Namo Buddhaya,

Mari kita ganti diskusinya menjadi obrolan santai saja. Pak! Maklum 
besok khan libur. Tidak perlu serius-serius.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Rekan Tan yang saya hormati; 
Terima kasih balasan anda,menyenangkan sekali berdiskusi dengan 
anda,beberapa penjelasan anda telah menambah pengetahuan saya,namun 
masih ada yang menurut saya kurang pas,mudah2an anda tidak bosan 
mengoreksinya,trima kasih sebelumnya.

TAN:

Tidak ada yang perlu dikoreksi, Pak. Di dunia itu tidak ada yang 
benar dan salah, tetapi pro dan kontra itu merupakan sesuatu yang 
wajar, karena memang pikiran ini masih dikuasai oleh dualisme. Kalau 
saya sebenarnya hendak berusaha di tengah-tengah, yakni tidak pro dan 
tidak kontra, hanya saja ya itu tadi karena saya masih dikuasai 
dualisme, maka mau tidak mau saya akhirnya terseret pada satu kutub. 
Jadi ya sebut saja posisi saya ini "netral tetapi agak pro." 
Saya "netral" dalam artian memandang bahwa buku Beyond Belief harus 
disebarkan secara bijaksana dan bukan dipakai sebagai alat perang, 
sedangkan "pro"-nya karena saya lihat sesungguhnya isinya tidak dapat 
dikatakan "menjelek-jelekkan" dan selain itu masih banyak manfaatnya. 
Setidaknya untuk menambah wawasan umat Buddha.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Selama ini bila saya jalan2 di toko2 buku,misalnya Gunung agung,saya 
mesti melihat di bagian agama,nah disitu banyak sekali saya jumpai 
buku sejenis Harun Yahya,tapi hampir tidak pernah melihat buku 
sejenis itu yang ditulis oleh seorang Budhist dan mengupas agama lain
(dalam arti membuka kesalahan agama lain),hal ini pernah saya 
pikirkan dan saya anggap sepaham, bahwa agama saya tidak seperti 
agama lain yang sering ofensif dan agresif.

TAN:

Saya tidak melihat bahwa Beyond Belief itu ofensif dan agresif, lho 
Pak. Kalau yang namanya ofensif dan agresif itu, misalnya Bapak 
sedang jalan-jalan santai. Eh tahu...tahu nggak ada geledeg nggak ada 
geludug saya pukul Bapak. Lhaaaaaaa.... itu namanya saya ofensif. 
Tapi kalau misalnya Bapak hendak memukul dan saya menangkis, maka itu 
tidak dapat dikatakan ofensif. Buku Beyond Belief salah satunya 
membahas tuduhan pihak agama tertentu bahwa agama-agama lain memiliki 
dewa yang mengerikan bagai setan. Naaaaa...... pengarang lalu 
bilang: "Berdasarkan kitab suci Anda sendiri, maha dewa Anda juga 
punya perangai dan penampilan yang mengerikan." Kalau begitu, 
kesimpulannya khan Beyond Belief itu bukan ofensif dan agresif Pak? 
Lha wong tahu-tahu diserang ya apa salahnya membalas?

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Apalagi menyebarkan agama yang door to door,tidak perduli penghuni 
rumah ini beragama lain atau tidak,mereka berusaha menarik untuk 
bergabung dgn mereka. 

TAN:

Apakah ada umat Buddha yang membagikan Beyond Belief dari rumah ke 
rumah, Pak? Perasaan tidak pernah dengar tuh.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Dari kebiasaan itulah baru pertama membaca buku BB saya menjadi 
sangat kaget,yah semacam risih begitulah,mungkin apa pengaruh dari 
usia saya yang sudah lebih dari setengah abad,sehingga lebih memilih 
low profil atau defensif,saya tidak jelas ,tapi terus terang kalau 
saya disuruh pilih tetap saja pilihan saya adalah tidak setuju dengan 
penulisan BB. 

TAN:

Waduh, kalau begitu jangan sering-sering baca Beyond Belief lho, Pak. 
Nanti kalau sering kaget bisa jantungan. Memang Bapak boleh saja 
tidak setuju, saya maklum. Khan segala sesuatu itu pasti ada pro dan 
kontra. Wong Sang Buddha sendiri saja ada yang pro dan kontra, 
padahal kurang baik apa Beliau itu? Hanya saja yang nggak kontra ya 
hendaknya toleransi dengan yang pro, dan yang pro juga hendaknya 
toleransi dengan yang kontra. Gitu lho, Pak. Bukankah Sang Buddha 
mengajarkan toleransi? Termasuk toleransi pada orang-orang yang 
dianggap tidak toleran. Defensif? Lha Beyond Belief itu khan 
defensif! Saya pikir bahwa Beyond Belief itu sudah optimal 
defensifnya. Kalau diperlemah atau diperlembut lagi defensifnya ya 
kita yang benjut, Pak. Susahnya apa? Anda sudah mindset bahwa Beyond 
Belief itu "menjelek-jelekkan" agama lain. Ibaratnya kalau kita sudah 
punya mindset bahwa si A itu jelek, maka segenap tindakannya baik 
yang netral ataupun baik ya kita anggap jelek juga. Kalau saya punya 
definisi sendiri mana yang menjelek-jelekkan dan yang tidak. Kalau 
semuanya ada bukti ilmiahnya ya mana bisa disebut menjelek-jelekkan 
to Pak?

Ada prinsip berikut ini:

+Meskipun banyak yang pro: belum tentu hal itu BENAR
+Meskipun banyak yang kontra: belum tentu hal itu SALAH

Pro dan kontra tidak menyatakan kebenaran apapun. Setuju dan tidak 
setuju tidak menyatakan kebenaran apapun.

Si A bilang tehnya enak! Si B bilang tehnya enak! Si C bilang tehnya 
tidak enak! Nah apakah tehnya enak atau tidak enak? Tidak tahu! Yang 
saya tahu hanyalah teh adalah teh. Ini enak dan tidak enak semuanya 
adalah ilusi diskriminatif umat manusia yang kelak akan lebur juga ke 
dalam dharmadatu, sedangkan tehnya akan lebur ke.... dalam mulut 
hehehehhe!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Bila seseorang memulai menulis sesuatu yang akan disebarkan atau akan 
dibaca banyak orang,contohnya saya menulis email ini,saya berpedoman 
bahwa MINIMAL tulisan saya ini harus menguntungkan diri saya 
sendiri,yaitu akan mengasah otak saya dan menambah pengalaman,namun 
dengan catatan TIDAK mengganggu/menyakiti orang lain. kalau 
keikutsertaan saya dalam millis ini mengganggu/menyakiti anggouta 
lain,maka saya harus out dari millis ini.perasaan semacam ini lah 
yang menjadi landasan kenapa saya tidak setuju dengan BB.

TAN:

Tidak mengganggu atau menyakiti itu relatif, Pak. Menurut kita tidak 
mengganggu bisa saja menurut orang lain mengganggu. Dulu waktu di 
Jerman, saya ada tetangga orang Afrika yang hobbynya ngomong keras-
keras dan masang musik juga keras-keras. Dia pikir itu tidak 
mengganggu orang lain. Makanya susah, kalau semuanya dianggap dari 
pandangan diri sendiri. Begitu juga dalam kita menanggapi fenomena 
Beyond Belief. Pasti ada pro dan kontra, tapi itu wajarlah. Tidak ada 
sesuatu yang baik 100% dan tidak sesuatu yang buruk 100 %. Beyond 
Belief telah menyumbangkan sesuatu bagi sejarah Buddhadharma di 
Indonesia terlepas dari adanya orang yang tidak setuju dengannya. 
Menurut Buddhisme dalam wawasan yang terunggul pro dan kontra adalah 
semata-mata ilusi diskriminatif akibatnya adanya kesadaran ketujuh 
manovijnana. Ini yang bahaya Pak! Bisa-bisa nanti orang yang seagama 
malah pecah dan bentrok sendiri, antara kubu Buddhis pro BB dan kubu 
Buddhis anti BB (bukan Bau Badan lho). Naaaa...dhiengg!! Kalau sudah 
bentrok dan masing-masing bawa golok, siapa yang tanggung jawab coba. 
Hayooooo..... Bapak mau tanggung jawab? Bukankah perpecahan ini 
bukannya sesuatu yang lebih buruk daripada isi Beyond Belief yang 
Bapak anggap sudah "buruk" itu? Karena itu marilah sebagai umat 
Buddhis mari kita hilangkan sifat pro dan kontra, sektarian (Thera-
Maha-Vajra), antar vihara, dan lain sebagainya. Pro dan kontra itu 
pasti ada, tetapi tidak ada gunanya di blow up! Orang yang kontra 
bilang: "Buku Beyond Belief itu brengsek!" Orang yang pro 
bilang: "Yeeeee.... Emang duit ente yang dipake buat nyetak! Enak 
aja! Sadar dong duit siape nyang dipake buat nyetak!" Lha kalau 
sampai gitu khan malu Pak. Makanya, menurut saya polemik pro dan 
kontra yang kayak gini tidak perlu diteruskan tidak ada gunanya.
Kalau Bapak pikir Beyond Belief nggak baik ya sudah biarkan saja, 
Bapak sebagai umat Buddhis hendaknya memajukan Buddhadharma menurut 
cara-cara yang Bapak anggap baik. Sebaliknya orang yang pro Beyond 
Belief, ya biarkan saja mereka lakukan cara-cara yang mereka anggap 
baik pula. Toh tujuan atau motivasinya sama-sama memajukan 
Buddhadharma. Beres khan.... tidak ada polemik.... everybody 
happy.... Buddhadharma tambah maju!!!!!!

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sedangkan kalau saya melihat ada umat Buddha yang akan pindah ke 
agama lain,pasti saya juga sangat sedih,sedikit cerita tentang putri 
saya yang sekarang kuliah di Vancouver,2 tahun kuliah baru dia pulang 
liburan(th 2003),saat itulah dia ngomong minta izin pindah agama(ke 
Protestan),saat itulah hampir 4 jam kita diskusi(saya,istri dan anak) 
sangat seru dan sampai banyak air mata,saya sampai juga membedah apa 
itu agama Protestan,akhirnya anak saya menyadari kesalahan pilihannya 
dan kembali ke Buddha,waktu itu saya juga seperti BB membedah agama 
lain,cuma bedanya saya hanya debat atau diskusi 3 orang saja,nah 
cerita ini juga terpikir oleh saya saat tadi membaca posting 
anda,yaitu bagaimana umat2 Buddha yang lain maksud saya para anak 
muda atau remaja yang mau pindah agama? mungkin mereka tidak punya 
ayah seperti saya,sehingga ayah mereka hanya melongo saja melihat 
putri mereka pindah agama,saat terpikir hal itu memang saya hampir 
mengatakan>wah kalau gitu bener juga yang dikatakan rekan Tan tentang 
BB. 
Namun terus terang saat ini saya masih belum sreg bener dengan 
argumen anda,saya tidak tahu pasti apa ganjalannya,kasih saya waktu 
ya, ok. 

TAN:

Ah sudahlah santai saja Pak! Saya juga tidak ada misi menjadikan 
Bapak sebagai pendukung militan BB yang sampai ke kamar kecil saja 
masih berbekalkan buku tersebut. Saya justru seorang penjunjung 
tinggi toleransi. Tidak ada maksud saya untuk mem"Beyond Belief"kan 
Bapak. Bapak belum sreg juga nggak apa-apa. Memang di dunia ini tidak 
ada sesuatu yang 100 % benar. Lagipun sebenarnya saya juga agak malas 
diskusi semacam ini, tidak ada manfaatnya. Mendingan diskusi masalah 
hukum, filsafat, atau hermeneutika Buddhis! Lebih bermanfaat dan bisa 
mendatangkan wawasan baru. Atau saya baru beli buku-buku dari 
Gramedia nih. Ada yang judulnya Supernatural and Mysterious Japan. 
Isinya keren tentang hantu-hantu dan peristiwa mistik di Jepang. 
Lhaaa..... ini yang baru asyiiik! Kalau kita ngomongin yang kayak 
gini terus, ibaratnya seperti jalan muter-muter saja di tempat, Pak. 
Tapi yang pasti saya sudah jelaskan beberapa misi sebenarnya buku 
Beyond Belief. Nah, sekarang terserah pemirsanya, apakah mau menerima 
atau tidak. Semuanya di luar kekuasaan saya. Tidak ada sedikitpun 
keinginan saya untuk menjadikan seluruh umat Buddhis di Indonesia 
sebagai pendukung militan Beyond Belief.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Namun ada satu contoh yang anda ceritakan,yaitu tentang jawaban 
ulangan dari seorang murid yang salah,bila saya jadi gurunya pasti 
akan saya salahkan dan bukan berarti saya/guru telah menjelekkan 
muridnya,>contoh ini tidak pas karena penulis BB bukanlah guru dari 
agama lain,jadi apakah dia(penulis BB) berhak memberi nilai kepada 
murid/umat Kristen,masih menjadi satu pertanyaan, 
Sekian dulu,maaf kalau ada yang salah. 
Salam dari Hadi. 

TAN:

Hlaaaaaa.....!!!!! Tapi khan penulis BB itu adalah mantan penganut 
dan pakar agama K itu lho Pak. Lalu pula syiar agama K itu ditujukan 
pada semua umat manusia. Terus kalau ada salah seorang yang kritis 
gimana coba? Boleh dong menanggapi. Sebagai informasi saya juga 
mantan K, lho Pak. Justru karena kita-kita ini pernah mencicipi 
ajaran K, maka kita berhak komentar. Kalau orang yang nggak tahu apa-
apa tentang K terus ngoceh banyak tentang K ya jelas nggak benar itu. 
Tapi kalau penulis BB khan lain. Boleh dong dia dianggep guru. Saya 
dulu juga bacaan teologi K-nya banyak. Maklum, calon penginjil 
hheheheh. Tapi ya sudahlah, saya pikir topik ini tidak perlu 
diperpanjang lagi. Tidak akan menghasilkan apa-apa. Okeee sekian 
dulu! Kepareng! Tabik! Selamat malam! Mohon maaf juga kalau ada yang 
salah. 

TIPS: sekedar tips, Pak! Sebelum tidur coba minum teh hangat tanpa 
gula. Bangun pasti badan lebih segar. Boleh dibubuhi perasan jeruk 
pecel sedikit.

Metta,

Tan







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke