Ponari & Fenomena Kesyirikan!

Oleh Ustadz Ja’far Shalih

Ponari, nama yang sederhana, sesederhana orangnya. Tidak ada yang istimewa pada 
sosok bocah sepuluh tahun ini sampai suatu hari ia menemukan sebuah batu yang 
dikenal belakangan dengan sebutan “batu petir” dan konon diyakini “sakti”, 
paling tidak oleh ribuan orang yang telah menjadi pasiennya. Batu yang dengan 
sekali celup, air celupannya bisa mengobati segala macam penyakit. Batu yang 
telah menjungkirbalikkan logika ribuan anak bangsa!

Ponari, begitu pula Dewi Sulistiyowati dan entah siapa lagi bakal menyusul, 
telah menjadi sebuah fenomena berkat batu yang mereka temukan. Tapi yang lebih 
fenomenal dari itu semua adalah ribuan atau bahkan jutaan ummat manusia yang 
“tersihir” dan percaya terhadap eksistensi “batu petir” dalam proses 
penyembuhan.

Bicara tentang batu, ummat Islam telah mengenal Hajar Aswad sebagai batu yang 
paling populer di tengah-tengah kehidupan beragama mereka, karena letak 
keberadaannya (di dinding Ka’bah) dan posisinya di dalam jiwa kaum muslimin, 
karena kaitannya dengan ibadah thawaf.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, satu-satunya tauladan ummat, di dalam 
thawafnya mencontohkan untuk mencium batu ini setiap kali melewatinya pada 
putaran thawaf atau menyentuhnya bagi yang mampu atau melambai ke arahnya. 
Demikian istimewanya batu ini, sampai-sampai thawaf tidak dianggap sah kalau 
tidak memulai thawaf dari arah yang sejajar dengannya. Sehingga jadilah batu 
ini salah satu dari syi’ar-syi’ar Islam yang wajib dimuliakan, menurut aturan 
syariat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, 

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ 

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar 
Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. (Qs. Al Hajj: 32)

Tapi kendati pun demikian, batu adalah batu, dia tidak bisa memberi manfaat 
kepada siapa pun, atau pun mencelakakannya. Adapun kita sampai menciumnya 
(hajar aswad tersebut), itu tidak lebih semata-mata dalam rangka menauladani 
apa yang diperbuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai tauladan 
bagi manusia. Dan konsep ini sangat dipahami sekali oleh generasi pertama ummat 
ini, para salaf, sampai-sampai Umar bin Khattab Rhadiyallahu ‘Anhu, Khalifah 
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kedua, ketika menciumnya, ia 
berkata,

إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه و سلم يقبلك 
ما قبلتك 

“Sesungguhnya Aku benar-benar tahu bahwa kamu hanya batu, tidak bisa memberi 
manfaat atau celaka, kalau saja Aku tidak melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi 
Wasallam menciummu, Aku tidak akan menciummu”. Muttafaqun ‘Alaihi dari Umar 
Rhadiyallahu ‘Anhu.

Kembali kepada batu Ponari, batu Dewi Sulistiyowati dan batu fulan dan 
fulan…dst. Terlepas dari pernyataan para pasien yang mengaku sembuh setelah 
meminum air celupan batu tersebut dan terlepas dari sibuknya para dokter yang 
menyatakan bahwa itu hanya disebabkan faktor sugesti, yang diakui dunia medis 
sebagai salah satu faktor penyembuh juga. Saat ini batu-batu tersebut telah 
menjerumuskan ummat kepada kesyirikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena 
mereka yang mengakui eksistensi batu tersebut dalam proses penyembuhan, tidak 
lepas dari tiga kelompok manusia:

Yang pertama; mereka yang meyakini bahwa kesembuhan semata-mata berkat kekuatan 
batu, tidak ada campur tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hal ini. Maka 
mereka telah jatuh kepada kesyirikan yang besar. Karena mereka telah meyakini 
ada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menyembuhkan.

Yang kedua: mereka yang meyakini bahwa kesembuhan datangnya dari Allah 
Subhanahu Wa Ta’ala semata dan batu hanya sebagai sebab. Maka mereka telah 
terjatuh kepada syirik kecil, karena mereka telah menjadikan sesuatu yang bukan 
sebab sebagai sebab. 

Dan yang ketiga: juga merupakan syirik kecil, yaitu mereka yang meyakini batu 
tersebut ada barakahnya. Sehingga mereka berebut meminum air celupannya dengan 
niatan mengharap barakahnya.

Al Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Waqid Al Laitsi Rhadiyallahu ‘Anhu, 
ia berkisah, “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menuju 
Hunain dan (waktu itu) kami belum lama masuk Islam. Dan orang-orang musyrikin 
mempunyai pohon Bidara yang mereka jadikan tempat semedi dan menggantungkan 
senjata-senjata mereka dibawahnya (mengharapkan barakahnya) yang mereka namakan 
dengan sebutan Dzatu Anwath. Maka (ketika) kami melewati sebuah pohon Bidara, 
kami berkata: Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath seperti 
orang-orang musyrikin punya Dzatu Anwath. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allahu Akbar! Sesungguhnya 
ini adalah suatu jalan/ajaran, apa yang kalian ucapkan –demi Dzat Yang jiwaku 
berada di Tangan-Nya- persis seperti yang pernah diucapkan Bani Israil kepada 
Musa, “Buatkanlah untuk kami sesembahan (selain Allah) sebagaimana mereka punya 
sesembahan, Musa berkata: kalian adalah kaum yang jahil”. Rasulullah 
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melanjutkan: kalian akan benar-benar mengikuti 
jalan-jalan ummat sebelum kalian”. 

Dan ketahuilah kesyirikan apa pun bentuknya merupakan kedzaliman yang paling 
besar, lebih besar dari membunuh, mencuri, korupsi, berzina, memakan 
riba…dstnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ 
بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi 
pelajaran kepadanya:”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, 
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. 
(Qs. Luqman: 13)

Dan kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن 
يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni 
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. 
Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang 
besar”. (Qs. An-Nisaa: 48)

Dan karena kesyirikan (besar), Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan seseorang 
masuk ke dalam surga,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ 
وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti 
Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada 
bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Qs. Al Maidah: 72)

Dan banyak lagi kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh dosa kesyirikan. Maka 
wajib bagi ulama Islam, tokoh-tokoh agama untuk menerangkan masalah ini kepada 
ummat dan mencegah mereka dari terperosok ke dalam jurang-jurang kebinasaan, 
sebagaimana wajib bagi pihak yang berwajib untuk menutup praktek pengobatan ini 
serta praktek-praktek yang serupa, karena ini semua hanya berakibat pada 
kerugian bangsa, negara dan ummat seluruhnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala 
berfirman,

وَإِذَ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ 
لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاء ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْاْ بِهِ 
ثَمَناً قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah 
diberi kitab (yaitu):”Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, 
dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke 
belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. 
Amatlah buruk tukaran yang mereka terima”. (Qs. Ali Imran: 187)

Wallahua’lam bis shawab. Wa’aakhiru Da’waana Anilhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin.

Sumber:

http://mimbarislami.or.id/?module=artikel&action=detail&arid=159

 

Anniversary Homepage: http://www.sulzer.com/175 

Anniversary Games: http://www.experience-sulzer.com


CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

<<inline: AnniversaryLogo_thumb.jpg>>

Kirim email ke