarnya persahabatan tak cukup lagi mencurahkan isi
hati, apalagi yang dicari, jika insan terjerembab dalam keresahan hanya
motivasi dari pasangan yang diharapkan, jika malam malam terasa sunyi dan angin
malam tak lagi menebarkan hawa hangat, apalagi yang dicari, hanya pernikahanlah
jalan menuju keberkahanNya.
pernikahan itu sama dengan bisnis yang kita jalankan, jika kamu berani
mengambil keputusan sekarang ya harus siap dengan resiko yang bakal dihadapi,
kita tetap hadapi prosesnya tapi ingat hasil akhir yang kita ambil, kalau
bisnis kita hasil akhir adalah keuntungan kalau pernikahan hasil akhir ya
pahala dari Allah, yang penting barokah.
Tak biasanya pak Prakoso berkoar tentang kebajikan, tapi kali ini beda, ia
bukan berperan sebagai Direktur yang setiap hari mendoktrin karyawannya untuk
bekerja seefisien mungkin demi mengejar laba tapi juga sebagai ustadz penyejuk
jiwa disaat seorang karyawan merindukan dakwahan. Apa yang dikatakan beliau
memang tak salah,
itu dia pak, saya masih ada yang dipikirkan, masih ada yang kurang cetus
Kemal.
kurang opo kowe?
kulo kirang kalih pak?!...maksutipun kalih sinten?
hwuahahahaaaaa kelakar pak Prakoso tak bisa ditahan, serentak ruangan yang
hanya diisi dua orang saat itu seraya ramai gelak tawa terdengar sampai keluar.
Sambil mengucek-ucek mata, pak Prakoso melepaskan kacamata yang ia pakai,
beliau masih tertawa cekikikan mendengar guyonan Kemal.
Kemal
Kemal
diluar sana para bidadari itu antri menunggumu ucapnya sambil
menahan senyum lalu meneguk segelas air putih yang telah tersedia dimejanya.
amin
semoga begitu batin Kemal sambil tertunduk malu.
kamu minum saja teh itu, tadi ada tamu buru-buru pulang, gak jadi diminum,
sudah terlanjur dibuatin sama pak Wage, ayo minum ajakan bapak Direktur yang
semakin terlihat kerutan diwajahnya jika tersenyum.
Ini semua berkat pak Wage, karenanya rasa haus Kemal terobati sesaat,
hilangnya rasa malu dan bingung terbalaskan dengan mendapat rizqi berupa
minuman, tak heran jika semua karyawan termasuk Kemal selalu menaruh syukur
kepada pak Wage, beliau yang setiap pagi tak pernah lupa tugas dan
kewajibannya, meskipun sekedar office boy diperusahaan itu, ia tak pernah
terlambat dalam melayani pak Prakoso dan para karyawannya. Tempat tinggal yang
amat jauh tak pernah menghalanginya mencari nafkah yang halal bagi keluarga.
Jarak yang ditempuh dari desa Parung ke Sudirman memakan waktu satu jam dua
puluh lima menit, yang membuat semua karyawan salut ia tak pernah mengeluh
meskipun mengendarai sepeda motor vespa keluaran tahun 1982, motor tua yang
selalu menemani kulitnya yang sudah kisut tersengat panas matahari, motor butut
yang selalu membuat kesal jika hujan mengenai busi lalu mogok dijalan.
Pak Prakoso mulai membereskan agenda yang diperlukan untuk pertemuan dengan
klien, tiba-tiba suara beep dari handphone-nya mengheningkan beberapa detik
obrolan mereka berdua, pak Prakoso berkomat kamit membaca email yang diterima
dari ponsel-nya, lalu membereskan kertas berisi penawaran harga yang semula
berserakan dimeja, Kemal masih tampak memperhatikan kesibukan pak Direktur, tak
lama Kemal mengambil inisiatif ijin keluar ruangan karena merasa pertemuan
dengan pak Prakoso sudah cukup, lalu suara dehem disertai senyum ramah pak
Prakoso mewakili jawaban setujunya.
Langkah gontai kaki Kemal untuk kembali ke meja kerja masih terasa berat,
dengan adanya beban yang masih menyembunyikan jawaban belum pasti dalam
batinnya atas pembicaraan dengan pak Prakoso, dari isi amplop coklat yang ia
pegang sampai dakwahan nasehat menikah, tapi argumen yang terakhir tak merasa
itu sebagai beban, ia merasa tertantang untuk mewujudkannya, tapi entah kapan,
mengingat apa yang ia resahkan tak kunjung pergi dan menjelma menjadi hikmah,
prioritas utama Kemal yaitu ikhtiar mencari seorang wanita yang mengutamakan
ibadah demi tercapainya keluarga yang sakinah, nilai wanita dimata lelaki
muslim adalah kecantikan, kekayaan, dan juga keturunan, tapi yang harus dinomor
satukan adalah ibadahnya kepada Allah, percuma jika kecantikan dan kekayaan
membutakan nafsu manusia, jika itu hilang dimakan usia dan tak kekal,
kekhawatiran untuk bertahan apa bisa disombongkan.
Kemal berjalan santai tetapi pikirannya masih menerawangkan sesuatu, ia mulai
membaca siapa wanita yang mau diajak menikah dengannya seketika tanpa mengenal
pribadi masing-masing, sosok pemuda yang tak mengenal pacaran itu menerka-nerka
dalam harap, sejak ditinggalkan Maya sahabatnya yang diam diam menaruh hati
dengan Kemal, ia merasa minder bergaul dengan wanita, Kemal selalu berfikir
hatinya jahat dimata wanita, sejak Maya menangisi sikap egois Kemal yang
ternyata menganggapnya tak lebih dari seorang sahabat. Kemal memang tak pandai
membaca perasaan kaum hawa, seandainya waktu bisa diputar seperti mudahnya
memutar mainan gangsingan yang arahnya tinggal ditarik berlawanan, Kemal akan
menyambut maksut cinta tak terbaca dimata Maya.
Maya adalah sosok wanita yang memiliki semuanya, kecantikannya tak diragukan
lagi, wajah cantik yang alami membuat semua lelaki tak berkedip memandang jika
berhadapan dengannya. Kemal merasakan curahan hati ketika resah terasa nyaman
terutarakan depan Maya, cara berfikirnya yang bijaksana jarang dipunyai
kebanyakan wanita yang menjalani pendidikan psikologi di Universitas Indonesia
itu.
tidak
bukan Maya, dia bukan untukku, maafkan aku Maya, semoga kau bahagia
dengan suamimu batinnya mencoba menghilangkan rasa sesal yang hinggap tak lama
pergi. Dan ia bersyukur persahabatannya tidak hancur mengikuti leburnya
perjalanan cinta Maya, ternyata persahabatannya masih kekal sampai sekarang.
Kemal sudah duduk dimejanya, menatap laptop yang sedari tadi ditinggalkannya
untuk menghadap pak Direktur, laptopnya dibiarkannya nyala, tampak layarnya
yang ber-background gelap masih kosong tanpa terbuka program selama ia tak
ditempat, Kemal masih senyum-senyum sendiri.
jodoh adalah salah satu dari sekian anugrah yang menjadi rahasia Ilahi, aku
segera datang menjemputmu kata yang tak terucap dalam suara.
Keyakinan Kemal mulai terbaca dari mengepal tangan kanan yang kuat, ia yakin
manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan, lelaki yang baik-baik hanya untuk
wanita yang baik-baik dan sebaliknya. Mau tak mau ia harus belajar dari
kegagalan masa lalu yang tak pandai memahami perasaan wanita, Kemal mulai
membuka hati yang dulu keras untuk menjadi lunak, sekeras apapun batu karang
akan hancur jika terus menerus terpercik air, ia tak boleh mempertahankan
egoisnya, ia tak boleh ragu dan tak boleh jadi pengecut, harus berani mengambil
sikap, sudah sepantasnya untuk memfokuskan diri memimpin sebuah keluarga.
Senyumnya melebar dan dibarengi anggukan kepala yang tak terhitung berapa
kali ia melakukannya, karena teringat salah satu artikel yang pernah ia baca.
Seorang yang tidak mau menikah karena enggan memikul beban beristri, anak-anak
dan rumah tangganya adalah seorang penakut dan pengecut. Sebaliknya seorang
yang hidup dengan berbagai keluarga dan rumah tangga adalah pemberani, ia
adalah orang yang menang dalam kancah pertempuran.
bismillah
aku melangkah menuju sunnahmu ya Rasul, berkahi ya Allah niat
hambaMu, amin semakin kuat dan bulat tekat yang diyakini Kemal.
Tepukan tangan pak Wage dipundak Kemal yang secara tiba-tiba mengagetkannya,
mungkin dari tadi pak Wage memperhatikannya dari kejauhan, sambil menaruh
mangkok yang berisi pempek yang sejak pagi dipesan Kemal, pempek yang sudah
kelihatan tak hangat lagi itu disajikan dengan pelayanan tulus pak Wage,
meskipun kelihatan sudah tak mengundang selera namun perhatian pak Wage yang
menghangatkan suasana menjadi tak hambar, ia sengaja menyimpannya didapur
karena ia tahu yang mpunya dipanggil keruang pak Prakoso.
ada apa toh mas, dari tadi senyum-senyum sendiri?
gak ada apa-apa pak, cuma teringat sesuatu
ya berarti ada apa-apa dong
wah pempek yang tadi pagi saya pesan ya, kenapa gak dimakan sekalian pak
yah
saya kan sudah dibelikan satu, itu sudah cukup mas
Setiap kali Kemal menyuruh beli makanan selalu memberi uang dua kali lipat
harga makanan itu, biar pak Wage ikut merasakannya. Pak Wage memang terkenal
ringan tangan, sering ia menolak imbalan jasa yang diberikan setelah membelikan
makanan karyawan, dengan alasan sudah kewajiban melayani mereka. Adalah Kemal
yang selalu membuatnya merasa tak enak, pak Wage selalu tak bisa menolak
pemberian Kemal, kedekatan Kemal dan pak Wage seperti anak dan bapak, rayuan
Kemal untuk memberi imbalan kepadanya tak bisa dikalahkan. Ikhlas memberi
kepada sesama harus diterima ikhlas juga bagi penerima, rizqi itu datangnya
dari Allah, kalau pak Wage menolak berarti tak mempercayai Kemal yang telah
dipasrahi Allah menyampaikan rizqi itu ke pak Wage. Alasan itu pernah terucap
dari mulut Kemal, membuat orang tua yang selalu menjadi bilal di musholla
kantor ternganga membatin sesuatu, apa yang dikatakan Kemal adalah bijaksana,
tak sepantasnya ia menolak itu.
ya sudah, nanti saya makan, terima kasih ya pak
terima kasih juga mas Kemal
Pak Wage melangkahkan kaki mundur dengan ragu-ragu, mulutnya mau terbuka tapi
masih berat seakan terkunci, sepertinya ada yang mau dibicarakan pada Kemal.
Namun ia melihat situasi saat ini tak mendukung, Kemal yang kembali dari
ruangan Direktur dan menerima sajian pempek yang dipesannya masih tampak
konsentrasi memandang monitor laptop. Pak Wage tak berani melanjutkan
pembicaraan, dengan segera ia memutuskan untuk berjalan menjauh dari meja kerja
Kemal, mungkin lain waktu bisa mewujudkan keinginannya, batinnya.
(bersambung...)
cerita dikutip dari blog : http://pipowae.blogspot.com
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.