Mau sedikit komentar ya, maap sebelumnya kalau salah karena masih dangkal juga pengetahuan kita :)
Dari sekian banyak thread, terkesan *terkesan lho* sebagian besar menganggap mereka-mereka yang bersujud, memanjatkan doa, memasang dupa, "berkomat-kamit" di depan rupang buddha atau pun dewa-dewi, merupakan suatu kesalahan??? Maap kalau saya salah tangkap.
Mudah2an hanya menganggap bahwa itu BUKAN-lah apa yang diajarkan Sang Buddha, tapi banyak dipraktekkan oleh mereka2 yang "menganggap" dirinya beragama buddha.
Kalau misalkan semua yang masih mempraktekkan berdoa, tiam-hio ce-it cap-go, sembahyang dewa-dewi, dianggap bukan umat buddha, saya rasa akan berkurang cukup banyak umat yang ada di indonesia, terutama dari generasi sebelumnya, yang masih sembahyang ceng-beng ke orang tua, ciap jai sin tiap imlek-an dan lain2 dengan segala persembahan? Apakah mereka termasuk beragama buddha? Memang mungkin lebih mirip KHC, tapi masih umat buddha bukan ya???
Mudah2an memperdebatkan ber-doa disini hanya bertujuan untuk mengetahui, sebenarnya, apa sih yang diajarkan oleh Hyang Buddha tentang tata-cara berdoa itu?
Duduk diam sambil merenungi jalan Buddha?
Atau menggunakan tata cara Sigalovada ke arah2 penjuru?
Dengan dupa dan persembahan buah2an air bunga de el el?
Kalau dengan dupa caranya bagaimana? Tidak boleh berdoa? Atau mungkin isinya selama ini salah kali ya -- yang contoh sebelumnya minta kesejahteraan deelel -- :)
Bagi orang2 yang awam, membaca paritta Pali itu tidaklah gampang, karena kurang pemahaman akan bahasa, kurang pengertian akan isinya, lebih mudah tentunya menggunakan bahasa Indonesia atau dengan dialek masing2 :) Sayang sekarang buku kebaktian di vihara sudah lebih tipis, dahulu 2x lebih tebal karena ada terjemahan ke bahasa indonesia dari masing2 paritta yang dibacakan selama kebaktian.
Hemat saya, ada dua hal yang sangat simpel yang bisa saya jadikan sebagai patokan
Buddha bersabda (maap kalau salah, tapi sering saya dengar, bahkan ada di buku Dalai Lama)
"Help others," and "If you cannot help them, at least do not harm others."
Saya rasa ini sangat simpel untuk dipraktikkan.
Dengan demikian, bagi saya pribadi, kenapa mempersoalkan umat yang berdoa dengan tiam-hio dengan kata2, kepercayaan, dan keyakinan mereka masing2? Siapa yang dirugikan? Apakah mungkin umat buddha secara keseluruhan dirugikan?
Saya sendiri masih mempraktikkan tiam-hio ke thi-kong dan tee-cu-kong di rumah.
I feel more comfortable by doing it, as simple as that.
Selain itu juga menikmati membaca paritta dan gita2 di vihara tentunya.
Just my 2-cents .....
Regards,
Bodhi Vidya.
On 5/17/05, Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
==BERDOA==
Bukanlah suatu pemandangan yang 'aneh' kalau dalam suatu vihara kita melihat
beberapa orang umat Buddha bersujud di depan patung Sang Buddha. Bahkan,
tidak sedikit diantara mereka yang tidak hanya bersujud, tetapi mulut
mereka 'berkomat-kamit'. Pemandangan seperti itu kadang kala menggelitik
pikiran kita untuk bertanya-tanya,"Apakah mereka itu mengharapkan sesuatu
dari Sang Buddha?"
Setelah diadakan pendekatan, akhirnya beberapa orang di antara mereka ada
yang bersedia memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Jawaban yang
mereka berikan bermacam-macam. Ada yang mengharapkan kesehatan dan
keselamatan; ada yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan; ada yang
mengharapkan kekayaan; dan ada pula yang mengharapkan jodoh!
Kalau dipikirkan, dua jawaban yang pertama itu masih agak bisa dimaklumi,
tetapi dua jawaban yang terakhir itu sangat mengherankan! Bagaimana mungkin
meminta kekayaan kepada Sang Buddha yang dalam Kitab-kitab Suci dituliskan
bahwa Beliau dengan kesadaranNya sendiri telah meninggalkan semua kekayaan
yang dimilikinya; mulai dari tiga istananya yang indah sampai pada
kerajaannya yang megah? Bagaimana pula meminta 'jodoh' kepada Beliau yang
telah meninggalkan istrinya yang cantik jelita dan semua dayangnya yang
mempesano? Apakah harapan-harapan itu tidak "salah alamat'?
Sesungguhnya sejak pembabaran Dhamma yang pertama sampai saat menjelang
parinibbana, Sang BUddha tidak pernah mengajarkan kita untuk meminta-minta
apapun juga (terlebih-lebih 'Kebebasan") kepada orang lain, baik kepada
dewa, Arahat maupun Sang Buddha sendiri.
"Meminta-minta" kepada orang lain bukanlah sesuatu perbuatan yang mulia,
sedangkan berusaha sendiri dengan mengerahkan semua kemampuan yang ada
adalah suatu perbuatan yang patut dipuji dan dicontoh. Dengan kata lain,
dapat dikatakan Sang BUddha tidak menginginkan umatNya menjadi
'pengemis-pengemis' kebahagiaan!
Tidak ada sesuatu yang lebih berharga daripada apa yang diperoleh melalui
usaha dan perjuangan sendiri. Tidak jarang Sang Buddha bersabda bahwa Tidak
ada sesuatu pun yang bisa diperoleh dengan 'gratis'! Keuntungan, kemakmuran,
kesejahteraan, kebahagiaan, apalagi kesucian dan penerangan semp[urna tidak
pernah dan tidak akan pernah datang dengan sendirinya. Hanya dengan usaha
dan perjuanganlah semua itu baru bisa betul-betul terwujud!
Mengharapkan sesuatu dengan berdoa atau memohon seperti itu sesungguhnya
lebih sia-sia daripada mengharapkan jatuhnya bintang-bintang dari atas
langit. Akhirnya tidak terlalu berlebihan kiranya bila seseorang memberikan
komentar bahwa bagaimanapun juga, tujuan utama dari doa manusia adalah untuk
meminta "mukjijat". Setiap doa ringkasnya berharap demikian,"Semoga dua kali
dua tidak jadi empat!" Perlu ditambahkan bahwa bila doa itu benar-benar
"manjur", maka tidak seharusnya banyak orang mati karena kelaparan.
Dalam kKitab Suci Ripitaka tidak ada satu ajaranpun yang menganjurkan kita
untuk berdoa meminta "makanan" ataupun "rejeki"; baik makanan atau rejeki
"secukupnya" maupun berlebihan; baik makanan atau rejeki pada "hari ini
maupun hari-hari selabjutnya!"
Setelah diteliti secara seksama, maka dapat disimpulkan bahwa hanya
orang-orang yang tidak mempunyai "keyakinan pada diri sendiri"lah yang
senang berdoa dan memohon.
Sekarang mungkin timbul pertanyaan,"Kalau memang agama Buddha tidak mengenal
ajaran tentang 'doa', lalu apa yang dilakukan oleh umat Buddha di depan
patung Sang BUddha?" Sesuai dengan yang disabdakan oleh Sang Buddha, Umat
Buddha sadar dan tahu bahwa perbuatan itu tidak hanya bisa dilakukan melalui
ucapan dan perbuatan saja, tetapi melalui pikiranpun perbuatan baik dapat
dilakukan. Dengan alasan inilah maka umat BUddha berusaha untuk
membersihkan pikirannya dari kekotoran-kekoptoran bathin. 'Salah satu' cara
untuk membersihkan pikiran adalah merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha.
Pada waktu merenungkan sifat-sifat mulia tersebut, pikiran yang ada dalam
diri kita adalah pikiran baik saja. Sebabnya ialah bahwa tidak mungkin dua
pikiran yang berbeda (baik dan jelek) muncul pada waktu bersamaan. Ini dapat
diumpamakan seperti dua sisi dari satu mata uang. Bila sisi yang satu berada
di atas, maka pasti sisi yang lain berada di bawah.
Sesungguhnya, sifat-sifat mulia Sang Buddha itu tidak terbatas jumlahnya
namun untuk lebih memudahnya, kita bisa merenungkan sifat-sifat itu seperti
tercantum dalam Buddhanusati:
"Demikianlah Sang Bhagawa, Yang Maha Suci, Yang telah mencapai Penerangan
Sempurna, Sempurna pengetahuan serta tanduknya, Sempurna menempuh Sang Jalan
(ke Nibbana), Pengenal segenap alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya,
Guru para Dewa dan manusia, Yang Sadar, Yang patut dimuliakan".
Sifat-sifat mulia inilah yang seharusnya direnungkan oleh setiap umat Buddha
di depan patung Sang BUddha, bukan malah memperbesar keinginan dengan
memanjatkan 'doa-doa' atau permohonan-permohonan yang sesungguhnya tidak
berguna!
=============Di ambil dari buku kecil, kumpulan tulisan oleh : S. Gunawan.
Dimana kumpulan tulisan tersebut pernah dimuat di Pancaran Dharma tahun 1985
dan 1986============
Tambahan saya:
Mungkin rekan yang punya kamus berkenan menuliskan definisi DOA, dulu. Agar
pemahaman kita lebih jelas.
Kata-kata,"Semoga semua mahkluk berbahagia", menurut saya itu lebih
ditujukan kepada diri sendiri. Membangkitkan metta di dalam diri kita
sendiri, bukan permintaan kepada satu makhluk tertentu. Bila metta kita
kuat, maka pikiran yang sesungguhnya adalah getaran, bisa mempengaruhi
pikiran, getaran makhluk lainya juga.
Paritta Ettavata, seorang bhikkhu STI dulu pernah jelasin. Aslinya Paritta
itu pendek, itu sekarang jadi panjang karena ditambahin oleh bhikkhu Sri
Langka dulu. Gimana aslinya, maaf, saat itu nggak sempat nanya.
Satu lagi:
Ada 3 orang Kwik, Kwek dan Kwak. Punya bibit mangga yang sama, tanah yang
sama suburnya, cara perawatan yang sama, pupuknya sama.
= Kwik menanam biji mangga, lalu berdoa dengan khusuk, agar tumbuh jadi
pohon kelapa.
=Kwek menanam biji mangga, juga berdoa dengan khusuk, agar berbuah menjadi
pohon mangga dan mendapat buah mangga.
=Kwak menanam biji mangga, ingin mendapat buah mangga, tapi sama sekali
tidak berdoa apapun.
Nah, apakah doa si Kwik mampu terwujud?
Tapi, kenapa 'doa' si Kwek 'manjur'? ^_^
Dan, kenapa si Kwek tanpa doa juga mendapat pohon dan buah mangga?
Moral the Story:
Keinginan kita tercapai TIDAK TERGANTUNG pada ada tidaknya doa, tapi
TERGANTUNG BENIH YANG KITA TANAM. Kalau kita menanam benih mangga, maka
tanpa doa, pasti benih itu akan membuahkan mangga. Tapi kalau kita menanam
benih mangga, maka tak ada doa yang bisa membuat agar membuahkan buah
kelapa. Demikian juga kebahagiaan, kekayaan, kesucian, keselamatan, bisa
diperoleh bila kita menyediakan benihnya.
Semoga bermanfaat.
Salam metta,
Wijaya
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--
--------------------------------------------------------------------------------
The past cannot be changed; the future is still in your power.
--------------------------------------------------------------------------------
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
