Jawa Pos
 Jum'at, 30 Januari 2009 ] 

PHK di Depan Mata 


DAMPAK krisis finansial global yang terjadi sejak tahun lalu diperkirakan makin 
terasa tahun ini. Bukan dalam konteks makroekonomi, tetapi dari sisi mikro. 
Dunia usaha dipastikan akan mencatat penurunan kinerja meski beberapa sektor 
tetap tumbuh positif. Salah satu sektor industri yang menghadapi tantangan 
berat akibat krisis itu adalah manufaktur. Terpangkasanya order dari luar 
negeri akan berimbas kepada turunnya kinerja industri. Dampak lanjutannya 
adalah terjadinya pengurangan jumlah tenaga kerja. Industri manufaktur adalah 
salah satu sektor industri yang banyak menyerap tenaga kerja.

Pemerintah bisa saja tetap percaya diri bahwa kebergantungan industri di 
Indonesia terhadap pasar ekspor tidak besar. Namun, ketika pasar ekspor hilang, 
tidak mudah mengalihkan pasar luar negeri ke dalam negeri karena turunnya daya 
beli masyarakat akibat krisis. Yang lebih realistis adalah mengalihkan 
pasar-pasar konvensional ke pasar-pasar baru di luar negeri, misalnya, ke 
negara-negara Timur Tengah. Ini pun bukan tanpa tantangan sama sekali. Sebab, 
merebut pasar ekspor baru butuh proses yang panjang, mulai pengenalan melalui 
ajang pameran, uji produk, hingga ke negosiasi. Tanpa dilakukan proses itu 
terlebih dahulu, sulit berharap pasar-pasar ekspor utama seperti AS dan Eropa 
akan tergantikan.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan tahun ini akan terjadi 
gelombang PHK (pemutusan hubungan kerja). Jumlahnya cukup besar, antara 500 
ribu hingga 1 juta pekerja. Angka itu bisa lebih kecil atau sebaliknya. 
Kepastiannya, menunggu ada atau tidaknya order pada April nanti. Jika ada 
pesanan, PHK bisa dihindarkan. Sebaliknya, jika order benar-benar hilang, 
bertambahlah satu juta pengangguran. Terlepas apakah yang di-PHK itu karyawan 
kontrak atau tetap, itu akan menjadi problem sosial serius yang harus 
dipecahkan pemerintah.

Bagaimana mengantisipasi gelombang PHK tersebut? Tidak ada cara lain kecuali 
membangkitkan industri kecil dan menengah di dalam negeri. Sektor UMKM (usaha 
mikro, kecil, dan menengah) secara teoretis bisa menjadi salah satu penopang 
perekonomian yang penting. Namun, sayang, sektor itu kurang diberdayakan. 
Keberpihakan pemerintah melalui berbagai departemen masih parsial, tidak 
integral. Industri besar juga masih memandang sebelah mata peran yang bisa 
dimainkan UMKM dalam menopang bisnis mereka. Sedangkan perbankan juga masih 
enggan memberikan support pendanaan kepada usaha kecil dan menengah.

Jika tetap mampu bergerak di tengah krisis seperti sekarang, sektor UMKM akan 
mampu menjadi penyerap tenaga kerja yang luar biasa besar. Yang bisa dilakukan 
pemerintah adalah meningkatkan keberpihakan melalui kebijakan-kebijakan yang 
integral dan berdimensi jangka panjang. Percuma memberikan hibah uang kepada 
usaha kecil tanpa ada pembinaan dan membuka akses ke industri besar. Di sisi 
lain, pemerintah juga harus mendorong sektor perbankan untuk tidak enggan 
mengucurkan kredit ke sektor usaha kecil.

Masalah pengangguran, jika tidak diantisipasi dengan serius, akan merembet 
menjadi persoalan sosial yang lebih besar. Kemiskinan akan meningkat, bahkan 
kriminalitas juga akan makin tinggi. Bisa saja, industri melepaskan para 
pekerjanya dengan dalih turunnya kinerja usaha, tetapi pemerintah sudah 
memiliki instrumen untuk menampung limpahan pekerja dari industri besar 
tersebut. (*)

Kirim email ke