RIAU POS

      04 September 2007 Pukul 08:59 

      Sekolah untuk Apa?

     
      Membaca opini Bung Idris Ahmad tentang "Homeschooling" (Riau Pos 
3/8/2007) membuat saya sejurus berkontemplasi dan bermimpi. Dalam mimpi itu 
saya melihat terjadi revolusi besar kependidikan di Indonesia. Orang tidak 
boleh sekehendak hatinya mendaftarkan anak mereka masuk SD, tanpa alasan yang 
jelas. Soalnya SD pada masa itu telah tampil sangat seronok. Para guru SD 
rata-rata berpredikat S2, sedangkan kepala SD rata-rata perempuan sebagai 
menjalankan amanat UU agar perempuan juga diberi peluang lebih besar untuk 
mengimbangi dominasi laki-laki. Setiap gedung SD umumnya juga juga tampil 
mewah, tidak ada yang retak-retak atau berdebu-debu apalagi yang atapnya bocor. 
Gedung SD zaman itu mirip hotel melati, lantainya pualam dilapis karpet. Murid 
belajar tak perlu beli buku, sebab ribuan buku tersedia diperpustakaan dan 
gratis. 
       
      Uniknya lagi, sebelum sang anak duduk dibangku SD, lebih dahulu orang 
tuanya harus menjawab pertanyaan. Setiap orang tua calon murid SD diwawancarai 
tim wartawan riset. "Apa tujuan Anda menyekolahkan anak masuk SD?" Seorang Ibu 
yang nampak lusuh menjawab" "Saya ingin sekali anak saya punya ijazah. Dengan 
selembar ijazah itu nanti dia bisa melamar masuk PNS, Polri atau TNI. Moga-moga 
setelah dia jadi PNS, Polri atau TNI nasibnya berubah. Sebab, kalau tak 
membunuh orang atau berdagang narkotik dia pasti abadi menjadi PNS, Polri atau 
TNI karena untuk mem-PHK-kan PNS, Polri dan TNI itu sungguh sulit. Berarti masa 
depannya sangat terjamin. Kalau kelak dia mati, isterinya dapat pensiun. Kalau 
isterinya mati otomatis anaknya dapat pensiun. Jangan seperti hidup saya. 
Setelah suami saya mati, saya justeru dapat tagihan dari mana-mana" ujar sang 
Ibu lusuh itu. 

      Tim wartawan riset melanjutkan pertanyaan pada orang tua lain. " Ibu 
sendiri, dengan maksud apa menyekolahkan anak ke SD ?" selidik tim wartawan 
riset pada seorang ibu berparas ceria. Kontan saja terdengar jawaban : "Hai 
bung, anak kami lima orang. Tahu nggak, kalau mereka itu tak kami sekolahkan? 
Sudah pasti amat merepotkan dan seluruh aktivitas rumah tangga terganggu. Lagi 
pula saya ingin santai juga dalam rumah, tak mau ada ribut-ribut.  Saya perlu 
ikut senam, main bowling dan ke mal. Saya tak suka diganggu anak-anak. Kini si 
sulung duduk di SMA, dua adiknya duduk di SMP dan dua lagi di SD. Kadang mereka 
tak di rumah setengah hari, kadang seharian penuh, dan kalau katanya ada PR 
mereka tak di rumah beberapa hari. Itu urusan mereka, kan? Coba kalau anak-anak 
tak bersekolah, rumah saya bisa heboh kayak demo. Betul kan? " kata-kata ibu 
itu nyaris seperti teriakan. 

      Berikutnya, pertanyaan dialamatkan ke pasangan yang berpakaian rapi. 
"Kamu, apa tujuan mendaftarkan anak ke SD? "Dengan mantap dan rasa pede, orang 
tua calon murid SD yang ternyata masih amat belia itu menukas ringkas "Supaya 
ikut arus" katanya. "Ikut arus bagaimana? "Tim wartawan riset mencecarkan 
pertanyaan lagi. "Ya, karena semua anak sekolah. Anak tetangga sekolah, anak 
keponakan sekolah, anak cucu sekolah, anak majikan sekolah, anak penjual sayur 
sekolah, anak Napi-pun sekolah. Kalau anak kami tak sekolah, tentu Pak RT akan 
menuduh kami menantang Undang-Undang. Akibatnya, kami bisa ditangkap. Saya 
takut itu "bebernya pula. 

      "Baiklah. Anda sendiri, dengan tujuan apa Anda daftarkan anak ke SD? 
"Giliran seorang Bapak disuguhi pertanyaan. Berwajah sedikit geram Sang Bapak 
menjawab "Supaya anak saya bisa mendaftar ke Satpol Pamongpraja melampiaskan 
dendam. Coba Bung bayangkan, kami ini walau miskin tapi perlu makan dan 
pakaian. Rumah biarlah menyewa. Maka saya coba berdagang. Maunya sih, di Ruko. 
Tapi itu mustahil, sebab bank mana yang mau memandang kami dan menawarkan pada 
kami kredit perbankan. Maka saya jualan di kaki lima. Eh, saya diobrak-abrik 
Satpol PP. Saya pindah tempat, eh, diburu terus. Ke mana saya pindah, tetap 
dikejar-kejar. Biarlah anak saya masuk SD dan kelak jadi Satpol, lalu PKL itu 
diberi modal saja." Sang Bapak nampak air mukanya berseri-seri ketika 
mengatakan itu. 

      Berikutnya, seorang pejabat parlente dan necis yang dapat kesempatan 
diwawancarai "Anda sendiri, punya tujuan apa mendaftarkan anak masuk SD. Pak? 
"Sang pejabat tersenyum lebar persis senyum pejabat. Kalimat yang diucapkannya 
meluncur teratur "Saya ini kan orang terhormat. Mana mungkin anak orang 
terhormat tidak bersekolah. Kalau perlu, anak saya itu jadi kolektor diploma, 
dan memiliki sertifikat  SD hingga S3 dan magister luar negeri. Anak orang 
terhormat seperti saya itu, sekurang-kurangnya mengakomodasikan lima gelar 
atribut, baru confident. Soal pekerjaan, no problem. Dia mau bekerja atau 
tidak, no problem. Harta kekayaan saya kuat untuk tujuh turunan, kok. 

      Kali ini, giliran seorang wanita selebriti yang ditanyai tim wawancara 
riset. "Tolong Anda sebutkan, apa tujuan Anda menyekolahkan anak ke SD?" 
Kelihatan ekstra pongah si-wanita selebriti memberi jawaban "Ah, cuma buat gaul 
saja. Harap dicatat, anak saya bukan cuma saya daftarkan masuk SD, tapi juga 
saya daftar sekolah musik, sekolah bela diri, sanggar kesenian, kursus komputer 
dan internet, klub renang, kursus cepat bahasa asing dan kalau masih ada yang 
lain, percayalah, anak saya tetap akan saya daftarkan. Bagi saya sekolah itu 
sarana gaul. Teman-temannya perlu tahu bahwa rumah anak saya terletak di 
lingkungan elit, HP-nya gonta-ganti tiap bulan, dan sekali sepekan menginap di 
hotel mewah. Kan, anak saya bisa membanggakan semuanya itu, kan?" 

      Tim wartawan riset beralih menanyai orang tua berikutnya, yang ternyata 
seorang petani "Apa gerangan maksud Anda mendaftarkan anak ke SD? "tanya tim 
wartawan. Dengan mimik serius sang petani menyahuti "Agar kehidupannya nanti 
lebih baik. Saya tak pernah sekolah, sudah mampu membuatkannya rumah dan 
membelikannya sepedamotor. Tentu, kalau anak saya bersekolah, nanti dia mampu 
membangun istana," ujar si petani lugu sepolosnya. 

      Giliran berikut yang diwawancarai Tim Wartawan Riset adalah seorang 
pegawai rendahan "Apa pula motifasi bapak mendaftarkan anak masuk ke SD ? " 
pertanyaan dilontarkan. Sang pegawai rendah dengan spontan bilang " Biar nanti 
anak saya jadi pejabat " tukasnya sengit. " Kenapa begitu? " usut wartawan 
riset. " Ya, sebab pejabat itu kayak malaikat.Selain baju dinas, pejabat selalu 
dapat kendaraan dinas, proyek dinas, tunjangan dinas, fasilitas dinas, rumah 
dinas, kantor dinas, bahkan uang perjalanan dinas. Biar sawah ladang kami habis 
terjual, yang penting anak saya harus masuk SD dan harus jadi pejabat " ujarnya 
berapi-api. Demikianlah sebagian kita memaknai sekolah.***


      H Ibrahim Muhammad, 
      warga Kota Pekanbaru. 

Kirim email ke