INTROSPEKSI

Dalam dua bulan terakhir ini ada dua undangan pelayanan ceramah +
kotbah dari dua gereja besar di kota Semarang, gereja ekumenikal dan
gereja Kharismatik. Dari kesempatan itu terdengar kabar bahwa dengan
dibangunnya gereja mega oleh salah satu denominasi Kristen di kota
itu, gereja-gereja banyak yang kehilangan jemaatnya dan terseret ke
ibadat selebriti di gereja besar itu, bahkan ada yang kehilangan
sampai 25% anggotanya dan malah ada beberapa gereja kecil yang nyaris
kehilangan semua anggotanya. Gejala apa ini, pertumbuhan gereja atau
perpindahan jemaat?

Di balik puluhan gereja yang ditutup khususnya di Jawa Barat, yang
tentu semua orang tahu dan umumnya menyalahkan sipenyerang, kita perlu
juga melakukan introspeksi, apa salah di pihak Kristen sendiri
sehingga ikut merangsang penutupan gereja-gereja tersebut?

Kasus dibangunnya gereja mega seperti contoh di atas memang salah satu
penyakit orang Kristen dimana kalau dahulu orang memperbesar gereja
untuk menampung pertumbuhan jemaat setidaknya mengantisipasi proyeksi
beberapa tahun kedepan yang dilandaskan pertumbuhan karena kelahiran
dan PI, ada beberapa gereja yang membangun peluasan gereja tidak
tanggung-tanggung dengan motivasi menarik jemaat gereja lain. Pernah
ketika melayani sebuah kota di Jawa Timur, diajak berkeliling oleh
pendeta sebuah gereja dan ditunjukkan gerejanya yang baru dibangun,
ceritanya bisa muat 2000 orang. Ketika ditanya berapa yang hadir
sekarang? Jawabannya sekitar 200 orang. Ini bahaya ambisi arogan
gereja kaya dimana jemaat yang sedikit membangun sarana ibadah yang 10
kali lebih besar. Alhasil, ada anggotanya yang dokter kemudian karena
konflik bergabung dengan gereja Mega Surabaya dan membangun gedung
besar pula tidak jauh di lokasi itu. Gereja itu kemudian distop
pembangunannya oleh warga karena tak jauh dari situ ada pesantren.\,
alasan mereka sudah ada gereja besar di dekat situ kok membangun lagi?

Lain lagi sejalan dengan dibukanya flyover panjang di kota Bandung,
ada gereja dipinggir jalan itu yang kemudian dibangun dengan bentuk
teatrikal menjulang ibarat ingin menyangi ketinggian dan kemegahan
flyover tersebut, alasannya kita harus memberikan yang terbaik untuk
Tuhan (ingat: Kis.17:24-25). Gereja itu pernah di demo, dan arogansi
ini menutup mata bahwa tidak jauh dari lokasi gereja itu terbentang
luas kawasan kumuh sekitar sungai cikapundung yang membelah kota.

Arogansi demikian disitir juga oleh Sumarthana almarhum yang ketika
terjadi pembakaran gereja di Situbondo mengungkapkan bahwa ia pernah 7
tahun tinggal di kota itu dan disitu banyak pesantren kumuh dimana
para santrinya hidup sangat minim. Ia mengkritik arogansi beberapa
gereja yang membangun gedung ibadat besar di jalan protokol kota itu.
Ucapannya yang terkenal adalah: "Bagaimana perasaan penduduk
menghadapi gereja besar di jalan protokol itu? Bukankah itu ibarat ada
orang asing mekakang (berdiri dengan kaki direnggangkan) dijalan masuk
rumah kita?" Kurangnya kepekaan lingkungan itu juga disitir oleh dr.
Paul Tahalele ketua FKKI yang kecewa mendengar pendeta sebuah gereja
yang dibantu pasca kerusuhan yang merenovasi gerejanya lebih `wah'
dari sebelum dibakar, yang menjawab: "Kita bangun lebih bagus karena
sumbangannya lebih!"

Pernah kalangan Islam mengatakan kalau gereja diizinkan bebas berdiri
nanti akan dibangun banyak gereja dilokasi yang sama karena gereja
punya ratusan denominasi yang masing-masing berlomba membangun gereja
baru. Kritik ini perlu direnungkan sebab memang benar bahwa banyak
gereja dalam membangun gedung bukan saja tidak peka lingkungan namun
sering sengaja membangun gedung gereja bahkan ada yang disebelah
gereja yang sudah ada. Semangat persaingan denominasi ini merupakan
penyakit kekristenan masakini. Lihat saja rebutan `gedung Sarbini' di
kawasan semanggi Jakarta oleh beberapa denominasi!

Kita sudah lama mendengar kata `sheep stealing' dilakukan oleh
denominasi tertentu. Tidak jarang ada denominasi sengaja menunggu
jemaat denominasi lain ketika pulang dari ibadat dengan mobil yang
siap mengantar mereka secara gratis, alhasil ujung-ujungnya kemudian
diajak bergabung dengan gereja denominasi mereka. Pernah penulis duduk
sebangku dengan pembimas Kristen Jabar ketika naik KA ke Jakarta. Ia
bercerita bahwa paling sulit adalah mendamaikan pertikaian antar
gereja yang bersaing.

Pernah ada undangan kotbah di sebuah jemaat Pentakosta di kawasan
perumahan kampung di kota Majalengka. Pendetanya cerita bahwa RT-nya
pernah memberi tahu agar musik band gereja tidak dibunyikan
keras-keras. Mendengar saran itu si pendeta tanggap dan kemudian
mengubah interior gereja dan mengurangi kemungkinan suara keluar yang
bisa mengganggu tetangga dan membimbing pemain band agar mengurangi
kerasnya musik pujian mereka. Lain lagi dengan apa yang terjadi di
Cimahi belum lama ini dimana ada pendetanya tidak bersikap bijak
ketika RT-nya menasehati soal kebisingan musik gereja itu, pendeta itu
bahkan mengancam balik agar tidak mengganggu ibadat (karena punya
backing). Alhasil, gereja ini termasuk yang terkena sweeping baru-baru
ini!

Fanatisme denominasionalisme juga melanda kalangan mahasiswa.
Sebenarnya di kalangan mahasiswa sudah banyak bermunculan PMK
(Persekutuan Mahasiswa Kristen) yang seakan-akan memberi angin segar
bagi lesunya GMKI dalam beribadat. Namun dibalik inter-denominasinya
PMK yang bahkan menarik mereka yang beraliran RK maupun Advent, sejak
awalnya sebelum ada PMK kecenderungan denominasionalisme juga melanda
kalangan ini.

Ketika di tahun 1960-an hadir `Para Navigator' dan `Campus Crusade for
Christ' yang kemudian menjadi LPMI, universitas dihangatkan dengan
ibadat Kristen setelah lama dibiarkan lesu oleh GMKI yang telah lama
berkiprah dan lebih menaruh perhatian pada dunia politik (harus diakui
dalam segi ini mereka berhasil), namun sikap fanatisme golongan tak
pelak menimbulkan banyak friksi baik di kampus maupun di luarnya. LPMI
pernah menerima surat talak dari gereja di Papua dan di propinsi lain,
soalnya para kadernya bukannya menjadi penyegar di gerejanya tetapi
menjadi kanker di gereja itu yang lebih aktif di persekutuannya dan
mengabaikan tugas gereja. Di awalnya di Bandung ada pembagian tak
tertulis dimana satu kampus dikuasai Campus Crusade dan kampus lainnya
oleh  Para Navigator. Di Yogya, Para Navigator pernah clash dengan
Perkantas.

Berkembangnya PMK di nyaris semua kampus dan jurusan di Indonesia
(Thank God for it!) harus diterima dengan syukur karena merupakan
sarana oikumenis yang tidak bisa dilakukan gereja-gereja, namun
belakangan PMK itu terbelah menjadi `Kharismatik' dan `Injili' (GMKI
yang ekumenis tidak ikut bersaing), dan yang Injili sering terbentur
aktivitas eksklusif dari berbagai ormas seperti `Para Navigator',
`LPMI', `Perkantas' atau persekutuan lainnya yang juga sering
menyelenggarakan acara-acara eksklusif. Memang dibawah PMK semuanya
masih bisa bekerja bersama sekalipun sering ada gesekan persaingan di
kalangan mereka.

Akhir-akhir ini ada gejala baru dimana ada `Gereja masuk kampus.' Di
satu sisi gejala ini baik karena merupakan kesadaran gereja dimana
kampus merupakan ladang yang luas dan menantang yang selama ini
diabaikan (atau tidak mampu?) dilakukan gereja. Sebenarnya gereja yang
mapan bisa menunjang PMK-PMK yang sudah ada dan bekerjasama dengan
mereka, namun adanya denominasi yang eksklusif dengan teologi mereka
bisa menjadi virus yang nanti akan ikut meramaikan fanatisme
denominasionalisme di kampus. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau
nanti ratusan denominasi yang ada sekarang sebagian kecil saja yang
masuk kampus dan mendirikan persekutuan eksklusif?

Persaingan antar denominasi persekutuan mahasiswa ini lebih diramaikan
dengan hadirnya persekutuan mahasiswa `Saksi-Saksi Yehuwa' di beberapa
kampus seperti di Trisakti yang mulai minta jatah sebagai unit
mahasiswa tersendiri dibawah bidang kemahasiswaan kampus karena mereka
menganggap berbeda dengan Kristen (tragisnye Pembimas Kristen
Protestan Depag menerima dan merestui mereka sebagai `kristen').

Denominasionalisme sudah menjadi nafas gereja dan mulai memasuki
persekutuan kampus, dan sudah jelas akan ikut memanaskan dunia
pluralitas agama di Indonesia. Bila keadaannya seperti sekarang, bisa
dibayangkan di kawasan perumahan akan makin banyak dibangun gereja dan
banyak ruangan kampus akan digunakan persekutuan-persekutuan mahasiswa
yang berbeda yang makin banyak jumlahnya itu, dan kalau ini
menimbulkan reaksi kalangan lain, hanya merekakah yang salah? Kita
sendiri perlu introspeksi!

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke