a). Tidak ada donk. kalau ada ngapain Siddharta Gautama susah2 menjadi sang Buddha? Belajar aja sama sang Buddha saat itu.
b). Justru karena sdh mencapai pencerahan sempurna maka seoarang Buddha tidak memiliki niat atau keinginan pribadi lagi. Sehingga para dewa memohon sang Buddha untuk membabarkan Dhamma. Justru aneh kalau sang Buddha punya inisiatif sendiri untuk membabarkan Dhamma. Untuk kasus bikkhuni, kita cowok aja disuruh meditasi setiap hari aja susah, apalagi menjalani kehidupan kebikkhuan buat wanita, jadi kalau seseorang tidak punya tekad yang kuat lebih baik jangan coba2. Untuk menguatkan tekad itu maka sang Buddha tidak langsung mengizinkan.
Soal Buddha masih mengalami kesakitan dan sebagainya justru hal itu semakin membuktikan bahwa sang Buddha benar2 sudah mencapai pencerahan sempurna. Karena kalau belum maka tentu dengan kekuatannya sang Buddha pasti sudah menyembuhkan diriNya sendiri atau malah menghindar karena ndak tahan/takut ama penderitaan. Sebaliknya kalau tubuh sang Buddha tidak bisa sakit, tidak bisa rusak, maka lebih aneh lagi.... karena sang Buddha sendiri mengajarkan bahwa segala sesuatu yang berkondisi pasti berubah. Pencapaian kebuddhaan, kesucian tidak berhubungan dengan badan ini tapi kondisi mental.
 
 
----- Original Message -----
Sent: Sunday, January 15, 2006 3:56 PM
Subject: Re: [Dharmajala] bagi yg suka pd "Buddha Historis"

Dear Sis,
 
Menurut saya:
a) Apakah pada saat itu ada sisa2 ajaran seorang Samma Buddha, saya tidak tahu. Tapi saya kira tidak ada yang "menugaskan" seorang samma Buddha, atau dengan kalimat lain: "tidak ada yang mengatur dan menggilir keberhasilan seorang manusia dalam mencapai penerangan sempurna".
 
b) Saya setuju dengan teori "sedikit debu" anda. Dalam banyak sutra dan literatur, kita akan banyak menjumpai hal sejenis, dimana bahwa sang Buddha pun ragu-ragu dan tidak konsisten. Misal keraguan dan keenganan sang Buddha terhadap masalah wanita menjadi bikkhuni. Terhadap hal2 tersebut saya cenderung berpendapat: (1) kisah2 tersebut tidak akurat. Atau (2) "Sang Maha Sempurna"pun tidak terbebas dari hal2 tersebut, selama ia dengan sengaja atau tidak masih mengikat dirinya dengan urusan "duniawi". Kurang lebih sama dengan "sang Buddha pun masih menderita luka dan kesakitan, misal pada saat keracuanan makanan menjelang ajal, atau terluka oleh serangan devadatta(?) sepupunya".
 
-lts
 

Ika Polim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Bro & Sis,
 
Sy Perlu Tanggapan Dari Anda Semua Ttg Hal2 Tsb Di bawah Ini :
 
a. Pada Masa Pangeran Siddharta Gotama Melakukan "Pencarian Luhur Nya" Sampai Dengan Pencapaian Penerangan Sempurna Nya , Buddha Siapa Yg Sedang Tugas Di Dunia Saha Ini ?
 
b. Tepat Setelah Shakyamuni Buddha Mencapai Penerangan Sempurna Nya & Menikmati Pengetahuan Tertinggi Tsb, Beliau Tersirat Tidak Ada Niatan Utk Membabarkannya Bagi Manusia Maupun Segala Mahluk (karena terkesan sangat sulit dipahami & sgt halus utk para mahluk awam) sampai membuat D! ewa Sahampati
(yg membaca pikiran Shakyamuni Buddha seperti itu) hadir langsung ke hadapan Beliau guna Memohon Serta Membujuk Agar Pengetahuan Tertinggi Nya Di babarkan Kpd Seluruh Mahluk Awam: Bagaimana Pandangan Bro & Sis Mengenai Hal Ini, Apakah Stuju Klo Dikatakan Bahwa Pada Detik Menentukan Itu Shakyamuni Buddha Masih Memiliki Sedikit "Debu" ?? Maaf ! Klo Pertanyaan INi "Menggangu Anda Semua Namun Tlg Klarifikasi Seandainya Sy Keliru !!


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke