Namo Buddhaya,

Sdr Pelayan Buddha yang budiman,

Saya setuju sekali dengan pendapat Anda. Mungkin Anda ada gagasan 
mengenai apa yang bisa saya bantu? Saya setuju sekali untuk bergabung 
dengan Anda bila ada kegiatan yang konkrit. Benar sekali PR masih 
banyak.

Metta,

Tan


--- In [email protected], "pelayan_buddha" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear all,
> 
> 
> Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
> 
> Selamat tahun baru Imlek.
> 
> 
> Menarik sekali apa yang telah disampaikan saudara kita, Bro Tan. 
Dalam
> banyak hal, saya sependapat dengan dia, di antaranya:
> 
> Bro Tan:
> > Saya juga banyak membaca buku-buku karangan scholar2 Barat 
seperti 
> > Hans Wolfgang Schumann dan David J. Kalupahana. Mereka 
berpendapat 
> > bahwa ajaran Buddha mengalami evolusi pula dan Tripitaka tidaklah 
> > langsung seperti dalam bentuknya yang dikenal sekarang. Apakah 
mereka 
> > mencari-cari kesalahan atau kelemahan Buddhisme? Tentu tidak! 
Saya 
> > justru sangat berpegang pada karya-karya mereka. Karya para 
scholar 
> > kenamaan itu bukanlah serangan terhadap Buddhisme. 
> 
> David J. Kalupahana adalah orang Sri Lanka. Saya juga menyenangi 
karya
> beliau.  
> 
> Saya ingin ikut menambahkan pandangan dengan membuka thread baru,
> "Masih Banyak PR yang hrs dilakukan Buddhis Masa Kini".
> 
> Jika kita peduli dan berusaha seobyektif mungkin melihat kondisi 
agama
> Buddha dan komunitas Buddhis saat ini, dalam artian bagaimana agama
> Buddha dan Buddhis berinteraksi dengan realitas ekonomi, politik,
> sosial, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan alam saat ini, maka
> kita akan melihat ada begitu banyak PR yang perlu dikerjakan oleh
> agama Buddha dan Buddhis masa kini.
> 
> Jika kita tidak mengerjakan PR-PR tersebut, agama Buddha akan 
menjadi
> dinosaurus dan relik, mitos dan legenda masa lalu yang terperangkap
> dalam bongkahan-bongkahan fosil. Benda-benda kuno yang masih bisa
> dilihat dan disentuh, tapi tidak lagi relevan dengan kehidupan
> sehari-hari.
> 
> Untuk mengilustrasikan betapa banyak PR yang perlu kita kerjakan, 
mari
> kita simulasikan dengan beberapa pertanyaan berikut ini:
> 
> Apakah yang dimaksudkan dengan menjadi seorang Buddhis di saat ini?
> 
> Bagaimana kita menjadi seorang Buddhis di masa ini?
> 
> Secara konkretnya, bagaimana agama Buddha yang kita anut membantu 
kita
> dalam mengarungi kehidupan kita sehari-hari?
> 
> Dapatkah ajaran Buddha yang telah kita warisi itu diterapkan dalam
> kehidupan sehari-hari kita?
> 
> Kalau bisa, bagaimana caranya?
> 
> Kalau tidak bisa, apakah karena diri kita sendiri yang belum bisa
> menerapkannya?
> 
> Atau juga dikarenakan ajaran Buddha yang telah kita warisi itu, 
gagap, canggung,
> kesulitan, dan bahkan tidak berdaya dalam menghadapi realitas
> kehidupan masa kini kita?  
> 
> Jika ajaran Buddha yang lazimnya kita sebut agama Buddha itu , 
gagap,
> canggung, kesulitan, dan bahkan tidak berdaya dalam menghadapi
> realitas kehidupan kontemporer, apakah ia benar-benar otentik ajaran
> Buddha? Atau hanya merupakan interpretasi Buddhis-Buddhis
> masa lalu yang kemudian menjadi tradisi yang diturunkan ke kita dan
> kita terima begitu saja, telan bulat-bulat tanpa banyak 
mempertanyakan
> dan membuktikannya sendiri?
> 
> Sudah tepatkah interpretasi Buddhis-Buddhis masa lalu?
> 
> Ataukah Buddhis-Buddhis kontemporer memiliki berbagai advantage yang
> tidak dimiliki Buddhis masa lalu dalam menginterpretasikan ajaran
> Buddha, sehingga kita dapat menemukan ajaran-ajaran yang lebih
> mendekati apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Buddha historis,
> yaitu Buddha Gotama atau Sakyamuni?
> 
> Singkat kata, salah satu PR terpenting Buddhis masa kini adalah
> melakukan bedah kitab suci Buddhis secara super kritis untuk 
menemukan
> apa sesungguhnya yang diajarkan Buddha historis.
> 
> Dan salah satu hasil dari bedah kitab suci Buddhis kontemporer, 
sebut
> saja Tipitaka, adalah Tipitaka yang kita miliki sekarang adalah 
karya
> banyak orang selama beberapa generasi. Ditemukan hal-hal yang saling
> bertentangan di dalamnya. Dalam proses perjalanannya menjadi 
Tipitaka
> yang kita miliki saat ini, ditemukan berbagai penyisipan.
> 
> Dari pengkajian super kritis tersebut, ditemukan memang ada banyak 
ajaran Buddha yang tidak terkondisi waktu yang dapat membantu kita 
mengarungi kehidupan kontemporer, menghantarkan kita ke pembebasan, 
sayangnya ajaran-ajaran tersebut sebagian besar diplintir, 
dimanipulasi, dan direduksi, dan sebagian lagi diabaikan.
> 
> Bagaimana pendapat anda mengenai hal ini?
>  
> 
> Silahkan berbagi.
> 
> 
> Anumodana
> 
> JL
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke