============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================


Ndroro Sastro:
Saya kira tidak ada salahnya orang pernah merasa tersentuh dengan
pengalaman
"mistis" yang pernah dialaminya, namun ada baiknya kita tidak "mematikan"
penalaran kita.

AB: Setuju kata "mistis" diberi tanda quotes. Artinya bisa bener bisa
bohong.
Saya juga setuju dengan kalimat Mas Sastro di atas, bila kata "mistis"
berasal dari kata misteri. Maka kisah penampakan bisa berarti misteri ilahi
dari para suci kesayangan Tuhan, misalnya Dewi Mariyah. Tuhan melalui para
sucinya tentu bisa berbuat lain dan jauh dari jangkauan rasio manusia.
Namun apakah 'yang jauh dari jangkauan rasio' dan 'mistis' adalah selalu
perbuatan Tuhan melalui para sucinya? Apakah Tuhan masih senang melakukan
hal-hal 'spektakuler bagi manusia' secara ombyokan? Mungkin masih, tapi
mungkin juga tidak lagi. Tapi siapa sih yang bisa mengaturNya?
Saya lebih mempercayaiNya untuk melakukan hal-hal spektakuler secara unik
untuk setiap manusia. Dan itu terjadi setiap saat hidup manusia. Apakah
kita masih memerlukan hal-hal spektakuler untuk memperkuat iman kita
kepadaNya? Saya kira tidak. Siapa bisa bilang bukan tindakan spektakuler
dari Tuhan bila 32 pemancing yang lebih dari separonya adalah pemula, dapat
kembali ke darat tanpa suatu apa. Apakah inisiatif Gandung sendiri ketika
dia jam 12 malam kedarang-darang berangkat dari Bogor menuju Anyer hanya
untuk memenuhi 'janji'nya (siapa pun tahu kalau tidak datang paling cuma
diasu-asukan). Siapa bilang bukan karya Tuhan bila tadi pagi Inggil dengan
ceria menyalami saya 'gimana mancingnya', padahal dua hari yang lalu
bersuara malas di handphonenya dari RS.
Orang yang percaya tanpa reserve memang potensial jadi pecundang.
(ini tidak berlaku bagi para pemancing terhadap Kormannya)

AB/71

Kirim email ke