http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2008/3/2/opini.html
Nekolim KEMBALI dari ekspedisi nyasar tahun 1492, Columbus yang menyangka dirinya telah mendarat di India meski sebenarnya itu benua Amerika, melapor pada junjungannya Ratu Spanyol, Isabella dan Raja Ferdinand, bahwa "Bumi ini bulat". Thomas L. Friedman menyebut peristiwa itu sebagai era " Globalisasi 1.0" karena dunia yang sebelumnya dikira sangat luas berbentuk seperti piring raksasa, ternyata bulat berukuran sedang dan semua tempat bisa diakses. Kemudian pada tahun 1800 - 2000, terjadi kebangkitan Iptek akibat Revolusi Industri, Revolusi Amerika dan Perancis sebelumnya. Friedman menyebut periode itu sebagai era "Globalisasi 2.0". Perkembangan teknologi persenjataan dan transportasi, ditambah penemuan sibernetika menjelang berakhirnya Millenium II, baginya, kian menyusutkan ukuran dunia. Alasannya, jarak ribuan kilometer bisa ditempuh beberapa jam dengan pesawat jet supersonik atau kejadian di New York bisa diketahui detailnya di Denpasar dalam beberapa menit karena kecanggihan teknologi informatika. Jika Columbus mencari perangkat keras seperti emas, sutra dan rempah-rempah sebagai sumber kekayaan di zamannya, maka Friedman di awal Millenium III menyebut dirinya mencari perangkat lunak sebagai sumber kekayaan masa kini. Kekuatan otak, algoritma kompleks, pekerja intelektual, pelayanan informasi, protokol transmisi serta rekayasa optik merupakan sumber kekayaan yang diburunya dan semua dijumpainya di India. Bangalore yang menjelang akhir abad ke-20 masih dianggap kawasan miskin dan kumuh, tahun 2005 menjadi "Lembah Silikon"-nya India, menandingi milik Amerika Serikat di San Fransisco. Di tempat ini, Friedman menjumpai ribuan intelektual muda India yang tidak saja berbicara dengan aksen Amerika, juga berkemampuan tidak kalah dari para pakar AS, sehingga dia tidak merasa seperti di India tapi di San Fransisco. "Kalau Columbus sekembali dari Amerika melapor pada Ratu Isabella tentang dunia yang bulat, maka Friedman ketika balik dari India, membisiki istrinya, 'dunia ini datar, sayang!'. Sebab, bukan hanya di Bangalore dia melihat para intelektual muda piawai memperkerut dunia lewat layar digital terbesar di Asia, namun banyak kelompok pendidik India memberikan les privat di bidang matematika, fisika bahkan bahasa Inggris pada anak-anak Amerika, langsung dari pojok kamar mereka dengan perangkat komputer berbasis World Wide Web. Bagi Friedman, dunia kian mengecil di era yang disebutnya 'Globalisasi 3.0', ditandai banyak perusahaan besar di AS dan Eropa menyerahkan pekerjaan administrasinya ke India lewat program outsourcing, di samping E-tutor dan E-ticket," papar Kudil. "Aku juga pernah dengar, dulu banyak intelektual potensial muda India yang tidak bisa menyalurkan bakat dan kemampuannya, karena terbatasnya lapangan kerja di dalam negeri. Makanya, mereka diandaikan seperti sayur yang membusuk di pelabuhan karena menunggu kapal pengangkut yang tak kunjung datang. Kini, seperti paparanmu, mereka tidak perlu lagi berimigrasi ke luar negeri untuk cari kerja. Mereka yang memiliki berbagai keahlian dan disiplin ilmu cukup mengelompokkan diri, lalu menerima bermacam jenis pekerjaan dari berbagai perusahaan luar negeri lewat internet dan mengerjakannya di tempat kelahirannya. Yang penting mereka menguasai teknologi informasi, di samping keahlian lain yang dibutuhkan konsumen, seperti misalnya penerjemahan, akunting, pembukuan, perpajakan hingga pengetikan serta editing buku-buku," papar Lonjong. "Pasti itu karena ongkosnya lebih murah! Perusahaan besar atau korporasi, menurut Joel Bakan, selalu meniru karakter manusia psikopat, yang lebih mengutamakan keuntungan sebesar-besarnya dibanding kemanusiaan dan pertimbangan moral. Dengan outsourcing, atau menyerahkan pekerjaan pada orang-orang yang tidak berstatus karyawan tetap, mereka menganggap pekerja hanya sebagai alat. Mirip taksi, yang dibayar saat disewa. Makanya, sejak kapitalis neoliberal menguasai dunia pasca-rontoknya Tembok Berlin, para pekerja lebih sering disebut sumber daya manusia disingkat SDM. Bukan manusia tapi sumber daya atau alat kerja setara mesin! Bahkan dengan alasan efisiensi, kini banyak jenis pekerjaan ditangani mesin atau robot, karena tenaga kerja manusia sering menuntut kenaikan gaji, berbagai tunjangan, libur atau cuti dan pensiun," kata Kondra. "Hakikat outsourcing, tidak lebih dari kuli kontrak seperti zaman kolonial dulu, meski kedengaran keren dengan istilah Inggris. Bedanya, kuli kontrak dulu langsung direkrut pemerintah penjajah, sekarang dilakukan perusahaan swasta yang bertindak sebagai makelar tenaga kerja. Dulu kuli kontrak melakukan pekerjaan kasar seperti membuka hutan untuk perkebunan atau pengerjaan proyek jalan, tapi sekarang banyak juga yang berdasi dan berbusana necis, namun gajinya tidak lebih hebat dibanding buruh bangunan. Tujuan sistem outsourcing, selain melepaskan seluruh tanggung jawab sosial, kecuali gaji, terhadap karyawan, juga bisa mencegah kemungkinan demo dan protes. Sebab, karyawan yang suka memprotes atau bikin ulah, akan di-blacklist, tahun berikut kontraknya tidak diperpanjang," tambah Mudra. "Dengan outsourcing, serikat pekerja, kendati ada, tapi loyo. Setiap orang yang berani menentang kebijakan perusahaan, seperti katamu, akan menjadi penganggur pada Tahun Baru. Apalagi jumlah pencari kerja berlipat ganda dibanding lapangan kerja, sehingga sepuluh pekerja pergi seratus pengganti datang. Terlebih-lebih, sesuai tuntutan globalisasi dan pasar bebas, pemerintah tidak diperkenankan ikut campur dalam perselisihan antara buruh dengan manajemen. Bila ada intervensi pemerintah, korporasi mengancam akan melakukan offshoring, yakni memindahkan seluruh usahanya ke negara lain. Ironisnya, kudengar, ada BUMN di Indonesia yang mempraktikkan sistem outsourcing dan sebagian besar pegawainya adalah pekerja kontrak," tutur Rubag. "Perusahaan seperti itu, pasti sulit bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang punya usaha sejenis. Tenaga outsourcing sukar diharapkan punya rasa memiliki terhadap perusahaan dimana mereka bekerja, karena perusahaan juga tidak memikirkan masa depan mereka. Jadi, kerja mereka asal-asalan dan tidak bertanggung jawab atas kualitas, karena sebaik apa pun hasil kerja mereka tidak berpengaruh atas pendapatan. Kalau benar ada BUMN menerapkan sistem seperti itu, aku jadi curiga. Apa ini bukan tindakan sengaja, agar perusahaan tersebut terus merugi, sehingga dicantumkan dalam daftar perusahaan yang akan dijual? Apalagi kubaca di koran, akhir-akhir ini muncul semangat menggebu-gebu sementara pejabat melakukan privatisasi BUMN," argumen Lonjong. "Menyimak pendapat kalian, khususnya tentang kuli kontrak, aku teringat ucapan Bung Karno yang dilontarkan berkali-kali sejak sebelum hingga sesudah kemerdekaan. Bangsa Indonesia yang merdeka diharapkannya untuk tidak menjadi bangsa kuli, apalagi kulinya bangsa-bangsa. Namun hal itu, katanya, sulit dihindarkan bila penjajahan bentuk baru atau neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang disingkat 'Nekolim' datang lagi ke negeri ini. Nekolim, kata Bung Karno, tidak selalu berkulit putih atau kuning, tapi bisa juga sawo matang," Tantra yang sebelumnya cuma mendengar, ikut berkomentar. * aridus
