Kamis, Rabu, 11 Januari 2006
Warga Dunia Keempat
Imam Cahyono
”What I call the flat world we will speak less and less about developed, developing and underdeveloped countries, but more and more about smart, smarter and smartest countries” (Thomas L Friedman).
Konon sejak tahun 2000, menurut Friedman (The World is Flat, 2005), kita memasuki era globalisasi jilid ketiga. Globalisasi pertama—1492 hingga 1800—bermula pada petualangan Christopher Columbus mematahkan mitos dunia tak berujung, menjadikan bumi berukuran medium. Globalisasi kedua—1800 hingga 2000—merupakan ajang industrialisasi dan hegemoni perusahaan multinasional, membuat dunia menjadi kecil.
Di era globalisasi jilid ketiga, bumi kian menciut. Dunia kian mengecil, menyempit, makin dekat, datar dan rata tanpa hambatan (the flattening of the world). Sebuah sejarah baru saat teknologi dan kekuatan politik dapat diproduksi secara global. Akses terhadap ilmu pengetahuan tak lagi terhalang. Ikon mutakhir, seperti Intel, Windows, IBM, HP, dapat diproduksi secara massal dan cepat. Revolusi komunikasi melalui internet atau telepon membuat jarak dan batas geografis runtuh. Dengan ikon retail Wal Mart, kita bisa mendapat barang murah dengan standar sama di seluruh penjuru bumi.
Ilmu pengetahuan terbukti menjadi kekuatan mahadahsyat (knowledge is the real power). Revolusi pengetahuan sejak zaman pencerahan telah menciptakan perubahan signifikan. Sejak revolusi industri, penemuan mesin-mesin canggih membantu manusia menciptakan sistem baru, membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien. Negara yang sukses adalah mereka yang belajar dengan cepat, cerdas, dan pintar.
India dan China menjadi raksasa ekonomi karena mampu mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara maksimal. Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan tumbuh pesat tiga kali lipat dibandingkan dengan Inggris dan Amerika Serikat di era revolusi industri. Kosta Rika meninggalkan pisang dan kopi dengan memproduksi microchips dan perangkat lunak industri sebagai komoditas ekspor utama. Keberhasilan itu mengacu standar kapitalisme global yang terfokus pada pengetahuan dan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan pasar bebas.
”The fourth world”
Globalisasi akhirnya menjadi kisah heroik, ihwal keberhasilan, cerita tentang mereka yang sukses dan menang. Lantas, bagaimana nasib mereka yang tersisih dari hiruk-pikuk globalisasi (the un-flat world), tersingkir dari gebyar modernisasi, yang gagap pengetahuan dan teknologi? Jutaan manusia di Asia dan Afrika terkunci di luar arena globalisasi, tidak memiliki infrastruktur memadai, pendidikan minus kualitas serta lingkungan buruk. Globalisasi tidak seketika menciptakan dunia yang adil, damai, dan demokratis, tetapi justru menciptakan jurang ketimpangan.
Gaung the end of ideology mengukuhkan kemenangan kapitalisme sebagai kekuatan paling digdaya. Tak ada ide yang dapat menandingi dahsyatnya badai liberalisme. Ekspansi kapitalisme menerobos, menerjang batas negara, menyebar ke seluruh penjuru bumi tanpa terkecuali.
Dikotomi kelompok Utara-Selatan, negara maju dan berkembang, sebenarnya tak lagi relevan. Di negara paling miskin pun, kapitalisme beroperasi dengan gencar. Di negara yang gagal (failed state) sekali pun, senantiasa ada sekelompok elitenya yang hidup berkelimpahan. Selalu ada realitas timpang, antara mereka yang menderita karena tidak memiliki modal kapital dan mereka yang monopoli akses resources sosial-ekonomi-politik.
Di Indonesia, konon jumlah mobil impor dari AS lebih besar ketimbang Korea Selatan. Korupsi tak pernah padam. Klaim indikator makro-ekonomi senantiasa cemerlang. Pada saat bersamaan, di Indramayu warga mengonsumsi nasi aking, tak kuat membeli beras. Di Lampung, warga makan oyek dan tiwul karena paceklik. Mati kelaparan di Yahukimo. Di Indonesia yang merdeka, banyak warga hidup terjajah, terlilit kemiskinan, terpencil, miskin infrastruktur, buta huruf, minim fasilitas kesehatan, rendah daya beli, rela mati demi uang Rp 100.000, serta berebut mengais rezeki ke luar negeri menjadi TKI.
Globalisasi sejatinya juga menciptakan dunia keempat (fourth worldization), dunia tempat mereka yang terpinggirkan, gagal modernisasi, terasing dari peradaban. Dunia keempat ada di luar kategori dunia ketiga, orang miskin yang termarjinal dari modernisasi, tidak lolos program industrialisasi serta tak bisa menikmati buah revolusi pertanian (Samir Amin, Capitalism in the Age of Globalization, 1997).
Pemihakan
Terompet the death of history secara gamblang mewartakan bagaimana sejarah diukir sebagai cerita para pemenang dan mereka yang menang. Sejarah tidak pernah memihak para pecundang. Warga dunia keempat adalah mereka yang kalah, terbuang, dan tersisihkan. Semestinya ada sejarah baru pemihakan terhadap mereka yang lemah, tertindas, dan terpinggirkan (history from below).
Globalisasi ibarat ajang kompetisi, sebuah arena pertandingan. Celakanya, ia lebih banyak berkisah tentang sukses dan keberhasilan ketimbang realitas ketimpangan, penderitaan mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Revolusi ilmu pengetahuan tidak sendirinya membawa keadilan. Pengetahuan pun dapat menjadi bumerang, memproduksi kekuatan destruktif, menebar kebencian, peperangan dan malapetaka. Maka, dibutuhkan kearifan, kebajikan, dan kebijaksanaan, yakni pemihakan terhadap kaum yang lemah (the new mustadh’afin). Cerdas dan pintar saja tidak cukup tanpa diiringi empati dan kepedulian (sense of crisis). Keadilan menjadi pertanyaan besar yang menghadang di masa datang.
Jika mengikuti peta globalisasi ala Friedman, saya risau, di manakah posisi Indonesia? Sebagai aktor, penonton, atau pecundang? Sebuah dunia keempat?
Imam Cahyono Koordinator Riset al Maun Institute, Jakarta
 


Yahoo! Photos
Got holiday prints? See all the ways to get quality prints in your hands ASAP.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke