Dear Bro Jimmy,

Saya memang berniat menuliskan isi seminar tersebut. Ini beberapa point saja
dulu.

Ini soal pikiran sadar dan bawah sadar. Bahwa kita hidup sehari-hari
dipengaruhi 12% pikiran sadar dan 88% pikiran bawah sadar. Pikiran bawah
sadar itulah tumpukan dan kumpulan program pikiran yang tertanam, terinstal
sejak umur 0 tahun. 

Misalnya, ketika anak mendapat nilai jelek, orang tua atau guru
mengomentari,"Dasar anak bodoh!, Anak malas!". Itulah salah dua program
pikiran yang tertanam. Kekuatan program pikiran itu tergantung siapa yang
menyampaikan, usia berapa anak itu, emosi anak saat itu, kuntitas, berapa
sering program pikiran itu diterima si anak. Ini seperti hipnotis, si anak
akan PERCAYA, bahwa dirinya memang bodoh, malas. Dan akan jadi bodoh dan
pemalas sampai tua.

Karena itu menurut Pak Adi, orang tua, guru tidak boleh sama sekali
menyatakan atau mengingatkan pada si anak kegagalan, nilai jelek, sikap
buruk si anak yang pernah dilakukan. Alih-alih, si anak mesti mendapat
program yang positif. Misalnya,"Wah, kamu pintar ya, mampu menyelesaikan
tugas ini. Kamu rajin! Kamu hebat! Kamu welas asih, ya..." Jadi kesuksesan,
kebaikan si anak--berapa kecilnyapun kesuksesan, kebaikan tersebut--itulah
yang mestinya diulang-ulang, diINGATkan pada si anak. Puji, jangan dicela.
Jangan singgung apa yang pernah ditakuti si anak, apa yang pernah gagal ia
lakukan atau capai.

Pak Adi bilang,"raport pertama anak kita di TK, sesungguhnya adalah Raport
--pendidikan--orang tuanya sendiri!" Kalau raportnya jelek, itu sesungguhnya
kualitas pendidikan orang tua pada anaknya, sejak usia 0 tahun. Jadi orang
tuanya yang nggak bisa mendidik. Tapi karena orang tua nggak ngerti, malah
memarahi si anak. Ini lah yang sangat amat keliru, Program negative! Ini
akan menyabotase konsep diri si anak.

*** Usia anak menentukan kekuatan pengaruh program yang masuk.
=0-7 tahun: fase Tanam. Anak belum punya referensi pertahanan diri untuk
menolak, jadi ucapan yang diterima akan masuk tanpa halangan menjadi sesuatu
yang diPERCAYA sebagai hal yang BENAR.

=7-14 tahun: Periode model. Mulai ada pertahanan terhadap apa yang ia
terima. Suka meniru model, orang yang diidolakan oleh si anak.

=7-21 tahun: Periode sosial. Anak mulai belajar dari lingkungan.

=21- dst. Sudah susah untuk berubah lagi.

Jadi, 0-21 tahun itu masa-masa pembentukan manusia yang menentukan bagaimana
konsep diri si anak, dan akhirnya menentukan kesuksesan si anak.


***Kualitas program ditentukan oleh siapa yang menyampaikan, menanamkannya:
=Orang tua, paling kuat pengaruhnya pada anak.
=Guru.
=Orang yang tidak punya otoritas pada si anak, adalah paling lemah
pengaruhnya pada si anak.


***Kapan disampaikan:
Saat mau bobok dan baru bangun adalah kondisi paling lemah bagi si anak.
Jadi juga saat paling tepat memasukkan dan paling gampang diserap si anak.
Misalnya dengan membacakan dongeng, kisah jataka, kisah kebajikan,
kepahlawanan, kasih dlsb yang kita anggap positif.



>>>Relevansinya dengan pendidikan BUddhis pada methode pendidikannya.
Kalau kita mau bangun sekolah, mesti ada daya tarik, ada kelebihannya. Kalau
tidak, akan kurang dilirik. (Apalagi dengan adanya peraturan, masing-masing
anak mesti mendapat pelajaran agama yang sesuai agamanya.)

Menurut Pak Adi, sekolah kita yang biasa-biasa ini kurang tepat methodenya.
Bukannya mendorong potensi anak, malah sering justru menghambat. Seperti,
jawaban yang benar itu mesti seragam sesuai pendapat Pak Guru saja, ini
menghambat kreativitas anak didik. Guru sering menanam program pikiran
negative. Menyatakan si anak,"Bodoh!", padahal sesungguhnya si anak bukannya
bodoh, tapi karena belum menguasai pelajarannya. Bila Pak Guru bisa
menjelaskan, dan dimengerti si anak, tentu akan mampu menjawab soal-soal
ulangan. Intinya, beliau mensosialisasikan methode pendidikan yang baru,
hasil kajian para pakar pendidikan luar negeri. Digabung dengan pelajaran
Abhidhamma soal pikiran yang beliau dapat dari Bapak Panjika.

Mehode pendidikan modern inilah daya tarik, kelebihan yang bisa ditawarkan.




>>>Sebagai tambahan dan perbandingan.
Saya SD, SMP di katolik, dapat pelajaran agama Katolik. SMA, negeri, karena
Katolik belum punya saat itu. Syukurnya saya tidak mendapat sindiran
sedikitpun soal agama. Suka suka saja dengan pelajaran agama Katolik, ada
kisah-kisahnya yang menarik, ulangannya juga gampang-gampang. Malah ada
teman saya di rapot dapat 9. Ketika ditanya, guru agama SMP nya bilang,"Ini
pelajaran agama, bukan nilai spiritual". Tak ada konflik sedikitpun. Di SMA
negeri dapat pelajaran agama Buddha. Tapi sering bolos, malas. D3 Perguruan
Katolik dapat pelajaran Etika.

Sampai usai D3, konsep Tuhan personal masih melekat, karena konsep ketuhanan
menurut Buddha Dhamma masih dikabur-kaburkan. Adam manusia pertama. Dengan
pemahaman Tuhan personal yang Maha Kuasa menurut monoteis, bagimana saya
bisa memahami hukum karma? Penjelasan Ketuhanan yang to the point oleh Jan
S. akhirnya mampu menjawab soal keadilan hidup ini. Sehingga memilih Buddha
Dhamma. Bangga menjadi Buddhis.

Teman-teman saya yang tradisi, ke kelenteng, hamper semua sekolah di
Katolik, setahu saya tak ada yang pindah ke Katolik. Tetap ke kelenteng dan
vihara sekaligus saat ini. Padahal pelajaran sekolah dimulai dan ditutup
dengan doa Bapa kami atau Salam Maria. Selama 9 tahun. Sedang ke kelenteng
hanya di hari-hari tertentu saja.

Pointnya, Saddha, keimanan orang tua lebih menentukan kemana arah agama
anaknya. Menurut saya, rencana JANGKA PENDEK yang mesti dicapai, kita yang
sudah dewasa dan orang tua mesti meningkatkan saddha dulu. Konsolidasi
organisasi dulu, sebagai pendukung management sekolah. Kalau mengurus vihara
saja masih belum kompak, bagaimana bisa mengurus sekolah? 


Sekian terima kasih.

Salam metta,
Wijaya


Date: Thu, 01 Sep 2005 09:02:20 -0000
   From: "pelayan_buddha" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Sekolah model apa yang kita mesti bangun?

Dear Bro Wijaya,

Sekuntum teratai untuk anda, seorang calon Buddha.

Terima kasih untuk inputnya. 

Bersedia menceritakan pandangan Bro lebih jauh mengenai esensi seminar
"Berpikir positif kunci menuju sukses", yang dibawakan oleh Bpk. Adi
W. Gunawan? Dan bagaimana relevansinya dengan pendidikan Buddhis?

Karena kami ada retret pemula Dharmajala yang akan berlangsung dari
tgl 2 s/d 4 Sep 05, saya baru bisa berinteraksi minggu depan.


Anumodana

JL


Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke