Topik I MASALAH TRANSEDEN

O, rupanya itu yang Anda maksud dengan transenden. Kalau pendapat
saya, bila seorang penganut agama samawi dapat mencapai
pemahaman "Tuhan" yang transenden, seperti Emha Ainun Najib dan lain
sebagainya, maka itu berarti mereka tidak berbeda lagi dengan umat
Buddha. "Tuhan" menurut pengertian mereka sudah dapat disamakan
dengan Hakekat Kebuddhaan atau Buddhata. "Tuhan" semacam itu dapat
disepadankan dengan asankhatadhamma. Berati bahwa dengan mereka tidak
ada masalah lagi, dan saya saya yakin orang yang sudah
merealisasi "Tuhan" semacam itu tidak akan berusaha memasukkan orang
lain ke agamanya. Sebagaimana halnya umat Buddha yang tidak berusaha
memBuddhiskan orang lain, karena tidak ada seorangpun yang dapat
memBuddhiskan orang lain. Begitu pula halnya, realisasi "Tuhan"
sebagai sesuatu yang absolut adalah suatu realisasi individual. Tidak
ada orang yang dapat membuat orang merealisasi hal yang sama dengan
dirinya. Ini adalah realisasi yang juga dialami oleh Al Halaj atau
mungkin St. Frasiscus Xaverius. Tidak ada masalah dengan hal ini.
Tentu saja saya setuju bahwa jika dihadapkan dengan kebenaran seperti
ini, Beyond Belief bukanlah sesuatu yang tepat. Beyond Belief tentu
saja bukan ditujukan bagi orang-orang seperti Al Halaj atau St.
Fransiscus Xaverius. Paling-paling mereka akan membacanya dengan
tersenyum dan sesudah itu berlalu.

Cg ik: 
Kalo gitu sudah cukup jelas, tidak ada yang perlu saya komentarkan 
lagi mengenai hal ini. 

 ----- --------


TETAPI..... tahukah Anda bahwa sangat sedikit sekali penganut samawi
yang sudah sampai ke tingkatan ini? Meski mereka mengatakan
bahwa "Tuhan" adalah sesuatu yang ultimit, transenden, dan lain-lain,
namun "Tuhan" yang ada dalam benak mereka adalah masih "Tuhan"
bentukan pikiran mereka sendiri, yang mendamba kenyamanan dan
keamanan diri (zona kenikmatan). Meski mereka dapat menjawab dalam
pengertian absolut, tetapi jika mereka masih gemar mengkonversi orang
lain ke agamanya sendiri, maka "Tuhan" mereka adalah "Tuhan" yang
terbentuk karena lobha, dosa, moha. Nah, konsepsi Beyond Belief
sebenarnya masih bergerak dalam tataran ini. Sehingga dalam hal ini
Beyond Belief masih dapat dikatakan sebagai sesuatu yang TEPAT.

Cg ik: 
Ya saya tahu. Wong Buddha yang terbentuk dalam pikiran saya juga 
masih yang ilusif,yang masih berinteraksi dengan dosa,lobha, moha¡K
hehe..

---  -------

 Jika
seseorang masih berkata: "Percayalah pada Tuhanku.... kalau tidak
kamu masuk neraka!" jelas sekali bahwa "Tuhan" yang ada dalam benak
mereka adalah bukan "Tuhan" yang menurut Anda transenden itu. "Tuhan"
transenden jelas tidak akan memiliki rasa "benci" dan "memihak" lagi.
Wong namanya juga transenden. Anda paham maksud saya?

Cg ik:
Ya, saya paham bro..
--- ---

Justru saya melihat bahwa Beyond Belief ini dapat dipakai sebagai
sarana untuk membantu seseorang memahami bahwa "Tuhan" yang sejati
adalah "Tuhan" yang transenden. Ini pendapat saya. Kalau Anda masih
belum dapat melihatnya ya tidak apa-apa.
 
Cg ik:
Tapi jika mengatakan buku BB dapat menjadi sarana untuk membantu 
orang memahami Tuhan yang sejati, berarti ulasannya masih kurang 
jelas dan lengkap. Setidaknya bagi pembaca awam seperti saya. 
Buktinya tidak sedikit orang yang salah menangkap, dan contohnya ya 
pak Hadi. Beliau juga tidak menangkap bahwa buku BB ini adalah 
sarana untuk membantu orang memahami Tuhan sejati. Berarti masih 
kurang jelas, kurang lengkap..   

---- ------

Mengenai ayat kitab-kitab suci. Mungkin memang benar bahwa kitab suci
memiliki makna bertingkat. Tetapi coba jelaskan, jika ada ayat yang
mengatakan, "Mahadewa memerintahkan untuk membunuh bangsa X hingga
seakar-akarnya, kecuali menyisakan gadis-gadis yang masih perawan
untuk bebas dinikahi pria-pria bangsa Y (bangsa pilihan mahadewa)..."
atau "Bunuhlah dan kejarlah orang-orang yang tidak percaya pada
mahadewa." Nah, otak saya yang masih bodoh masih belum bisa mengerti
apa makna ayat di atas ditinjau dari sudut pandang "transenden,"
seperti yang saudara katakan itu. Bagaimanakan pendapat saudara
mengenai hal ini? 

Cg ik:
Wah¡Ksuruh aja Fransiscus Xaverius yang jelasin. Beliau pasti tidak 
melihatnya begitu bukan? . So, sekali lagi, individu tertentulah 
yang salah menangkap maknanya.    Tapi jika saya adalah seorang 
Kristen yang ¡§baik-baik¡¨ yang sudah memahami makna transenden, 
mungkin saya akan menjelaskan begini: kalimat di atas adalah sebuah 
perumpamaan. Bangsa x adalah ibarat dosa, maka kita disuruh membunuh 
dosa2 dalam batin kita. Gadis2 perawan adalah nilai2 positif yang 
masih ada di dalam batin kita, maka pertahankanlah nilai2 itu, 
jangan ikut dibunuh. ¡§untuk bebas dinikahi bangsa Y¡¨ berarti 
meleburkan diri menyatu dengan kesucian (bangsa x adalah noda batin, 
dan bangsa y adalah kesucian batin). 
¡§Bunuhlah dan kejarlah¡¨ berarti kikislah..
¡§orang yang tidak percaya¡¨ berarti tidak memiliki keyakinan. 
¡§mahadewa¡¨ berarti hukum kebenaran (Karena mereka menganggap Tuhan 
adlah kebenaran itu sendiri). Jadinya: Kikislah ketidakyakinan pada 
hukum kebenaran.  

Seandainya saya adalah pendeta Kristen yang baik, maka saya harus 
menjelaskan seperti di atas kepada jemaat saya. Jika saya 
menerangkannya secara harfiah, maka saya akan bilang bunuh saja 
teman mu yang belum masuk Kristen.  Jadi semua tergantung pada 
individu yang mencernanya. Pada sisi lain saya memang menyayangkan 
apa yang tertulis dalam alkitab sangat mudah memancing orang yang 
belum terbuka pikirannya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, 
Kekristenan sudah merambah sedimikian rupa di dunia ini, maka kita 
harus menetralisir isi alkitab melalui penjelasan yang sesuai dengan 
hukum dharma (kebenaran universal). Bukan dengan cara menyanggahnya. 
Menyanggahnya akan menyentuh sisi sensitifitas emosi pemeluknya. 
Jika emosi yang bekerja, maka reaksi yang timbul adalah tanggapan 
yang bersifat emosi bukan logika.   Jadi saya katakan dharma yang 
universal dapat diaplikasikan di mana dan kapan saja, bahkan pada 
kitab suci kaum tirtika. Ini yang disebut transformasi pikiran. 
Dalam melatih diri, kita tidak menentang noda batin kita, tapi kita 
mentransformasikannya. Banyak bhiksu Tibet yang merambah dunia barat 
tidak dengan menyanggah agama bangsa barat ,tapi melalui dharma, 
para rinpoche mentransformasikan pikiran orang barat ke dalam 
pengetahuan dharma.       

Pendapat saya ini tidak sepenuhnya benar, tapi saya yakin cara ini 
tidak lebih buruk dari cara dan misi BB. Atau bila perlu 
disinergikan . 

---- ----

Sebenarnya banyak sekali ayat-ayat semacam ini.
Kita tidak cukup mengatakan, O ayatnya harus dimaknai secara
transenden! Tetapi kalau memang benar dapat diartikan secara
transenden, coba jelaskan apa maknanya secara transenden. Mari kita
kupas habis-habisan. Bedanya dengan sutra Buddhis. Kalau dalam ajaran
Buddhis jelas tidak ada kata "bunuhlah", "bantailah", atau gorenglah"
dan sejenisnya. Apapun pemaknaannya, artinya tidak akan berlawanan
dengan humanisme. Atau mungkin Sdr. Chingik bisa menunjukkan ayat
dalam Sutra yang isinya dapat ditafsirkan berlawanan dengan
humanisme. Ayo, kita langsung saja masuk ke studi kasus. Dijamin
pasti lebih menarik. Kalau Anda dapat memberikan argumen yang dapat
diterima oleh logika saya, maka saya tentu akan menyetujui pandangan
Anda.

Cg ik: 
Ha ha ha..¡¨gorenglah¡¨¡Klucu amat kata2 ini. Sekalian dikukus juga ya..
Itulah mengapa saya menjadi Buddhist, karena nilai2 luhurnya, 
humanismenya.dll.   Di atas saya sudah katakan memang sayang sekali 
tentang apa yang tertulis dalam kitab suci Kristen.  TApi sekali 
lagi saya ingin tekankan bahwa hingga sampai pada tahap ini, 
menyanggahnya justru hanya menyentuh sensitifitas emosi pemeluknya, 
bukankah lebih baik mentransformasikan mereka. Seperti anda katakan 
bahwa Tuhan yang absolute sama dengan Hakekat Kebuddhaan, Buddhata. 
Maka bukankah lebih baik mentransformasikan cara pandang mereka 
tentag Tuhan dari yang personikasi menjadi yang transenden alih-alih 
dgn menyanggahnya. Ini cuma pendapat pribadi saya, mungkin bro 
memiliki gagasan yang lebih baik.  

---- ----
   

Sebagai tambahan: menurut pandangan saya, transenden dan tidak
transendennya Tuhan tidak ada hubungannya teks-teks kitab suci.

Cg ik: 
Ya.. benar juga.. 


+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

TOPIK II Mengenai Master Chingkung

Saya kira sudah jelas dan kalau ada yang masih perlu didiskusikan
saya kira ada baiknya digabung saja dengan topik III.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

TOPIK III Sutra dan membahas kesalahan bhikshu

Mengenai memfitnah atau menghina bhikshu tentu saja ini tidak berlaku
bagi saya, karena saya tidak bermaksud memfitnah atau menghina
seorang bhikshu-pun. Sekedar informasi, Silva penulis Beyond Belief
itu adalah seorang bhikkhu dari Australia. 
Nah, jika Anda tidak merasa memfitnah atau menghina seorang bhikkhu 
dengan mempertanyakan
atau mengkritik Beyond Belief, begitu pula halnya saya tidak merasa
memfitnah atau menghina Beliau.

Cg ik:
Wah Bukan tidak merasa, saya malah gak tahu lho kalo beliau itu 
seorang bhikkhu..


----- --------

 Bagaimanapun juga sebagaimana yang
sudah saya nyatakan dalam diskusi-diskusi sebelumnya, pendapat tiap
orang tidak sama. Saya juga berhak menyatakan pendapat saya, apa yang
akan saya lakukan bila saya adalah Master Chingkung dan ini tidak
dapat dianggap sebagai fitnahan atau penghinaan. 

Cg ik:
Syukurlah kalo anda tidak bermaksud memfitnah..

---- -----
Ibaratnya begini.
Anda punya teman yang tidak naik kelas. Usut punya usut, ternyata
kawan Anda itu sebelum ujian, bermain video game sepanjang hari dan
tidak belajar. Anda tentu boleh berkata, "Kalau saya jadi kami saya
tidak akan bermain video game sepanjang hari." Nah, ini tidak sama
dengan memfitnah atau menghina kawan Anda itu bukan?

Cg ik: 
Yup.
--- -----

Kalau saya misalnya adalah seorang tua yang memiliki 100 anak dan
saya saat itu memiliki 100 potong roti, maka saya akan memastikan
terlebih dahulu bahwa 100 anak saya itu kebagian roti yang saya
miliki. Tidak mungkin saya akan memberikan roti itu pada anak orang
lain yang jelas-jelas sudah punya orang tua dan rotinya sendiri.
Begitu pula kalau saya menjadi Master Chingkung, saya akan bertanya
dahulu pada diri saya sendiri, "Anak-anakku (maksudnya umat Buddha),
apa yang masih kurang ya? Apakah mereka sudah punya "roti" semua
(roti ini multi arti, bisa sekolah, fasilitas, dan lain sebagainya).
Apakah mereka sudah punya ini, apakah mereka sudah punya itu... dan
lain sebagainya." Nah, kalau anak-anak kita sudah kenyang dan masih
ada roti sisa, baru boleh diberikan pada anak orang lain. Tetapi
kalau anak kita saja masih gembel dan lapar, terus roti yang ada
diberikan begitu saja pada orang lain, maka saya sebagai salah satu
anaknya tentu akan tersinggung dong, "Wah, yang benar aja. Khan saya
masih lapar." Daripada rotinya untuk anak orang lain, bukankah lebih
baik dipakai buat bangun sekolah bagi anak-anaknya, agar anak-anaknya
tidak menumpang sekolah di agama lain. Kalau masih ada sisa roti,
bukankah dananya dipakai untuk pengadaan kitab suci Tripitaka, supaya
saya sebagai peneliti Buddhis bisa memperoleh Tripitaka setidaknya
dengan harga murah. Supaya para dharmaduta kita yang di desa-desa
bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik.... dan seterusnya.... dan
seterusnya! Sekali lagi ini pemikiran saya, kalau seandainya saya
adalah Master Chingkung! Dan belum tentu ini benar. Bisa saja saya
yang salah. Jelas saya tidak merasa ini menghina Beliau.

Cg ik:
Seandainya memiliki motivasi dan dana yang cukup, belum tentu dapat 
dengan mudah membangun fasilitas itu, karena semuanya tergantung 
pada dukungan dari berbagai pihak, sumber daya manusia, dan banyak 
faktor lainnya. Master Chingkung juga sangat peduli dengan 
kepentingan umat Buddha, tapi masalahnya umat Buddha bukankah 
terpecah dalam berbagai sekte dan organisasi? Bahkan ada organisasi 
Buddhist X yang tidak senang sama organisasi Buddhist Y melebihi 
ketidak senangan mereka pada agama lain. Jadi meskipun ada yang 
sangat butuh, tapi mereka tidak mau uluran tangan dari organisasi 
yang tidak mereka sukai. Saya rasa ini adalah salah satu kendala 
(cuma salah satu lho ya)Jadi Beliau menyumbang dengan tidak 
membatasi pada kepentingan agama Buddha saja. Ya ke panti asuhan 
ada, ke agama lain ada, tapi jangan dilihat dari konteks 
perangkulannya sebagai membeli keamanan. Emangnya untuk apa? Tanpa 
¡§membeli¡¨pun  tidak ada masalah. 
 
 Pengadaan kitab suci Tripitaka juga sudah sering dijalankan oleh 
master Chingkung. Tapi mungkin beliau lebih hati2 dalam membagi2 kan 
Tripitaka, karena tidak jarang orang yang mendapatkannya hanya untuk 
dijadikan pajangan.  Beliau sering mencetaknya dan membagi2kannya ke 
berbagai universitas di China, Jepang ,dll yang lebih membutuhkan 
untuk benar2 dipelajari.  Beliau bahkan melarang organisasinya 
menerbitkan buku dan vcd dharma dengan cara diperjual belikan. 
Beliau juga mendirikan pusat pendidikan Buddha dharma.  Jadi master 
Chinkung lebih memilih membagi2kan roti berdasarkan jodoh. Beliau 
tidak mau melekat pada pertimbangan ¡§ anak saya harus dapat makan 
dulu baru lu dapat makan¡¨. Ini memang masalah motivasi yang berbeda, 
tapi semua dilandasi oleh sifat2 kebajikan. Mahakasyapa lebih suka 
bersedekah pada orang miskin, katanya untuk beri kesempatan orang 
miskin berbuat kebajikan. Lalu Subhuti (?) lebih suka bersedekah 
pada orang kaya, katanya kasihan orang miskin udah kekurangan kok 
kita masih memintanya untuk memberi. Mungkin master Chingkung belum 
dapat menjalankan misi seperti yang anda harapkan. Tapi percayalah, 
dari buku yang saya baca, beliau berpijak pada manfaat untk orang 
lain, bukan kepentingan pribadi. Bisa saja mungkin beliau sedang 
(latihan) mempraktikkan keseimbangan tanpa membeda2kan. Ya kita 
tidak tahu motivasi utama tindakan orang.  
Saya bukan mengkultuskan master Chingkung, saya pun sadar beliau 
pasti masih banyak kekurangannya. Jadi saya Cuma membantu 
menjelaskan apa yang telah saya baca tentang beliau. Itu saja. 
Sisanya ya terserah heh..he            
  

-------- -----------

Mengenai kitab-kitab yang saudara sebutkan. Adakah terjemahannya
dalam bahasa Inggris, karena sudah pernah saya katakan bahwa saya
tidak paham Mandarin? 

Cg ik: 
Tidak tahu..

---- - - - - 

Jika Anda sudah menterjemahkannya ke dalam
bahasa Indonesia, saya mempersilakan Anda untuk mempostingnya di
milis tripitaka_indonesiana. Anda telah ikut mendukung kelestarian
Buddhadharma.

Cg ik:
Sayang saya tidak cukup berkompeten untuk menerjemahkannya. Saya 
lebih suka Kitab suci Buddhist diterjemahkan oleh sebuah tim bukan 
perorangan. Kitab suci Buddhist yang diterjemahkan oleh para bhiksu 
dari India di Cina tidak semata-mata dilakukan perorangan. Jaman itu 
dalam tugas penerjemahan saja beranggota hingga ratusan orang. Ini 
adalah cerminan betapa tinggi rasa respek mereka pada kitab suci 
Budhist dan betapa hati hati dan serius nya mereka. 

------ --------

Saya tidak tahu apakah apa yang tercantum dalam kitab-kitab itu
mendukung legitimasi bhiksu atau tidak. Saya belum membacanya, jadi
saya tidak dapat berkomentar banyak mengenai hal ini. Tetapi, jelas
saya tidak akan berusaha mencari-cari kesalahan orang lain.

Menurut saya kalau bicara masalah perdamaian antar agama, umat Buddha
sedari dulu juga sudah cukup mengusahakannya. Kita sangat menghormati
lingkungan sekitar, pendirian vihara juga sudah sesuai prosedur dan
perizinan, dll...dll.

Cg ik:

Hmmm¡Kya ya..
--- ----

Bicara mengenai kesalahan, jelas sekali bahwa suatu kesalahan
harus "disadari." Sepengetahuan saya dalam Abhidhamma ada empat hal
supaya kamma dapat membuahkan sesuatu:

a. Ada pelaku
b. Ada korban
c. Ada motivasi
d. Ada perampungan tindakan

Jadi tidak mungkin sesuatu mendapatkan balasan buruk kalau tidak ada
motivasi buruk (akusalacitta) yang melatar belakanginya. Meski dalam
Mahayana nampaknya ada pandangan bahwa kesalahan yang tidak disadari
dapat membuahkan hasil (seperti kisah Mahakasyapa yang tanpa sengaja
memotong seekor kutu), tetapi nampaknya ajaran ini tidak dapat
diterima mentah-mentah. Saya harus pelajari dahulu Sutranya secara
lengkap baru bisa mengetahui konteksnya. Bukankah suatu ajaran tidak
bisa diterima sepotong-sepotong? Begitu pula halnya dengan masalah
vegetarian dan non-vegetarianisme. Keduanya harus dimakna secara
kontekstual dan penuh ?bukannya sepotong-sepotong ?sebagaimana yang
sudah saya ulas dalam buku saya berjudul Ehipassiko Theravada ?
Mahayana: Studi banding Doktrin Buddhisme Aliran Selatan dan Utara.

Sebagai tambahan, agar tidak terjadi kesalah-pahaman perlu saya
ungkapkan pandangan saya bahwa di dalam berbuat kebajikan... sekali
lagi berbuat kebajikan kita janganlah membeda-bedakan agama. Tetapi
kapasitas berbuat kebajikan di sini adalah sebagai sesama manusia
(kisah yang bagus mengenai hal ini terdapat dalam kitab Injil yakni
perumpamaan mengenai Orang Samaria yang Baik Hati). Kalau Anda
berbuat secara kemanusiaan, jangan lihat agamnya. Anggaplah mereka
sebagai sesama manusia. Sedangkan pemberian yang kita bicarakan ini
tidak dapat dianggap sebagai pemberian kemanusiaan, karena diberikan
pada institusi keagamaan. Kalau pemberian itu diberikan pada korban
bencana tsunami di Aceh, maka saya tidak akan berkomentar apa-apa.
Tetapi di sini kasusnya lain, pemberian yang diberikan oleh Master
itu dalam kapasitasnya sebagai seorang Bapak bagi umat Buddha,
padahal sekali lagi anaknya masih sangat kekurangan. Ini yang menjadi
pertanyaan saya dan sekali lagi saya tidak merasa bahwa ini merupakan
suatu penjelek-jelekkan terhadap pribadi seorang bhikshu. Ini adalah
pendapat pribadi saya saja.


 Cg ik:
Mungkin hal ini bisa anda bicarakan langsung dengan master 
Chingkung. Siapa tahu beliau akan menyokong anda. hehe..Bhiksu kok 
menyokong umat , bukannya disokong umat haha..

---- ----


Memang benar bahwa menjelek-jelekkan seorang bhikshu suci bukanlah
tindakan yang bajik, jangankan menghina bhikshu suci, menghina semua
orang itu suatu tindakan yang tindak baik (terlepas dari akibatnya
masuk neraka atau apa). Kita juga tidak akan senang kalau ada orang
yang menghina kita. Namun menurut pandangan saya sesuatu baru
dikatakan menghina, kalau kasusnya berikut ini. Misalnya ada bhikshu
suci yang kakinya pincang, lalu Anda menghina dia, "Pincang!
Pincang!" Nah, itu baru yang namanya menghina. Tetapi mempertanyakan
apa yang dilakukan seorang bhikshu tidaklah dapat dikatakan
penghinaan, sebagaimana halnya Anda mempertanyakan buku Beyond Belief
yang notabena juga ditulis seorang bhikkhu dari Australia. Apakah
menurut Anda sendiri tindakan Anda itu merupakan penghinaan bagi
bhikkhu Savatthi Dhammika, bhikkhu scholar yang luar biasa? Meskipun
saya sangat menghormati Bhante Dhammika, tetapi saya tidak melihat
bahwa pandangan Anda terhadap buku Beyond Belief merupakan penghinaan
terhadap Beliau.
Memang benar bahwa mencari-cari kesalahan itu bukan sesuatu yang
baik. Kita juga tidak senang bila kesalahan kita dicari-cari, jadi
bukan hanya pada bhikshu saja kita hendaknya tidak mencari-cari
kesalahan, melainkan pada sesama manusia. Nah, bila kita hendaknya
tidak mencari-cari kesalahan orang lain, bukankah mencari-cari
kesalahan sebuah buku berjudul Beyond Belief yang notabene juga
karangan seorang bhikkhu adalah tidak dibenarkan pula? Atau mungkin
Anda berpandangan bahwa seorang bhikkhu Theravada (Bhante Dhammika -
pengarang Beyond Belief) lebih rendah dari bhikshu Mahayana, sehingga
Beliau merupakan pengecualian dan boleh dikritik dalam hal
pandangannya sebagaimana yang termaktub dalam buku Beyond Belief?
Semoga saja tidak, karena sebagai seorang Mahayanis saya juga
mempelajari Theravada. Mahayana ataukah Theravada adalah sama
berharganya, sehingga kita hendaknya tidak sektarian.


Cg ik:
Penjelasan yang cukup jelas..
   Jika saya dianggap telah mengkritik sang bhikkhu maka saya mohon 
maaf. Jika direnungkan secara mendalam, memang saya telah 
mengkritiknya. Cuma yang berbeda adalah saya ga tahu kalo beliau itu 
seorang bhikkhu.  


--- ----

Apakah benar kita harus melindungi dan menyokong bhikkhu/ bhikshu
pelanggar sila? Saya kok tidak yakin. 

Cg ik:
Bhikkhu yang melanggar sila (tertentu)  kan bisa pulih lagi setelah 
diberi sanksi di hadapan sangha. Kita tidak dianjurkan menyokong 
bhikkhu dengan cara memilih2, ¡§oh..yang ini suci, o yang itu bijak, 
ayo kita sokong¡¨. ¡§oh yang ini memble, jangan disokong¡¨. 
Umat yang baik adalah menghormati para bhikkhu tanpa memandang usia 
masa vassanya, tanpa memandang kesucian ataupun noda2nya.       
------ ---------

Bila melanggar sila ia
seharusnya bukan bhikkhu atau bhikshu lagi, terutama bila telah
melanggar aturan parajika.

Cg ik:
Bila melanggar sila bukan lagi bhikkhu, maka dunia ini tidak akan 
ada bhikkhu. Tergantung Sila apa dulu dong. Kalo parajika, ya sudah 
harus keluar dari Sangha dong.  
 

   -  ---------  --

 Justru saya curiga bahwa ini merupakan
legitimasi bagi gelar kebhikkhuan. 

Cg ik:
Sutra2 tersebut adalah sutra Mahayana. JIka itu adalah Sutta Pali, 
saya baru  akan curiga karena katanya cikal bakal terbentuknya 
Mahasanghika ka nada hubungannya dengan sikap para Thera yang 
semakin ¡§melembaga¡¨ dan salah satu sebab terbentuk nya Mahayana 
adalah rasa tidak puas dengan sikap para Thera yang makin merasa 
¡§berkuasa¡¨ Ibaratnya mahayana itu lebih pro umat awam (Ya 
setidaknya ini pendapat Daisaku Ikeda). Jadi seandainya isi Sutra 
Mahayana mengharuskan para umat awam menjunjung tinggi para bhiksu 
dianggap sebagai karangan mereka maka tentu jadi kontradiksi.   

--------   -----------

Seolah-olah "right or wrong"
seorang bhikkhu/ bhikshu harus tetap dijunjung. Tentu saja saya
menolak pandangan ini.

Cg ik:
Kita tentu bukan menjunjung bagian wrong nya. Tujuan kita untuk 
menghormati bhikkhu tanpa melihat kesalahannya adalah sebuah latihan 
batin buat kita. Bukan masalah menentukan mana yang perlu diberi 
hormat mana yang tidak perlu. Jika ada 500 bhikkhu yang datang ke 
rumah anda, apakah anda akan bilang ¡§bagi yang melanggar sila, harap 
keluar dari sini, karena saya tidak ingin memberinya hormat¡¨. Tentu 
kurang bijak. Jadi perhatikan apa yang tersirat dalam sutra juga, 
siapa tahu ada pesan moral dalam penerapan ini. 

----- -------- 
   
Jika Anda mempelajari sejarah Tripitaka
sebagaimana yang dianut oleh para Buddhologi Barat seperti David J.
Kalupahana, Hans Wolfgang Schumann, Peter dela Santina, atau Kogen
Mizuno, jelas sekali bahwa Tipitaka maupun Tripitaka mengalam proses
evolusi. Kanon Pali saja tidak langsung jadi dalam bentuknya yang
seperti sekarang, apalagi kanon Mahayana. Kalau Anda mau bukti,
silakan lihat Sutra Penerangan Sempurna (Yuanjuejing) yang di
dalamnya mengandung kata "akupunktur." Jelas sekali bangsa India
tidak pernah mengenal teknik pengobatan khas bangsa Tionghua ini.
Selain itu coba lihat Brahmajala Sutra ?Mahayana (Fanwangjing), yang
jelas sekali menyebutkan bahwa seorang Bodhisattva hendaknya tidak
berjualan peti mati. Nah, bangsa India tidak pernah mengubur mayat
dengan peti mati. Jadi kedua sutra di atas jelas-jelas dikarang di
Tiongkok. Selama proses penyusunannya yang panjang itu, sangat
mungkin sekali beberapa ide baru telah dimasukkan ke dalamnya, demi
menyokong hal-hal tertentu; sebagaimana yang diungkapkan oleh Sdr.
Pelayan Buddha. Tetapi ini semua adalah pandangan saya yang saya
share ke Anda dan saya tidak mengatakan bahwa pandangan ini pasti
benar; karena kebenaran 100 % jelas tidak ada.


Cg ik:
Ya, Kitab suci Budhist Mahayana yang paling ramai didebatkan tentang 
aslinya atau tidak adalah yuanjuejing, fanwangjing, lengyenjing dan 
Mahayana Sraddhopatda sastra. Tapi semua ini merupakan polemic yang 
tidak ada ujungnya juga. 

Tapi Jangan terlalu gegabah mengetuk palu dengnan mengatakan 
Yuanjuejing dan Fanwangjing adalah karangan orang tiongkok. Mengenai 
Sutra karangan itu bukan tidak pernah diteliti oleh para scholar 
Buddhist Tiongkok. Dalam jaman dinasti Tang aja sudah ada 
pengklasifikasikan mana yang merupakan Sutra asli India, mana yang 
merupakan karangan orang Tiongkok. Tripitaka edisi Taisho juga telah 
mengklasfikasikannya. Dan Yuanjuejing diyakini merupakan Sutra asli 
dari India. Profesor Nanhuaijin adalah seorang ahli sejarah dan 
kebudayaan China, Buddhisme, Taoisme dan Confusianisme.  Beliau juga 
meyakini Yuanjuejing bukan Sutra karangan. Beliau sangat memahami 
tata bahasa tiongkok kuno. Dibandingkan dengan scholar barat yang 
dari segi pemahaman bahasa tiongkok kuno masih dipertanyakan, saya 
lebih memilih pendapat dia. Nanhuaijin berpendapat bahwa penelitian 
berdasarkan tekstual belaka sangat lemah. Ada faktor2 lain yang 
perlu diteliti secara lebih mendalam seperti tokoh penerjemah, gaya 
bahasa, kategori sutra, dll. 
    
Saya pribadi memang tidak memiliki kapasitas untuk menentukan mana 
yang karangan atau tidak. Jika saya memilih mempercayainya, terus 
terang itu dipengaruhi oleh pendapat dari para peneliti juga, tapi 
mereka juga tidak asal bicara.  Saya percaya Yuanjuejing bukan 
karangan karena saya melihatnya dari konteks isinya secara 
keseluruhan. Bukan kata per kata. Bukti yang anda sebutkan masih 
tidak dapat berpijak kuat, karena bisa saja ada sebagian kecil teks 
bahasa sanskerta yang salah diterjemahkan oleh para penerjemah. 
Mengenai sila bodhisattva yang tidak boleh jual peti mati, saya 
dapat mengatakan bahwa bisa saja orang salah menangkapnya, jika saya 
pribadi teliti secara tekstual, itu tidak menuju pada peti mati, 
melainkan papan/kayu pengangkut mayat. Jika yang disebut adalah peti 
mati, maka seharusnya hanya tertulis GuanChai (peti mati). Tapi yang 
tertulis adalah Guanchai Banmu Shengsi zhi Ju(papan kayu peti mati 
untuk menenaruh mayat). Karena bangsa China tidak mengenal alat 
meletakkan mayat untuk kremasi seperti bangsa India, maka bisa saja 
penerjemah memberi penjelasan tambahan dengan menggunakan istilah 
guanchai. Dan kemungkinan lain adalah karena di China tidak ada 
penggunaan papan peletak mayat untuk kremasi seperti orang India, 
maka penerjemah menggantikan dengan peti mati agar Sila itu menjadi 
dapat diterapkan. Kalo tidak nanti mereka akan rame2 jual peti mati 
lagi..hehe..
Demikian juga Yuajuejing bisa saja karena faktor yang sama. 
   
 Suranggama juga oleh para peneliti professional dan para ahli dari 
barat juga ikut2an mengatakan sebagai Sutra karangan orang tiongkok. 
Akhirnya ditemukan teks sanskritnya, maka polemiknya pun reda dengan 
sendiri. Yang jelas para bhiksu yang berlatih berdasarkan kitab2 
tersebut telah mencapai kesucian batin, seperti master Hanshan pada 
masa dinasti Ming ,beliau telah sering memberi ceramah tentang kitab 
Yuanjuejing, Lengyenjing. Reputasi pencapaian spiritual beliau sudah 
tidak diragukan lagi, apakah hanya bebarapa kalimat dari scholar 
barat yang meragukannya lalu meluluh lantakkan keabsahan sutra itu? 
Palu vonis masih belum saatnya diketuk. Di sini saya ingin tekankan 
bahwa berbagai Sutra2 karangan orang tiongkok itu ada, dan sudah 
diteliti, diklasifikasikan dan dipisahkan dari Tripitaka  oleh para 
sesepuh sejak dulu. Tapi ingat, Yuanjuejing, Lengyenjing dan 
fanwangjing sudah dikategorikan sebagai Sutra asli dari India setara 
dengan Avatamsaka, Sutra Intan, dll.  Fanwangjing diyakini asli dari 
India berdasarkan teksnya (khususnya 10 sila berat dan 48 sila 
ringan) yang selaras dengan beberapa Sutra lain, diantaranya  kitab 
terjemahan bhiksu Amoghavajra yang berjudul QianBojing (Sutra seribu 
Patra)dan  kitab Bodhisatva Pattimokha. (Sumber: Zhongguo Fojiao 
Baike Quanshu Jilid 1. Penerbit: Shanghai Gujie. Th.2000. 
Penyusun:ChenYongHai,bersama tim Universitas Nanking).

-------- ---------------


Kalau memarahi dalam arti memaki-maki bhikshu jelas saya tidak setuju
dan sangat menentang hal itu. Jangan cakravartin, rakyat biasa saja
juga tidak layak melakukannya. Selain pada bhikshu, kita juga tidak
selayaknya memaki-maki orang lain. Tetapi kita tetap harus bersifat
kritis, dalam artian sebagai umat kita boleh saja mempertanyakan
makna tindakan "Bapak-bapak" kita di atas sana. Jika tidak boleh
mempertanyakan, bukankah itu sama dengan monarki absolut? Bukankah
Buddhisme akan menjadi "kerajaan absolut para bhikshu." 

Cg ik: 
Mempertanyakan itu tentu saja boleh. Tapi orang arif tidak akan 
bertanya secara gegabah, di hadapan public atau di forum resmi atau 
di mana. SEmua ada etikanya.. Jika semua dilakukan dengan motivasi 
dan cara yang benar, ya monggo. Jangan membuat statement yang 
memancing orang lain sibuk sedangkan masalahnya belum jelas 
juntrungannya. Kayak Koran negeri kita aja.  Jadi demikianlah yang 
saya maksudkan. Jadi Sutra tentang larangan mengkritik biksu bisa 
saja demikian konteksnya. Tidak ada maksud ingin menjadi kerajaan 
absolute para bhiksu. Hal ini juga untuk menghindari campur tangan 
umat awam yang terlalu besar pada Sangha. Mengapa ? karena umat awam 
merasa berhak hanya karena mentang2 menjadi penyokong Sangha.  Jadi 
banyak faktornya.  


----------- --------------

Tentu saja,
saya mengetahui bahwa Buddhisme memiliki apa yang dinamakan vinaya.
Namun, terkadang Sangha sendiri tidak mengetahui secara pasti
tindakan anggotanya. Jika tidak ada umat yang melaporkannya maka
belum tentu mereka tahu. Nah, pertanyaan saya, apakah melaporkan itu
sama dengan menjelek-jelekkan? Tentu tidak, bukan?
 

Cg ik:
Iya tentu tidak. Tapi melaporkan ke mana dulu. Ke public, ke 
teman2 , ke wartawan? Beda lho. Makanya saya bilang kalo ada anggota 
sangha yang salah, kita kalo tidak sanggup diam, ya kita bicarakan 
ke Sangha secara langsung. Kalo atasanya salah mau lapor ke mana? 
Yang jelas dalam vinaya itu ada ketentuannya. Melapor ke public atau 
teman itu memang tidak menjelek2kan, tapi efek kupu2nya bisa runyam. 
Hanya satu anggota sangha yang salah, orang jadi tidak menghormati 
semua anggota sangha, kemudian tidak menghormat Triratna, dan bisa 
jadi sebenarnya dia bisa menjadi arahat, gara2 efek kecil ini, dia 
jadi tidak antusias untuk berlatih dharma. Jadi ada kemungkinan 
seperti itu. Memang tidak semua sih.. Intinya kita disuruh jangan 
kritik bhiksu itu ada pesan moral yang tersirat. Itu yang perlu kita 
pahami.   


-------- ---------

 Agar tidak terjadi
salah paham, perlu saya utarakan bahwa saya tidak mengatakan Master
Chingkung melanggar sila. Sam sekali tidak. Saya hanya berandai-
andai, apakah yang akan saya lakukan bila saya adalah Master
Chingkung yang memiliki uang sebanyak itu. Apakah yang akan saya
lakukan dengan uang itu bila saya adalah Beliau. Apakah itu sama
dengan mengatakan bahwa Beliau melanggar sila? Tentu tidak bukan.
Tiap orang khan boleh memiliki pendapat sendiri-sendiri dan sekali
lagi pendapat saya ini bukan yang paling benar. Orang lain juga boleh
berandai-andai, kalau dia yang menjadi sang mahaguru, maka apa yang
akan dilakukannya. Kalau Anda merasa bahwa tindakan Master Chingkung
sudah yang paling tepat ya silakan saja. Saya sangat menghormati
pandangan itu.

Cg ik:

Saya mengerti maksud anda. 

---------  ----------

Mengenai indikasi karangan orang belakangan, ya memang itu sangat
relatif. Jika Anda mengatakan bukan karangan orang belakangan ya
tidak masalah. Itu adalah pendapat Anda. Para ahli Buddhologi sendiri
juga pandangannya masih berbeda-beda. Tidak masalah. Justru
penghormatan terhadap berbagai sudut pandang itu merupakan latihan
praktek Dharma. Setidaknya itu pandangan saya. Silakan saja beda
pendapat.

Cg ik:

Ya..ya benar.      
------    ------------- 

Lebih jauh lagi mengenai kritik. Suatu kritik harus ada juga dasarnya
dan bukan hanya asal kritik, harus ada alasan yang jelas. Jujur saja,
di kalangan umat Buddha sendiri sering dijumpai kritik yang asal
bunyi. Banyak yang hanya mau mengkritik, tetapi waktu ditanya alasan
atau baiknya bagaimana, tidak dapat memberikan pandangan logis yang
masuk akal. Kritikan hanya didasari oleh kemarahan dan kebencian
serta tidak membawa wawasan baru. Sedangkan kritikan atau pendapat
saya bukankah selalu saya sertai argumen-argumen yang menurut saya
logis? Maaf, saya sebut "menurut saya" karena barangkali bagi orang
lain ini tidak logis. Tetapi tidak mengapa. Saya juga tidak keberatan
bila argumen saya disebut tidak logis. Bukankah telah saya sebutkan
pada awal diskusi bahwa banyak kepala akan banyak pendapat? Selain
itu bagi saya tujuan diskusi adalah share pandangan masing-masing.
Jadi tidak ada yang benar atau salah. Orang yang asal mengkritik saya
setuju dengan Anda, memang dia sudah selayaknya masuk neraka.

Cg ik:
Mungkin saya pernah begitu kali ya secara tidak sadar atau tidak 
sengaja.. ya..maklumin ya, masih banyak noda batinnya hehe..

-------- -------------

Mempertanyakan kesalahan seorang bhikshu pada bhiksu senior.
Pertanyaan saya, bila seniornya sendiri yang berbuat kesalahan, kalu
kita harus pertanyakan pada siapa lagi? Apakah mungkin kita selalu
mempertanyakan pada seniornya?

Cg ik:
Senior juga tunduk pada vinaya. Jadi dalam pembacaan vinaya setiap 
hari uposatha adalah untuk memeriksa apakah kita telah melanggar 
sila atau tidak bagi semua anggota sangha termasuk senior. Jadi 
sebenarnya Vinaya itu sendiri adalah sarana untuk selalu 
mempertanyakan kesalahan Bhiksu, untuk apa kita yang mempertanyakan? 
Jadi konteks jangan mencari kesalahan bhiksu itu juga jangan dicerna 
secara mentah-mentah. Tentu ada pengecualiannya yang tergantung pada 
banyak alasan dan faktor.  Seperti sang Buddha menasihati kita untuk 
jangan mencari2 kesalahan orang, apakah berarti kita harus diam saja 
sampai mati melekat pada kalimat ini jika anak kita nakal misalnya?  
Tidak juga bukan?  


 -----------  --------------


 Lalu menurut Anda untuk apa bertanya
pada seniornya, jika menurut Anda kita seyogianya
tidak "mempertanyakan" atau "mencari-cari" kesalahan seorang bhikshu?
Logikanya, jika tidak "mempertanyakan" atau "mencari-cari" kesalahan
seorang bhikshu, maka seorang bhikshu akan selalu tampak "suci-
murni," bukan? Nah, kalau semua bhikkhu/ bhikshu sudah "suci-murni,"
untuk apa lagi kita lapor pada "atasan"nya. Apa lagi yang mau
dilaporkan?

Cg ik:
 Yang saya maksud adalah jika kita sudah tidak dapat menahan diri 
utk mencampuri urusan sang bhiksu, maka opsi selanjutnya adlah 
mencoba mengkonsultasikan masalah ini kepada gurunya sang bhiksu 
pelanggar. Jika batin kita berkecamuk terus dengan hal ini, 
bagaimana kita bisa berlatih denagn tenang? Maka TEntu kita cari 
jalan keluarnya dengan memilih opsi lain. Jadi semuanya bersifat 
fleksibel. Ada makna yang tersirat gitu. Setidaknya ini pendapat 
pribadi saya. Mungkin saja saya salah, wong saya juga bukan ahli 
vinaya, hehe..Cuma sharing pandangan saja. Dan sekali lagi, pendapat 
saya tidak selalu benar, bahkan mungkin dua jam kemudian pandangan 
saya jadi berubah lagi. Haha¡Kmaklum pikiran ini liar bagaikan sapi 
liar. 

 

-------- ---------------
 

Baik saya kira sekian dahulu, karena sudah cukup panjang. Semoga Anda
jangan bosan membacanya.

Cg ik:
Bro Tan memang ahli debat hehe¡Ksekali tarik nafas semua uneg2 nya 
bisa dituangkan ke atas layar monitor. Kalo saya sih bengong 
dulu..ngetik sana sini baca lagi lalu hapus lagi. Hehe¡K
Btw, diskusi yang mengasyikkan juga ¡K Cuma mohon jangan merendahkan 
lho..ya..


Amitofo

Cg ik
  










------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke