Organisasi Katholik pernah diakui oleh majalah Business Week sebagai organisasi paling efisien dan efektif di dunia (bahkan dibandingkan dengan organisasi profit sekalipun), karena kemampuannya dalam menjaga persatuan, dengan maksimal 7 lapis / level jabatan dari Paus hingga Pastur terendah. Di Kristen, perseteruan antar sekte / pengurus juga banyak dijumpai, ini mungkin sekali dikarenakan kemampuan berorganisasi yang terlalu menekankan pada liberalisasi, dan diperbolehkannya masing-2 sekte untuk berkembang sendiri-2. Sama juga dengan Buddhist.
 
Kawan kita yang merasa damai di gereja Katholik, kemungkinan besar akan menjumpai kebisingan yang sama di vihara-2 Buddhist, ketika aktif di dalam kepengurusan gereja Kristen.  Bedanya, kotbah di gereja Kristen lebih up to date dibanding di vihara (juga dibanding gereja Katholik), karena pendeta Kristen boleh kawin dan aturan lainnya jauh lebih sedikit (dibanding pastur Katholik yang tidak boleh kawin, apalagi bikkhu tertentu dari sekte Buddhis yang masih kekeuh memegang aturan "tidak boleh nonton acara TV" misalnya).
 
Namun, meskipun relatif "boring", tetap saja umat awam Katholik relatif lebih PD, apalagi umat awam Kristen, karena perkembangan Nasrani berasal dari Barat, yang karena imperialisme / kolonisasinya atas Asia, telah berhasil dalam menempatkan / mencitrakan diri sebagai masyarakat yang relatif lebih "superior" terhadap masyarakat Asia. Alhasil, metoda dan sistematika pembabaran agama kepada umat awam pun, lebih efektif, lebih berkontribusi.
 
Ct: Tanyakan pada diri sendiri:
- Jika disuruh pegang Dollar / Rupiah, cenderung pilih mana? Disini, masyarakat barat (dhi, USA) sudah ditinggikan secara ekonomi, dan buntutnya, sosial.
- Jika punya anak, pilih sekolah, sekolah Buddhist atau Nasrani ? Jika di Indonesia sedikit, ok mau kirim anak ke luar negeri, apakah ke negara Buddhist (Ct: Thailand, Kamboja, Burma), negara netral (Singapore, Hong Kong, itupun disana, pilih sekolah yang Buddhist, atau yang non-Buddhist), atau ke negara yang maju (Amerika, Australia, German), dimana sekolah Budhist jauh lebih sedikit lagi ?
 
Majoritas akan membiarkan dirinya dan keturunannya untuk ikut dalam pilihan arus yang menguatkan non-Buddhist, karena desain sistemnya terlanjur sudah demikian, dan karena belum ada pemimpin Buddhist yang visi dan kemampuan organisasi manajemennya sudah mampu untuk menciptakan sistem dan arus yang menguatkan Buddhist. Kalaupun ada, itupun masih sedikit / minoritas. Mengapa ? Karena masyarakatnya belum punya kemampuan organisasi dan manajemen, sehingga sulit untuk melahirkan satu orang dengan kemampuan serupa, apalagi dengan visi yang tinggi seperti yang dimiliki oleh pemimpin Nasrani.  
 
Fakta ini jelas ironis, mengingat:
- Universitas pertama adalah universitas Buddhist (Nalanda).
- Lingkup cinta kasih Buddhist (semua makhluk hidup) lebih besar daripada lingkup Nasrani (manusia, bahkan korbankan kambing demi iman)
- Yesus (yang membabarkan dhamma 4 tahun kemudian dihukum salib) tidak pernah menyuruh untuk mendirikan sekolah/rumah sakti, pemimpin Nasrani yang karena visinya lah, mampu mendirikan sekolah-2 bermutu, rumah-2 sakit bermutu. Bandingkan dengan Gautama yang selama 45 tahun mengabdikan diri demi Buddha Dhamma bagi semua makhluk hidup, tapi pemimpin masyarakat Buddhist (yang mayoritas notabene adalah Asian), punya visi yang pendek relatif dibanding dengan pemimpin gereja (baca: Barat).
- Buddha mengajarkan cintakasih pada semua makhluk, tapi vihara (di Indonesia) masih homogen: kalau bukan mayoritas Chinese, maka dia akan mayoritas Melayu. Bandingkan dengan Yesus yang rasis (karena memilih Israel sebagai bangsa pilihan), tapi karena pemimpin gereja berasal dari masyarakat yang secara relatif lebih tidak rasis, maka penyebarannya pun sudah menggaet banyak sekali orang-2 non-Israel; di Indonesia, gereja tidak begitu homogen relatif dibanding vihara.  
 
Visi lahir karena tingkat kepedulian (terhadap kehidupan bersama, dimasa depan) yang tinggi.
Ketidakmampuan memiliki visi adalah akibat inferioritas, yang sengaja diciptakan. Negara-2 kaya, yang membentuk G-7, hanya ada satu negara Asia (Jepang). Bangsa Jepang yang begitu majupun, belum mampu membuat bahasa Jepang sebagai bahasa international (vs Inggris). Khusus dalam konteks di Indonesia, bagaimana masyarakat yang sudah terlanjur dibungkam / dikebiri selama 32 tahun -- yang berakibat pada rendahnya kepedulian sosial, apalagi kepedulian dalam aspek lain -- mampu diharapkan untuk mengembangkan Buddhisme ?  Jika semua Indonesian Chinese memeluk Buddhispun, itu hanyalah 4-6% dari populasi negara ini, jadi very, very long way to go, untuk mengandalkan pengembangan Buddhisme di Indonesia pada segelintir orang ini, meskipun kantongnya tebal-2.
 
Sukses dalam pengembangan ajaran agama adalah karena kontribusinya dalam membangkitkan Percaya Diri umatnya (meningkatkan taraf hidup psikologis), bukan sekedar pembangunan fisik tempat ibadah. Visi gereja sudah membuktikannya melalui pendidikan (pendirian sekolah), rumah-2 sakit, dsb, dan utamanya, dengan mengupdate diri (umat) terus menerus.  Ironis sekali ajaran yang dipelajari Yesus dari daerah Himalaya, ternyata dikembangkan oleh orang-2 yang lebih superior visinya. Lebih ironis lagi, setelah menyadari hal ini, pemimpin-2 Buddhist belum bisa merealisasikan visi tersebut, karena resistensi atas kultur dan pola pikir lama yang begitu kuat.
 
Jika sudah begitu, ini mirip dengan pemimpin-2 negara ini, yang banyak menelurkan wacana, tapi sikap mentalnya masih sama, atau kalaupun berubah, kecepatannya masih sangat lamban sekali. Jika demikian, maka hukum alam akan berlaku: para cerdik cendekia akan pindah ke tempat yang lebih maju (US, Singapore, Canada, dsb) meskipun masih ngomong bahasa Indonesia, seperti halnya teman kita akhirnya menemukan kedamaian di gereja Katholik, meskipun dia masih berTisarana.
 
Contoh suskes dalam hal ini adalah AA Gym, yang sudah begitu terbuka pola pikirnya, dengan visinya yang maju, mampu menimbulkan PD kepada umat Islam. Jika seorang bosan dengan kotbah gereja Katholik pun, seperti seorang teman saya, diapun mendengarkan kotbah AA Gym, yang lebih modern dan mengena, dan yang lebih damai dibanding dengan kotbah si gendut yang saking antusiasnya air ludahnya bisa kemana-mana ketika berkotbah di TV, atau si cewek yang belum apa-2 sudah teriak-2kan pujian bagai orang mau berantem di siaran TV, meskipun si gendut dan si cewek sama-2 memuliakan Yesus.
 
Faktor lain juga, kepedulian atas anggota baru dalam vihara.  Tipisnya kepedulian umat Buddhist direfleksikan dalam kecuekan atas hadirnya umat baru di vihara. Bandingkan dengan kepedulian di gereja, yang cenderung bertegur sapa kepada umat baru di gereja. Gereja Katholik yang konservatifpun mengajarkan "salam damai" kepada umatnya, tanpa pemimpin gereja Katholik merasa berdosa merubah "peraturan" sebab jaman Yesus dulu tidak ada salam-2an. Kepedulian ini juga direfleksikan dalam maintenance aktifitas / kehadiran member tersebut di vihara. Vihara tidak mau mengajarkan salam damai, entah kenapa, padahal sentuhan fisik ini sangat efektif dalam mentrigger tegur sapa (baca: kepedulian).  Salam dengan kedua tangan ditutup pun masih "mahal" di vihara yang ramai. Ilmu cuek (kepedulian yang tipis) ini sangat dikuasai oleh umat awam Buddhit dibanyak sekali vihara, yang ajarannya adalah metta karuna dan mudita. Atau, barangkali saya yang salah, karena umat-2 awam ini ternyata sudah jadi arahat / bodhistava, jadi dibatin aja orang lain bisa terpedulikan psikologisnya.
 
Kepedulian (sosial) inilah yang menyatukan dan meningkatkan PD umat gereja. Rasa persatuan dan PD ini bagai efek spiral yang bekerja. Sampai hari ini, dua tahun lebih setelah belajar Buddhisme, teman-2 gereja begitu mudah mengajak saya untuk baksos. Sedangkan teman-2 Buddhist, rupanya lebih sibuk mengadakan acara seminar. Adapun teman-2 Buddhist yang mengajak baksos, adalah om-2 dan tante-2, yang umurnya jauh lebih tua dari saya. Mungkin karena mudanya sibuk siapkan seminar, saya tidak tahu.
 
Semoga Agama Buddha dan Buddha Dhamma dapat maju pesat dalam berkontribusi nyata terhadap peningkatan taraf hidup psikologis umatnya.
 
PS.
 
----- Original Message -----
From: brianz liu
Sent: Monday, April 25, 2005 8:57 AM
Subject: [Dharmajala] FW: [MUBI] sharing




-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
teruteruboce -
Sent: Sunday, April 24, 2005 6:41 PM
To: mabindo -; mubi -
Subject: [MUBI] sharing




>  Menyambung posting mengenai konstribusi agama
> Buddha untuk umatnya, berikut ini saya akan
> postingkan postingan seorang teman koresponden
> di....(dibuset) postingan yang bikin panas hati tapi
> mengandung kebenaran yang tidak dapat dipungkiri
>  Salam sejahtera,
>
> Hi, apa kabar bro? Saya akan sharing mengenai
> pertanyaan  kamu pada email minggu lalu :  Kenapa
> setelah belajar Buddha dharma sekian lama akhirnya
> kembali keajaran Yesus?
>
> Bro yang baik, memang saya dulu adalah umat khatolik
> yang baik, rajin melakukan persekutuan doa, rajin ke
> gereja dan rajin melakukan kegiatan social.
>
> Namun iman ku luntur seketika ketika mulai mengenal
> ajaran Buddha, kira-kira 10 tahun yang lalu ketika
> aku bertamu kerumah salah satu kawan sekolahku, di
> meja bukunya ketemukan sebuah buku kecil berjudul
> ketuhanan dalam agama Buddha. Setelah membaca buku
> itu pikiran ku kacau!-. Jiwaku yang kritis mulai
> protes terhadap keyakinan buta ku!- dari saat itu
> aku mulai mencari dan mencari hingga tak kusadari
> akupun di tisaranakan menjadi umat Buddha.
>
> Yang ada dalam benak ku pada saat itu adalah
> bagaimana untuk memajukan agama Buddha, dan ingin
> membuddhistkan atau membagi ajaran Buddha yang
> sempurna kepada setiap orang. Segala sarana
> pendukung aku tampung dan kumpulkan dari kitab-kitab
> suci sampai download semua informasi. Sejujurnya
> tanpa kusadari aku telah memupuk dosa dengan
> memelihara kebencian dalam bathin ku.
>
> Dengan bekal pengetahuan dharma ku aku
> melanglang buana, mulai dari keluarga, kerabat dan
> teman2 yang tidak sesuai dengan keyakinanku semua
> kubabat, karena dalam diriku telah tertanam agama
> Buddha adalah agama yang memberikan jawaban dan
> solusi terbaik untuk kehidupan.
>
> Waktu berlalu dengan cepat, , aku mulai menyadari
> bahwa aku telah salah jalan, kevihara membuat aku
> bosan karena para bhikkhu atau romo kalau berceramah
> sangat dan sangat membosankan. Lalu didalam
> organisasi Buddhist sendiri terutama pemuka2
> agamanya saling menjegal demi kepuasan golongan. Aku
> mulai kecewa dan menuntut, apa yang selama ini aku
> kerjakan tapi tidak memberi hasil untuk diriku
> maupun komunitas sekitarku. Bathinku mulai gelisah
> dan untuk menenangkan dan mendamaikan diriku, aku
> tekun bermeditasi. Awalnya meditasi memberikan
> solusi karena dalam keadaan hening saya dapat
> merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan,
> tapi ketika dalam kehidupan sehari-hari tetap saja
> kelakuanku tidak dapat berubah!-
>
> Memang ajaran Buddha sangat dan sangat luar biasa
> dan universal, namun masuk dalam komunitas Buddhist
> jugalah yang membuat bathinku terperosok dalam dosa,
> pertama adalah karena diriku terlalu sombong,
> percaya diri hingga menjadikan aku buta dalam
> menjalankan dharma, kedua, aku berjalan sendirian,
> tanpa bimbingan dan komunitas yang dapat menampung
> inspirasi dari umatnya.. tentu bro akan bilang bahwa
> vihara tempatnya, tapi apakah bro tahu vihara isinya
> adalah manusia munafik, sekedar lips service
> mengatakan semoga semua makhluk berbahagia,
> prakteknya adalah sesama sekte saling jegal
> menjegal. !.mungkin!/ factor terakhir inilah
> penyebab utamanya.
>
> Beberapa tahun belakangan ini, saya kembali dalam
> komunitas khatolik, namun  bukanlah aku yang dulu
> yang hanya menelan doktrin dgn iman buta, aku merasa
> lebih tenang, aku dapat berdamai dengan diriku
> sendiri.. dalam komunitas kami saling berbagi &
> mengasihi, real dalam praktek bukan sekedar lips
> service.. walau aku mengetahui, dalam komunitas
> Kristen fanatic buta yg menganggap ajaran lain sesat
> tapi saya tetap salut dengan usaha mereka!-
> konstribusi organisasi mereka nyata karena dapat
> menampung, membantu dan memberikan rasa percaya diri
> kepada umatnya.
>
> Maaf ya bro, bukan maksud saya menjelek-jelekan
> agama yang pernah saya jalanin, karena anda adalah
> teman baik saya, maka saya sekedar sharing, tidak
> ada maksud untuk mengkristenkan anda atau maksud
> lain, sampai sekarang pun saya tetap menamaskara
> kepada Triratna, bermeditasi.. Saya lebih cocok
> dengan organisasi yang solid yang dapat
> melakukan real dilapangan.. dan kebetulan disana
> saya dapat menemukan kebahagiaan. Saya dapat
> berdamai dengan diriku sendiri!-..
>
> Dalam posting bro, tentang pengalaman dan
> kebahagiaan dalam komunitas buddhist sayapun turut
> berbahagia. Kebahagiaan inipun sempat saya rasakan
> seperti bro ketika aku bergabung dalam komunitas
> Buddhist!- saran saya, jangan tahu apa itu namanya
> lembaga  komunitas, nanti anda akan kecewa dan
> tersesat seperti saya.
>
> Salam
>
> moon
>
>
>
>
> ---------------------------------
>



Situs Buddhis Kalyanadhammo selalu hadir dengan bahan
bacaan yang OKE punya
buat anda. Akses saja di http://www.Kalyanadhammo.net
atau
http://welcome.to/bbcid

Ingin ikut berdiskusi..? kirimkan email anda ke
[EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links











_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
注册世界一流品质的雅虎免费电邮
http://cn.rd.yahoo.com/mail_cn/tag/1g/*http://cn.mail.yahoo.com/





Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke