Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMP ada praktikum Biologi yang mengharuskan kita membedah ikan. Ikannya sih udah mati duluan, tapi organ2 tubuhnya masih ada di dalam dan lengkap. Jadi masih bisa diamati ketika dibedah.

Waktu tubuh ikan itu dikeluarkan dan diletakan di papan lilin murid2 lain, teman2 saya yang rata2 beragama Nasrani itu langsung menutup hidung karena bau amis. Lalu kami pun disuruh berkumpul dan melihat proses pembedahan itu yang dilakukan oleh guru saya. Selama proses tersebut, ada beberapa teman saya yang jijik, meminta supaya dihentikan, ada yang karena kasihan (kebanyakan), ada yang bilang dengan polosnya (gaya bercanda anak muda jaman sekarang) "Kenapa gak dikubur saja bu? Nanti gentayangan lhooo..." *ah... arwah ikan ini, gentayangannya kan di air hehehehe...*

Ketika itu saya ingat ada teman saya ketika proses pembedahan itu selesai, ada yang menilik-nilik gelembung udaranya (alat ikan untuk menyelam) karena penasaran. Saat itu pula guru Biologi saya menghardiknya, "Hai! xxxx kamu iseng amat sih? Kalau kamu digituin raksasa gimana?" Jawabnya: "Wah kalo saya sih pasrah bu...!" sambil senyum nyengir. Itu pengalaman saya ketika masih SMP.

Di SMA lebih parah lagi, ada 5 praktikum pembedahan, pertama aves (unggas, ayam), lalu pisces (ikan), mollusca (cumi-cumi), mamalia yang rencananya pake tikus (untungnya gak jadi), dan amphibi. Aves dan piscesnya dijalani dengan keadaan obyek sudah mati sebelumnya. Namun untuk yang amphibi ini lumayan sadis, karena kataknya cuma dibius, jadi masih hidup. Ini wajib bagi yang mengambil fak IPA.

Ketika dibelah, masih terlihat jantungnya berdetak. Banyak siswi2 yang hampir muntah atau menangis. Sebagian besar dari mereka merasa kasihan, ada yang karena gak tega, jantungnya langsung ditusuk (dibunuh) begitu proses praktikum selesai. Sebagian yang melakukan pembunuhan itu laki2 karena perasaan gak tega itu tadi. Pokoknya suasana laboratorium itu bukan lagi diskusi, tapi jeritan, rintihan murid yang terpaksa membedah dengan hati2, tangisan, atau teriakan usil murid2 yang merasa jijik *aaaaarrrrgghhh...*.

Pembedahan itu terlihat cukup sadis prosesnya. Kulitnya dipotong, lalu masih ada selaput-selaput jaringan yang mirip plastik pembungkus, itu disetiap hewan tingkat tinggi pasti ada, seperti vertebrata, dan fungsinya untuk menempatkan organ2 tubuh sesuai pada tempatnya dan mencegahnya berpindah tempat. Nah, selaput2 itu dipotong2 supaya organnya bisa terlihat jelas. Pertama yang terlihat adalah jantung karena berdetak, lalu paru2 yang berbentuk gelembung2 udara, lalu usus yang sangat mudah diidentifikasi, lalu hati yang ukurannya cukup signifikan, dll. Ketika menilik usus, saya sangat berhati-hati, namun ternyata cara meniliknya saya dapati amat sadis... selaput2 yang menjaga agar usus2nya melingkar-lingkar dan masuk pada tempatnya itu dipotong-potong agar bisa diluruskan (memang jadinya panjang sekali, anda akan kagum pada alam sekaligus jijik dan iba melihatnya). Di dalam usus itu anda masih bisa melihat sisa-sisa makanan yang belum dicerna... wah teman saya ada yang terus berdoa melihatnya. Ada yang dengan sengaja membaca buku pelajaran lain. Akhirnya, katak bagian saya itupun dibunuh oleh teman saya... "udah cukup menderita tuh... hiks...bye bye... selamat tinggal, semoga dosa gue diampuni Tuhan." begitu ucap teman saya sambil nyengir.

Pelajaran tetaplah pelajaran, saya mengambil banyak dari praktikum tersebut. Diantaranya, bagaimana sulitnya pekerjaan para dokter bedah itu, sebab tubuh mahkluk hidup ini dipenuhi pembuluh darah, salah potong, tamat riwayatnya. Yah, alat boleh canggih namun gak sembarang orang bisa pakai. Waktu praktikum itu kita mengabaikan beberapa pembuluh darah2 kecil, yang kalo dipotong gak akan memancurkan darah... kalo dilakukan di manusia akan terjadi varises dimana-mana tuh, bisa pegel, linu, nyeri, ama pusing2, karena strukturnya lebih kompleks. Pokoknya, itu sudah pasti beda sekali dengan yang namanya gambar, gak sesederhana itu. Selain itu, saya juga banyak melihat teman2 saya yang rata2 Kristen dan Katolik ikut berduka... seolah-olah merasakan penderitaan katak tersebut. OK, jikalau demikian sejak kapan orang Budha memonopoli paham cinta kasih terhadap mahkluk hidup jika pada dasarnya semua manusia punya perasaan demikian?

Hal ini mengingatkan saya pada film Saving Private Ryan (SPR) dimana ada seorang prajurit tergeletak karena perutnya terkoyak oleh pecahan artileri ketika satuan tugasnya ditugaskan menyerbu pointe du hoc di pesisir Normandia. Usus yang telah rusak dan selaput jaringan ikatnya telah ditiadakan, karena itu bisa terburai. Membayangkannya sangat ngeri, karena hal itu memang tidak akan membunuh anda, sebab manusia itu tak selemah di film2 Holywood. Ketika kerongkongan anda ditebas namun tebasan itu masih belum mengenai tulang belakang dan pembuluh darah leher, anda masih bisa hidup dengan kerongkongan menganga. Bahkan dengan usus terburai pun anda masih bisa hidup selama 3 hari kalo kuat.

Jika anda memang cukup bijaksana, jangan cuma bisa bilang "bisa saya bayangkan..." atau berusaha membuat komentar2 yang terdengar pandai lalu mempengaruhi semua orang dan membuat mereka terus2an mencoba membayangkan penderitaan yang dialami mahkluk apapun itu dengan berlebihan. Tapi anda lihat sendiri, apakah itu hanya fantasi anda dan apakah itulah kenyataan. Setelah itu mereka dibilang bertobat... heh, mudah sekali, sementara Yang telah berjuang bagi mereka itu telah menyusun segala sesuatunya dengan sedemikian rupa, cuma hanya untuk dipahami sesaat saja dan pemahaman itu akan berlanjut terus menerus. Malah juga ada yang berusaha menonjolkan pemahamannya akan sesuatu. Entah betapa dangkalnya pemahamannya itu.

Di sisi lain, kita sebagai umat Budha, jangan terlalu jumawa atau terlalu bangga dulu. Memangnya orang2 beragama lain tega kah? Meskipun gak diajari, setiap orang itu punya nurani, dan setiap agama mendukung manusia untuk memiliki sikap cinta kasih.

Sekarang pada masalah boleh atau tidaknya...okeh itu memang sadis sekali, saya setuju... lebih baik dilarang saja. Toh sekarang udah ada komputer canggih yang bisa mereplikasi semuanya. Di masa depan, uji coba produk2 yang akan dipakai pada manusia tidak usah dilakukan pada hewan lagi, melainkan akan diberikan pada simulasi komputer. Bagi yang belum tahu, simulasi ini cukup akurat, bahkan di London sudah ada model manusia yang bisa diberi racun dan dilihat reaksi serta perkembangannya. Model ini kemiripannya cukup signifikan, namun belum ada angka perbandingan yang pasti. Sebagai gambaran, manusia kalo dikasih racun sianida akan mati dalam sekejap (misalnya sekitar 1-3 detik), model ini pun demikian... akan mati dalam waktu 2 detik misalnya.

Sebagai agama yang katanya dekat ke sains... akan sayang sekali kalo pengikutnya justru memperdalam agamanya ketimbang sains. Jadinya tidak seimbang. Akhirnya malah jadi mengkait-kaitkan agama dengan sains, malah makin jauh dari kenyataan.


Bring words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke