http://www.suarapembaruan.com/News/2007/11/22/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Mengapa Harus Menganggur? 
 

Daulat Sinuraya 


Masalah pengangguran di Indonesia sudah tergolong kritis karena jumlahnya terus 
meningkat, sekitar 11 juta orang. Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh 
pemerintah untuk menanggulangi pengangguran, tapi belum membuahkan hasil 
signifikan. 

Kondisi ini tentu tidak terjadi begitu saja, tetapi terkait dengan berbagai 
faktor penyebab. Setelah reformasi, kelembagaan dan program pemerintah untuk 
mengatasi pengangguran semakin tidak terarah. Saat ini kelembagaan yang 
menangani ketenagakerjaan di tingkat nasional dan daerah belum berfungsi 
optimal, dalam hal ini jajaran Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi 
(Depnakertrans) dengan dinas atau instansi ketenagakerjaan di tingkat provinsi, 
kabupaten, dan kota madya. 

Manajemen pembangunan ketenagakerjaan yang baik secara nasional belum terwujud 
karena Depnakertrans belum mampu menyusun konsepsi yang komprehensif. Bahkan 
masih sering terjebak dalam kegiatan operasional. Sedangkan di tingkat daerah, 
baik provinsi maupun kabupaten atau kota madya, sangat heterogen menyangkut 
nomenklatur, tugas pokok, dan fungsinya, termasuk sumber daya manusia yang 
menangani programnya. 

Kaderisasi tenaga profesional tidak berjalan dengan baik dan berkesinambungan. 
Dulu, sebelum reformasi, jajaran Depnaker, Kanwil dengan Kandep, sudah dapat 
mewujudkan suatu sistem manajemen dan penempatan tenaga profesional yang lebih 
baik. Inilah salah satu penyebab mengapa program penanggulangan pengangguran 
belum terlaksana dengan baik. 

Persoalan ketenagakerjaan hanya dapat diatasi melalui penempatan tenaga 
profesional yang mengerti akan teori secara komprehensif dan kemudian 
dilaksanakan. Di sisi lain, nilai-nilai yang mempengaruhi di sekitar kita 
kurang menguntungkan, terutama bagi mereka yang masih menganggur. Banyak orang 
berpikir bahwa bekerja itu harus menjadi pegawai negeri sipil (PNS), menjadi 
anggota TNI atau Polri, karyawan, dan sejenisnya. Bahkan sering terjadi mereka 
yang sudah bekerja bukan berusaha meningkatkan produktivitas, tetapi berlomba 
mengejar posisi atau kedudukan dengan cara yang kurang fair. Kita sudah semakin 
terjebak oleh nilai-nilai material, konsumtif, dan kepentingan sesaat lainnya. 
Akibatnya, berpikir untuk menanggulangi pengangguran menjadi terganggu. 

Diperlukan upaya lain, terutama dari mereka yang menganggur, untuk mengatasi 
masalahnya. Para penganggur perlu didorong dan dimotivasi agar mampu berupaya 
sendiri mengatasi masalahnya. 

Dalam buku kecil yang saya tulis berjudul Kiat Sukses Mencari Peluang Kerja, 
saya mengatakan, kesempatan kerja tidak pernah terbatas, sepanjang kebutuhan 
manusia tidak terbatas. Pekerjaan bukan merupakan tujuan akhir dalam kehidupan, 
tetapi hanya sebagai alat atau kebutuhan untuk mempertahankan hidup secara 
wajar. Kita tidak perlu selalu sibuk dengan kedudukan atau jenis pekerjaan 
tertentu, yang penting menyenangi pekerjaan itu dan dapat menghidupi kita. 
Bekerja berarti berpartisipasi aktif dalam proses produksi barang ataupun jasa, 
serta tidak melanggar hukum. 


Efektif dan Efisien 

Berkaitan dengan itu, salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah berusaha 
supaya menjadi manusia yang efektif dan efisien. Setiap orang yang efektif dan 
efisien lebih berpeluang untuk bekerja. Untuk menjadi manusia yang efektif dan 
efisien paling sedikit terdapat lima hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan. 

Pertama, mengelola waktu. Setiap orang mendapat alokasi waktu 24 jam sehari 
semalam, tidak persoalan terang lebih banyak dari gelap, dan sebaliknya. 
Apalagi dalam era globalisasi persoalan gelap dan terang sudah tidak menjadi 
hambatan dalam berkomunikasi di seluruh muka bumi. Tetapi, yang perlu dipahami 
benar bahwa waktu berjalan terus dan tidak pernah mundur. Waktu yang hilang 
tidak pernah kembali. Kesempatan yang tidak dimanfaatkan tidak pernah kembali. 
Mobil hilang ada kemungkinan kembali, tetapi waktu tidak mungkin. Oleh karena 
itu manfaatkan waktu sebaik-baiknya. 

Dalam memanfaatkan waktu tidak perlu kaku, apalagi menimbulkan ketidaknyamanan 
bahkan stres. Tetapi, lakukan sesuatu dengan menyenangkan dan bermanfaat. 
Sebagai contoh menggunakan waktu tertentu untuk merenung juga bisa bermanfaat, 
bergantung pada hasilnya. Karena itu, kaitkan pengelolaan waktu dengan 
kesenangan dan evaluasi hasilnya. Dalam keadaan menganggur manfaatkan waktu 
untuk hal-hal yang memungkinkan memperoleh pekerjaan, antara lain, belajar, 
diskusi dengan orang yang tepat, serta tidak perlu terlalu terpengaruh atau 
disibukkan oleh urusan surat lamaran yang sering hanya menguras tenaga dan 
waktu. Intinya, kelola waktu dengan sebaik-baiknya. 

Kedua, kenali kekuatan. Setiap orang harus menghargai dirinya sendiri bahwa 
dialah yang paling unggul di antara Saudara-saudaranya. Sehebat-hebatnya robot 
atau komputer buatan manusia tidak pernah mengalahkan manusia itu sendiri. 
Karena itu, kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki kekuatan, kemampuan, 
keunggulan, atau potensi yang luar biasa. Setiap orang memiliki bakat dan minat 
tertentu. Bakat berarti potensi yang dapat dikembangkan, sedangkan minat 
berhubungan dengan kesenangan. 

Kenali diri masing-masing dan kembangkan potensi atau kekuatan yang dimiliki. 
Siapa saja yang masih belum mendapat pekerjaan atau mau menjadi lebih baik, 
coba buatkan daftar kekuatan masing-masing dan kembangkan secara optimal. 

Ketiga, berkontribusi. Dalam kedudukan, status, dan posisi apa saja seseorang 
dapat memiliki sikap berkontribusi atau sebaliknya. Sikap berkontribusi berarti 
selalu berusaha memberi sesuatu lebih dari apa yang diterima. Sebagai kepala 
keluarga, ibu rumah tangga, anak-anak, pelajar , mahasiswa, guru, karyawan, dan 
sebagainya termasuk mereka yang masih menganggur, bebas memiliki sikap 
berkontribusi atau sebaliknya. Dalam lingkungan tertentu kita dapat memilih 
sikap berkontribusi atau mau menerima saja secara lebih banyak. 

Memberi versus menerima. Kepala keluarga yang mau berkontribusi tentu selalu 
berupaya apa yang dapat dia berikan kepada semua anggota keluarga. Para 
karyawan atau pejabat yang bersikap berkontribusi selalu berupaya untuk 
mewujudkan tanggung jawabnya, bahkan lebih dari itu. Oleh karena itu, dapat 
dipastikan setiap orang yang bersikap berkontribusi pasti memiliki nilai lebih 
dalam berbagai aspek. Bagi penganggur yang punya sikap berkontribusi pasti 
lebih mudah untuk memperoleh pekerjaan. Pikirkan dan lakukan sikap 
berkontribusi di mana dan kapan saja, dan lihat hasilnya. 

Keempat, melayani. Perkataan pelayanan sering terdengar dan terjadi di setiap 
hubungan antarkita. Pemerintah sedang dan berusaha terus menggalakkan pelayanan 
prima. Kalau demikian maka seharusnya setiap orang yang ingin memperpanjang 
KTP, mendaftar sebagai penganggur, mengurus izin usaha, dan sebagainya, sudah 
mendapat pelayanan dengan baik. Kalau belum berarti itu masih sebatas wacana 
atau ucapan saja. 

Dalam buku karangan saya, Kita Miskin Di Negeri Kaya, saya mengatakan, pemimpin 
itu adalah pelayan. Kalau pemimpin yang melayani pasti dipilih lagi oleh 
rakyatnya. Kalau sudah pernah memimpin dan tidak terpilih lagi berarti ada 
masalahnya dalam pelayanan. Hal ini tentu memerlukan bahasan lebih rinci dan 
mendalam. Orang yang memiliki sikap melayani pasti lebih efektif dan efisien 
dalam segala hal. Siapa saja yang belum memperoleh pekerjaan upayakan untuk 
mencari kesempatan melayani. Dia pasti lebih mudah untuk memperoleh pekerjaan. 
Apalagi dikaitkan dengan kekuatan yang dimiliki. Pikirkan dan lakukan sikap 
melayani dan bukan untuk dilayani. 

Kelima, membuat keputusan. Membuat keputusan harus dilakukan setiap saat. 
Banyak opsi yang harus dipilih dalam waktu tertentu. Dalam waktu yang sama kita 
hampir tidak mungkin memilih semua opsi. Karena itu diperlukan hikmat untuk 
memutuskan. Penganggur, misalnya, dapat memilih menganggur atau bekerja tanpa 
gaji. Mana yang terbaik dari kedua pilihan buruk ini? Lebih baik lagi bekerja 
sesuai dengan minat, dan tidak sesuai dengan minat dengan gaji yang sama atau 
berbeda. Buatlah keputusan yang menyadari tujuan hidup, visi, misi, dan 
kegiatan setiap saat. 

Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah pengambilan keputusan dalam 
kegiatan pemilihan kepala daerah dan pemilu yang akan datang. Penganggur dan 
rakyat Indonesia perlu mengambil keputusan yang tepat dalam memilih pemimpin. 


Penulis adalah Kepala Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kodya Jakarta 
Pusat dan Sekjen Himpunan Pembina Sumber Daya Manusia Indonesia (HIPSMI) 


Last modified: 21/1

<<22daulat.gif>>

Kirim email ke