============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================

Bagaimana ini Mbilung? Pesimis tenan ya? Sakit mental 
bangsa kita ini!
--- disetip --- Apabila Anda diangkat menjadi wakil rakyat, 
maka Anda berhak untuk memeras duit rakyat dan mengatas 
namakan rakyat demi kepentingan pribadi. Dgn ini saya 
cantumkan fasilitas2 yg dimiliki oleh para waktil rakyat 
kita yg menjadi anggota DPR RI. --- disetip --- DPRD DKI ---
 disetip --- DPRD di Bali --- disetip --- maka dari itu tak 
ada salahnya didirikan IPW (Indonesia Perselingkuhan Watch)


==mBilung:
Dalam hal ini saya setuju 100% dengan penulis email 
tersebut. Fasilitas-materiil anggota legislatif kita memang 
amat sangat terlalu besar. Nggak ketemu nalar kalau 
dibandingkan tingkat kesejahteraan-materiil mayoritas 
rakyat Indonesia. Lebih dari 60% anggota legislatif kita 
(termasuk yang berasal dari PDIP) doyan duit. Itu yang di 
DPR, sedangkan yang DPRD Tingkat I lebih parah lagi, dan 
yang paling parah adalah yang di DPRD Tingkat II. Anggota 
legislatif yang baik selalu kalah voting dalam pembuatan 
keputusan yang menyangkut fasilitas-materiil ini. Tapi 
itulah politik. Saya sudah menyebutkan (pada email yang 
kemarin), bahwa hakikat politik adalah proses perebutan dan 
pembagian kekuasaan dan sumber-sumber kenikmatan melalui 
cara-cara yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama 
oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses tersebut. Jadi 
kita (rakyat) memang harus 'juweh' (cerewet) untuk 
mengontrol mereka. Sayangnya, belum ada lembaga kenegaraan 
resmi yang cukup kuat untuk menjadi saluran kontrol kita 
terhadap ulah para anggota legislatif. Kalau cuma melalui 
NGO semacam ICW, IPW, nulis di koran, dsb, wah, cuma masuk 
telinga kiri keluar telinga kanan, dicuekin aja sama orang-
orang legislatif yang mata duitan itu. Jangankan ngontrol 
dari luar, wong ngontrol liwat jalur resmi partai saja 
sulitnya bukan main, malah bisa 'menuai badai'. Contohnya, 
PDIP Ranting Pondok Karya - Tangerang (khususnya Anak 
Ranting Bintaro Jaya Sektor 4, tempat saya bergabung), 
sudah dicap-buruk (di-black-list) oleh kelompok Taufik 
Kiemas sebagai 'banteng ekstrim' atau 'antek Eros Djarot - 
Dimyati Hartono - Haryanto Taslam'. Gara-garanya cuma 
sepele : 1) Kami memanggil dan 'mengadili' seorang anggota 
DPRD Tangerang asal PDIP Pondok Karya yang menurut kami 
sudah berulah seperti 'kacang lupa kulitnya'; 2) Kami 
mendukung Eros Djarot untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum 
PDIP dalam Kongres Semarang kemarin, mengingat mbak Mega 
sudah jadi Wapres, sekaligus dengan alasan agar kita lebih 
mempraktekkan asas demokrasi dan mengikis kultur feodalisme 
(jadi bukan karena kami nggak suka sama mbak Mega). Dulu 
kita teriak-teriak mengkritik mbah Harto sebagai calon 
tunggal, lha kok sekarang kita mengkultuskan mbak Mega 
menjadi calon tunggal dan melarang kader lain untuk 
dicalonkan sebagai Ketua Umum ? Yaaah, begitulah Bung 
Ahyen, di dalam tubuh PDIP sendiri masih banyak orang yang 
terkena virus feodalisme dan munafik (ngomongnya demokrasi 
tapi prakteknya feodalistis). Malah si Roy BB Janis itu 
(Ketua DPD DKI Jakarta !) memberi contoh buruk : kebiasaan 
sungkem / mencium-tangan mbak Mega :(. Orang-orang penjilat 
itu pula yang belakangan memasyarakatkan sebutan 'Ibu' 
sebagai pengganti 'Mbak' untuk memanggil Megawati. :(
Wis ah
!

----------------------------------------------------
This email was sent using http://webmail.cbn.net.id/


Kirim email ke