Namo Buddhaya,

Sdr. Chingik yang budiman,

Terima kasih sekali atas tanggapannya yang menarik.

--- In [email protected], "ching ik/ djoni" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  Amitofo
> 
> hi bro Tan,
> Saya baru dapat jawaban baru lagi nih mengenai peti mati dan 
> akupuntur yang ada di Fanwangjing dan Yuanjuejing.
> 
> Penggunaan peti mati ternyata juga ada tercatat dalam kitab 
> Dirghagama Sutra (dhiganikaya-nya versi Sanskrit, ah tentu kamu 
> sudah tahu), bagian Sutra YouxingJing (kitab yang selaras dengan 
> Mahaparinibbana Sutta (pali))  
> Berikut saya akan kutipkan Mahaparinibbana Sutta (pali)(saya copy 
> paste dari website kalyanadhammo)  dan membandingkannya dengan 
Sutra 
> Youxingjing (sanskrit)  yang isinya lebih kurang sama. 

TAN:

Maaf, saya masih belum dapat berkomentar apa-apa, karena saya belum 
membaca mengenai Sutra Youxingjing tersebut. Kalau Bro. ada bahasa 
Inggrisnya, apakah saya dapat meminjamnya. Untuk memberikan komentar 
lebih jauh saya harus menelaahnya secara keseluruhan.

> 
> Mahaparinibbana Sutra bagian pemujaan terhadap layon (jenasah?) 
sang 
> Buddha:
> 
> Kemudian orang-orang Malla dari Kusinara berkata kepada YM 
> Ananda, "Bagaimana, bhante, hendaknya kami bertindak terhadap layon 
> Sang Tathagata?"
> 
> "Sebagaimana mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra, 
> orang-orang Vasittha, demikianlah hendaknya bertindak terhadap 
layon 
> Sang Tathagata."
> 
> "Dan bagaimana, bhante, mereka bertindak terhadap layon raja 
pemutar 
> cakra?"
> 
> "Mereka, orang-orang Vasittha, membungkus layon raja pemutar cakra 
> dengan kain linen baru. Setelah membungkusnya dengan kain linen 
> baru, mereka membungkusnya dengan kapas sasak. Setelah 
membungkusnya 
> dengan kapas sasak, mereka membungkusnya dengan kain linen baru. 
> Setelah melakukannya sebanyak 500 kali, mereka MENEMPATKAN LAYON 
> DALAM BEJANA-MINYAK DARI BESI,MENUTUPINYA DENGAN PENUTUP BESI, dan 
> membuat tumpukan kayu bakar sepenuhnya dari kayu wangi, serta 
> mengremasi layonnya. Lalu mereka mendirikan sebuah stupa bagi raja 
> pemutar cakra itu di perempatan jalan raya. Demikianlah mereka 
> bertindak terhadap layon raja pemutar cakra. Sebagaimana mereka 
> bertindak terhadap layon raja pemutar cakra, orang-orang Vasittha, 
> demikianlah hendaknya bertindak terhadap layon Sang Tathagata.  
> 
> 
> 
> Kemudian dalam kitab YouXingJing (Saya terjemahkan secara literal):
> 
> Setelah orang2 Malla memberi persembahan, 
>  YM Ananda lalu berkata "Saya mendengarnya langsung dari Hyang 
> Buddha, mendapat petunjuk langsung dari Hyang Buddha, bila ingin 
> mengebumikan Sarira, hendaknya mengebumikannya seperti cara 
> mengebumikan raja Cakravartin. Lalu (mereka) bertanya pada YM 
> Ananda, "Bagaimana cara mengebumikan raja Cakravartin" ?. (Ananda)
> menjawab, "Cara mengebumikan raja Cakravartin adalah pertama-tama 
> membersihkan tubuh-nya dengan menggunakan minyak wewangian. Lalu 
> meletakkan kayu Karpala baru disekeliling tubuhnya. Membungkusnya 
> dengan kain sebanyak 500 lembar. Menempatinya di dalam peti emas 
> yang dicurahkan dengan minyak wijen. Setelah itu angkatlah peti 
> tersebut dan meletakkannya ke dalam peti kedua yang terbuat dari 
> besi dengan ukuran yang lebih besar. Kemudian menempatkannya lagi 
ke 
> dalam peti yang terbuat dari kayu cendana sebagai lapisan peti 
> terluar. Lalu membungkusnya dengan kain tebal dan taburi wewangian 
> yang terkenal. Setelah (kremasi) mengumpulkan reliknya, Lalu 
> mendirikan sebuah stupa itu di perempatan jalan raya. stupanya 
> digantung kain umbul2 agar para pejalan di negeri itu dapat melihat 
> stupa sang raja untuk merenungkan tindak tanduk yang benar dari 
> (sang raja) sehingga dapat memberikan banyak manfaat. 
> ------------- --------
> 
> Pada kalimat dalam Maha Parinibbana Sutta:
> "mereka MENEMPATKAN LAYON DALAM BEJANA-MINYAK DARI BESI,MENUTUPINYA 
> DENGAN PENUTUP BESI" bukankah ini menindikasikanya sebagai peti 
mati 
> yang terbuat dari besi? Dalam YouxingJing lebih konkrit lagi dengan 
> menyebutkan peti mati yang terbuat dari besi, emas dan kayu 
cendana. 
> Terlepas dari masalah sedikit perbedaan penerjemahan kedua kitab di 
> atas, yang jelas penyebutan peti mati sudah ada di dalam kitab 
> Dirghagama Sutra yang jelas2 kitab asli sanskrit. Berarti apa yang 
> bro Tan katakan bahwa Fanwangjing memiliki istilah peti mati 
> membuktikan sebagai kitab karangan orang tiongkok tidaklah benar. 

TAN:

Ya, sebagaimana yang sudah saya katakan pada posting terdahulu, 
memang benar bahwa kita dapat memberikan bukti yang menguatkan dan 
tidak menguatkan. Tetapi bukankah penggunaan peti mati tetap bukan 
merupakan sesuatu yang populer di India? Adanya sila tersebut dalam 
Fanwanjing mengindikasikan bahwa hal itu merupakan suatu praktek yang 
tersebar luas. Bila tidak, mengapa perlu dikeluarkan sila semacam itu?
> 
> --------------
> 
> Kemudian dalam kitab Ekottaraghama bagian Vagga Samyakprahana 
> mengisahkan Wafatnya ibu dari Raja Pasenadi. Pada saat itu salah 
> satu menteri menyiapkan upacara kemangkatan secara besar-besaran 
> dengan berbagai macam perlengkapan, salah satunya adalah peti mati 
> besar (tertulis dalam bahasa mandarin : "daguan=peti mati besar") 
> yang diberi lukisan. 
> 
> Salah satu teman di internet menjelaskan bahwa penggunanan peti 
mati 
> di India hanya oleh kalangan orang yang berharta melimpah dan kaum 
> raja. Dan penggunaan peti mati tidak berarti dengan cara dikubur, 
> tapi tetap dikremasi juga.
> Berdasarkan Sutra Dirghagama dan Ekottaragama ini, maka jelaslah 
> bahwa adanya istilah peti mati tidak dapat dijadikan patokan bahwa 
> Fanwangjing adalah karangan orang tiongkok. 

TAN:

Sudah saya tanggapi di atas. Jadi benar bukan bahwa penggunaan peti 
mati bukanlah sesuatu yang populer di India, baik zaman dahulu maupun 
sekarang.

> 
> --------
> Kemudian istilah akupuntur (zhenjiu) juga tidak hanya terdapat 
dalam 
> kitab Yuanjuejing. Dalam kitab FaJuBiYuJing (Dharmapada versi 
> sanskrit) juga ada, dibagian varga Duowenpin. Dharmapada versi 
> sanskrit ada 4 jenis terjemahannya. Yang saya sebutkan ini adlah 
> terjemahan dari bhiksu Faju dan Fali sebanyak 4 jilid. Bagian varga 
> ini mengisahkan bahwa seorang teman baik dari Sudatta (Anatapindika)
> yang bernama Haosi (Pranita dana?) sakit keras. Namun berhubung 
> Haosi ini tidak memiliki keyakinan pada Buddha dan berbagai ilmu 
> pengobatan, maka para teman2 nya menasihatinya untuk pergi berobat, 
> beliau malah menolaknya dengan berkata bahwa tekadnya sudah bulat 
> untuk tidak mau berobat. Sudatta lalu memperkenalkannya pada sang 
> Buddha (dengan berbagai penjelasan hingga membuat Haosi mau 
> mendengarnya), setelah bertemu dengan sang Buddha, Haosi 
mendapatkan 
> pancaran cahaya dari tubuh sang buddha lalu sembuh, dan sang Buddha 
> bertanya mengapa tidak mau berobat, Haosi lalu menjawab bahwa 
> keyakinan yang dianutnya (tertulis bahwa beliau menyembah matahari 
> dan bulan sejak dari leluhurnya) berpantangan untuk menggunakan 
obat-
> obatan. Nah dalam berpantangan untuk menggunakan obat-oabatan ini, 
> dalm sutra ini tertulis YuyaoZhenjiu (obat2an dan akupuntur). Jika 
> kita membaca baigan varga ini secara keseluruhan, yang dimaksud 
> tidak berarti sekedar akupuntur. bisa juga berkonotasi "ilmu 
> pengobatan alternatif". Penerjemah menggunakan isitlah obat2an dan 
> akupuntur ini bisa semacam peribahasa China. Contoh: Badao Xiangzhu 
> (secara literal artinya adalah  mencabut pedang untuk saling 
> menolong), tapi arti yang dimaksud adalah cuma saling tolong 
> menolong ( gak slalu harus mencabut pedang untuk melawan musuh). 
> Jika diterjemahkan ke bahasa inggris, bisa jadi orang yang 
> menerjemahkannya itu langsung menerjemahkan secara literal dan 
> akhirnya jadi salah kaprah.
> Kemudian ada yang menjelaskan juga bahwa akupuntur yang dimaksud 
> tidak harus akupuntur, mungkin bisa sejenis yang istilah 
sanskritnya 
> tidak ada padanannya dalam bahsa tiongkok, maka digunakanlah 
> akupuntur. Kemungkinan lain adalah sang penerjemah salah 
> menerjemahkannya. Alasan2 ini lebih bisa diterima dari pada alasan 
> yang bro Tan sebutkan (ini cuma pendapat pribadi saya)

TAN:

Ya memang uraian Anda cukup masuk akal. Mungkin saja semua ini hanya 
masalah istilah. Tetapi saya tidak dapat berkomentar panjang lebar 
karena saya belum baca Dharmapada versi Sanskrit (Gandhari?). Selain 
itu kita juga harus mengetahui apakah istilah sanskrit aslinya, 
sehingga diterjemahkan sebagai YuyaoZhenjiu. Tanpa mengetahui naskah 
aslinya, apa yang Anda ungkapkan di atas itu hanya sekedar dugaan 
saja. Lagipula kalau diartikan sebagai pengobatan alternatif, apakah 
tidak ada istilah lain? Mengapa tidak terjemahkan saja dengan kata 
pengobatan dalam artian umum? Tanpa menyertakan kata Zhenjiu yang 
berarti akupunktur?
Meskipun uraian Anda sangat masuk akal, tetapi karena saya belum 
mengetahui apa kata asli Sanskritnya, maka saya anggap kasus ini 
masih terbuka. Setiap orang berhak memberikan interpretasinya masing-
masing.

> 
> Jadi kesimpulan saya adalah bawah mengatakan Yuanjuejing merupakan 
> karangan orang tiongkok karena terdapat isitlah akupuntur 
(yangtidak 
> dikenal di india) bukanlah alasan yang kuat, karena Dharmapada 
versi 
> Sanskrit juga terdapat istilah ini. 

TAN:

Masalahnya setahu saya naskah-naskah Sanskritnya kebanyakan sudah 
hilang, sehingga kita tidak dapat memberikan jawaban pasti. Semuanya 
hanyalah dugaan yang dianggap masuk akal oleh si pembuat dugaan itu.

Tetapi sekali lagi terima kasih untuk Sdr. Chingik karena telah 
memberikan informasi yang menarik ini.

Metta,

Tan





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke