|
Rekan milis seDhamma,
Sekuntum Teratai buat Anda, seorang calon Buddha
Umat Buddha jelas menyembah patungnya Sang Buddha dalam puja
bhaktinya.
Karena itu ada yang menyatakan Umat Buddha menyembah berhala.
Apakah tuduhan, anggapan itu benar?
Tergantung batasan dari 'berhala' itu apa.
=Kalau 'menyembah patung' aja, YA.
=Kalau 'menyembah patung dan memohon, meminta sesuatu pada patung tersebut'
TIDAK.
=Kalau 'meninggikan sesuatu', ini masih teka-teki.
=kalau (Ada yang punya kamus?)
Yang jadi point saya adalah, menurut saya nich, kita tak perlu buru-buru
menyanggah tuduhan sebagai penyembah berhala. Karena, penyembah berhala mungkin
dinilai negatif bagi umat teis, tapi bagi Umat Buddha yang tidak mengenal
istilah berhala, dan menghormati, menyembah patung Sang Buddha atau bhikkhu
bukanlah sesuatu yang kita nilai negatif, rendah, maka tuduhan itu mestinya
tidak perlu membuat kita tersinggung atau sakit hati.
Masalah di atas analog dengan tuduhan ateis, apa kita mesti merasa malu,
terendahkan lalu bereaksi, menyanggah dengan menciptakan tuhan pencipta? Tidak
perlu, kan? Nah, hal yang sama untuk tuduhan Penyembah berhala.
Bagi sebagian mungkin bisa tidak bereaksi, tidak terusik dengan tuduhan
atau penilaian umat lain. Cuman masalahnya, Umat Buddha yang masih belum bisa
memahami --seperti pendapat pribadi saya itu-- bisa merasa malu.... dan beralih
agama.
Bagaimana menurut rekan2 milis?
Salam metta
Wijaya
NB:
Sebagai masukan, saya forward sekuntum teratai, berikut:
(Kalau pakai batasan di bawah ini, rasanya kebanyakan kita mesti jujur,
bahwa kita memang penyembah berhala. )
=PENYEMBAH BERHALA= [Seperti kita tahu, agama sering menjadi pemicu keributan
dan ketegangan. Apa sebabnya? Dan karena istilah berhala tidak ada di
Buddhisme, kita coba pinjam makna yang disodorkan Sdr. FreedomLover. Seorang Non
Buddhis, yang kata-katanya patut kita petik hikmahnya. Jadi cobalah disimak dan KRITISI! /Red
BVB.] Ketika kita mengagungkan sesuatu,
seperti doktrin agama misalnya, mindset/outlook atau sudut-pandang kita menjadi
kaku, karena kita mengira doktrin itulah yang paling benar. Banyak manusia terkena virus ini ^_^ , kita
semua pernah dan masih punya virus ini, berpikir aku/ego yang paling
benar. Dengan mindset ini kita menyalahkan doktrin yang
lain. Selama seseorang masih merasa
dirinya, pendapatnya, ajaran agamanya, paling benar, dia masih punya berhala di
dalam hatinya. Selama seseorang punya berhala dalam hatinya, orang itu buta,
sehingga untuk menyadarkannya, datanglah pen-deritaan, itu bila kata-kata tidak
menyadar-kannya. Penderitaan itu datang karena hukum menabur dan menuai itu,
namun karena buta, kita manusia tidak menyadarinya,
malah menyalahkan orang lain, keadaan, Tuhan dan sebagainya. Oleh karena itu
penderitaan itu terus terjadi sampai hati kita menjadi lunak, tidak lagi
menganggap diri kita yang paling benar, dan saat itulah terang dapat masuk ke
hati, membuka mata kita terhadap keadaan kita. Dan ketika kita menyadari ini, kita tidak
lagi menyalahkan. Kita menyadari kita sendiri lah penyebab derita kita. Dari
situ, mulailah perjalanan kesadaran kita. Jadi kalau melihatnya seperti ini,
maka DERITA ADALAH BERKAH. Kebanyakan kita membangun suatu
konsep tentang Tuhan, sang AKU, bahwa Tuhan membutuhkan pujian, atau bisa
menghukum berat kalau kita bersikap seperti anak kecil yang nakal, God who
rewards and punishes. Kepada konsep itulah kita memuji dan kalau kita kecewa,
maka kepada konsep itu pulalah kita mencaci. Dan kita menyangka konsep kita
mengenai Tuhan itu adalah Tuhan. Lantas bagaimana Tuhan yang demikian bisa
menjawab? Ya, tidak bisa, karena itu hanyalah konsepsi kita saja. Realita nya
kebanyakan kita sama sekali tidak tahu apa itu Tuhan. Adalah lebih baik kita menyadari kita tidak
tahu Tuhan itu apa, daripada kita menyangka kita sudah paham sekali Tuhan itu
apa. Hanya yang kosong yang dapat diisi, tetapi yang sudah berisi tak dapat
diisi lagi. Yang sudah berisi, maksudnya yang sudah kaya akan konsep-konsep,
sehingga kebenaran yang mungkin kedengaran asing baginya tak dapat lagi mengubah
pendapatnya atau pendiriannya. Mulia dan hina, tinggi dan rendah adalah
hasil persepsi manusia. Dalam tingkat absolut semuanya sama, semuanya
netral, produk dari berbagai macam tingkat kesadaran. Persepsi manusia yang
membuatnya menjadi tidak netral dengan melekatkan suatu nilai kepada objek
pengamatannya, meninggikan yang satu, merendahkan yang lain. Persepsi manusia
tergantung tingkat kesadarannya, tingkat keterbukaan matanya.
Manusia terbiasa mengkotak-kotakkan, menilai suatu keadaan sebagai mulia dan keadaan lain sebagai hina, melihat dari kacamata kebenaran berdasarkan sudut-pandang pribadi. Sudut pandang pribadi ini dibentuk atau dikondisikan oleh warisan genetis, jenis/sifat orang tua, didikan sekolah, lingkungan hidup, ajaran agama, dan segala macam pengaruh eksternal yang membentuk watak dan cara berpikir seseorang. Inilah yang sering disebut pikiran terkondisi (conditioned mind).
Semua orang memiliki pikiran
terkondisi seperti ini, hanya sebagian kecil orang yang menyadari dan
mengendalikannya, kebanyakan manusia tidak menyadarinya dan dikendalikan
olehnya. Yang tidak menyadarinya atau yang sering disebut dalam kitab-kitab suci
sebagai orang yang TERTIDUR, selalu memandang dunia dari kacamata pikiran
terkondisinya dan umumnya kaku berpegang pada pendapat atau cara pandangnya itu.
Cara pandang demikianlah yang menempatkan sesuatu sebagai mulia jika sesuatu itu
sesuai dengan bingkai kepercayaannya, sementara yang tidak sesuai, dianggap
hina. Muncul pemujaan diri atau kelompok, kelompokku benar kelompokmu salah.
Cara berpikir demikian senantiasa membutuhkan kontras, artinya membutuhkan sisi
berseberangan: gelap - terang, mulia - hina, baik - jahat. Dengan menilai suatu
keadaan sebagai mulia, maka secara otomatis akan muncul keadaan yang dinilai
hina. Tanpa keadaan yang dianggap hina, keadaan yang diang-gap mulia tak punya
referensi pengukuran. Demikianlah kontras atau dualisme yang mewarnai cara
pandang manusia yang pikirannya terkondisi. Keadaan hina dan mulia itu pada
dasarnya adalah hasil persepsi penilaian manusia, dan kita tau bahwa orang yang
berbeda punya pandangan hina dan mulia yang berbeda pula, tergantung bagaimana
pikirannya dikondisikan. Melihat melalui kacamata benar-salah
atau kontras, merupakan cara sebagian besar manusia untuk mewujudkan apa yang
didambakannya, yaitu perasaan mulia, perasaan benar. Ketika sebagian manusia
memandang dirinya selamat dan
meng-anggap orang yang berbeda terhilang/ sesat, maka terjadi
peninggian dan perendahan. Dengan menempatkan diri para posisi selamat, maka
seseorang dapat menghibur dirinya bahwa dirinya berada pada posisi yang benar,
layak atau diberkati Tuhannya. Ini semua tak lain tak bukan merupakan permainan
atau trik-trik pikiran terkondisi manusia yang didorong oleh motif untuk
memuaskan kebutuhannya akan perasaan suci dan mulia. Kesucian dan kemulian tak
dapat dicapai dengan permainan ilusi pikiran, karena kesucian dan kemuliaan itu
adalah semacam state of being, tingkat kesadaran. Banyak orang telah memberhalakan ajaran agamanya masing-masing. Pemberhalaan terhadap ajaran agama, orang suci, tempat suci, itu yang menyebabkan seseorang tersinggung kalau apa yang ditinggikannya dipertanyakan atau dikritik. Sebab mereka menyamakan tindakan-tindakan seperti itu sebagai tindakan yang menghujat Tuhan-nya. Padahal patung, kertas (kitab suci), symbol-simbol lain hanyalah konsep bukan Tuhan. Perasaan tersinggung adalah ciri-ciri seseorang yang memiliki berhala dalam bathinnya. itu menunjukkan kemelekatan (attachment) ego terhadap apa yang disanjungnya pada suatu konsep (simbol, kitab dan benda/jimat hanyalah pengeja-wantahan dari konsep) yang dianggap miliknya, yang dinilai lebih mulia dari hal-hal lain yang dianggapnya lebih rendah. Bagi yang memahaminya atau menyadarinya, ini hanyalah semacam keterkondisian pikiran, bagi yang tidak menyadarinya, yang tertidur, mereka melihat mimpi-mimpi atau ilusi ini seakan-akan nyata dan membelanya mati-matian.
Kalau tidak ada kemelekatan ego, dan kalau seseorang sudah secara pasti tau apa yang dipercayainya, maka dia tidak akan tersinggung lagi, sebab dia tau orang yang mengkritik atau mencela itu tidak tau apa-apa, paling dia hanya sedih melihat ketidak-tahuan orang tersebut. Agar lebih mudah dipahami, saya akan coba jelaskan lewat tanya jawab berikut. Yaaa... tapi
tetap saja simbol melambangkan sesuatu yang diwakili simbol
tersebut. Simbol melambangkan sesuatu, itu karena konsensus bersama. Yang mengasosiasi-kan simbol dengan wakilnya/substansinya itu siapa? Bukankah itu hasil konstruk pikiran? Kalau pikiran dapat meng-asosiasikan, maka pikiran dapat pula melakukan de-asosiasi. Ini permainan pikiran. Penghinaan
terhadap sebuah simbol juga mencerminkan (baca: mematerialkan) penghinaan
ter-hadap sesuatu yang diwakili oleh simbol tersebut.
. Penghinaan terhadap simbol HANYA akan tercermin sebagai penghinaan bagi yang orang yang pikirannya kaku meng-asosiasikan simbol dengan substansi. Apa yang diinterpretasikan sebagai penghina-an, dapat pula diinterpretasikan sebagai kesurupan ^_^ oleh persepsi yang berbeda. Simbol mewakili substansi, namun BUKAN substansi. Anda
hina simbol dan anda kencingi, itu TAK BEREFEK pada substansinya, tapi berefek
pada perasaan manusia yang bego ^_^ yang mengaitkan identitas dirinya dengan
simbol itu, seakan-akan simbol itu kepanjangan tangan dari organ tubuhnya.
Simbol dilukai, hatinya pun ikut terluka, karena pikirannya yang kaku
(terkondisi) sudah menjadikan simbol itu bagian dari identitas jiwanya.
Mengapa
membenci dikatakan merupakan ciri penyembah berhala, bukankah ini memang sesuatu
hal yang manusiawi? Tersinggung, membenci, mendendam, dll itu semua manusiawi... produk dari manusia yang masih 'mati'/'tertidur'. Tersinggung itu artinya ada kemelekatan pada suatu konsep. Kemelekatan pada suatu konsep adalah pengagungan konsep itu. Mengagungkan suatu konsep itu adalah penyembahan berhala. Apakah
mengagungkan konsep pribadi daripada konsep lainnya termasuk kategori penyembah
berhala?! Orang yang tak menyembah berhala itu tak mengagungkan konsep pribadinya karena tau konsep pribadinya dinamis, dapat berubah dengan bertambahnya hikmat. Mengagungkan konsep membuat manusia sulit berubah karena tidak lagi berani mempertanyakan atau mengubah konsep tersebut, biasanya karena takut kuwalat, masuk neraka, atau terlalu dibutakan oleh rasa bangga. Itulah sebabnya *lk*t*b berkata, jangan ada ilah lain dihadapanKu. Cuman kebanyakan dari orang Kr*st*n menafsirkan ilah sebagai patung jasmaniah semata. Konsep itulah sesungguhnya 'patung' yang kaku bila konsep itu tak boleh dipertanyakan lagi. Justru karena
simbol mewakili substansi, maka penghinaan ter-hadap sebuah simbol berdampak
pada terlukanya perasaan seseo-rang sebagai konsekwensi logis dari terkoyaknya
prinsip kebenar-an tertinggi yang notabene dijiwai oleh orang tersebut.
Sekali lagi, simbol BUKAN substansi. Yang mengaitkan
simbol dengan substansi adalah pikiran manusia. Penghinaan ter-hadap simbol itu
dan perasaan terluka yang menyertainya adalah masalah pengkondisi-an pikiran
dimana manusia sudah terdidik/ terbiasakan seperti itu. Karena mindset anda sudah terkondisi,
anda tak Terkoyaknya prinsip kebenaran? Terkoyak dalam mimpimu, hehe. Prinsip kebenaran itu TAK DAPAT terkoyak. Kalau memang itu prinsip kebenaran, maka itu adalah TEGUH ABADI, terlepas dari apapun yang dilakukan manusia terhadapnya. Seseorang menginjak-injak dan merobek Kitabmu. Apakah prinsip kebenaran dalam Kitabmu itu terkoyak? Yang terkoyak itu kertas. Prinsip kebenaran (substansi) itu tetap berlaku selamanya karena prinsip kebenaran BUKAN kertas. Namun karena pikiranmu sudah terkondisi menyamakan kertas itu dengan prinsip kebenaran MILIKMU, maka ikut pula terkoyak pikiranmu/ emosimu. Prinsip kebenaran itu sendiri masih utuh. Tapi perasaan kepemilikanmu terhadap prinsip kebenar-an itulah yang terkoyak. Jadi ENGKAULAH yang bikin dirimu terkoyak dengan konstruksi/program kaku yang tercetak di otakmu. Bila suatu hari Anda sadari bahwa dirimu adalah manusia yang PUNYA pilihan bebas, tidak perlu ditentukan oleh satu program saja, maka anda bebas memilih emosi apa yang mau Anda alami, artinya, anda bisa pilih untuk menolak tersinggung dan melihatnya dari persepsi lain, bahwa orang yang merobek dan merusak kitab suci atau simbol lainnya lagi kesurupan dan bahwa buku Kitab sucimu itu adalah kertas bertinta, BUKAN prinsip kebenaran. Kalau anda memilih untuk berpersepsi seperti ini, maka anda dapat tertawa, bukan tersinggung.
Inilah program (pengkondisian) yang DISEMBAH (diberhalakan secara tidak sadar) oleh mayoritas manusia: IF/BILA
simbol-simbolku/egoku dihina THEN/MAKA aku
marah, tersinggung bin terluka. Program seperti itu adalah salah satu penyebab banyaknya orang stress, sakit jiwa di zaman ini. Bagi ORANG BEBAS, bukan ORANG TERTAWAN oleh "penjara" bikinan sendiri, program alternatifnya banyak dan dirinya dapat bebas memilih mau menjalankan program yang mana. Contoh salah satu program alternatif yang menyehatkan jiwa: IF
simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku tertawa lucu, karena yang menghina mirip
kuda lumping kesurupan. Atau, IF
simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku memaklumi yang menghina melakukan karena
keluguannya, ketertidurannya. Manusia yang tidak sadar dirinya men-jalankan (diperbudak) suatu program secara mekanistis/ robotis (kayak robot), itulah manusia yang menyebabkan banyak konflik di muka bumi ini, baik konflik dalam diri sendiri, keluarga, sampai peperangan antar negara. Reaksi pedih
yang timbul, justru BUKAN terjadi karena akibat dari pemberhalaan akan simbol,
melain-kan TERJADI KARENA terlukanya prinsip kebenaran yang dijiwai seseorang
akan sesuatu yang diwakili oleh simbol tersebut. Reaksi pedih yang timbul JUSTRU akibat kemelekatan atau
pemberhalaan simbol. Sekali lagi, prinsip kebenaran itu tak pernah dapat
terluka. Yang merasa pedih itu manusianya yang urat emosinya me-lekat pada
simbolnya. Dan melekat atau
tidak-melekat itu adalah soal pilihan. Adalah pilihan bebas dari sang
manusia untuk melekat pada simbolnya atau memilih tidak melekat. Kebebasan
sejati adalah melepaskan diri dari kemelekatan terhadap simbol. Dengan demikian,
terbebas pulalah dirinya dari perasaan terluka. Tidak ada seorangpun yang dapat menyebabkan
dirimu terluka kecuali dirimu sendiri. Dirimu sendirilah yang dapat memilih mau
tetap terluka atau tidak. Mengapa Anda
sebut sebagai suatu kemelekatan?
Pernah dengar cerita kodok yang dimasukkan ke dalam air yang dipanas-kan perlahan-lahan? Panasnya air itu tidak dirasakan sebagai suatu bahaya karena suhunya dinaikkan secara perlahan-lahan sehingga si kodok terbiasa. Kata kuncinya di sini adalah "terbiasa." Demikian juga kebanyakan manusia tidak melihat kemelekatan itu sebagai kemelekatan karna sudah terbiasa melekat. Nanti kalau sudah puas bermimpi dan udah siap bangun baru bisa melihatnya. Menurut Anda bahwa seseorang HARUS terluka kalau simbolnya dihina. Saya cuman mengemukakan pandangan bahwa seseorang TIDAK PERLU terluka kalau simbolnya dihina, dan benefitnya (manfaat-nya) untuk kesehatan jiwa cukup besar, kalau dapat mencapai taraf persepsi seperti ini. Hak masing-masing orang, mau tetap menyembah berhala atau tidak. Saya cuman kemukakan ciri-cirinya serta alasannya serta konsekuensinya/ resiko-nya. Selanjutnya terserah anda. Mau terima, mau tolak, mau berbeda pendapat dll. a h ] g b
Yahoo! Groups Links
|
- Re: [Dharmajala] Ketuhanan dalam Buddhisme_1-Pe... Wijaya
- Re: [Dharmajala] Ketuhanan dalam Buddhisme... Liem Tjien Sian \(A Heng\)
- [Dharmajala] Re: Ketuhanan dalam Buddh... Dananjaya
- RE: [Dharmajala] Re: Ketuhanan dal... Abdi Juni
- [Dharmajala] Re: Ketuhanan dal... Cheng Ceremet
