Title: Taman impian

Taman impian

 

Kampung itu sangatlah terpenci. Begitu terpencilnya sehingga penduduk kampung sangat terisolasi. Sudah berpuluh-puluh generasi penduduk tinggal disana dan tidak ada seorangpun yang pernah keluar kampung atau mengenal dunia diluar kampung.

 

Hal itu mendorong seorang pemuda untuk berkelana. Ia berjalan keluar kampung sekian lama dan menemukan sebuah tempat yang sangat indah nan makmur. Sungguh sebuah taman impian. Ia berniat kembali ke kampung dan memberitahu tentang taman tersebut.

 

Ketika kembali, seluruh penduduk kampung sangat terpesona oleh ceritanya. Pemuda ini harus bercerita berkali-kali untuk menggambarkan keadaan taman indah tersebut. Ia juga harus berkali-kali menggambarkan cara menuju taman itu.

 

Waktu terus berjalan. Sekarang pemuda itu telah menjadi tua. Penduduk kampung masih juga tidak bosan-bosannya terpesona dengan taman yang ia temukan. Namun sekarang mereka telah mempunyai sebuah peta yang sangat sempurna, yang menggambarkan taman impian nan indah tersebut, yang selalu diperbaiki dan disempurnakan sesuai gambaran si pengelana.

 

Kini pengelana sudah lama meninggal. Penduduk masih antusias untuk berdiskusi tentang taman, namun mereka hanya memiliki peta sebagai acuan. Semua orang merasa mengenal dan menguasai taman impian dengan sangat baik, mengetahui setiap rincian yang ada dalam peta dan menghafalnya. Peta menjadi bahan acuan untuk perdebatan dan diskusi yang hebat nan ilmiah. Peta menjadi benda suci yang wajib diketahui semua orang, diajarkan kepada setiap generasi.

 

Namun tidak ada seorangpun yang berniat keluar kampung, berkelana dan mencari taman itu …..

 

 

Apakah kita harus selalu berdebat dan merasa yang terbaik mengenal Sang Suci ? Tidakkah kita ‘keluar’ sejenak dan mencari jalan menuju Sang Suci ?

 

Konon, kabarnya  Sang Buddha Gotama keberatan merinci tentang Sang Suci dan hanya menunjukkan BAGAIMANA cara menuju ‘taman impian’ tersebut.

 

 

Sumber : Burung Berkicau



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke