Remaja
Amerika bertambah pandir. Ekonominya terkena krisis, utang luar
negerinya terbesar, dan pamor politiknya melorot. Inilah negeri
pelanggar HAM nomor satu di dunia. Aneh, pemerintah Indonesiaselalu 
mengikutinya [bagian 2]
Dengan Bermacam Metode 
Oleh: Amran Nasution *
Presiden Bush, Wakil Presiden Dick Cheney, serta anggota Kongres Amerika – yang 
menjadi sponsor dan penghasut Perang Iraq-- harus diadili di pengadilan 
internasional karena pembunuhan,
perkosaan, penculikan, penghilangan orang, pengrusakan harta benda,
pemusnahan nilai-nilai dan peradaban Iraq.
Betapa tidak? Tentara Amerika Serikat menyerang Iraqtanpa persetujuan PBB. 
Alasan yang dikemukakan bahwa Iraqmenyembunyikan senjata pemusnah massal dan 
Rezim Saddam Hussein punya
hubungan dengan kelompok terorisme Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin,
terbukti semua palsu. Semuanya rekayasa intelijen atas keinginan
Presiden Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney. Sekarang segalanya sudah
jelas di mata masyarakat internasional.
Semestinya 40 anggota DPR Amerika Serikat itu membaca The Dark Side, The Inside 
Story of How the War on Terror Turn into War on American Ideals, ditulis Jane 
Mayer, wartawati Majalah The New Yorker, yang terbit belum lama ini.
The Dark Side betul-betul
menelanjangi perilaku pemerintahan Presiden Bush dalam soal HAM.
Bagaimana penyiksaan demi penyiksaan dilakukan, begitu pula berbagai
perbuatan cabul dan penghinaan terhadap martabat manusia.
Coba
Anda bayangkan kehidupan para tahanan itu. Sel sempit mereka selama 24
jam dipenuhi suara musik melalui pengeras suara. Tentu mereka tak bisa
tidur. Dan itu terjadi berminggu-minggu, bahkan bulan.
Biasanya suara musik. Tapi Moazzam Begg, tahanan asal Birmingham,
Inggris, diganggu terus-terusan oleh jeritan histeris wanita yang
dipercayainya sebagai suara istrinya sendiri. Setelah bertahun-tahun
disiksa di Guantanamo, Januari 2005, Begg dibebaskan diam-diam tanpa melalui 
pengadilan.
Sekarang
dia berkeliling ke mana-mana, berceramah tentang penyiksaan yang
dialaminya selama ditahan pemerintah Amerika Serikat. Dari
pengalamannya dan kawan-kawan, ia menyimpulkan war on terror atau perang 
melawan teror itu tak lain adalah war on Islam, perang terhadap Islam. Itu 
adalah sebuah perang dengan motif rasis.
Binyam
Mohammad, warga negara Ethiopia yang menetap di Inggris, tertangkap
tentara Amerika di Afghanistan kemudian dikirim ke Guantanamo,
bercerita kepada pengacara asal Inggris, Clive Stafford Smith, bahwa
dari apa yang dialaminya ternyata siksaan psikologis dengan  bermacam metode 
lebih mengerikan dibanding penyiksaan fisik.
Dalam rumah tahanan di Maroko, intelijen setempat memotong alat kelamin Binyam 
dengan pisau cukur (razor blade).
Tapi pengalamannya diberi suara bising terus-menerus berhari-hari,
tanpa bisa tidur dan istirahat, siang-malam, jauh lebih menyiksa. Oleh
karena itu cukup  banyak tahanan yang mencoba bunuh diri, antara lain, dengan 
membenturkan kepala mereka ke tembok (The Dark Side, halaman 274).
The Dark Side betul-betul
menjadi sebuah laporan lengkap tentang penyiksaan demi penyiksaan, dari
penjara Abu Ghraib di Baghdad, penjara Bagram di Kabul, penjara rahasia
CIA di Eropa Timur, sampai penjara Guantanamo. Bagaimana praktek
penyiksaan diceritakan detil, lengkap dengan tokoh yang bertanggung
jawab, dan kaitannya dengan Pemerintahan Bush. Siapa orang-orang di
kabinet, di sekitar Bush, di sekitar Wapres Cheney, apa peran mereka,
semua terekam. Celakanya, setelah berbagai penyiksaan itu mayoritas di
antara mereka tak bersalah. Mereka bukan teroris dan tak pernah
memusuhi Amerika. Tapi mereka disiksa bertahun-tahun di Guantanamo.
Sebetulnya, dengan The Dark Side, pengadilan kriminal internasional (The 
International Criminal Court,
disingkat ICC) di Den Haag, Belanda, sudah bisa mengusut kejahatan yang
dilakukan Presiden Bush dan kawan-kawannya. Apalagi semua data dan
bukti penyiksaan sudah ada di tangan Palang Merah Internasional (Red Cross).
Tapi
itulah, ICC bisa dipastikan tak berani mengusut kejahatan itu. Mereka
hanya berani kepada negara-negara kecil dan lemah di Afrika. Sudah
cukup berani sekarang ini mereka mengadili para penjahat perang Serbia
di Bosnia.[bersambung]Penulis adalah Direktur Institute For Policy Studies 
(IPS), Jakarta


      

Kirim email ke