Riau Pos
Rabu, 12 Maret 2008 

      Kemiskinan dan Kelaparan  

     
      Topik-topik utama berbagai surat kabar baru-baru ini memberitakan kabar 
yang menggegerkan. Seorang ibu rumah tangga bernama Ny Basse dan anaknya 
bernama Bahir meninggal dunia karena kelaparan. Selanjutnya dikatakan Ny Bassed 
hanya mampu membeli satu liter beras untuk tiga hari demi memenuhi kebutuhan 
pokok tersebut. Meskipun sangat miskin, akan tetapi keluarga ini tidak mendapat 
jatah beras raskin dari pemerintah daerah setempat. Sungguh ironis. 
      Negara ini benar-benar diambang kehancuran. Apakah kejadian ini dapat 
dijelaskan oleh data-data statistik yang selalu berbicara angka pertumbuhan 
ekonomi yang terus meningkat? Atau angka pengangguran dan kemiskinan yang terus 
menurun. Sebaliknya, angka-angka ini sering kali menjadi propaganda dan 
kebanggaan negara ini untuk tujuan tertentu. 

      Dalam pengertian yang sederhana, asal mula terbentuknya negara adalah 
dari sekumpulan masyarakat. Masyarakat menginginkan agar kehidupan tertata 
dengan baik demi mencapai kesejahteraan. Untuk itu, masyarakat mempercayakan 
segolongan orang tertentu dalam memegang amanah ini. Pemegang amanah ini yang 
sekarang kita sebut pemerintah (baca : eksekutif dan legislatif). 

      Dalam perkembangan modern sekarang, sebagai pemegang amanah, pemerintah 
''merasa'' memerlukan biaya untuk menjalankan tugas yang telah diberikan oleh 
masyarakat. Untuk itu pemerintah seperti mempunyai hak untuk menarik harta 
masyarakat berupa pajak. 

      Jika kita teliti, mulai lahir sampai meninggal dunia, telah banyak harta 
yang kita berikan kepada pemerintah. Akta kelahiran, sekolah, rumah sakit, 
barang-barang konsumsi, pendapatan dari keringat kita dan lainnya adalah bentuk 
pajak baik secara langsung dan tidak langsung. Bahkan utang negara yang 
dilakukan pemerintah pada hakikatnya kita sebagai masyarakat yang akan 
membayar. Pemerintah tidak sebaik Allah SWT tentunya. Allah SWT memberikan 
tanah tempat kita tinggal secara gratis, sebaliknya pemerintah menggenakan 
pajak bagi kita. 

      Sebagai masyarakat, apakah kita ikhlas dengan semua itu? Ya, 
ikhlas-ikhlas saja. Akan tetapi tentu harus sesuai dengan perjanjian awal bahwa 
semua yang kita keluarkan adalah untuk kesejahteraan kita bersama. Jika kita 
sudah memberikan yang terbaik bagi pemerintah, apakah pemerintah kita berlaku 
sama terhadap rakyat? Kasus Ny Basse adalah jawaban. 

      Salah satu komentar masyarakat menanggapi kejadian ini yang diliris 
detik.com adalah, ''Astaghfirullah, pemimpin kalian harus bertanggung-jawab!!! 
Dunia dan akhirat!'' Lalu, di mana para pemimpin yang diberi amanah untuk 
rakyat? Mereka sibuk dengan RUU pemilu yang notabene untuk mempertahankan dan 
merebut kekuasaan. 

      Sebenarnya, telah banyak tulisan mengingatkan tentang keadaan sosial 
masyarakat kita saat ini. Cobalah kita lihat bencana tidak kunjung henti di 
negara ini. Gempa bumi, banjir, semburan lumpur, tsunami, kekeringan, asap, 
kriminalitas menjadi menu utama bagi masyarakat. 

      Masyarakat sebenarnya tidak menuntut banyak dari pemimpin sebuah 
kesejahteraan yang hakiki baik secara materil dan spritual. Cukup dengan 
suri-tauladan dan bertindak dengan nurani. Kenyataannya sebagian masyarakat 
kita disuguhi tontonan di mana korupsi menjadi hal halal, parkiran gedung 
eksekutif dan legislatif disulap menjadi showroom mobil mewah, tontonan cabul 
dari mantan anggota parlemen. Selalu mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan 
kekuasaan dan uang. 

      Nurani seakan sudah tertutup. Tangisan penderitaan rakyat seperti 
tenggelam dengan riuhnya rapat-rapat kabinet dan gedung rakyat. Pengangguran, 
kemiskinan dan kelaparan seperti menjadi hak rakyat. Kalaupun masih boleh, 
rakyat hanya diberi sedikit mimpi. Mimpi-mimpi politik yang keluar dari mulut 
berupa janji-janji kosong. Dan ketika rakyat terbangun maka yang ditemui adalah 
kesenjangan yang semakin lebar antara si miskin dan si kaya. 

      Kisah Umar bin Khathtab 
      Hal yang menarik dari kejadian ini adalah kisah yang hampir sama dengan 
yang dialami Khalifah kedua Umar bin Khathtab. Meski hampir sama, akan tetapi 
ending dari kejadian ini berbeda. Walaupun kisah ini sudah berulang-ulang 
diceritakan, tapi tidak ada salahnya kita ceritakan kembali sebagai bahan 
renungan kita bersama untuk menata ulang sistem yang kita bangun sekarang. Dan 
semoga kisah ini dapat mencairkan kembali nurani yang telah membeku. 

      Suatu hari, khalifah Umar bin khathab berjalan-jalan di lingkungan 
penduduk untuk mengetahui keadaan masyarakat. Di suatu tempat, beliau bertemu 
dengan seorang perempuan yang sedang merebus sesuatu. Umar mendekati perempuan 
tersebut sambil bertanya sedang merebus apa. Perempuan itu menjawab, ''Batu.'' 
Umar tentu saja heran untuk apa batu direbus dan bertanya kembali, ''Untuk apa 
merebus batu?.'' Sambil menangis perempuan itu menjawab, ''Aku merebus batu 
untuk membohonggi anak-anakku yang kelaparan. Anak-anak ku menangis karena 
lapar, sedangkan aku tidak mempunyai gandum untuk diberikan kepada mereka. 
Dengan cara ini aku berharap mereka bisa tenang, karena merasa ibunya sedang 
memasak dan akhirnya tertidur.'' Nurani umar segera terusik. Apalagi perkataan 
perempuan itu selanjutnya, ''Kami orang miskin. Dan khalifah Umar (pemimpin) 
kami orang yang zalim.'' 

      Segera Umar melarikan kudanya ke Baitulmal dan memanggul sekarung gandum. 
Melihat Umar sebagai khalifah memanggul gandum, seorang pengawalnya menawarkan 
jasa untuk membawanya. Umar langsung marah dan berkata, ''Apakah engkau sanggup 
menganggung dosa ku di akhirat nanti?'' 

      Umar sengaja tidak menggunakan kuda lagi memanggul sekarung gandum 
tersebut menuju tempat perempuan itu berada. Sepanjang jalan Umar menumpahkan 
air mata dan memohon ampunan kepada Allah SWT terhadap kesalahan dan 
kelalaiannya. 

      Akhir cerita, Umar menyerahkan sekarung gandum tersebut kepada perempuan 
tersebut yang disambut dengan gembira. Perempuan itu berterimakasih dan 
mendoakan Umar semoga diberkahi Allah SWT. Lalu Umar berkata, ''Tahukah engkau 
siapa aku? Aku adalah Umar bin Khathab. Maafkan semua kesalahan ku!.'' Umar 
memohon ampun atas kesalahannya sambil berlinang air mata. 

      Sungguh sayang Ny Basse tidak bertemu Umar bin Khathab. Seandainya saja 
sempat bertemu, tentu Ny Basse tidak perlu meninggal karena kelaparan. Sungguh 
sayang! Mari kita doakan semoga Ny Basse dan Bahir diterima sang Khalik dengan 
bahagia. Dan juga berdoa agar Allah SWT masih mau memberi kesempatan untuk 
perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Amin.*** 

      Deny Setiawan SE MEc Staf Pengajar Fakultas Ekonomi UIR 
     
  

Kirim email ke