PAHALA DARI
MELAFAL NAMA BUDDHA (1)
Judul asli: Nianfo De Gongde
Pembicara: Bhiksu JingKong (Chin Kung)
Tempat dan waktu: National Cheng Kung University, kota Tainan,
Desember 1994
Penyusun: WuZhenDu
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh : Ching Ik, 28 Juli 2005
Hari Pertama
Yang terhormat, Ketua Yayasan Buddha Amitabha kota Tainan, para
rekan praktisi, para senior:
Ini merupakan sebuah jodoh yang istimewa dapat berbincang-bincang
mengenai Buddha dharma di lokasi yang indah di National Cheng Kung
University. Pada kesempatan ini terdapat 4 kali sesi ceramah dengan
tema "Pahala Dari Melafal Nama Buddha". Dalam beberapa tahun ini,
perkembangan agama Buddha di Taiwan dapat dikatakan cukup berhasil,
khususnya metode ajaran Nianfo (melafal nama Buddha). Meskipun
jumlah orang yang melafal nama Buddha cukup banyak, namun tentang
mengapa harus melafal nama Buddha, bagaimana cara melafal nama
Buddha, dan seberapa besar manfaat dari melafal nama Buddha,
pertanyaan-pertanyaan ini bagi sebagian besar orang sedikit banyak
masih menyisakan kebingungan. Mengenai hal ini, kita akan
mengedepankannya dalam topik ceramah kita kali ini.
Buddha dharma sebagai sistem pendidikan
Pertama-tama, kita harus mengenal secara benar tentang apa itu
Buddha dharma, kemudian baru dapat menimbulkan ketertarikan terhadap
pembelajaran Buddha dharma, dengan demikian maka manfaat dan pahala
dari Buddha dharma pun akan dapat dengan mudah dipetik. Pada awal
era China Nasionalis, Bapak Ouyang Jingwu pernah memberikan sebuah
ceramah yang sangat penting tentang ajaran Buddha. Teks hasil
ceramah tersebut telah didokumentasikan oleh siswa beliau dan
beredar di Taiwan. Barangkali ada rekan praktisi yang sudah pernah
melihatnya. Tema dari ceramah tersebut adalah "Buddhisme bukanlah
sebuah agama maupun filsafat namun dia harus dibutuhkan di jaman
sekarang". Saat itu ceramah tersebut disampaikan di Universitas
ZhongShan Ke IV di mana Universitas ZhongShan ke-IV ini telah
berubah nama menjadi Nanjing Normal University di masa sekarang
ini, dan saat berakhirnya perang dunia ke 2, universitas ini bernama
Universitas JingLing Wanita, sekarang berganti nama menjadi Nanjing
Normal University. Jadi pada awal era China Nasionalis, namanya
adalah Universitas ZhongShan ke IV.
Maksud dari ceramah tersebut adalah memberitahu kepada kita bahwa
sesungguhnya Buddha dharma itu memang dibutuhkan pada jaman sekarang
ini. Kita tidak boleh memandangnya sebagai sebuah agama. Agama
hanyalah berada dalam arti yang sempit, dia tidak dapat mencakup
Buddha dharma. Sedangkan Buddha dharma-lah yang mencakup agama.
Kondisi ini mengibaratkan bahwa Buddha dharma seperti sebuah
universitas yang utuh. Sedangkan agama dan filsafat merupakan sebuah
jurusan keilmuan/fakultas yang berada di dalam universitas itu.
Jurusan keilmuan tidak dapat mencakupi keseluruhan universitas,
sedangkan universitas sesungguhnya memiliki berbagai bidang jurusan
itu.
Kita selidiki secara seksama, apakah sebenarnya Buddha dharma? Tuan
Ouyang mengatakan, "Buddha dharma adalah Buddha dharma". Tentu tidak
ada yang salah dengan perkataan ini, tetapi dalam proses
pembelajaran kita selalu diliputi oleh kebingungan, merasa ada
sesuatu yang misterius. Lalu kemudian kita selidiki lagi secara
seksama, bahwa ternyata agama Buddha itu sangat mirip sekali dengan
apa yang kita sebut sebagai pendidikan. Dengan kata yang
sesungguhnya, agama Buddha itu adalah sistem pendidikan.
Pada masa Sang Buddha Sakyamuni mendirikan basis pendidikan ini,
mirip sekali dengan sistem pendidikan yang didirikan oleh Confucius
secara pribadi di China. Melalui sejarah, kita tahu bahwa Confucius
saat gagal memenuhi cita-citanya dalam kehidupan politik, lalu
mengundurkan diri dan menjalankan tugas pengajarannya. Sedangkan
kondisi sang Buddha Sakyamuni justru adalah kebalikan dari
Confucius, di mana Beliau melepaskan dunia politik kemudian baru
menjalankan tugas pengajaran. Jadi kondisinya berbeda dengan
Confucius. Akan tetapi mereka sama-sama memiliki pencapaian yang
agung dan mulia dalam basis pendidikan, inilah yang harus kita
pahami dengan jelas.
Oleh sebab itu saat setelah agama Buddha masuk ke China, para umat
Buddha China memberi gelar kehormatan kepada sang Buddha Sakyamuni
sebagai "BenShi (guru utama)". Hal ini sama seperti para kaum
pelajar di China memberi hormat kepada Confucius sebagai "XianShi"
yang artinya sepadan dengan "guru utama". Kita menyebutnya BenShi,
yakni guru yang utama, di mana dia adalah guru pertama yang
mendirikan basis pendidikan ini, yakni sebagai pendiri. Lalu kita
sendiri menyebut kita sebagai siswa, maka ini sangat jelas sekali
terlihat bahwa hubungan antara kita dengan sang Buddha adalah sebuah
jalinan hubungan antara guru dan murid. Jadi kita memberi hormat
kepada Sang Buddha adalah karena menganggapnya sebagai guru, sama
sekali bukan menganggapnya sebagai makhluk dewa. Jika menganggapnya
sebagai makhluk dewa (penguasa kahyangan), maka ini menjadi sebuah
agama.
Itulah sebabnya di masa sekarang ini ada orang yang mengatakan bahwa
agama Buddha adalah sebuah agama, dan kita pun tidak dapat
memungkirinya lagi. Mengapa? Karena dia memang telah berubah bentuk,
benar-benar telah berubah menjadi agama. Sebagian besar masyarakat
ini memperlakukan para Buddha dan bodhisattva sebagai makhluk dewa,
inilah yang membuatnya berubah menjadi agama. Kita perlu belajar,
tetapi bukan belajar agama. Yang kita pelajari adalah basis
pendidikannya, dengan demikian kita baru bisa mendapatkan manfaatnya
yang sesungguhnya. Inilah yang perlu dipahami dengan jelas.
Di masa lalu, para bodhisattva merupakan siswa dari sang Buddha.
Dengan kata lain, mereka adalah senior (kakak seperguruan) kita.
Mereka belajar di bawah bimbingan sang Buddha di masa-masa yang
awal, sedangkan kita baru belajar di bawah bimbingan sang Buddha
belakangan ini, jadi hubungan ini harus dipahami dengan jelas oleh
kita. Jumlah siswa sang Buddha itu sungguh terlalu banyak sekali,
setelah mengenalnya dengan jelas maka kita pun tidak akan memiliki
kesalah pahaman (tersesat) lagi.
Keyakinan, bakti, dan hormat
Sang Buddha mengajar kepada kita bahwa "keyakinan" itu sangatlah
penting. Dalam kitab Avatamsaka Sutra mengatakan ,"Keyakinan adalah
sumber pahala dan kebenaran". Dalam istilah Buddhisme terdapat
kata "Berlatih untuk mencapai Phala (buah dari sang jalan)", atau
dengan kalimat bahasa sekarang ,"menamatkan pendidikan sekolah"
untuk mencapai kebijaksanaan sempurna. Di dalam sini terdapat sebuah
faktor yang sangat penting yakni "keyakinan".
Keyakinan itu sangat penting sekali. Keyakinan yang dibicarakan
dalam Buddha dharma, pertama adalah tentang keyakinan pada diri
sendiri. Kedua adalah keyakinan terhadap sang guru. Harus benar-
benar memiliki keyakinan terhadap sang guru, mengapa? Jika memiliki
keyakinan yang kuat terhadap sang guru, kita baru dapat mempelajari
dengan sungguh-sungguh atas apa yang diajarkannya. Jika tidak
memiliki keyakinan terhadap sang guru, maka meskipun sehebat apapun
gurunya, anda juga tidak memiliki niat untuk belajar. Dengan kata
lain, apa yang termaktub dalam Buddha dharma, anda tetap tidak dapat
mengerti, dan anda pun tidak mendapatkan apa-apa.
Itulah sebabnya, di negeri China mengatakan bahwa spiritualisme dari
berdirinya sebuah negara terletak pada "sikap bakti terhadap orang
tua dan hormat kepada guru". Buddha dharma juga berdiri di atas
fondasi seperti ini. Sang Buddha mengajarkan kepada kita bahwa
fondasi dari berlatih itu dilandasi oleh "Sikap bakti terhadap orang
tua dan menjalankan bimbingan guru". Ini dapat dikatakan bahwa
sistem pengajaran dari Buddha dharma dan tradisi Confusianisme
dilandasi oleh fondasi yang sama. Inilah juga yang menjadi sebab
dari Buddha dharma dapat dengan mudah diterima dengan senang hati
oleh para kaum terpelajar China saat menyebar masuk ke negeri ini.
Isi dari ajarannya sangat kaya dan sangat lengkap, di mana kita
dapat melihatnya dari apa yang diwariskannya dalam bentuk kitab
suci, kita dapat melihatnya dengan sangat jelas dan transparan.
Tujuan akhir pendidikan Buddha dharma
Hubungan Buddha dan kita adalah sebuah hubungan antara guru dan
murid, jadi kita tahu bahwa sang Buddha benar-benar membimbing kita
secara tulus. Lalu apa isi yang terkandung di dalam ajaran Buddha
itu? Apa tujuannya? Inilah hal yang tidak boleh tidak kita ketahui.
Agama Buddha adalah pendidikan Buddha dharma. Tujuan yang ingin
diraih hanya ada satu, yakni dalam kitab suci
mengatakannya, "Anuttara Samyaksambodhi". Ini adalah sebuah istilah
dari bahasa sanskerta dan inilah yang merupakan target utama dari
apa yang diajarkan oleh sang Buddha.
Pada masa lalu dalam kegiatan penerjemahan, istilah ini
dikategorikan sebagai "tidak diterjemahkan atas dasar penghormatan
terhadap istilahnya". Sebenarnya istilah ini dapat diterjemahkan
langsung, namun mengapa ingin mempertahankan istilah aslinya? Karena
ingin memberi penghormatan atas istilah aslinya. Inilah target utama
yang ingin diajarkan oleh sang Buddha. Arti dari istilah ini
adalah "Pencerahan benar dan setara yang tiada bandingannya"
(pencerahan sempurna). Jadi sesungguhnya istilah ini dapat
diterjemahkan, dan artinya pun telah diterjemahkan dengan sangat
sempurna.
Sekarang kita mendengar istilah "pencerahan sempurna" pun juga
sulit memahaminya. Harus membutuhkan sedikit usaha untuk mencerna
maknanya. Jika digantikan dengan istilah jaman sekarang,
sesungguhnya kalian semua tidak akan sulit lagi untuk memahaminya.
Jadi apa artinya itu? Yakni "kebijaksanaan yang paling sempurna".
Dengan mengatakannya begitu, maka anda sekalian pun akan menjadi
mudah untuk memahaminya.
Istilah kebijaksanaan ini, sesungguhnya berarti "maha tahu"
dan "adikuasa". Bukan hanya tahu tentang masa sekarang, bahkan
terhadap hal-hal masa lalu dan masa mendatang pun dapat diketahui
dengan benar dan jelas tanpa kesalahan sedikitpun, tahu secara
sempurna, jadi bukan tahu dalam batas tertentu, inilah target yang
ingin dicapai dalam apa yang diajarkan oleh Buddha dharma. Jadi
perlu diketahui bahwa kebijaksanaan merupakan tujuan dari cita-cita
yang ingin dicapai dalam Buddha dharma. Buddha dharma merupakan
pendidikan tentang kebijaksanaan, pengajaran tentang kebijaksanaan.
Setelah mendengar hal ini secara sepintas, maka tak terhindarkan
untuk timbul berbagai pertanyaan seperti apakah hal ini mungkin
tercapai? Apakah benar ada hal seperti ini? Apakah seseorang dapat
mengetahui tentang masa lalu, masa kini, masa mendatang, dunia ini
dan dunia lain?. Dalam aspek agama, kita mendengar tentang pujian
kepada tuhan di mana tuhan adalah maha tahu, maha kuasa. Manusia
juga dapat mencapainya. Sesungguhnya jika anda sekalian berkecimpung
secara perlahan-lahan dalam Buddha dharma, maka anda akan
memahaminya, bahwa sesungguhnya tuhan itu tidak memiliki kemampuan
itu, itu hanyalah pujian kepadanya. Sedangkan manusia sesungguhnya
sanggup mencapai target ini jika mengikuti ajaran dari Buddha dharma.
Oleh sebab itu, apa yang diajarkan oleh sang Buddha bukanlah
mengenai hal lain, tetapi hanya untuk memulihkan kembali kemampuan
kebijaksanaan yang pada dasarnya telah kita miliki. Kita sering
membaca kitab suci Mahayana yang mengatakan bahwa sang Buddha
membimbing semua makhluk hidup. Namun seperti dalam kitab Sutra
Intan mengatakan "sesungguhnya tidak ada satu makhlukpun yang
telah dibimbing oleh Buddha". Sang Buddha membimbing semua makhluk
hidup, namun sang Buddha juga mengatakan bahwa tidak ada satu
makhlukpun yang telah dibimbingnya. Apa artinya ini? Karena
kebijaksanaan itu merupakan kemampuan dari dalam diri makhluk itu
sendiri, yang pada dasarnya telah dimilikinya. Bukan diberikan dari
sang Buddha. Sang Buddha hanya memberi sedikit petunjuk dikala
makhluk itu sedang tersesat, dan sekali anda menjadi sadar, itu
merupakan apa yang telah dimiliki oleh anda pada dasarnya.
Sang Buddha telah mengatakannya dengan sangat baik dalam kitab
Avatamsaka Sutra : "semua makhluk hidup memiliki tanda kemampuan
kebijaksanaan Tathagata". Kebijaksanaan ini adalah seperti yang
telah dikatakan tadi yakni kebijaksanaan yang paling sempurna.
Mengetahui dengan jelas tentang segala aspek kehidupan dan dunia
ini, ini merupakan kebijaksanaan anda yang telah ada pada dasarnya.
Apakah arti "kemampuan" itu? Ini mengenai fungsinya. Fungsi dari
kebijaksanaan itu adalah luas, tak terbatas dan tak terbayangkan,
melampaui batas ruang, itu merupakan hasil dari kemampuan yang
muncul dari diri sendiri.
Apakah sebenarnya kemampuan kebijaksanaan kita telah hilang? Tidak
sama sekali. Jika demikian mengapa kondisi kita sekarang ini menjadi
begitu menderita? Sang Buddha mengatakan bahwa sebabnya adalah anda
telah tersesat. Bagaimana tersesatnya? Sang Buddha mengatakan dengan
sangat jelas, yakni "hanya karena pikiran khayal dan kemelekatan
sehingga tidak dapat mencapainya". Inilah sumber penyakit yang telah
diungkapkan oleh sang Buddha. Jika dapat mengikis habis pikiran
khayal dan kemelekatan, maka kemampuan kebijaksanaan anda pun akan
pulih kembali. Sekali pikiran khayal telah sirna, maka kebijaksanaan
pun akan muncul kembali, sekali kemelekatan telah hilang, maka
kemampuan pun akan muncul kembali.
Mengenai kemampuan dan kebijaksanaan, bodhisattva Vasubandhu dalam
kitabnya "Risalat tentang kelahiran di tanah suci" mengatakan
tentang 2 kalimat yang bila di sarikan akan menjadi kata
suci, "kebijaksanan yang sesungguhnya itu adalah dharmakaya (tubuh
dharma)". Bila pikiran khayal tidak ada lagi, maka kebijaksanaan
sejati akan muncul kembali, bila kemelekatan telah dihancurkan, maka
dharmakaya akan muncul kembali. Pada tingkatan ini disebut "mencapai
kebuddhaan". Yang dicapai adalah kebuddhaan yang paling sempurna,
inilah yang di dalam Buddha dharma menyebutnya telah menamatkan
pendidikannya.
Oleh sebab itu, ajaran Buddha dibagi menjadi 3 tingkatan, sama
seperti sistem pendidikan dalam sekolah kita sekarang ini, terdapat
3 tingkatan atau 3 tahap. Tamatan pendidikan universitas mendapat
gelar sarjana, kemudian melanjutkan pendidikan kejuruan untuk meraih
gelar master, lalu doctor. Dalam Buddha dharma juga terdapat 3
tingkatan, di mana tingat terendah adalah Arahat, jadi Arahat
adalah sebuah istilah gelar pendidikan. Gelar pendidikan yang lebih
tinggi dari Arahat adalah Bodhisattva. Dan gelar pendidikan yang
tertinggi adalah Buddha. Jadi bila anda telah mencapai pencerahan
dengan kebijaksanaan paling sempurna, maka berarti anda telah
mendapatkan gelar pendidikan tertinggi.
Itulah sebabnya dalam ajaran Buddha mengatakan bahwa setiap orang
memiliki hakikat Buddha, setiap orang akan dapat menjadi Buddha.
Perkataan seperti ini tidak terdapat dalam aspek agama. Dalam agama,
tidak setiap orang dapat menjadi tuhan. Itulah sebabnya Buddha
dharma merupakan ajaran persamaan derajat/ non-diskriminasi, di mana
semua makhluk hidup akan dapat menjadi Buddha. Kita harus mengenal
dengan jelas tentang istilah Buddha, Bodhisattva dan Arahat. Jadi
istilah ini bukan merujuk sebagai makhluk dewa, itu adalah nama
untuk tingkatan pendidikan, mewakili sebuah tingkatan pembelajaran.
Arahat adalah "pencerahan yang benar". Selanjutnya jika naik
setingkat lagi disebut "pencerahan yang benar dan setara" adalah
bodhisattva. Jika ditambah lagi dengan sebutan "tertinggi" maka
disebut Buddha. Jadi demikianlah asal kata ke 3 istilah ini.
Kesesatan kita bukan berasal dari kehidupan ini saja, tetapi pada
masa lalu yang sangat sangat panjang, kita telah tersesat. Semakin
tersesat semakin mendalam, tidak memiliki cara untuk menjadi sadar.
Sesungguhnya untuk dapat menjadi sadar itu tidaklah begitu sulit.
Lalu di mana letak kesulitannya? Tadi telah dikatakan yakni karena
pikiran khayal dan kemelekatan anda tidak mau dilepaskan. Jika anda
melepaskan pikiran khayal dan kemelekatan, maka akan sangat mudah
untuk menjadi Buddha. Jadi masalah seperti ini bukan berasal dari
bantuan orang. Memohon bantuan orang merupakan hal tersulit di dunia
ini. Buddha dharma menekankan aspek membantu diri sendiri, bukan
ditolong oleh orang lain. Jika anda benar-benar memiliki niat, maka
akan menjadi mudah, jika tidak maka akan menjadi sulit. Jadi yang
dinamakan sulit dan mudah itu semua dibawah kendali tangan kita
sendiri, bukan di dunia luar sana, juga bukan berada pada orang lain.
Jadi telah diketahui tentang tujuan dari pelatihan Buddha dharma,
dan bagaimana bisa tersesat, sumbernya pun telah diketahui. Dengan
demikian kita pun akan menyadari bahwa sang Buddha memberikan
bimbingannya di sepanjang hidupnya yang kemudian diwariskan di
dalam berbagai kitab yang terkumpul menjadi Tripitaka. Dan apa isi
dari Tripitaka itu? Yakni mengungkapkan realitas sesungguhnya
tentang kehidupan dan dunia ini. Dan apa yang diketahui itu adalah
berasal dari orang yang telah benar benar sadar (mencapai
pencerahan).
Hidup kita ini tidak hanya ada di satu kehidupan ini saja, kita
memiliki kehidupan masa lalu, dan kehidupan masa lalu itu masih ada
kehidupan masa lalunya lagi. Kita juga memiliki kehidupan masa
mendatang, dan demikian juga di masa mendatang masih ada kehidupan
masa mendatangnya lagi. Kehidupan itu bersifat kekal, kehidupan itu
tidak timbul dan lenyap, ini adalah realitas yang sesungguhnya. Ini
tidak sama dengan yang dibicarakan dalam aspek agama. Sedangkan
dimensi ruang tempat kita hidup ini adalah bersifat tanpa batas,
tidak hanya terbatas pada satu wilayah kecil, tidak hanya terbatas
pada satu planet bumi.
Di dalam kitab suci, sang Buddha memberitahu kepada kita bahwa di
alam semesta ini terdapat Buddhaksetra (tanah Buddha) yang jumlahnya
tak terbatas. Yang disebut Buddhaksetra adalah ruang lingkup
seorang Buddha memberi ajarannya. Satu ruang lingkup ajaran itu
terdiri dari - dalam kitab suci Buddha menyebutnya, "Trisahasra
Mahasahasra loka-dhatu". Jadi 1 (satu) Trisahasra Mahasahasra loka-
dhatu adalah tempat satu ruang lingkup seorang Buddha memberikan
ajarannya. Dan seberapa besar ruang lingkup ini? Di masa lalu
banyak orang yang menyebutkan bahwa Mahasahasra loka-dhatu dalam
ajaran Buddha itu berkemungkinan merupakan galaksi yang ditemukan
oleh para ilmuwan di masa sekarang ini.
Tetapi dalam beberapa tahun belakangan ini, seorang upasaka dari
China bernama HuangNianZhu, beliau adalah seorang ilmuwan, mengajar
di kota TianJin, universitas TianJin- dahulu adalah universitas
BeiYang. Beliau berkata kepada kita bahwa satu sistem galaksi itu
sesungguhnya adalah 1 (satu) cula loka-dhatu (satu sistem dunia
kecil) yang disebutkan dalam ajaran Buddha. Lalu 1 (satu)
Mahasahasra loka-dhatu itu terdapat berapa cula loka-dhatu? Yakni 10
milyar cula loka-dhatu (galaksi). Jadi betapa besar ruang lingkup
ini. 10 milyar galaksi adalah satu ruang lingkup seorang Buddha
memberi ajarannya.
Coba anda pikirkan baik-baik, jika seorang Buddha tidak memiliki
kemampuan dan kebijaksanaan yang sempurna, bagaimana Dia dapat
memberikan ajarannya di dalam ruang lingkup yang begitu besar? Sang
Buddha juga memberitahu kepada kita bahwa di alam semesta ini, ruang
lingkup seperti ini jumlahnya tak terbatas, jumlah dunia ini tak
terbatas, dan jumlah para Buddha itu tak terbatas. Dengan demikian
maka jumlah makhluk hidup pun akan `lebih' tak terbatas lagi. Jadi
inilah dimensi ruang tempat kita hidup, tempat kita beraktifitas.
Jika saudara sekalian membaca kitab Avatamsaka Sutra secara teliti,
maka sedikit banyak anda pun akan dapat mengetahui tentang hal ini.
Bagaiman cara untuk memulihkan kembali kemampuan kebijaksanaan
kita, dan cara memulihkan kembali keleluasaan kita beraktifitas di
ruang lingkup ini? Inilah yang ingin diajarkan kepada kita di dalam
Buddha dharma. Itulah sebabnya kita harus membuka hati dan pikiran
kita, seperti pada diri seorang Buddha yang "pikirannya meliputi
seluruh alam semesta". Seberapa besar ukuran pikiran itu? Yakni
meliputi seluruh alam semesta.
Coba kita balik untuk melihat diri kita sendiri, lihat semua makhluk
yang berada di sekitar kita, betapa sempitnya pikirannya. Bahkan 2
orang saja pun tidak bisa saling menaungi. Siapa saja yang disebut 2
orang itu? Suami istri masih mau bercekcok, masih sering bercekcok
untuk bercerai. Dengan demikian anda baru akan tahu bahwa sang
Buddha mengatakan kita ini tersesat hingga pada tingkat separah itu.
Oleh sebab itulah dalam kitab suci, sang Buddha sering mengatakan
bahwa para makhluk hidup itu "patut dikasihani". Seandainya makhluk
itu tidak memiliki kebijaksanaan lalu tersesat, maka tidak perlu
dikasihani. Tetapi masalahnya dia memiliki kebijaksanaan dan
kemampuan yang pada dasarnya tidak berbeda dengan para Buddha, dan
sekarang malah tersesat hingga separah ini, maka ini baru disebut
patut dikasihani.
Cara mensikapi kitab suci Buddha
Inilah yang kita ketahui dari isi kitab suci, jadi sesungguhnya
kitab suci itu adalah buku teks pelajaran. Sang Buddha pada masa itu
sama seperti kondisi Confucius di China., meskipun mengajar selama
49 tahun, namun tidak menyusun buku pelajaran. Setiap hari memberi
ajaran lisan kepada semua orang, kadang atas inisiatif sendiri untuk
mengajar, kadang atas permintaan siswa yang mengajukan berbagai
pertanyaan, maka sang guru baru memberikan penjelasan. Kondisi-
kondisi seperti ini dapat kita lihat dengan sangat jelas dalam kitab
suci, jadi kitab suci itu merupakan buku pelajaran.
Mengapa pada saat itu sang Guru tidak menyusun saja buku
pelajarannya untuk diwariskan demi kepraktisan orang-orang masa
belakangan? Confucius juga tidak menyusun buku pelajaran untuk
diwariskan kepada orang masa belakangan. Mereka adalah dua orang
suci dari timur (China) dan barat (India). Jadi apa maksud dari hal
ini? Setelah kita menelusurinya secara mendalam, kita mendapatkan
sedikit gambarannya, yakni karena ungkapan yang diajarkan oleh sang
Buddha itu adalah ungkapan yang hidup, bukan ungkapan yang mati
(dogmatis). Dengan demikian maka akan menjadi sulit bila ditulis
kembali. Setelah dituliskan menjadi bentuk aksara, maka dia akan
menjadi benda mati. Hal ini menimbulkan berbagai hambatan bagi
mereka yang mempelajarinya di masa belakangan. Disinilah letak dari
sulitnya untuk memahami ajaran Buddha. Namun kunci masalahnya tetap
pada pikiran khayal dan kemelekatan, di mana masih memiliki
kemelekatan dan pikiran khayal terhadap Buddha dharma juga.
Sesungguhnya nasihat dari para orang suci adalah agar kita dapat
memahami makna ajarannya, bukan melekat pada kata-katanya. Ajarannya
itu bersifat "hidup", bukan statis/mati, itu baru disebut
kebijaksanaan sejati. Dengan menggunakan istilah jaman sekarang,
ajaran dari orang suci itu adalah lintas batas ruang dan waktu.
Karena lintas batas ruang dan waktu, selama 3.000 tahun ajarannya
dapat dibenarkan maka 3.000 tahun kemudian pada masa kini setelah
kita mendengar kata-katanya juga masih dapat dibenarkan, itulah yang
melampaui batas ruang dan waktu. Sang Buddha mengajar kepada orang
India pada masa lalu dan setelah mendapatkan manfaatnya, orang India
pun membawa ajarannya untuk diajarkan kepada bangsa China dan bangsa
China pun mendapatkan manfaat yang sama. Dengan menyebar ke negera
dan suku bangsa manapun di dunia ini, jika menerapkan ajarannya
secara benar dipastikan akan mendapatkan manfaat yang sesungguhnya.
Itulah sebabnya ajarannya itu melampaui batas ruang dan waktu, dan
hal ini sangat sangat sulit untuk menerapkannya.
Setelah kita mengerti akan prinsip besar ini, maka kita baru dapat
berbicara mengenai membaca kitab suci. Jadi anda sekalian harus
tahu, harus membaca kitab suci secara tulus, tidak perlu mencerna
maknanya dengan bertanya apa maksud dari kalimat Sutra ini, apa
maksud dari kalimat Sutra itu. Jika demikian maka anda pun telah
menciptakan pikiran khayal dan menimbulkan kemelekatan. Mengapa
demikian? Mari kuberitahu secara jujur, isi kitab suci itu tidak ada
maknanya, jika anda mencari makna dalam kitab suci itu, maka
bukankah anda telah berkutat dengan pikiran khayal?
Karena tidak memiliki makna itulah maka dia melampau batas ruang dan
waktu. Jika ada makna maka dia tidak akan menjadi lintas ruang dan
waktu. Karena tidak memiliki makna maka waktu pun tidak dapat
membatasinya, itulah sebabnya kitab suci itu bersifat "hidup".
Ajarannya pada masa 3.000 tahun yang lalu memiliki penjelasannya
tersendiri, sekarang kitabnya berada di China ini maka dia akan
memiliki penjelasan yang sesuai dengan era ini, dan tidak akan bisa
mengalami kesalahan. Terhadap bangsa China dia memiliki penjelasan
yang sesuai dengan kondisi bangsa China, terhadap bangsa lain juga
memiliki penjelasan yang sesuai dengan kondisi bangsa lain, sama
sama memiliki manfaatnya. Jadi dia tidak memiliki satu sisi
penjelasan saja. Dengan kata lain dia tidak memiliki makna, tetapi
saat menggunakannya dia malah memiliki makna tak terbatas.
Kitab Mahaprajnaparamita Sutra mengajarkan kepada kita, "Prajna
tidak berpengetahuan oleh sebab itu tidak ada yang tidak diketahui".
Kitab suci tidak memiliki maknanya, maka dari itu dia memiliki makna
yang tak terbatas. Kenyataan hal ini, jika kalian memperhatikannya
secara seksama akan dapat melihatnya dengan jelas. Kita perhatikan
kitab penjelasan, coba anda lihat kitab penjelasan di masa dinasti
Han, yakni kitab penjelasan yang ditulis oleh orang di masa dinasti
Han. Kitab penjelasan tersebut pasti memberi manfaat kepada orang
pada masa itu, dan tujuan utamanya adalah untuk meraih kebijaksanaan
sejati dan dharmakaya (tubuh dharma).
Mari perhatikan lagi kitab penjelasan pada masa dinasti Tang dalam
Sutra yang sama. Kitab penjelasan di masa dinasti Tang pastilah
berbicara berdasarkan kondisi masa dinasti Tang, berbeda dengan apa
yang dibicarakan oleh orang masa dinasti Han. Seandainya sama, maka
untuk apa lagi membuat kitab penjelasan yang baru? Selanjutnya mari
kita lihat cara penjelasan versi masa dinasti Song, penjelasan versi
dinasti Ming, penjelasan versi dinasti Qing, semua ini tidak ada
yang sama, sedangkan kata-kata asli Sutra-nya tidak diganggu gugat
satu katapun, namun cara penjelasannya berbeda. Berbeda itulah yang
disebut makna tak terbatas. Itulah sebabnya kitab suci itu tidak
bermakna, namun saat menginterpretasikannya akan menjadi tak
terbatas maknanya. Seandainyapun kitab suci itu memiliki maknanya,
maka maknanya hanya ada satu, dan makna itu pun bersifat mati, tidak
akan bisa lagi melontarkan makna keduanya.
Inilah yang menjadi kesulitan dalam menerjemahkan kitab suci. Sebab
itu, sekarang ini ada orang yang memprakarsai untuk menerjemahkan
kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa sehari-hari. Hal ini akan
menjadi masalah yang sangat serius. Sekali menerjemahkannya ke dalam
bahasa sehari-hari, maka kitab suci itu pun menjadi ada maknanya,
bukan tidak bermakna lagi. Dan ini pun akan merubah ajaran Buddha
yang "hidup" menjadi ajaran Buddha yang "mati". Sekali menerjemahkan
ke dalam bahasa sehari-hari, maka ajaran Buddha pun akan mengumumkan
kematiannya, karena dia tidak dapat lagi memiliki makna keduanya.
Inilah yang harus kita ketahui secara jelas.
Dalam penerjemahan kitab suci, sesungguhnya jika kita melihat
sejarahnya, bangsa China cukup beruntung. Dalam sejarah
perjalanannya, para penerjemah kitab suci itu juga adalah orang yang
telah mencapai kesucian, mereka bukan orang biasa. Mereka tidak
sekedar menerjemahkannya berdasarkan kutipan kitab suci, namun
sesungguhnya mereka juga telah berhasil mencapai pada tingkatannya.
Meskipun belum mencapai tingkatan paling sempurna, setidaknya telah
mencapai tingkatan "pencerahan yang benar", "pencerahan yang benar
dan setara". Oleh sebab itu kata-kata sang Buddha dalam kitab suci
itu tidak mengalami perubahan dalam penerjemahannya. Meskipun tidak
dapat menerjemahkannya hingga 100 %, kemungkinan juga memiliki
tingkat 80 atau 90 %, itulah sebabnya kita benar-benar mendapatkan
manfaatnya.
Sekarang apabila ingin menerjemahkan kitab suci tersebut, apakah
kita telah mencapai tingkatan itu? Anda belum mencapai tingkatan itu
lalu bagaimana bisa tahu realitas yang sesungguhnya? Apa yang
dicapai oleh Buddha adalah realitas sejati, lalu para Bodhisatva dan
Arahat pun juga telah masuk ke dalam tingkatan itu, itulah sebabnya
mereka bisa menjelaskan isi kitab suci itu kepada kita dan yang
mereka gunakan bukanlah dengan pikiran awam, bukan menjelaskan
maknanya berdasarkan kata-kata saja, sama sekali bukan berlandaskan
pikiran khayal, diskriminasi dan kemelekatan untuk menjelaskan kitab
suci. Jadi dengan cara apa mereka menjelaskan kitab suci tersebut
kepada kita? Yakni kebijaksanaan sejati, itulah yang mereka
gunakan.
Sila, Samadhi dan Prajna
Dari manakah kebijaksanaan sejati itu? Dari pencerahan diri kita.
Lalu yang perlu kita tanyakan adalah bahwa mengapa kita tidak
sanggup meraih pencerahan? Mengapa mereka bisa? Pada dasarnya
pencerahan itu sudah ada, merupakan kemampuan yang telah ada pada
diri kita. Sedangkan kesesatan itu pada dasarnya tidak ada.
Bodhisatva Vasubandhu dalam kitabnya "Risalah kelahiran di tanah
suci" mengatakan kepada kita bahwa "pencerahan itu pada dasarnya
ada, tiada pencerahan itu pada dasarnya tidak ada". "Tiada
pencerahan" itu merupakan kesesatan, dan pada dasarnya dia itu tidak
ada. Oleh sebab itu kebijaksanaan yang paling sempurna itu pada
dasarnya telah dimiliki anda.
Yang pada dasarnya ada itu sekarang tidak ada lagi. Penyebab dari
hal ini adalah pikiran khayal dan kemelekatan. Itulah sebabnya sang
Buddha berbicara mengenai kultivasi/berlatih. Dan kuncinya terletak
pada samadhi (konsentrasi), ini merupakan inti pelatihan dalam
tradisi Buddhis. Melalui Sila maka timbullah samadhi, melalui
samadhi maka muncullah kebijaksanaan. Timbulnya kebijaksanaan maka
kemampuan dasariah pun pulih kembali. Jadi samadhi (konsentrasi)
merupakan sendi pelatihan dalam Buddha dharma.
Secara garis besar, keseluruhan ajaran Buddha terbagi dalam 3
pelatihan yakni sila, samadhi dan prajna (kebijaksanaan). Apa yang
diajarkan oleh sang Buddha selama 49 tahun dalam membimbing makhluk
hidup? Sila, samadhi dan kebijaksanaan, inilah 3 program dasar
pengajarannya.
Dalam pelatihan Sila, maksud intinnya adalah mengajar kita untuk
memupuk kebajikan. Sebagai manusia, tidak boleh tidak memiliki
berkah kebajikan. Jika tidak memiliki berkah kebajikan maka akan
sangat menderita. Dan dari manakah berkah kebajikan itu? Dari
mengikis kejahatan dan melatih kebajikan. Segala bentuk penderitaan
kita adalah berasal dari karma kejahatan. Sedangkan kebahagiaan dan
kesenangan kita adalah berasal dari buah karma baik kita. Menanam
kebajikan pasti akan mendapatkan buah yang baik. Menanam kejahatan
pasti akan mendapatkan buah penderitaan. Adalah mustahil jika
mengatakan berbuat jahat dapat menghasilkan buah yang baik, berbuat
kebajikan dapat menghasilkan buah yang buruk. Oleh sebab itu,
berlatih Sila adalah untuk mengajar kita mengikis kejahatan dan
memupuk kebajikan. Karena dalam kondisi karma buruk itu pikiran
khayal dan kemelekatan kita lebih kuat, maka batin suci kita akan
sangat sulit untuk dipulihkan kembali. Itulah sebabnya yang pertama
diajarkan sang Buddha kepada kita adalah "mengikis semua kejahatan
dan memupuk semua kebajikan". Dari sinilah pintu pertama yang
dimasuki, dan dari fondasi inilah untuk berlatih Samadhi.
Batin yang suci, dan batin yang sederajat (non-diskriminasi) itu
adalah Samadhi. Reaksi yang timbul dari pikiran yang suci dan
sederajat adalah kebijaksanaan, juga berarti tidak ada yang tidak
diketahui. Khususnya reaksi yang timbul dari batin yang sederejat
(non-diskriminasi) adalah tidak ada hal yang tidak diketahui.
Mengapa kita tidak sanggup mengetahui masa lalu dan masa mendatang?
Mengapa tidak sangggup mengetahui dunia ini dan dunia lain? Karena
batin kita tidak seimbang/setara. ,terdapat garis batas dan garis
batas merupakan hambatan. Garis batas ini bukan berasal dari luar,
tetapi merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri. Disebut
dengan "mengikat diri sendiri", bukan orang lain yang menghambat
anda, tetapi diri sendirilah yang merintangi diri sendiri.
Oleh sebab itulah, Samadhi itu merupakan sendi pelatihan dalam
Buddha dharma. Bagi praktisi baru Buddha dharma, definisi dari
istilah-istilah seperti ini hanya dapat dijelaskan dalam pengertian
yang masih agak kabur, masih tidak begitu jelas. Dalam proses
pelatihan, ini tentu dapat menimbulkan hambatan.
Ajaran Sila yang dibicarakan dalam Buddha dharma memiliki pengertian
yang luas, jadi bukan dalam pengertian yang sempit. Pelaksanaan sila
dalam buddha dharma, khususnya Buddha dharma Mahayana, terdapat 6
pelatihan dimana kita menyebutnya Sad paramita (6 kesempurnaan).
Paramita pertama adalah dana paramita (kesempurnaan dana) dan
selanjutnya adalah Sila paramita. Yang dimaksud dengan Sila - jika
menggunakan isitilah jaman sekarang adalah taat pada hukum, yakni
mentaati apa yang telah diajarkan oleh guru, tidak melanggar prinsip-
prinsip yang telah diajarkan oleh sang guru, itulah yang disebut
dengan "Menjalankan Sila". Jadi tidak boleh memandang Sila itu hanya
sebatas Pancasila (5 sila), Dasasila (10 sila), Bhiksu Sila,
Bodhisatva Sila. Jika hanya memandang demikian maka ruang lingkup
yang anda pandang menjadi terlalu kecil. Jika anda menjalankan
berdasarkan cara tersebut, maka coba anda pikirkan, bukan hanya
tidak dapat menghancurkan kemelekatan, malahan akan menambah
kemelekatan, yakni melekat pada 5 sila, melekat pada 10 sila,
melekat pada bodhisatva sila.
Sang Buddha menyuruh anda untuk menghancurkan kemelekatan, bukan
menambah kemelekatan, anda harus mengerti maksud ini. Itulah
sebabnya Sila itu memiliki pengertian yang luas, bukan sempit. Bukan
hanya ajaran sang Buddha saja yang harus kita taati, tapi peraturan
hukum di dunia ini juga harus kita taati, tata krama harus ditaati,
bahkan tradisi setempat pun harus kita taati. Dengan demikian baru
ada keharmonisan dalam kehidupan masyarakat ini, semua orang baru
dapat menjalankan hidup dengan bahagia dan gembira. Jadi yang
disebut Peraturan Sila dalam 6 paramita itu adalah mentaati hukum,
harus memupuk pandangan bahwa itu adalah mentaati hukum dan
menjalankannya dengan sungguh-sungguh.
Jika kita dapat mentaati hukum, maka batin akan menjadi tenang
secara alami. Jika batin telah tenang, pikiran telah bersih,
orangpun menjadi cerdas. Mengapa bisa menjadi cerdas? Karena
pikirannya suci, pikiran kacau berkurang, pikiran khayal juga
berkurang, dan apa yang dia lihat akan menjadi lebih jelas dan
transparan dari masa sebelumnya, itulah yang kita sebut
sebagai "munculnya kebijaksanaan".
Besar kecilnya kebijaksanaan itu tepat berbanding lurus dengan
tingkat kedalaman kemampuan Samadhi/konsentrasinya. Dengan kata
lain, satu tingkat kesucian batin yang anda miliki akan mendapatkan
satu tingkat kebijaksanaan, dua tingkat kesucian batin yang anda
miliki akan mendapatkan dua tingkat kebijaksanaan. Batin seorang
Buddha adalah suci dalam tingkat sempurna, demikian juga
kebijaksanaan seorang Buddha adalah sempurna, jadi kemampuan seorang
Buddha itu di atas segalanya.
Dunia sains kita sekarang ini telah menemukan bahwa ternyata alam
semesta ini terdapat tidak sedikit rintangan, dalam istilah sains
menyebutnya sebagai dimensi ke dua, dimensi ke 3, dimensi ke 4,
dimensi yang tak terbatas. Inilah yang merupakan rintangan alam
semesta. Dan dari manakah asal rintangan tersebut? Semua ini muncul
dari pikiran khayal dan kemelekatan kita.
Itulah sebab dari kecakapan Buddha dharma, yakni meraih kesucian
batin terdahulu di mana pikiran khayal dan kemelekatan telah
terkikis, maka semua dimensi ruang dan waktu pun telah ditembusnya
dan realitas sejati dari kehidupan dan dunia itu pun terlihat dengan
jelas. Sekarang ini kita hanya sanggup bersentuhan dengan dimensi ke
3, sedangkan dimensi ke 4 , ke 5 tidak sanggup kita tembus,
bagaimana kita bisa mencapai dimensi yang tak terbatas itu?
Sesungguhnya, di dalam mimpi itu masih ada mimpi lagi, di dalam
tingkat Samadhi itu masih ada tingkatan Samadhi lagi, kedalaman
tingkatan samadhi itu diikuti oleh tingkat kemampuan samadhi yang
berbeda-beda. Coba anda sekalian gabungkan pengamatan ini dengan
dunia sains secara seksama. Misalnya Arahat. Di dalam kitab
Ksitigarbha Sutra kita dapat melihat bahwa ibu dari sang putri
brahmana telah meninggal, karena dia tahu ibunya telah berbuat
banyak kejahatan pada masa hidupnya, berdasarkan ajaran sang Buddha,
sang ibu dipastikan terlahir di alam rendah. Sebenarnya kemanakah
dia terlahir? Tidak tahu.
Kemudian sang putri bertanya kepada seorang Arahat. Dalam
samadhinya, sang Arahat mengamati bahwa ibunya sedang menderita di
alam neraka. Disini menjelaskan bahwa dimensi alam neraka itu
berbeda dengan dimensi dunia manusia kita. Melalui Samadhi, sang
Arahat pun telah menembusnya, di mana beliau sanggup masuk ke
dimensi ke 5, ke 6. Dengan cara Samadhi, maka dimensi itu pun telah
dapat ditembusnya, dan dapat dilihatnya. Demikianlah kondisinya.
Setelah itu sang Arahat pun keluar dari samadhinya untuk memberitahu
kepada sang putri. Setelah mengamati hal ini, ini merupakan
kenyataan, bukan ilusi. Benar-benar dapat dibuktikan melalui sains
modern. Tingkat kemampuan Samadhi sang Arahat tidaklah begitu
mendalam. Di dalam kitab Suranggama Sutra, sang Buddha mengatakan
tingkat Samadhi Arahat adalah tingkat Samadhi ke 9. Tingkat Samadhi
seorang bodhisattva lebih tinggi lagi. Bodhisattva memiliki banyak
tingkatannya. Jika dilihat dari kitab Avatamsaka Sutra, mulai dari
tingkat kediaman pertama hingga tingkat pencerahan setara semuanya
terdapat 41 tingkatan. Dengan kata lain, terdapat 41 tingkatan dalam
tingkat kemampuan Samadhi mereka. Semakin tinggi tingkatnya maka
semakin banyak pula dimensi yang ditembusnya. Dengan demikianlah
maka realitas sejati dari dunia dan kehidupan itu baru dapat dilihat
dengan jelas dan transparan.
Yang dikatakan sang Buddha itu bukanlah palsu. Dunia lain yang
digambarkan dalam kitab suci, seperti dalam kitab Avatamsaka sutra
mengatakan tentang alam padma-garbha loka-dhatu dari Buddha
Vairocana; dalam kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, dan Amitayur-
dhyana Sutra mengatakan tentang alam Sukhavati dari Buddha Amitabha.
Ini pastilah merupakan dimensi yang berbeda dengan kita. Sedangkan
di dalam dunia kita ini pada masa lalu, ada orang yang melalui
pelatihan diri, pada tingkatan Samadhi tertentu dia benar-benar
dapat melihat alam Sukhavati. Terdapat banyak contoh kasus ini.
Seperti di dalam catatan kisah para sesepuh dari mazhab Sukhavati,
maha bhiksu HuiYuan pada masa hidupnya pernah melihatnya sebanyak 3
kali di dalam samadhinya.
Maha bhiksu ZhiZi dari mazhab Tientai saat membaca kitab
Saddharmapundarika Sutra dan masuk dalam kondisi Samadhi, beliau
melihat situasi 1.000 tahun yang lalu di mana sang Buddha Sakyamuni
sedang membabarkan Sutra Saddharmapundarika di atas puncak gunung
Grdhakuta. Dia telah menembus dimensi ruang dan waktu. Gunung
Tientai terletak di propinsi ZheJiang, China, namun dia dapat pergi
ke India, dimensi ruang yang muncul dalam samadhinya adalah India di
masa 1.000 tahun yang lalu. Oleh sebab itulah setelah keluar dari
samadhinya, beliau berkata kepada orang bahwa sang Buddha sedang
membabarkan Sutra Saddharmapundarika dan acara pembabaran dharma
tersebut masih terus berlangsung.
Para ilmuwan dapat menerima prinsip seperti ini, namun tidak tahu
bagaimana cara untuk dapat kembali ke masa lalu. Ajaran Buddha
memiliki caranya, dan cara ini yakni mengajar kita untuk melatih
Samadhi. Samadhi itu adalah batin suci dalam pengertian umum. Di
dalam mazhab filosofis (mazhab Tientai, Huayen) menyebutnya "Samatha
vipasyana". Dalam mazhab Tantrayana menyebutnya Yoga , dalam metode
ajaran Nianfo menyebutnya YiXin BuLuan (pikiran terpusat)".
Istilahnya berbeda-beda, namun secara realitas adalah sama. Lalu
dalam mazhab Chan menyebutnya sebagai Dhyana.
Sekarang ini kitab Sutra yang sedang kami anjurkan (untuk
dipelajari) adalah Maha Sukhavati-vyuha Sutra, di mana kitab yang
kita pergunakan ini merupakan kitab hasil kompilasi dari upasaka
XiaLianJu. Dari semua kitab Maha Sukhavati-vyuha sutra yang ada,
kitab kompilasi ini merupakan edisi yang terbaik. Besok saya akan
memberikan laporan singkat tentang kitab ini. Dari judul Sutra-nya
sudah dapat dimengerti dengan sangat jelas dan transparan. Harapan
apa yang ingin dicapai oleh seorang praktisi mazhab Tanah suci?
yakni berharap untuk meraih "Kendaraan Agung", berharap
meraih "Amitayus (usia tanpa batas)", berharap meraih "Kemuliaan".
Di antara ke 3 harapan ini, khususnya "usia tanpa batas", benar-
benar adalah tanpa batas.
"Kemuliaan" di sini adalah seperti yang kita sebutkan dalam dunia
ini: sejati, baik dan indah. Namun manusia dunia ini mengatakan
tentang sejati, baik dan indah itu adalah sebuah utopia. Ketiga kata
ini sesungguhnya tidak dapat dicapai, palsu belaka. Sedangkan alam
Sukhavati itu benar-benar adalah kenyataan, ini yang disebut sebagai
kemuliaan. Dengan menggunakan cara apakah untuk meraihnya? Inilah
tolak ukur yang diajarkan sang Buddha kepada kita, juga merupakan
tolak ukur dalam berlatih, yakni Kesucian, Kesetaraan, Pencerahan.
Itulah 3 hal yang diajarkan kepada kita.
Jika anda ingin meraih "mahayana (kendaraan agung)", ingin
meraih "Amitayus (usia tanpa batas)", ingin meraih "sejati baik dan
indah", maka anda harus melatih kesucian batin, anda harus melatih
batin non-diskriminasi. Sebenarnya asalkan batin dapat dibuat
menjadi suci dan setara (non-diskriminatif), maka "pencerahan" pun
akan berada di dalamnya secara alami. Semua harapan seperti di atas
pun akan anda dapatkan. Dan buah yang dipetik di masa mendatang
adalah kelahiran di tanah suci Sukhavati. Yang perlu kita tanyakan
adalah apakah dapat dicapai pada saat sekarang ini? Sekarang ini
juga pasti dapat mencapainya.
Jika mengatakan bahwa sekarang ini tidak dapat mencapainya namun
masa mendatang akan dapat mencapainya, maka masalah ini tidak hanya
dapat membuat orang tidak percaya, saya sendiripun tidak percaya.
Jika sekarang dapat mencapainya, dan begitu juga masa mendatang akan
dapat mencapainya, hal ini saya percaya. Jadi pada kehidupan
sekarang juga kita dapat mencapainya. Jika tidak maka pastilah ada
penyebabnya.
Pada masa lalu, maha guru ZhangJia pernah berkata kepada
saya, "dalam pintu Buddhisme, apa yang ingin kita dapatkan pasti
akan terkabul". Perkataan beliau ini adalah hal yang nyata, namun
mengapa banyak sekali orang yang memohon sesuatu tidak dapat
terkabul? Pastilah ada rintangannya. Jika anda dapat menemukan
rintangannya dan mengatasi rintangan ini, maka mukjizat pun akan
muncul.
Oleh sebab itu saat anda bermohon sesuatu dan tidak terkabul,
janganlah menuduh para Buddha dan bodhisattva tidak memiliki
kekuatan. Ini tidak ada hubungannya dengan Buddha dan bodhisattva,
ini merupakan kenyataan. Sang Buddha mengungkapkan caranya kepada
anda, mengungkapkan kenyataannya kepada anda, dan anda harus tahu
prinsip-prinsip ini. Itulah sebabnya di dalam Buddha dharma itu
tidak ada sesuatu yang berbau klenik/mistik (sesat). Justru "sesat"
itulah yang ingin dihancurkan oleh Buddha dharma. Jadi Buddha dharma
itu adalah ajaran yang menghancurkan kesesatan untuk membuka jalan
pencerahan, jadi bagaimana ajaran Buddha itu bisa disebut
sesat/klenik/mistik? Ini benar-benar tuduhan yang luar biasa, sama
sekali telah membuatnya berubah menjadi sebuah agama, yakni dengan
memperlakukan sang guru sebagai makhluk dewa.
Apakah dewa itu dapat melindungin anda? Dewa juga tidak sanggup.
Jika dewa benar dapat melindungi anda, maka saya sudah menyembah
dewa sejak awal, saya tidak perlu lagi belajar Buddha dharma. Jadi
dewa itu tidak dapat melindungi orang. Nenek moyang bangsa China
sering mengatakan "yang disebut dewa adalah cerdas dan berjiwa
lurus". Jika kita bermohon sesuatu tanpa mengikuti prinsip yang
benar, seperti bermohon rejeki kepada dewa, bermohon dapat jabatan
tinggi kepada dewa namun bersifat serakah dan semena-mena, jika dewa
dapat melindungi saya dengan prinsip seperti itu, maka bukankah sang
dewa itu sama korupnya dengan saya?
Kita menyembah dewa dengan memberikan sedikit sogokan, memberikan
sedikit persembahan kepadanya dengan harapan dia dapat membuat kita
menjadi kaya. Kita mendapatkan uang 1 juta lalu memberi persembahan
senilai 10.000, cukup menguntungkan. Coba kalian pikirkan, mana ada
dewa semacam itu? Oleh sebab itu, sikap seperti ini merupakan
penghinaan terhadap dewa, sangat tidak menaruh hormat kepada dewa.
Dengan demikian mari menyelidiki kesalahan-kesalahan dan kekacauan
pandangan orang-orang di dunia ini, kemudian perhatikan apa yang
diucapkan oleh sang Buddha dalam kitab sucinya, anda akan
mengganggukkan kepala bahwa apa yang dikatakan sang Buddha
sesunggunya tidak salah, setiap kata-katanya adalah kenyataan.
Kita lantas telah tahu pintu ajaran ini, dan berniat untuk
mengetahuinya, ingin berlatih, maka harus tahu dengan jelas, harus
mengerti dengan jelas. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah
memberikan ceramah di kota Miami, Amerika serikat, dengan tema "
Mengenal agama Buddha" kaset rekamannya juga beredar di sini. Saat
dalam memberikan ceramah, ada penerjemah yang langsung menerjemahkan
ke dalam bahasa Inggris. Peserta yang hadir banyak yang merupakan
orang barat, kaset rekamannya pun telah dipisahkan ke dalam 2
bahasa, yakni Mandarin dan bahasa Inggris. Pada awal tahun ini, ada
rekan praktisi yang berniat mengedit kaset rekaman tersebut ke dalam
tulisan, dan sekarang telah dicetak menjadi sebuah buku kecil. Kalau
tidak salah saya pernah melihatnya beredar di luar, sepatutnya anda
sekalian membaca buku tersebut dengan seksama. Jika kita dapat
mengenal dengan jelas hakikat ajaran Buddha, maka arah dan tujuan
pembelajaran kita baru tidak akan mengalami kesalahan. Dengan
demikian kita baru dapat membicarakan tentang masalah melafal nama
Buddha untuk terlahir di tanah suci Buddha.
Metode Nianfo (melafal nama Buddha) adalah salah satu metode ajaran
dari sekian banyak metode ajaran yang ada dalam Buddha dharma.
Mengapa kita memilih metode ajaran ini? untuk Mencapai kebuddhaan.
Apakah yang dimaksud dengan mencapai kebuddhaan itu? Mencapai
kebuddhaan itu berarti adalah mencapai kebijaksanaan yang paling
sempurna. Hanya dengan memiliki kebijaksanaan sejati lah segala
masalah baru dapat diatasi. Seperti masalah kehidupan, masalah
keluarga, masalah pekerjaan, hingga berbicara mengenai masalah
kematian, semuanya ini dapat diatasi dengan sempurna. Jika tidak
memiliki kebijaksanaan, maka tidak dapat mengatasi masalah ini.
Jika tidak memiliki kebijaksanaan, setiap hari berkutat dengan
pikiran khayal, maka saat itu juga akan semakin menderita, menderita
di atas penderitaan tanpa bisa mengatasi masalah. Jadi harus
memiliki kebijaksanaan sejati. Temukan wujud asli diri sendiri
melalui kebijaksanaan sejati, seperti yang dikatakan dalam mazhab
Chan, "wujud asli sebelum dilahirkan oleh orang tua" , disitulah
merupakan keakuan yang sesungguhnya.
Kalian semua telah tahu bahwa ajaran Buddha berbicara mengenai
anatma (tanpa aku). "Tanpa aku" merupakan pandangan salah yang
terjadi dalam diri makhluk awam seperti kita ini. Dia itu tidak ada,
tetapi dia memiliki "keakuan sejati". Dalam 4 pahala kesucian (yang
disebutkan dalam Mahaparinirvana Sutra) adalah kekal, bahagia, aku,
dan suci. Ini adalah hal yang benar. "Aku" disini adalah seperti
yang dikatakan dalam mazhab Chan, "wujud asli sebelum dilahirkan
oleh orang tua". Juga seperti yang telah saya ungkitkan perkataan
bodhisattva Vasubandhu dalam kitab "risalat tentang kelahiran di
tanah suci", yakni "dharmakaya yang bergeming" . itu merupakan "aku
sejati". Setelah dapat menemukan "aku sejati" ini, maka akan
mendapatkan keleluasaan agung.
Lalu apa bentuk dari keleluasaan itu? Saya rasa tidak sedikit rekan
sekalian yang telah pernah membaca kitab "Samantha-mukha varga".
Dalam kitab ini mengungkapkan tentang 32 tubuh manifestasi dari sang
bodhisattva Avalokitetsvara. Itulah bentuk dari keleluasaan agung.
Jika anda telah menemukan wujud asli anda, maka anda pun memiliki
kemampuan untuk berubah menjadi lebih dari satu wujud, mampu berubah
wujud. Dengan wujud apa para makhluk baru dapat tertolong, maka anda
akan dapat berubah wujud yang sesuai untuk menolongnya. Betapa
leluasanya ini.
Kondisi kita sekarang ini sangat menyedihkan, tidak mampu berubah
wujud. Pada kesempatan ini saya datang ke sini, para rekan praktisi
setelah bertemu dengan saya berharap agar saya dapat tinggal lebih
lama lagi. Namun inilah yang tidak sanggup dilakukan yakni menjelma
dalam berbagai wujud, jika dapat maka saya akan menjelma satu tubuh
saya di kota Tainan, satu lagi di kota Taipei, satu lagi di Amerika,
sepanjang tahun tinggal di sana, betapa leluasanya.
Dari hal ini, anda sekalian pun menjadi tahu bahwa saya masih
belummencapai "dharmakaya yang bergeming". Jika saya telah mencapai
dharmakaya yang bergeming, maka saya pasti telah memiliki kemampuan
seperti itu. Tapi kita percaya bahwa ini benar-benar merupakan
kenyataan yang sesungguhnya. Meskipun kita belum menyaksikan
langsung kenyataan tersebut, namun sang Buddha membicarakan prinsip-
prinsip ini dalam kitab suci, dan saat kita renungkan dengan
seksama, itu adalah benar, itu adalah hal yang memungkinkan. Dengan
kata lain, kita masih belum mencapai target batin yang suci dan
batin yang setara, dan semestinya harus semakin giat lagi untuk
berlatih.
Kunci pelatihan Buddha dharma terletak pada ketekunan dan
konsistensi. Tidak boleh terpecah-pecah. Sekali terpecah-pecah maka
menjadi rusak. Penyakit yang umum terjadi pada para rekan praktisi
kita sekarang ini terletak pada pelatihan yang tidak serius dan
berlatih secara inkonsistensi. Seperti kondisi saat anda mengenyam
pendidikan di sekolah, jumlah jurusannya sangat banyak dan di sini
anda lalu belajar dengan asal-asalan, terpecah-pecah, jam ini
mendengar mata jurusan ini, lalu jam berikut pindah ke jurusan yang
lain lagi. Jika demikian terus cara mendengarnya maka belajar hingga
400 tahun pun tidak dapat lulus. Karena anda tidak konsisten. Jika
anda menekuni secara serius pada satu jurusan, maka 4 tahun saja
anda sudah lulus dan mendapatkan gelar. Karena anda tidak konsisten,
semua jurusan ingin dipelajari, semua jurusan ingin didengar, semua
jurusan ingin disentuh, maka akan menghasilkan sebuah kekacauan, ini
menjadi rusak. Kondisi seperti inilah yang menjadi penyakit umum
pada para praktisi Buddha di masa sekarang ini.
Di depan telah dijelaskan kepada anda sekalian tentang garis besar
ajaran Sila, Samadhi dan kebijaksanaan. Sila dan Samadhi merupakan
sendi utama, namun kita telah mengabaikannya. Kita telah
menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga dalam Buddha dharma,
pada hari ini penyebab dari tidak dapat mencapai keberhasilan itu
telah dimengerti, telah menjadi jelas, maka kita harus kembali ke
sang jalan.
Memilih di antara berbagai metode ajaran Buddha
Buddha dharma tentu sama seperti sebuah universitas. Di dalamnya
terdapat sekian banyak jurusan. Lalu bagaimana sebaiknya cara kita
memilih? Pada prinsipnya, pemilihan itu tidak terletak pada
jurusannya, atau pada metode ajarannya. Mengapa? Karena metode
ajaran itu adalah sederajat. Itulah sebabnya dalam kitab suci
mengatakan, "pintu ajaran itu setara, tidak ada perbedaan". Karena
tujuan dari setiap metode ajaran adalah untuk mencapai Anuttara
samyaksambodhi. Jalan dari setiap metode ajaran itu dapat
mencapainnya, jadi kunci pemilihan itu terletak pada diri sendiri.
Misalnya ruang ceramah kita ini terdapat sekian banyak pintu di
setiap sisinya. Kita dapat masuk ke dalam ruangan ini melalui setiap
pintu itu, maka semua pintu itu disebut bersifat setara/sederajat.
Jadi, sisi pintu mana yang anda pilih untuk dapat masuk ke dalamnya,
ini merupakan syaratnya. Jika anda berdiri di luar pintu dan
melangkah begitu saja ke dalam pintu maka anda pun telah masuk ke
dalamnya, betapa praktisnya. Namun anda tidak mau masuk lewat pintu
ini, malahan ingin berputar di sekelilingnya, dan ingin masuk ke
pintu lain lalu merasa ragu lagi, dan ingin lagi masuk melalui pintu
lain lagi. Berputar sana dan sini hingga berjam-jam lamanya dan
belum juga sampai masuk ke dalam, maka bukankah ini yang disebut
dengan mencari masalah sendiri? Sekarang ini banyak praktisi Buddha
yang mengidap penyakit seperti ini, selalu berputar-putar di depan
pintu, tidak tahu tentang "terjun secara konsistensi pada satu pintu
(metode ajaran)".
Memang benar bahwa para sesepuh di masa lalu mengatakan bahwa
terdapat pintu ajaran yang sulit dan mudah. Sulit dan mudah itu
bukan terdapat pada metode ajarannya. Sulit ataupun mudah itu
terletak pada diri kita sendiri. Jika pikiran khayal dan pikiran
kacau pada diri kita sangat parah, maka akan ada metode ajaran
tertentu yang terasa sulit bagi kita. Jika pikiran khayal dan
kemelekatannya ringan, maka metode ajaran itu terasa sangat mudah.
Inilah yang dikatakan bahwa setiap makhluk hidup memiliki akar yang
berbeda-beda.
Jika noda batin dan kebiasaan buruk sangat parah, apakah tersedia
sebuah metode ajaran yang dapat membuat kita berlatih dengan rasa
praktis dan mudah berhasil? Inilah yang kita butuhkan, dan metode
ini adalah metode ajaran Nianfo (melafal nama Buddha). Inilah metode
ajaran yang direkomendasikan oleh para Buddha dan bodhisattva kepada
kita. Metode ajaran ini, bagi orang yang memiliki rintangan karma
dan kebiasaan buruk terberat sekalipun dapat berhasil. Berlatih
metode ajaran lain tidaklah mudah, sedangkan metode ajaran ini mudah
berhasil.
Waktunya telah habis, pembicaraan kita hari ini cukup sampai di
sini, besok saya akan memperkenalkan sumber acuan pelatihan mazhab
Sukhavati. Jika kita dapat mengerti acuan kita, maka batin kitapun
akan dapat stabil, dan dapat berlatih dengan tekun dan konsisten,
dengan demikian pelatihan kita pun dapat mencapai hasilnya. Sampai
jumpa lagi esok malam.
(bersambung)..
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/