PAHALA DARI
MELAFAL NAMA BUDDHA (1)
Judul asli: Nianfo De Gongde
Pembicara: Bhiksu JingKong (Chin Kung)
Tempat dan waktu: National Cheng Kung University, kota Tainan, 
Desember 1994
Penyusun: WuZhenDu

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh : Ching Ik, 28 Juli 2005

 

Hari Pertama

Yang terhormat, Ketua Yayasan Buddha Amitabha kota Tainan, para 
rekan praktisi, para senior:

Ini merupakan sebuah jodoh yang istimewa dapat berbincang-bincang 
mengenai Buddha dharma di lokasi yang indah di National Cheng Kung 
University. Pada kesempatan ini terdapat  4 kali sesi ceramah dengan 
tema "Pahala Dari Melafal Nama Buddha". Dalam beberapa tahun ini, 
perkembangan agama Buddha di Taiwan dapat dikatakan cukup berhasil, 
khususnya metode ajaran Nianfo (melafal nama Buddha). Meskipun 
jumlah orang yang melafal nama Buddha cukup banyak, namun tentang 
mengapa harus melafal nama Buddha, bagaimana cara melafal nama 
Buddha, dan seberapa besar manfaat dari melafal nama Buddha, 
pertanyaan-pertanyaan ini bagi sebagian besar orang sedikit banyak 
masih menyisakan kebingungan. Mengenai hal ini, kita akan 
mengedepankannya dalam topik ceramah kita kali ini. 


Buddha dharma sebagai sistem pendidikan

Pertama-tama, kita harus mengenal secara benar tentang apa itu 
Buddha dharma, kemudian baru dapat menimbulkan ketertarikan terhadap 
pembelajaran Buddha dharma, dengan demikian maka manfaat dan pahala 
dari Buddha dharma pun akan dapat dengan mudah dipetik. Pada awal 
era China Nasionalis, Bapak Ouyang Jingwu pernah memberikan sebuah 
ceramah yang sangat penting tentang ajaran Buddha. Teks hasil 
ceramah tersebut telah didokumentasikan oleh siswa beliau dan 
beredar di Taiwan. Barangkali ada rekan praktisi yang sudah pernah 
melihatnya. Tema dari ceramah tersebut adalah "Buddhisme bukanlah 
sebuah agama maupun filsafat namun dia harus dibutuhkan di jaman 
sekarang". Saat itu ceramah tersebut disampaikan di Universitas 
ZhongShan Ke –IV di mana Universitas ZhongShan ke-IV ini telah 
berubah nama menjadi  Nanjing Normal University di masa sekarang 
ini, dan saat berakhirnya perang dunia ke 2, universitas ini bernama 
Universitas JingLing Wanita, sekarang berganti nama menjadi Nanjing 
Normal University.  Jadi pada awal era China Nasionalis, namanya 
adalah Universitas ZhongShan ke IV. 
Maksud dari ceramah tersebut adalah memberitahu kepada kita bahwa 
sesungguhnya Buddha dharma itu memang dibutuhkan pada jaman sekarang 
ini. Kita tidak boleh memandangnya sebagai sebuah agama. Agama 
hanyalah berada dalam arti yang sempit, dia tidak dapat mencakup 
Buddha dharma. Sedangkan Buddha dharma-lah yang mencakup agama. 
Kondisi ini mengibaratkan bahwa Buddha dharma seperti sebuah 
universitas yang utuh. Sedangkan agama dan filsafat merupakan sebuah 
jurusan keilmuan/fakultas yang berada di dalam universitas itu. 
Jurusan keilmuan tidak dapat mencakupi keseluruhan universitas, 
sedangkan universitas sesungguhnya memiliki berbagai bidang jurusan 
itu.      

Kita selidiki secara seksama, apakah sebenarnya Buddha dharma? Tuan 
Ouyang mengatakan, "Buddha dharma adalah Buddha dharma". Tentu tidak 
ada yang salah dengan perkataan ini, tetapi dalam proses 
pembelajaran kita selalu diliputi oleh kebingungan, merasa ada 
sesuatu yang misterius. Lalu kemudian kita selidiki lagi secara 
seksama, bahwa ternyata agama Buddha itu sangat mirip sekali dengan 
apa yang kita sebut sebagai pendidikan. Dengan kata yang 
sesungguhnya,  agama Buddha itu adalah sistem pendidikan. 

Pada masa Sang Buddha Sakyamuni mendirikan basis pendidikan ini, 
mirip sekali dengan sistem pendidikan yang didirikan oleh Confucius 
secara pribadi di China. Melalui sejarah, kita tahu bahwa Confucius 
saat gagal memenuhi cita-citanya dalam kehidupan politik, lalu 
mengundurkan diri dan menjalankan tugas pengajarannya. Sedangkan 
kondisi sang Buddha Sakyamuni justru adalah kebalikan dari 
Confucius, di mana Beliau melepaskan dunia politik kemudian baru 
menjalankan tugas pengajaran. Jadi kondisinya berbeda dengan 
Confucius. Akan tetapi mereka sama-sama memiliki pencapaian yang 
agung dan mulia dalam basis pendidikan, inilah yang harus kita 
pahami dengan jelas. 
 
Oleh sebab itu saat setelah agama Buddha masuk ke China, para umat 
Buddha China memberi gelar kehormatan kepada sang Buddha Sakyamuni 
sebagai "BenShi (guru utama)". Hal ini sama seperti para kaum 
pelajar di China memberi hormat kepada Confucius sebagai "XianShi" 
yang artinya sepadan dengan "guru utama". Kita menyebutnya BenShi, 
yakni guru yang utama, di mana dia adalah guru pertama yang 
mendirikan basis pendidikan ini, yakni sebagai pendiri. Lalu kita 
sendiri menyebut kita sebagai siswa, maka ini sangat jelas sekali 
terlihat bahwa hubungan antara kita dengan sang Buddha adalah sebuah 
jalinan hubungan antara guru dan murid. Jadi kita memberi hormat 
kepada Sang Buddha adalah karena menganggapnya sebagai guru, sama 
sekali bukan menganggapnya sebagai makhluk dewa. Jika menganggapnya 
sebagai makhluk dewa (penguasa kahyangan), maka ini menjadi sebuah 
agama.        
      
Itulah sebabnya di masa sekarang ini ada orang yang mengatakan bahwa 
agama Buddha adalah sebuah agama, dan kita pun tidak dapat 
memungkirinya lagi. Mengapa? Karena dia memang telah berubah bentuk, 
benar-benar telah berubah menjadi agama. Sebagian besar masyarakat 
ini memperlakukan para Buddha dan bodhisattva sebagai makhluk dewa, 
inilah yang membuatnya berubah menjadi agama. Kita perlu belajar, 
tetapi bukan belajar agama. Yang kita pelajari adalah basis 
pendidikannya, dengan demikian kita baru bisa mendapatkan manfaatnya 
yang sesungguhnya. Inilah yang perlu dipahami dengan jelas.   

Di masa lalu, para bodhisattva merupakan siswa dari sang Buddha. 
Dengan kata lain, mereka adalah senior (kakak seperguruan) kita. 
Mereka belajar di bawah bimbingan sang Buddha di masa-masa yang 
awal, sedangkan kita baru belajar di bawah bimbingan sang Buddha 
belakangan ini, jadi hubungan ini harus dipahami dengan jelas oleh 
kita. Jumlah siswa sang Buddha itu sungguh terlalu banyak sekali, 
setelah mengenalnya dengan jelas maka kita pun tidak akan memiliki 
kesalah pahaman (tersesat) lagi. 

Keyakinan, bakti, dan hormat

Sang Buddha mengajar kepada kita bahwa "keyakinan" itu sangatlah 
penting. Dalam kitab Avatamsaka Sutra mengatakan ,"Keyakinan adalah 
sumber pahala dan kebenaran".  Dalam istilah Buddhisme terdapat 
kata "Berlatih untuk mencapai Phala (buah dari sang jalan)", atau 
dengan kalimat bahasa sekarang ,"menamatkan pendidikan sekolah" 
untuk mencapai kebijaksanaan sempurna. Di dalam sini terdapat sebuah 
faktor yang sangat penting yakni "keyakinan".  

Keyakinan itu sangat penting sekali. Keyakinan yang dibicarakan 
dalam Buddha dharma, pertama adalah tentang keyakinan pada diri 
sendiri. Kedua adalah keyakinan terhadap sang guru. Harus benar-
benar memiliki keyakinan terhadap sang guru, mengapa? Jika memiliki 
keyakinan yang kuat terhadap sang guru, kita baru dapat mempelajari 
dengan sungguh-sungguh atas apa yang diajarkannya. Jika tidak 
memiliki keyakinan terhadap sang guru, maka meskipun sehebat apapun 
gurunya, anda juga tidak memiliki niat untuk belajar. Dengan kata 
lain, apa yang termaktub dalam Buddha dharma, anda tetap tidak dapat 
mengerti, dan anda pun tidak mendapatkan apa-apa. 

Itulah sebabnya, di negeri China mengatakan bahwa spiritualisme dari 
berdirinya sebuah negara terletak pada "sikap bakti terhadap orang 
tua dan hormat kepada guru". Buddha dharma juga berdiri di atas 
fondasi seperti ini. Sang Buddha mengajarkan kepada kita bahwa 
fondasi dari berlatih itu dilandasi oleh "Sikap bakti terhadap orang 
tua dan menjalankan bimbingan guru". Ini dapat dikatakan bahwa 
sistem pengajaran dari Buddha dharma dan tradisi Confusianisme 
dilandasi oleh fondasi yang sama. Inilah juga yang menjadi sebab 
dari Buddha dharma dapat dengan mudah diterima dengan senang hati 
oleh para kaum terpelajar China saat menyebar masuk ke negeri ini. 
Isi dari ajarannya sangat kaya dan sangat lengkap, di mana kita 
dapat melihatnya dari apa yang diwariskannya dalam bentuk kitab 
suci, kita dapat melihatnya dengan sangat jelas dan transparan.

Tujuan akhir pendidikan Buddha dharma

Hubungan Buddha dan kita adalah sebuah hubungan antara guru dan 
murid, jadi kita tahu bahwa sang Buddha benar-benar membimbing kita 
secara tulus. Lalu apa isi yang terkandung di dalam ajaran Buddha 
itu? Apa tujuannya? Inilah hal yang tidak boleh tidak kita ketahui. 
Agama Buddha adalah pendidikan Buddha dharma. Tujuan yang ingin 
diraih hanya ada satu, yakni dalam kitab suci 
mengatakannya, "Anuttara Samyaksambodhi". Ini adalah sebuah istilah 
dari bahasa sanskerta dan inilah yang merupakan target utama dari 
apa yang diajarkan oleh sang Buddha.
 
Pada masa lalu dalam kegiatan penerjemahan, istilah ini 
dikategorikan sebagai "tidak diterjemahkan atas dasar penghormatan 
terhadap istilahnya". Sebenarnya istilah ini dapat diterjemahkan 
langsung, namun mengapa ingin mempertahankan istilah aslinya? Karena 
ingin memberi penghormatan atas istilah aslinya. Inilah target utama 
yang ingin diajarkan oleh sang Buddha. Arti dari istilah ini 
adalah "Pencerahan benar dan setara yang tiada bandingannya" 
(pencerahan sempurna). Jadi sesungguhnya istilah ini dapat 
diterjemahkan, dan artinya pun telah diterjemahkan dengan sangat 
sempurna.     
 
Sekarang  kita mendengar istilah "pencerahan sempurna" pun juga 
sulit memahaminya. Harus membutuhkan sedikit usaha untuk mencerna 
maknanya. Jika digantikan dengan istilah jaman sekarang, 
sesungguhnya kalian semua tidak akan sulit lagi untuk memahaminya. 
Jadi apa artinya itu? Yakni "kebijaksanaan yang paling sempurna". 
Dengan mengatakannya begitu, maka anda sekalian pun akan menjadi 
mudah untuk memahaminya.  
 
Istilah kebijaksanaan ini, sesungguhnya berarti "maha tahu" 
dan "adikuasa". Bukan hanya tahu tentang masa sekarang, bahkan 
terhadap hal-hal masa lalu dan masa mendatang pun dapat diketahui 
dengan benar dan jelas tanpa kesalahan sedikitpun, tahu secara 
sempurna, jadi bukan tahu dalam batas tertentu, inilah target yang 
ingin dicapai dalam apa yang diajarkan oleh Buddha dharma. Jadi 
perlu diketahui bahwa kebijaksanaan merupakan tujuan dari cita-cita 
yang ingin dicapai dalam Buddha dharma. Buddha dharma merupakan 
pendidikan tentang kebijaksanaan, pengajaran tentang kebijaksanaan. 
 
Setelah mendengar hal ini secara sepintas, maka tak terhindarkan 
untuk timbul berbagai pertanyaan seperti apakah hal ini mungkin 
tercapai? Apakah benar ada hal seperti ini? Apakah seseorang dapat 
mengetahui tentang masa lalu, masa kini, masa mendatang, dunia ini 
dan dunia lain?. Dalam aspek agama, kita mendengar tentang pujian 
kepada tuhan di mana tuhan adalah maha tahu, maha kuasa. Manusia 
juga dapat mencapainya. Sesungguhnya jika anda sekalian berkecimpung 
secara perlahan-lahan dalam Buddha dharma, maka anda akan 
memahaminya, bahwa sesungguhnya tuhan itu tidak memiliki kemampuan 
itu, itu hanyalah pujian kepadanya. Sedangkan manusia sesungguhnya 
sanggup mencapai target ini jika mengikuti ajaran dari Buddha dharma.
 
Oleh sebab itu, apa yang diajarkan oleh sang Buddha bukanlah 
mengenai hal lain, tetapi hanya untuk memulihkan kembali kemampuan 
kebijaksanaan yang pada dasarnya telah kita miliki. Kita sering 
membaca kitab suci Mahayana yang mengatakan bahwa sang Buddha 
membimbing semua makhluk hidup. Namun seperti dalam kitab Sutra 
Intan  mengatakan "sesungguhnya tidak ada satu makhlukpun  yang 
telah dibimbing oleh Buddha". Sang Buddha membimbing semua makhluk 
hidup, namun sang Buddha juga mengatakan bahwa tidak ada satu 
makhlukpun yang telah dibimbingnya. Apa artinya ini? Karena 
kebijaksanaan itu merupakan kemampuan dari dalam diri makhluk itu 
sendiri, yang pada dasarnya telah dimilikinya. Bukan diberikan dari 
sang Buddha. Sang Buddha hanya memberi sedikit petunjuk dikala 
makhluk itu sedang tersesat, dan sekali anda menjadi sadar, itu 
merupakan apa yang telah dimiliki oleh anda pada dasarnya.
 
Sang Buddha telah mengatakannya dengan sangat baik dalam kitab 
Avatamsaka Sutra : "semua makhluk hidup memiliki tanda kemampuan 
kebijaksanaan Tathagata". Kebijaksanaan ini adalah seperti yang 
telah dikatakan tadi yakni kebijaksanaan yang paling sempurna. 
Mengetahui dengan jelas tentang segala aspek kehidupan dan dunia 
ini, ini merupakan kebijaksanaan anda yang telah ada pada dasarnya. 
Apakah arti "kemampuan" itu? Ini mengenai fungsinya. Fungsi dari 
kebijaksanaan itu adalah luas, tak terbatas dan tak terbayangkan, 
melampaui batas ruang, itu merupakan hasil dari kemampuan yang 
muncul dari diri sendiri.  
 
Apakah sebenarnya kemampuan kebijaksanaan kita telah hilang? Tidak 
sama sekali. Jika demikian mengapa kondisi kita sekarang ini menjadi 
begitu menderita? Sang Buddha mengatakan bahwa sebabnya adalah anda 
telah tersesat. Bagaimana tersesatnya? Sang Buddha mengatakan dengan 
sangat jelas, yakni "hanya karena pikiran khayal dan kemelekatan 
sehingga tidak dapat mencapainya". Inilah sumber penyakit yang telah 
diungkapkan oleh sang Buddha. Jika dapat mengikis habis pikiran 
khayal dan kemelekatan, maka kemampuan kebijaksanaan anda pun akan 
pulih kembali. Sekali pikiran khayal telah sirna, maka kebijaksanaan 
pun akan muncul kembali, sekali kemelekatan telah hilang, maka 
kemampuan pun akan muncul kembali. 
 
Mengenai kemampuan dan kebijaksanaan, bodhisattva Vasubandhu dalam 
kitabnya "Risalat tentang kelahiran di tanah suci" mengatakan 
tentang 2 kalimat yang bila di sarikan akan menjadi kata 
suci, "kebijaksanan yang sesungguhnya itu adalah dharmakaya (tubuh 
dharma)". Bila pikiran khayal tidak ada lagi, maka kebijaksanaan 
sejati akan muncul kembali, bila kemelekatan telah dihancurkan, maka 
dharmakaya akan muncul kembali. Pada tingkatan ini disebut "mencapai 
kebuddhaan". Yang dicapai adalah kebuddhaan yang paling sempurna, 
inilah yang di dalam Buddha dharma menyebutnya telah menamatkan 
pendidikannya. 
 
Oleh sebab itu, ajaran Buddha dibagi menjadi 3 tingkatan, sama 
seperti sistem pendidikan dalam sekolah kita sekarang ini, terdapat 
3 tingkatan atau 3 tahap. Tamatan pendidikan universitas mendapat 
gelar sarjana, kemudian melanjutkan pendidikan kejuruan untuk meraih 
gelar master, lalu doctor. Dalam Buddha dharma juga terdapat 3 
tingkatan, di mana tingat terendah adalah Arahat, jadi  Arahat 
adalah sebuah istilah gelar pendidikan. Gelar pendidikan yang lebih 
tinggi dari Arahat adalah Bodhisattva. Dan gelar pendidikan yang 
tertinggi adalah Buddha. Jadi bila anda telah mencapai pencerahan 
dengan kebijaksanaan paling sempurna, maka berarti anda telah 
mendapatkan gelar pendidikan tertinggi. 
 
Itulah sebabnya dalam ajaran Buddha mengatakan bahwa setiap orang 
memiliki hakikat Buddha, setiap orang akan dapat menjadi Buddha. 
 
Perkataan seperti ini tidak terdapat dalam aspek agama. Dalam agama, 
tidak setiap orang dapat menjadi tuhan. Itulah sebabnya Buddha 
dharma merupakan ajaran persamaan derajat/ non-diskriminasi, di mana 
semua makhluk hidup akan dapat menjadi Buddha. Kita harus mengenal 
dengan jelas tentang istilah Buddha, Bodhisattva dan Arahat. Jadi 
istilah ini bukan merujuk sebagai makhluk dewa, itu adalah nama 
untuk tingkatan pendidikan, mewakili sebuah tingkatan pembelajaran. 
Arahat adalah "pencerahan yang benar". Selanjutnya jika naik 
setingkat lagi disebut "pencerahan yang benar dan setara" adalah 
bodhisattva. Jika ditambah lagi dengan sebutan "tertinggi" maka 
disebut Buddha. Jadi demikianlah asal kata ke 3 istilah ini. 
 
Kesesatan kita bukan berasal dari kehidupan ini saja, tetapi pada 
masa lalu yang sangat sangat panjang, kita telah tersesat. Semakin 
tersesat semakin mendalam, tidak memiliki cara untuk menjadi sadar. 
Sesungguhnya untuk dapat menjadi sadar itu tidaklah begitu sulit. 
Lalu di mana letak kesulitannya? Tadi telah dikatakan yakni karena 
pikiran khayal dan kemelekatan anda tidak mau dilepaskan. Jika anda 
melepaskan pikiran khayal dan kemelekatan, maka akan sangat mudah 
untuk menjadi Buddha. Jadi masalah seperti ini bukan berasal dari 
bantuan orang. Memohon bantuan orang merupakan hal tersulit di dunia 
ini. Buddha dharma menekankan aspek membantu diri sendiri, bukan 
ditolong oleh orang lain. Jika anda benar-benar memiliki niat, maka 
akan menjadi mudah, jika tidak maka akan menjadi sulit. Jadi yang 
dinamakan sulit dan mudah itu semua dibawah kendali tangan kita 
sendiri, bukan di dunia luar sana, juga bukan berada pada orang lain.
 
Jadi telah diketahui tentang tujuan dari pelatihan Buddha dharma, 
dan bagaimana bisa tersesat, sumbernya pun telah diketahui. Dengan 
demikian kita pun akan menyadari bahwa sang Buddha memberikan 
bimbingannya di sepanjang hidupnya yang kemudian  diwariskan di 
dalam berbagai kitab yang terkumpul menjadi Tripitaka. Dan apa isi 
dari Tripitaka itu? Yakni mengungkapkan realitas sesungguhnya 
tentang kehidupan dan dunia ini. Dan apa yang diketahui itu adalah 
berasal dari orang yang telah benar benar sadar (mencapai 
pencerahan).   
 
Hidup kita ini tidak hanya ada di satu kehidupan ini saja, kita 
memiliki kehidupan masa lalu, dan kehidupan masa lalu itu masih ada 
kehidupan masa lalunya lagi. Kita juga memiliki kehidupan masa 
mendatang, dan demikian juga di masa mendatang masih ada kehidupan 
masa mendatangnya lagi. Kehidupan itu bersifat kekal, kehidupan itu 
tidak timbul dan lenyap, ini adalah realitas yang sesungguhnya. Ini 
tidak sama dengan yang dibicarakan dalam aspek agama. Sedangkan 
dimensi ruang tempat kita hidup ini adalah bersifat tanpa batas, 
tidak hanya terbatas pada satu wilayah kecil, tidak hanya terbatas 
pada satu planet bumi. 
 
Di dalam kitab suci, sang Buddha memberitahu kepada kita bahwa di 
alam semesta ini terdapat Buddhaksetra (tanah Buddha) yang jumlahnya 
tak terbatas.  Yang disebut Buddhaksetra adalah ruang lingkup 
seorang Buddha memberi ajarannya. Satu ruang lingkup ajaran itu 
terdiri dari - dalam kitab suci Buddha menyebutnya,  "Trisahasra 
Mahasahasra loka-dhatu". Jadi 1 (satu) Trisahasra Mahasahasra loka-
dhatu adalah tempat satu ruang lingkup seorang Buddha memberikan 
ajarannya. Dan seberapa besar ruang lingkup ini?  Di masa lalu 
banyak orang yang menyebutkan bahwa Mahasahasra loka-dhatu dalam 
ajaran Buddha itu berkemungkinan merupakan galaksi yang ditemukan 
oleh para ilmuwan di masa sekarang ini. 
 
Tetapi dalam beberapa tahun belakangan ini, seorang upasaka dari 
China bernama HuangNianZhu, beliau adalah seorang ilmuwan, mengajar 
di kota TianJin, universitas TianJin- dahulu adalah universitas 
BeiYang. Beliau berkata kepada kita bahwa satu sistem galaksi itu 
sesungguhnya adalah 1 (satu) cula loka-dhatu (satu sistem dunia 
kecil) yang disebutkan dalam ajaran Buddha. Lalu 1 (satu) 
Mahasahasra loka-dhatu itu terdapat berapa cula loka-dhatu? Yakni 10 
milyar cula loka-dhatu (galaksi). Jadi betapa besar ruang lingkup 
ini. 10 milyar galaksi adalah satu ruang lingkup seorang Buddha 
memberi ajarannya.
 
Coba anda pikirkan baik-baik, jika seorang Buddha tidak memiliki 
kemampuan dan kebijaksanaan yang sempurna, bagaimana Dia dapat 
memberikan ajarannya di dalam ruang lingkup yang begitu besar? Sang 
Buddha juga memberitahu kepada kita bahwa di alam semesta ini, ruang 
lingkup seperti ini jumlahnya tak terbatas, jumlah dunia ini tak 
terbatas, dan jumlah para Buddha itu tak terbatas. Dengan demikian 
maka jumlah makhluk hidup pun akan `lebih' tak terbatas lagi. Jadi 
inilah dimensi ruang tempat kita hidup, tempat kita beraktifitas. 
Jika saudara sekalian membaca kitab Avatamsaka Sutra secara teliti, 
maka sedikit banyak anda pun akan dapat mengetahui tentang hal ini.
 
  Bagaiman cara untuk memulihkan kembali kemampuan kebijaksanaan 
kita, dan cara memulihkan kembali keleluasaan kita beraktifitas di 
ruang lingkup ini? Inilah yang ingin diajarkan kepada kita di dalam 
Buddha dharma. Itulah sebabnya kita harus membuka hati dan pikiran 
kita, seperti pada diri seorang Buddha yang "pikirannya meliputi 
seluruh alam semesta". Seberapa besar ukuran pikiran itu? Yakni 
meliputi seluruh alam semesta.    
 
Coba kita balik untuk melihat diri kita sendiri, lihat semua makhluk 
yang berada di sekitar kita, betapa sempitnya pikirannya. Bahkan 2 
orang saja pun tidak bisa saling menaungi. Siapa saja yang disebut 2 
orang itu? Suami istri masih mau bercekcok, masih sering bercekcok 
untuk bercerai. Dengan demikian anda baru akan tahu bahwa sang 
Buddha mengatakan kita ini tersesat hingga pada tingkat separah itu. 
Oleh sebab itulah dalam kitab suci, sang Buddha sering mengatakan 
bahwa para makhluk hidup itu "patut dikasihani". Seandainya makhluk 
itu tidak memiliki kebijaksanaan lalu tersesat, maka tidak perlu 
dikasihani. Tetapi masalahnya dia memiliki kebijaksanaan dan 
kemampuan yang pada dasarnya tidak berbeda dengan para Buddha, dan 
sekarang malah tersesat hingga separah ini, maka ini baru disebut 
patut dikasihani.         
 
Cara mensikapi kitab suci Buddha

Inilah yang kita ketahui dari isi kitab suci, jadi sesungguhnya 
kitab suci itu adalah buku teks pelajaran. Sang Buddha pada masa itu 
sama seperti kondisi Confucius di China., meskipun mengajar selama 
49 tahun, namun tidak menyusun buku pelajaran. Setiap hari memberi 
ajaran lisan kepada semua orang, kadang atas inisiatif sendiri untuk 
mengajar, kadang atas permintaan siswa yang mengajukan berbagai 
pertanyaan, maka sang guru baru memberikan penjelasan. Kondisi-
kondisi seperti ini dapat kita lihat dengan sangat jelas dalam kitab 
suci, jadi kitab suci itu merupakan buku pelajaran. 
   
Mengapa pada saat itu sang Guru tidak menyusun saja buku 
pelajarannya untuk diwariskan demi kepraktisan orang-orang masa 
belakangan? Confucius juga tidak menyusun buku pelajaran untuk 
diwariskan kepada orang masa belakangan. Mereka adalah dua orang 
suci dari timur (China) dan barat (India). Jadi apa maksud dari hal 
ini? Setelah kita menelusurinya secara mendalam, kita mendapatkan 
sedikit gambarannya,  yakni karena ungkapan yang diajarkan oleh sang 
Buddha itu adalah ungkapan yang hidup, bukan ungkapan yang mati 
(dogmatis). Dengan demikian maka akan menjadi sulit bila ditulis 
kembali. Setelah dituliskan menjadi bentuk aksara, maka dia akan 
menjadi benda mati. Hal ini menimbulkan berbagai hambatan bagi 
mereka yang mempelajarinya di masa belakangan. Disinilah letak dari 
sulitnya untuk memahami ajaran Buddha. Namun kunci masalahnya tetap 
pada pikiran khayal dan kemelekatan, di mana masih memiliki 
kemelekatan dan pikiran khayal terhadap Buddha dharma juga.      
 
Sesungguhnya nasihat dari para orang suci adalah agar kita dapat 
memahami makna ajarannya, bukan melekat pada kata-katanya. Ajarannya 
itu bersifat "hidup", bukan statis/mati, itu baru disebut 
kebijaksanaan sejati. Dengan menggunakan istilah jaman sekarang, 
ajaran dari orang suci itu adalah lintas batas ruang dan waktu. 
Karena lintas batas ruang dan waktu, selama 3.000 tahun ajarannya 
dapat dibenarkan maka 3.000 tahun kemudian pada masa kini setelah 
kita mendengar kata-katanya juga masih dapat dibenarkan, itulah yang 
melampaui batas ruang dan waktu. Sang Buddha mengajar kepada orang 
India pada masa lalu dan setelah mendapatkan manfaatnya, orang India 
pun membawa ajarannya untuk diajarkan kepada bangsa China dan bangsa 
China pun mendapatkan manfaat yang sama. Dengan menyebar ke negera 
dan suku bangsa manapun di dunia ini, jika menerapkan ajarannya 
secara benar dipastikan akan mendapatkan manfaat yang sesungguhnya. 
Itulah sebabnya ajarannya itu melampaui batas ruang dan waktu, dan 
hal ini sangat sangat sulit untuk menerapkannya.         
 
Setelah kita mengerti akan prinsip besar ini, maka kita baru dapat 
berbicara mengenai membaca kitab suci. Jadi anda sekalian harus 
tahu, harus membaca kitab suci secara tulus, tidak perlu mencerna 
maknanya dengan bertanya apa maksud dari kalimat Sutra ini, apa 
maksud dari kalimat Sutra itu. Jika demikian maka anda pun telah 
menciptakan pikiran khayal dan menimbulkan kemelekatan. Mengapa 
demikian? Mari kuberitahu secara jujur, isi kitab suci itu tidak ada 
maknanya, jika anda mencari makna dalam kitab suci itu, maka 
bukankah anda telah berkutat dengan pikiran khayal?  
 
Karena tidak memiliki makna itulah maka dia melampau batas ruang dan 
waktu. Jika ada makna maka dia tidak akan menjadi lintas ruang dan 
waktu. Karena tidak memiliki makna maka waktu pun tidak dapat 
membatasinya, itulah sebabnya kitab suci itu bersifat "hidup". 
Ajarannya  pada masa 3.000 tahun yang lalu memiliki penjelasannya 
tersendiri, sekarang kitabnya berada di China ini maka dia akan 
memiliki penjelasan yang sesuai dengan era ini, dan tidak akan bisa 
mengalami kesalahan. Terhadap bangsa China dia memiliki penjelasan 
yang sesuai dengan kondisi bangsa China, terhadap bangsa lain juga 
memiliki penjelasan yang sesuai dengan kondisi bangsa lain, sama 
sama memiliki manfaatnya. Jadi dia tidak memiliki satu sisi 
penjelasan saja. Dengan kata lain dia tidak memiliki makna, tetapi 
saat menggunakannya dia malah memiliki makna tak terbatas. 

Kitab Mahaprajnaparamita Sutra mengajarkan kepada kita, "Prajna 
tidak berpengetahuan oleh sebab itu tidak ada yang tidak diketahui". 
Kitab suci tidak memiliki maknanya, maka dari itu dia memiliki makna 
yang tak terbatas.  Kenyataan hal ini, jika kalian memperhatikannya 
secara seksama akan dapat melihatnya dengan jelas. Kita perhatikan 
kitab penjelasan, coba anda lihat kitab penjelasan di masa dinasti 
Han, yakni kitab penjelasan yang ditulis oleh orang di masa dinasti 
Han. Kitab penjelasan tersebut pasti memberi manfaat kepada orang 
pada masa itu, dan tujuan utamanya adalah untuk meraih kebijaksanaan 
sejati dan dharmakaya (tubuh dharma). 
 
Mari perhatikan lagi kitab penjelasan pada masa dinasti Tang dalam 
Sutra yang sama. Kitab penjelasan di masa dinasti Tang pastilah 
berbicara berdasarkan kondisi masa dinasti Tang, berbeda dengan apa 
yang dibicarakan oleh orang masa dinasti Han. Seandainya sama, maka 
untuk apa lagi membuat kitab penjelasan yang baru? Selanjutnya mari 
kita lihat cara penjelasan versi masa dinasti Song, penjelasan versi 
dinasti Ming, penjelasan versi dinasti Qing, semua ini tidak ada 
yang sama, sedangkan kata-kata asli Sutra-nya tidak diganggu gugat 
satu katapun, namun cara penjelasannya berbeda. Berbeda itulah yang 
disebut makna tak terbatas. Itulah sebabnya kitab suci itu tidak 
bermakna, namun saat menginterpretasikannya akan menjadi tak 
terbatas maknanya. Seandainyapun kitab suci itu memiliki maknanya, 
maka maknanya hanya ada satu, dan makna itu pun bersifat mati, tidak 
akan bisa lagi melontarkan makna keduanya.     
 
Inilah yang menjadi kesulitan dalam menerjemahkan kitab suci. Sebab 
itu, sekarang ini ada orang yang memprakarsai untuk menerjemahkan 
kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa sehari-hari. Hal ini akan 
menjadi masalah yang sangat serius. Sekali menerjemahkannya ke dalam 
bahasa sehari-hari, maka kitab suci itu pun menjadi ada maknanya, 
bukan tidak bermakna lagi. Dan ini pun akan merubah ajaran Buddha 
yang "hidup" menjadi ajaran Buddha yang "mati". Sekali menerjemahkan 
ke dalam bahasa sehari-hari, maka ajaran Buddha pun akan mengumumkan 
kematiannya, karena dia tidak dapat lagi memiliki makna keduanya. 
Inilah yang harus kita ketahui secara jelas.   
 
Dalam penerjemahan kitab suci, sesungguhnya jika kita melihat 
sejarahnya, bangsa China cukup beruntung. Dalam sejarah 
perjalanannya, para penerjemah kitab suci itu juga adalah orang yang 
telah mencapai kesucian, mereka bukan orang biasa. Mereka tidak 
sekedar menerjemahkannya berdasarkan kutipan kitab suci, namun 
sesungguhnya mereka juga telah berhasil mencapai pada tingkatannya. 
Meskipun belum mencapai tingkatan paling sempurna, setidaknya telah 
mencapai tingkatan "pencerahan yang benar", "pencerahan yang benar 
dan setara". Oleh sebab itu kata-kata sang Buddha dalam kitab suci 
itu tidak mengalami perubahan dalam penerjemahannya. Meskipun tidak 
dapat menerjemahkannya hingga 100 %, kemungkinan juga memiliki 
tingkat 80 atau 90 %, itulah sebabnya kita benar-benar mendapatkan 
manfaatnya.   
 
Sekarang apabila ingin menerjemahkan kitab suci tersebut, apakah 
kita telah mencapai tingkatan itu? Anda belum mencapai tingkatan itu 
lalu bagaimana bisa tahu realitas yang sesungguhnya? Apa yang 
dicapai oleh Buddha adalah realitas sejati, lalu para Bodhisatva dan 
Arahat pun juga telah masuk ke dalam tingkatan itu, itulah sebabnya 
mereka bisa menjelaskan isi kitab suci itu kepada kita dan yang 
mereka gunakan bukanlah dengan pikiran awam, bukan menjelaskan 
maknanya berdasarkan kata-kata saja, sama sekali bukan berlandaskan 
pikiran khayal, diskriminasi dan kemelekatan untuk menjelaskan kitab 
suci. Jadi dengan cara apa mereka menjelaskan kitab suci tersebut 
kepada kita? Yakni kebijaksanaan sejati, itulah yang mereka 
gunakan.   
 
Sila, Samadhi dan Prajna

Dari manakah kebijaksanaan sejati itu? Dari pencerahan diri kita. 
Lalu yang perlu kita tanyakan adalah bahwa mengapa kita tidak 
sanggup meraih pencerahan? Mengapa mereka bisa? Pada dasarnya 
pencerahan itu sudah ada, merupakan kemampuan yang telah ada pada 
diri kita. Sedangkan kesesatan itu pada dasarnya tidak ada. 
Bodhisatva Vasubandhu dalam kitabnya "Risalah kelahiran di tanah 
suci" mengatakan kepada kita bahwa "pencerahan itu pada dasarnya 
ada, tiada pencerahan itu pada dasarnya tidak ada". "Tiada 
pencerahan" itu merupakan kesesatan, dan pada dasarnya dia itu tidak 
ada. Oleh sebab itu kebijaksanaan yang paling sempurna itu pada 
dasarnya telah dimiliki anda.     
 
Yang pada dasarnya ada itu sekarang tidak ada lagi. Penyebab dari 
hal ini adalah pikiran khayal dan kemelekatan. Itulah sebabnya sang 
Buddha berbicara mengenai kultivasi/berlatih. Dan kuncinya terletak 
pada samadhi (konsentrasi), ini merupakan inti pelatihan dalam 
tradisi Buddhis. Melalui Sila maka timbullah samadhi, melalui 
samadhi maka muncullah kebijaksanaan. Timbulnya kebijaksanaan maka 
kemampuan dasariah pun pulih kembali. Jadi samadhi (konsentrasi) 
merupakan sendi pelatihan dalam Buddha dharma.   
 
Secara garis besar, keseluruhan ajaran Buddha terbagi dalam 3 
pelatihan yakni sila, samadhi dan prajna (kebijaksanaan). Apa yang 
diajarkan oleh sang Buddha selama 49 tahun dalam membimbing makhluk 
hidup? Sila, samadhi dan kebijaksanaan, inilah 3 program dasar 
pengajarannya. 
 
Dalam pelatihan Sila, maksud intinnya adalah mengajar kita untuk 
memupuk kebajikan. Sebagai manusia, tidak boleh tidak memiliki 
berkah kebajikan. Jika tidak memiliki berkah kebajikan maka akan 
sangat menderita. Dan dari manakah berkah kebajikan itu? Dari 
mengikis kejahatan dan melatih kebajikan. Segala bentuk penderitaan 
kita adalah berasal dari karma kejahatan. Sedangkan kebahagiaan dan 
kesenangan kita adalah berasal dari buah karma baik kita. Menanam 
kebajikan pasti akan mendapatkan buah yang baik. Menanam kejahatan 
pasti akan mendapatkan buah penderitaan. Adalah mustahil jika 
mengatakan berbuat jahat dapat menghasilkan buah yang baik, berbuat 
kebajikan dapat menghasilkan buah yang buruk. Oleh sebab itu, 
berlatih Sila adalah untuk mengajar kita mengikis kejahatan dan 
memupuk kebajikan. Karena dalam kondisi karma buruk itu pikiran 
khayal dan kemelekatan kita lebih kuat, maka batin suci kita akan 
sangat sulit untuk dipulihkan kembali. Itulah sebabnya yang pertama 
diajarkan sang Buddha kepada kita adalah "mengikis semua kejahatan 
dan memupuk semua kebajikan". Dari sinilah pintu pertama yang 
dimasuki, dan dari fondasi inilah untuk berlatih Samadhi.     
 
Batin yang suci, dan batin yang sederajat (non-diskriminasi) itu 
adalah Samadhi. Reaksi yang timbul dari pikiran yang suci dan 
sederajat adalah kebijaksanaan, juga berarti tidak ada yang tidak 
diketahui. Khususnya reaksi yang timbul dari batin yang sederejat 
(non-diskriminasi) adalah tidak ada hal yang tidak diketahui.    
 
Mengapa kita tidak sanggup mengetahui masa lalu dan masa mendatang? 
Mengapa tidak sangggup mengetahui dunia ini dan dunia lain? Karena 
batin kita tidak seimbang/setara. ,terdapat garis batas dan garis 
batas merupakan hambatan. Garis batas ini bukan berasal dari luar, 
tetapi merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri. Disebut 
dengan "mengikat diri sendiri", bukan orang lain yang menghambat 
anda, tetapi diri sendirilah yang merintangi diri sendiri. 
 
Oleh sebab itulah, Samadhi itu merupakan sendi pelatihan dalam 
Buddha dharma. Bagi  praktisi baru Buddha dharma, definisi dari 
istilah-istilah seperti ini hanya dapat dijelaskan dalam pengertian 
yang masih agak kabur, masih tidak begitu jelas. Dalam proses 
pelatihan, ini tentu dapat menimbulkan hambatan.   
 
Ajaran Sila yang dibicarakan dalam Buddha dharma memiliki pengertian 
yang luas, jadi bukan dalam pengertian yang sempit. Pelaksanaan sila 
dalam buddha dharma, khususnya Buddha dharma Mahayana, terdapat 6 
pelatihan dimana kita menyebutnya Sad paramita (6 kesempurnaan).  
Paramita pertama adalah  dana paramita (kesempurnaan dana) dan 
selanjutnya adalah Sila paramita. Yang dimaksud dengan Sila - jika 
menggunakan isitilah jaman sekarang – adalah taat pada hukum, yakni 
mentaati apa yang telah diajarkan oleh guru, tidak melanggar prinsip-
prinsip yang telah diajarkan oleh sang guru, itulah yang disebut 
dengan "Menjalankan Sila". Jadi tidak boleh memandang Sila itu hanya 
sebatas Pancasila (5 sila), Dasasila (10 sila), Bhiksu Sila, 
Bodhisatva Sila. Jika hanya memandang demikian maka ruang lingkup 
yang anda pandang menjadi terlalu kecil. Jika anda menjalankan 
berdasarkan cara tersebut, maka coba anda pikirkan, bukan hanya 
tidak dapat menghancurkan kemelekatan, malahan akan menambah 
kemelekatan, yakni melekat pada 5 sila, melekat pada 10 sila, 
melekat pada bodhisatva sila. 
 
Sang Buddha menyuruh anda untuk menghancurkan kemelekatan, bukan 
menambah kemelekatan, anda harus mengerti maksud ini. Itulah 
sebabnya Sila itu memiliki pengertian yang luas, bukan sempit. Bukan 
hanya ajaran sang Buddha saja yang harus kita taati, tapi peraturan 
hukum di dunia ini juga harus kita taati, tata krama harus ditaati, 
bahkan tradisi setempat pun harus kita taati. Dengan demikian baru 
ada keharmonisan dalam kehidupan masyarakat ini, semua orang baru 
dapat menjalankan hidup dengan bahagia dan gembira. Jadi yang 
disebut Peraturan Sila dalam 6 paramita itu adalah mentaati hukum, 
harus memupuk pandangan bahwa itu adalah mentaati hukum dan 
menjalankannya dengan sungguh-sungguh. 
 
Jika kita dapat mentaati hukum, maka batin akan menjadi tenang 
secara alami. Jika batin telah tenang, pikiran telah bersih, 
orangpun menjadi cerdas. Mengapa bisa menjadi cerdas? Karena 
pikirannya suci, pikiran kacau berkurang, pikiran khayal juga 
berkurang, dan apa yang dia lihat akan menjadi lebih jelas dan 
transparan dari masa sebelumnya, itulah yang kita sebut 
sebagai "munculnya kebijaksanaan". 

 
Besar kecilnya kebijaksanaan itu tepat berbanding lurus dengan 
tingkat kedalaman kemampuan Samadhi/konsentrasinya. Dengan kata 
lain, satu tingkat kesucian batin yang anda miliki akan mendapatkan 
satu tingkat kebijaksanaan, dua tingkat kesucian batin yang anda 
miliki akan mendapatkan dua tingkat kebijaksanaan. Batin seorang 
Buddha adalah suci dalam tingkat sempurna, demikian juga 
kebijaksanaan seorang Buddha adalah sempurna, jadi kemampuan seorang 
Buddha itu di atas segalanya. 
Dunia sains kita sekarang ini telah menemukan bahwa ternyata alam 
semesta ini terdapat tidak sedikit rintangan, dalam istilah sains 
menyebutnya sebagai dimensi ke dua, dimensi ke 3, dimensi ke 4, 
dimensi yang tak terbatas. Inilah yang merupakan rintangan alam 
semesta. Dan dari manakah asal rintangan tersebut? Semua ini muncul 
dari pikiran khayal dan kemelekatan kita. 
 
Itulah sebab dari kecakapan Buddha dharma, yakni meraih kesucian 
batin terdahulu di mana pikiran khayal dan kemelekatan telah 
terkikis, maka semua dimensi ruang dan waktu pun telah ditembusnya 
dan realitas sejati dari kehidupan dan dunia itu pun terlihat dengan 
jelas. Sekarang ini kita hanya sanggup bersentuhan dengan dimensi ke 
3, sedangkan dimensi ke 4 , ke 5 tidak sanggup kita tembus, 
bagaimana kita bisa mencapai dimensi yang tak terbatas itu?   
 
Sesungguhnya, di dalam mimpi itu masih ada mimpi lagi, di dalam 
tingkat Samadhi itu masih ada tingkatan Samadhi lagi, kedalaman 
tingkatan samadhi itu diikuti oleh tingkat kemampuan samadhi yang 
berbeda-beda. Coba anda sekalian gabungkan pengamatan ini dengan 
dunia sains secara seksama. Misalnya Arahat. Di dalam kitab 
Ksitigarbha Sutra kita dapat melihat bahwa ibu dari sang putri 
brahmana telah meninggal, karena dia tahu ibunya telah berbuat 
banyak kejahatan pada masa hidupnya, berdasarkan ajaran sang Buddha, 
sang ibu dipastikan terlahir di alam rendah. Sebenarnya kemanakah 
dia terlahir? Tidak tahu. 
 
Kemudian sang putri bertanya kepada seorang Arahat. Dalam 
samadhinya, sang Arahat mengamati bahwa ibunya sedang menderita di 
alam neraka. Disini menjelaskan bahwa dimensi alam neraka itu 
berbeda dengan dimensi dunia manusia kita. Melalui Samadhi, sang 
Arahat pun telah menembusnya, di mana beliau sanggup masuk ke 
dimensi ke 5, ke 6. Dengan cara Samadhi, maka dimensi itu pun telah 
dapat ditembusnya, dan dapat dilihatnya. Demikianlah kondisinya. 
 
Setelah itu sang Arahat pun keluar dari samadhinya untuk memberitahu 
kepada sang putri. Setelah mengamati hal ini, ini merupakan 
kenyataan, bukan ilusi. Benar-benar dapat dibuktikan melalui sains 
modern. Tingkat kemampuan Samadhi sang Arahat tidaklah begitu 
mendalam. Di dalam kitab Suranggama Sutra, sang Buddha mengatakan 
tingkat Samadhi Arahat adalah tingkat Samadhi ke 9. Tingkat Samadhi 
seorang bodhisattva lebih tinggi lagi. Bodhisattva memiliki banyak 
tingkatannya. Jika dilihat dari kitab Avatamsaka Sutra, mulai dari 
tingkat kediaman pertama hingga tingkat pencerahan setara semuanya 
terdapat 41 tingkatan. Dengan kata lain, terdapat 41 tingkatan dalam 
tingkat kemampuan Samadhi mereka. Semakin tinggi tingkatnya maka 
semakin banyak pula dimensi yang ditembusnya. Dengan demikianlah 
maka realitas sejati dari dunia dan kehidupan itu baru dapat dilihat 
dengan jelas dan transparan.      
 
Yang dikatakan sang Buddha itu bukanlah palsu. Dunia lain yang 
digambarkan dalam kitab suci, seperti dalam kitab Avatamsaka sutra 
mengatakan tentang alam padma-garbha loka-dhatu dari Buddha 
Vairocana; dalam kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, dan Amitayur-
dhyana Sutra mengatakan tentang alam Sukhavati dari Buddha Amitabha. 
Ini pastilah merupakan dimensi yang berbeda dengan kita. Sedangkan 
di dalam dunia kita ini pada masa lalu, ada orang yang melalui 
pelatihan diri, pada tingkatan Samadhi tertentu dia benar-benar 
dapat melihat alam Sukhavati. Terdapat banyak contoh kasus ini. 
Seperti di dalam catatan kisah para sesepuh dari mazhab Sukhavati, 
maha bhiksu HuiYuan pada masa hidupnya pernah melihatnya sebanyak 3 
kali di dalam samadhinya.   
 
Maha bhiksu ZhiZi dari mazhab Tientai saat membaca kitab 
Saddharmapundarika Sutra dan masuk dalam kondisi Samadhi, beliau 
melihat situasi 1.000 tahun yang lalu di mana sang Buddha Sakyamuni 
sedang membabarkan Sutra Saddharmapundarika di atas puncak gunung 
Grdhakuta. Dia telah menembus dimensi ruang dan waktu. Gunung 
Tientai terletak di propinsi ZheJiang, China, namun dia dapat pergi 
ke India, dimensi ruang yang muncul dalam samadhinya adalah India di 
masa 1.000 tahun yang lalu. Oleh sebab itulah setelah keluar dari 
samadhinya, beliau berkata kepada orang bahwa sang Buddha sedang 
membabarkan Sutra Saddharmapundarika dan acara pembabaran dharma 
tersebut masih terus berlangsung.  
 
Para ilmuwan dapat menerima prinsip seperti ini, namun tidak tahu 
bagaimana cara untuk dapat kembali ke masa lalu. Ajaran Buddha 
memiliki caranya, dan cara ini yakni mengajar kita untuk melatih 
Samadhi. Samadhi itu adalah batin suci dalam pengertian umum. Di 
dalam mazhab filosofis (mazhab Tientai, Huayen) menyebutnya "Samatha 
vipasyana". Dalam mazhab Tantrayana menyebutnya Yoga , dalam metode 
ajaran Nianfo menyebutnya YiXin BuLuan (pikiran terpusat)".  
Istilahnya berbeda-beda, namun secara realitas adalah sama. Lalu 
dalam mazhab Chan menyebutnya sebagai Dhyana. 
 
Sekarang ini kitab Sutra yang sedang kami anjurkan (untuk 
dipelajari) adalah  Maha Sukhavati-vyuha Sutra, di mana kitab yang 
kita pergunakan ini merupakan kitab hasil kompilasi dari upasaka 
XiaLianJu. Dari semua kitab Maha Sukhavati-vyuha sutra yang ada, 
kitab kompilasi ini merupakan edisi yang terbaik. Besok saya akan 
memberikan laporan singkat tentang kitab ini. Dari judul Sutra-nya 
sudah dapat dimengerti dengan sangat jelas dan transparan. Harapan 
apa yang ingin dicapai oleh seorang praktisi mazhab Tanah suci? 
yakni berharap untuk meraih "Kendaraan Agung", berharap 
meraih "Amitayus (usia tanpa batas)", berharap meraih "Kemuliaan". 
Di antara ke 3 harapan ini, khususnya "usia tanpa batas", benar-
benar adalah tanpa batas. 
 
"Kemuliaan" di sini adalah seperti yang kita sebutkan dalam dunia 
ini: sejati, baik dan indah. Namun manusia dunia ini mengatakan 
tentang sejati, baik dan indah itu adalah sebuah utopia. Ketiga kata 
ini sesungguhnya tidak dapat dicapai, palsu belaka. Sedangkan alam 
Sukhavati itu benar-benar adalah kenyataan, ini yang disebut sebagai 
kemuliaan. Dengan menggunakan cara apakah untuk meraihnya?  Inilah 
tolak ukur yang diajarkan sang Buddha kepada kita, juga merupakan 
tolak ukur dalam berlatih, yakni Kesucian, Kesetaraan, Pencerahan. 
Itulah 3 hal yang diajarkan kepada kita. 
 
Jika anda ingin meraih "mahayana (kendaraan agung)", ingin 
meraih "Amitayus (usia tanpa batas)", ingin meraih "sejati baik dan 
indah", maka anda harus melatih kesucian batin, anda harus melatih 
batin non-diskriminasi.  Sebenarnya asalkan batin dapat dibuat 
menjadi suci dan  setara (non-diskriminatif), maka "pencerahan" pun 
akan berada di dalamnya secara alami. Semua harapan seperti di atas 
pun akan anda dapatkan. Dan buah yang dipetik di masa mendatang 
adalah kelahiran di tanah suci Sukhavati. Yang perlu kita tanyakan 
adalah apakah dapat dicapai pada saat sekarang ini? Sekarang ini 
juga pasti dapat mencapainya. 
 
Jika mengatakan bahwa  sekarang ini tidak dapat mencapainya namun 
masa mendatang akan dapat mencapainya, maka masalah ini tidak hanya 
dapat membuat orang tidak percaya, saya sendiripun tidak percaya. 
Jika sekarang dapat mencapainya, dan begitu juga masa mendatang akan 
dapat mencapainya, hal ini saya percaya. Jadi pada kehidupan 
sekarang juga kita dapat mencapainya. Jika tidak maka pastilah ada 
penyebabnya.   
 
Pada masa lalu, maha guru ZhangJia pernah berkata kepada 
saya, "dalam pintu Buddhisme, apa yang ingin kita dapatkan pasti 
akan terkabul". Perkataan beliau ini adalah hal yang nyata, namun 
mengapa banyak sekali orang yang memohon sesuatu tidak dapat 
terkabul? Pastilah ada rintangannya. Jika anda dapat menemukan 
rintangannya dan mengatasi rintangan ini, maka mukjizat pun akan 
muncul. 
 
Oleh sebab itu saat anda bermohon sesuatu dan tidak terkabul, 
janganlah menuduh para Buddha dan bodhisattva tidak memiliki 
kekuatan. Ini tidak ada hubungannya dengan Buddha dan bodhisattva, 
ini merupakan kenyataan. Sang Buddha mengungkapkan caranya kepada 
anda, mengungkapkan kenyataannya kepada anda, dan anda harus tahu 
prinsip-prinsip ini. Itulah sebabnya di dalam Buddha dharma itu 
tidak ada sesuatu yang berbau klenik/mistik (sesat). Justru "sesat" 
itulah yang ingin dihancurkan oleh Buddha dharma. Jadi Buddha dharma 
itu adalah ajaran yang menghancurkan kesesatan untuk membuka jalan 
pencerahan, jadi bagaimana ajaran Buddha itu bisa disebut 
sesat/klenik/mistik?  Ini benar-benar tuduhan yang luar biasa, sama 
sekali telah membuatnya berubah menjadi sebuah agama, yakni dengan 
memperlakukan sang guru sebagai makhluk dewa. 
 
Apakah dewa itu dapat melindungin anda? Dewa juga tidak sanggup. 
Jika dewa benar dapat melindungi anda, maka saya sudah menyembah 
dewa sejak awal, saya tidak perlu lagi belajar Buddha dharma. Jadi 
dewa itu tidak dapat melindungi orang. Nenek moyang bangsa China 
sering mengatakan "yang disebut dewa adalah cerdas dan berjiwa 
lurus". Jika kita bermohon sesuatu tanpa mengikuti prinsip yang 
benar, seperti bermohon rejeki kepada dewa, bermohon dapat jabatan 
tinggi kepada dewa namun bersifat serakah dan semena-mena, jika dewa 
dapat melindungi saya dengan prinsip seperti itu, maka bukankah sang 
dewa itu sama korupnya dengan saya?    
 
Kita menyembah dewa dengan memberikan sedikit sogokan, memberikan 
sedikit persembahan kepadanya dengan harapan dia dapat membuat kita 
menjadi kaya. Kita  mendapatkan uang 1 juta lalu memberi persembahan 
senilai 10.000, cukup menguntungkan.  Coba kalian pikirkan, mana ada 
dewa semacam itu? Oleh sebab itu, sikap seperti ini merupakan 
penghinaan terhadap dewa, sangat tidak menaruh hormat kepada dewa. 
Dengan demikian mari menyelidiki kesalahan-kesalahan dan kekacauan 
pandangan orang-orang di dunia ini, kemudian perhatikan apa yang 
diucapkan oleh sang Buddha dalam kitab sucinya, anda akan 
mengganggukkan kepala bahwa apa yang dikatakan sang Buddha 
sesunggunya tidak salah, setiap kata-katanya adalah kenyataan.     
 
Kita lantas telah tahu pintu ajaran ini, dan berniat untuk 
mengetahuinya, ingin berlatih, maka harus tahu dengan jelas, harus 
mengerti dengan jelas. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah 
memberikan ceramah di kota Miami, Amerika serikat, dengan tema " 
Mengenal agama Buddha" – kaset rekamannya juga beredar di sini. Saat 
dalam memberikan ceramah, ada penerjemah yang langsung menerjemahkan 
ke dalam bahasa Inggris. Peserta yang hadir banyak yang merupakan 
orang barat, kaset rekamannya pun telah dipisahkan ke dalam 2 
bahasa, yakni Mandarin dan bahasa Inggris. Pada awal tahun ini, ada 
rekan praktisi yang berniat mengedit kaset rekaman tersebut ke dalam 
tulisan, dan sekarang telah dicetak menjadi sebuah buku kecil. Kalau 
tidak salah saya pernah melihatnya beredar di luar, sepatutnya anda 
sekalian membaca buku tersebut dengan seksama. Jika kita dapat 
mengenal dengan jelas hakikat ajaran Buddha, maka arah dan tujuan 
pembelajaran kita baru tidak akan mengalami kesalahan. Dengan 
demikian kita baru dapat membicarakan tentang masalah melafal nama 
Buddha untuk terlahir di tanah suci  Buddha.       
 
Metode Nianfo (melafal nama Buddha) adalah salah satu metode ajaran 
dari sekian banyak metode ajaran yang ada dalam Buddha dharma. 
Mengapa kita memilih metode ajaran ini? untuk Mencapai kebuddhaan. 
Apakah yang dimaksud dengan mencapai kebuddhaan itu? Mencapai 
kebuddhaan itu berarti adalah mencapai kebijaksanaan yang paling 
sempurna. Hanya dengan memiliki kebijaksanaan sejati lah segala 
masalah baru dapat diatasi. Seperti  masalah kehidupan, masalah 
keluarga, masalah pekerjaan, hingga berbicara mengenai masalah 
kematian, semuanya ini dapat diatasi dengan sempurna. Jika tidak 
memiliki kebijaksanaan, maka tidak dapat mengatasi masalah ini. 
 
Jika tidak memiliki kebijaksanaan, setiap hari berkutat dengan 
pikiran khayal, maka saat itu juga akan semakin menderita, menderita 
di atas penderitaan tanpa bisa mengatasi masalah. Jadi harus 
memiliki kebijaksanaan sejati. Temukan wujud asli diri sendiri 
melalui kebijaksanaan sejati, seperti yang dikatakan dalam mazhab 
Chan, "wujud asli sebelum dilahirkan oleh orang tua" , disitulah  
merupakan keakuan yang sesungguhnya.  
 
Kalian semua telah tahu bahwa ajaran Buddha berbicara mengenai 
anatma (tanpa aku). "Tanpa aku" merupakan pandangan salah yang 
terjadi dalam diri makhluk awam seperti kita ini. Dia itu tidak ada, 
tetapi dia memiliki "keakuan sejati".  Dalam 4 pahala kesucian (yang 
disebutkan dalam Mahaparinirvana Sutra) adalah kekal, bahagia, aku, 
dan suci. Ini adalah hal yang benar.  "Aku" disini adalah seperti 
yang dikatakan dalam mazhab Chan, "wujud asli sebelum dilahirkan 
oleh orang tua". Juga seperti yang telah saya ungkitkan perkataan 
bodhisattva Vasubandhu dalam kitab "risalat tentang kelahiran di 
tanah suci", yakni "dharmakaya yang bergeming" . itu merupakan "aku 
sejati". Setelah dapat menemukan "aku sejati" ini, maka akan 
mendapatkan keleluasaan agung.       
 
Lalu apa bentuk dari keleluasaan itu? Saya rasa tidak sedikit rekan 
sekalian yang telah pernah membaca kitab "Samantha-mukha varga". 
Dalam kitab ini mengungkapkan tentang 32 tubuh manifestasi dari sang 
bodhisattva Avalokitetsvara. Itulah bentuk dari keleluasaan agung. 
Jika anda telah menemukan wujud asli anda, maka anda pun memiliki 
kemampuan untuk berubah menjadi lebih dari satu wujud, mampu berubah 
wujud. Dengan wujud apa para makhluk baru dapat tertolong, maka anda 
akan dapat berubah wujud yang sesuai untuk menolongnya. Betapa 
leluasanya ini. 
 
Kondisi kita sekarang ini sangat menyedihkan, tidak mampu berubah 
wujud. Pada kesempatan ini saya datang ke sini, para rekan praktisi 
setelah bertemu dengan saya berharap agar saya dapat tinggal lebih 
lama lagi. Namun inilah yang tidak sanggup dilakukan yakni menjelma 
dalam berbagai wujud, jika dapat maka saya akan menjelma satu tubuh 
saya di kota Tainan, satu lagi di kota Taipei, satu lagi di Amerika, 
sepanjang tahun tinggal di sana, betapa leluasanya. 
 
Dari hal ini, anda sekalian pun menjadi tahu bahwa saya masih 
belummencapai "dharmakaya yang bergeming". Jika saya telah mencapai 
dharmakaya yang bergeming, maka saya pasti telah memiliki kemampuan 
seperti itu. Tapi kita percaya bahwa ini benar-benar merupakan 
kenyataan yang sesungguhnya. Meskipun kita belum menyaksikan 
langsung kenyataan tersebut, namun sang Buddha membicarakan prinsip-
prinsip ini dalam kitab suci, dan saat kita renungkan dengan 
seksama, itu adalah benar, itu adalah hal yang memungkinkan. Dengan 
kata lain, kita masih belum mencapai target batin yang suci dan 
batin yang setara, dan semestinya harus semakin giat lagi untuk 
berlatih. 
 
Kunci pelatihan Buddha dharma terletak pada ketekunan dan 
konsistensi.  Tidak boleh terpecah-pecah. Sekali terpecah-pecah maka 
menjadi rusak. Penyakit yang umum terjadi pada para rekan praktisi 
kita sekarang ini terletak pada pelatihan yang tidak serius dan 
berlatih secara inkonsistensi. Seperti kondisi saat anda mengenyam 
pendidikan di sekolah, jumlah jurusannya sangat banyak dan di sini 
anda lalu belajar dengan asal-asalan, terpecah-pecah, jam ini 
mendengar mata jurusan ini, lalu jam berikut pindah ke jurusan yang 
lain lagi. Jika demikian terus cara mendengarnya maka belajar hingga 
400 tahun pun tidak dapat lulus. Karena anda tidak konsisten. Jika 
anda menekuni secara serius pada satu jurusan, maka 4 tahun saja 
anda sudah lulus dan mendapatkan gelar. Karena anda tidak konsisten, 
semua jurusan ingin dipelajari, semua jurusan ingin didengar, semua 
jurusan ingin disentuh, maka akan menghasilkan sebuah kekacauan, ini 
menjadi rusak. Kondisi seperti inilah yang menjadi penyakit umum 
pada para praktisi Buddha di masa sekarang ini.   
 
Di depan telah dijelaskan kepada anda sekalian tentang garis besar  
ajaran Sila, Samadhi dan kebijaksanaan. Sila dan Samadhi merupakan 
sendi utama, namun kita telah mengabaikannya. Kita telah 
menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga dalam Buddha dharma, 
pada hari ini penyebab dari tidak dapat mencapai keberhasilan itu 
telah dimengerti, telah menjadi jelas, maka kita harus kembali ke 
sang jalan.  
 
Memilih di antara berbagai metode ajaran Buddha

Buddha dharma tentu sama seperti sebuah universitas. Di dalamnya 
terdapat sekian banyak jurusan. Lalu bagaimana sebaiknya cara kita 
memilih? Pada prinsipnya, pemilihan itu tidak terletak pada 
jurusannya, atau pada metode ajarannya. Mengapa? Karena metode 
ajaran itu adalah sederajat. Itulah sebabnya dalam kitab suci 
mengatakan, "pintu ajaran itu setara, tidak ada perbedaan". Karena 
tujuan dari setiap metode ajaran adalah untuk mencapai Anuttara 
samyaksambodhi. Jalan dari setiap metode ajaran itu dapat 
mencapainnya, jadi kunci pemilihan itu terletak pada diri sendiri. 
Misalnya ruang ceramah kita ini terdapat sekian banyak pintu di 
setiap sisinya. Kita dapat masuk ke dalam ruangan ini melalui setiap 
pintu itu, maka semua pintu itu disebut bersifat setara/sederajat. 
 
Jadi, sisi pintu mana yang anda pilih untuk dapat masuk ke dalamnya, 
ini merupakan syaratnya. Jika anda berdiri di luar pintu dan 
melangkah begitu saja ke dalam pintu maka anda pun telah masuk ke 
dalamnya, betapa praktisnya. Namun anda tidak mau masuk lewat pintu 
ini, malahan ingin berputar di sekelilingnya, dan ingin masuk ke 
pintu lain lalu merasa ragu lagi, dan ingin lagi masuk melalui pintu 
lain lagi. Berputar sana dan sini hingga berjam-jam lamanya dan 
belum juga sampai masuk ke dalam, maka bukankah ini yang disebut 
dengan mencari masalah sendiri? Sekarang ini banyak praktisi Buddha 
yang mengidap penyakit seperti ini, selalu berputar-putar di depan 
pintu, tidak tahu tentang "terjun secara konsistensi pada satu pintu 
(metode ajaran)". 
 
Memang benar bahwa para sesepuh di masa lalu mengatakan bahwa 
terdapat pintu ajaran yang sulit dan mudah. Sulit dan mudah itu 
bukan terdapat pada metode ajarannya. Sulit ataupun mudah itu 
terletak pada diri kita sendiri. Jika pikiran khayal dan pikiran 
kacau pada diri kita sangat parah, maka akan ada metode ajaran 
tertentu yang terasa sulit bagi kita. Jika pikiran khayal dan 
kemelekatannya ringan, maka metode ajaran itu terasa sangat mudah. 
Inilah yang dikatakan bahwa setiap makhluk hidup memiliki akar yang 
berbeda-beda.
 
Jika noda batin dan kebiasaan buruk sangat parah, apakah tersedia 
sebuah metode ajaran yang dapat membuat kita berlatih dengan rasa 
praktis dan mudah berhasil?  Inilah yang kita butuhkan, dan metode 
ini adalah metode ajaran Nianfo (melafal nama Buddha). Inilah metode 
ajaran yang direkomendasikan oleh para Buddha dan bodhisattva kepada 
kita. Metode ajaran ini, bagi orang yang memiliki rintangan karma 
dan kebiasaan buruk terberat sekalipun dapat berhasil. Berlatih 
metode ajaran lain tidaklah mudah, sedangkan metode ajaran ini mudah 
berhasil. 

Waktunya telah habis, pembicaraan kita hari ini cukup sampai di 
sini, besok saya akan memperkenalkan sumber acuan pelatihan mazhab 
Sukhavati. Jika kita dapat mengerti acuan kita, maka batin kitapun 
akan dapat stabil, dan dapat berlatih dengan tekun dan konsisten, 
dengan demikian pelatihan kita pun dapat mencapai hasilnya. Sampai 
jumpa lagi esok malam.
 
(bersambung)..




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke