Refleksi : Lain di bibir lain di hati, berani sumpah tapi takut mati, begitulah 
berakhirnya cerita dongeng sejak dulu kala.

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/janji-perubahan-sekadar-jargon-kampanye/

Rabu, 01 Juli 2009 16:02 
Janji Perubahan Sekadar Jargon Kampanye
OLEH: WISHNUGROHO AKBAR



Jakarta - Tiga pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) 
yang bertarung dalam pemilu presiden (pilpres) kali ini belum ada yang 
menawarkan agenda perubahan dalam visi dan misi mereka.

     

Kalaupun ada salah satu pasangan yang menawarkan agenda perubahan, hal itu 
masih bersifat abstrak dan terkesan sebagai jargon pemanis kampanye belaka.


Demikian dikatakan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah La Ode Ida dan peneliti 
dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mitra Perubahan Indonesia, Arifadi 
Budiarjo, selaku panelis dalam diskusi publik "Benarkah Mereka Membawa 
Perubahan?" yang digelar di Gedung DPD RI Jakarta, Selasa (30/6). Turut hadir 
dalam diskusi tersebut perwakilan tim sukses dari pasangan Megawati-Prabowo, 
Yudhoyono-Boediono, dan Kalla-Wiranto.  Wakil Ketua DPD La Ode Ida menilai, 
setelah peristiwa Reformasi 1998, praktis tidak ada satu pun pemimpin nasional 
yang sungguh-sungguh melakukan perubahan. Jika ada sosok pemimpin 
pascarefoprmasi yang telah melakukan perubahan, La Ode menilai sosok presiden 
keempat RI, yakni Abdurrahman Wahid, sebagai pemimpin nasional yang telah 
melakukan perubahan politik dengan menghapus dwi fungsi TNI. 


Senada dengan La Ode, Arifadi Budiarjo dari LSM Mitra Perubahan Indonesia 
menilai konsep yang ditawar-kan tiga pasangan capres-cawapres belum 
komprehensif karena tidak menyertakan penjelasan tentang bagaimana menerapkan 
konsep-konsep tersebut dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, para capres-cawapres 
dinilai Budiarjo justru asyik tenggelam dalam hiruk pikuk kampanye dan lebih 
mengedepankan penyebarluasan jargon politik. 

Dibantah
Indra J Piliang dari kubu Kalla-Wiranto mengatakan, dari ketiga pasangan yang 
bertarung saat ini, Kalla-Wiranto adalah pasangan yang paling produktif 
menelurkan gagasan baru dan segar. Dia kemudian mencontohkan gagasan, seperti 
pembangunan PLTU berkapasitas 100.000 megawatt, dan gagasan mendirikan Bank 
Pendidikan, yang dinilainya sebagai gagasan yang mengusung agenda perubahan. 


Arief Wibowo dari Tim Sukses Megawati-Prabowo mengatakan, langkah proteksi dan 
subsidi merupakan langkah perubahan, sebab pemerintahan sekarang justru lebih 
menunjukkan keberpihakan kepada rakyat. Selain itu, Arief juga menyatakan, ada 
tiga substansi agenda perubahan yang diusung Megawati-Prabowo, yakni kedaulatan 
di bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan. Kubu Yudhoyono-Boediono yang 
diwakili Bara Hasibuan mengatakan, perubahan yang akan diusung pasangan 
tersebut adalah perubahan dengan cara melanjutkan hasil yang telah dicapai. 


Dia menilai hasil kerja pemerintahan Yudhoyono-Kalla saat ini merupakan sebuah 
prestasi yang belum pernah dicapai pemerintahan sebelumnya, seperti pelunasan 
utang IMF, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas politik dan demokrasi. Hal-hal 
itulah, kata Bara, yang akan dilanjutkan dan ditingkatkan performanya jika 
Yudhoyono terpilih kembali. n

Kembali ke : Cetak

Kirim email ke