Tanggapan Tan terhadap Sdr. Chingik Tertanggal 8 Februari 2006 Saudara Chingik yang budiman,
Terima kasih atas tanggapannya, mari kita lanjutkan diskusi yang semakin menarik ini. Topik I Masalah Transenden (1)Anda mengatakan: "Ya saya tahu. Wong Buddha yang terbentuk dalam pikiran saya juga masih yang ilusif,yang masih berinteraksi dengan dosa,lobha, moha, hehe.." Tanggapan saya: Ya tentu saja, "Buddha" yang ada dalam benak Anda, saya, dan kita semua adalah "konsep tentang Buddha" dan bukannya Buddha yang sebenarnya. Ini tidaklah masalah, asalkan Anda tidak memaksakan "konsep Buddha" Anda pada orang lain, sebagaimana halnya penganut agama-agama tertentu memaksakan "konsep tentang mahadewa" mereka pada orang lain. Kalau orang lain tidak mau menerima, maka ada dua tanggapan mereka: a.Dalam tataran yang paling rendah akan merasa tidak b.Dalam tataran yang lebih tinggi ingin membunuh orang yang tidak mau menerima tersebut. Kedua hal ini sangat nyata dalam sejarah penyebaran agama-agama tersebut. Oleh karena kita menyadari bahwa "konsep Buddha" atau "konsep mahadewa" kita adalah bentukan permainan pikiran semata, maka tidak seyogianya dipaksakan pada orang lain. Tiap orang berhak untuk mengembangkan "konsep" mereka sendiri dan sesungguhnya tidak ada benar dan salah, karena semuanya adalah bagian dharmadatu. Satu- satunya hal yang salah adalah menganggap konsep tersebut sebagai sesuatu yang absolut. Kendati "yang tidak absolut" tersebut bukanlah lawan "yang absolut." Beberapa waktu yang lalu saya baru belajar dari kursus Abhidhamma, bahwa sankhatadhamma bukanlah lawan asankhatadhamma. Namun, adalah hal yang tidak benar, bila kita mengacaukan sankhatadhamma dengan asankhatadhamma, dimana pengacauan itu sekali lagi adalah permainan pikiran kita belaka. (2)Anda mengatakan: "Tapi jika mengatakan buku BB dapat menjadi sarana untuk membantu orang memahami Tuhan yang sejati, berarti ulasannya masih kurang jelas dan lengkap. Setidaknya bagi pembaca awam seperti saya. Buktinya tidak sedikit orang yang salah menangkap, dan contohnya ya pak Hadi. Beliau juga tidak menangkap bahwa buku BB ini adalah sarana untuk membantu orang memahami Tuhan sejati. Berarti masih kurang jelas, kurang lengkap." Tanggapan saya: Mustahil memberikan ulasan yang lengkap mengenai Tuhan yang sejati dengan kata-kata atau buku. Tinta sejumlah alam semesta dan tumpukan kertas setinggi Gunung Sumeru tidak akan cukup untuk menggambarkannya. Jadi ya wajar kalau tidak lengkap. Lagipula Tuhan yang sejati tidak akan dapat dipahami hanya dengan membaca buku. Karena itu "tuntutan" Anda terhadap buku Beyond Belief sangatlah tidak masuk akal. Saya memahami "sekilas" mengenai Tuhan yang sejati bukan dari hasil membaca buku, melainkan melalui melihat keindahan alam dan kicauan burung. Tiba-tiba entah mengapa saya merasa bahwa deru angin dan kicauan burung itu semuanya melantunkan," Namo Amiduofo." Semuanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kalau ada orang yang salah menangkap, jangan salahkan bukunya, salahkan wawasan pandangan orang itu yang masih agak dangkal. Ibaratnya Anda tersandung batu dan jatuh, maka jangan salahkan batunya, tanyalah pada diri Anda mengapa Anda kurang awas. Justru pemahaman atas Tuhan yang sejati tidaklah didapat dari membaca kitab-kitab suci. Anda perlu membebaskan diri dari dogma agar dapat memahami Tuhan yang sejati walau hanya sekilas. Karena itulah buku Beyond Belief, justru hendak menunjukkan bahwa konsep Tuhan menurut kitab suci itu mengandung kejanggalan atau tidak membawa pada "yang sejati," oleh karena itu... tinggalkanlah! Masuklah pada alam permenungan dharmadatu yang sejati. Bebaskan dirimu dari belenggu dogmatisme kitab suci. Demikianlah pesan yang diberikan oleh buku Beyond Belief. Bila Anda tidak dapat menangkap pesan itu, mohon jangan menyalahkan buku tersebut, yang notabene juga ditulis oleh seorang bhikkhu. (3)Anda berkata: "Wah, suruh aja Fransiscus Xaverius yang jelasin. Beliau pasti tidak melihatnya begitu bukan?" Tanggapan saya: Hahahahaha... Jika diminta menjelaskan ayat tersebut St. Fransiscus akan berkata, "Buat apa aku menjelaskannya? Apa yang tertulis hanyalah "sampah" dan tidak membawa pada kesejatian. Akulah kitab suci sejati dan kitab suci adalah aku. Aku telah mencapai "Manunggaling Kawula Gusti." Untuk apa menafsirkan kembali sesuatu yang "tidak dapat ditafsirkan." " Anda paham maksud saya? Prinsip ini sebenarnya sudah ada dalam Samdhinirmocana Sutra. (4)Anda kemudian memberikan tafsiran sebagai berikut sebagai tanggapan pertanyaan saya: "Bangsa x adalah ibarat dosa, maka kita disuruh membunuh dosa2 dalam batin kita. Gadis2 perawan adalah nilai2 positif yang masih ada di dalam batin kita, maka pertahankanlah nilai2 itu, jangan ikut dibunuh. ¡§untuk bebas dinikahi bangsa Y¡¨ berarti meleburkan diri menyatu dengan kesucian (bangsa x adalah noda batin, dan bangsa y adalah kesucian batin).¡§Bunuhlah dan kejarlah¡¨ berarti kikislah..¡§orang yang tidak percaya¡¨ berarti tidak memiliki keyakinan.¡§mahadewa¡¨ berarti hukum kebenaran (Karena mereka menganggap Tuhan adlah kebenaran itu sendiri). Jadinya: Kikislah ketidakyakinan pada hukum kebenaran." Tanggapan saya: Penjelasan Anda seolah-olah masuk akal. Tetapi ingatlah: a.Berdasarkan konteksnya, ayat itu harus dijalankan secara harafiah, yakni terhadap bangsa Amalek, kalau tidak percaya baca saja kitab Bilangan. Itu adalah perintah mahadewa terhadap Musa. Dalam memahami suatu ayat, Anda harus mengetahui konteksnya. b.Tafsiran itu tidak masuk akal, karena untuk menjelaskan mengenai hukum kebenaran tidak perlu menggunakan kata-kata sadis seperti itu. Kebenaran adalah cinta kasih dan tentu saja bertolak belakang dengan kata, "bunuhlah," "bantailah," "rebuslah," "gorenglah," dan lain sebagainya. Jadi saya masih belum dapat menerima tafsiran Anda. Sekedar tambahan, kalau Anda bisa menafsirkan ayat yang bunyinya negatif demikian menjadi sesuatu yang "positif," mengapa Anda tidak dapat menafsirkan "ayat-ayat" Beyond Belief menjadi sesuatu yang positif pula? (5)Anda mengatakan: "Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Kekristenan sudah merambah sedimikian rupa di dunia ini, maka kita harus menetralisir isi alkitab melalui penjelasan yang sesuai dengan hukum dharma (kebenaran universal). Bukan dengan cara menyanggahnya." Tanggapan saya: Buku Beyond Belief tidaklah menyanggahnya, melainkan meletakkannya pada tempat yang benar. (6)Anda mengatakan: "Jadi saya katakan dharma yang universal dapat diaplikasikan di mana dan kapan saja, bahkan pada kitab suci kaum tirtika. Ini yang disebut transformasi pikiran." Tanggapan saya: Mengapa Anda tidak menganggap Beyond Belief juga sebagai salah satu kitab suci kaum tirtika? Sehingga dengan demikian transformasi pikiran Anda menjadi lebih sempurna. (7)Anda mengatakan: "Pendapat saya ini tidak sepenuhnya benar, tapi saya yakin cara ini tidak lebih buruk dari cara dan misi BB. Atau bila perlu disinergikan ." Tanggapan saya: Saya sangat setuju untuk mensinergikannya. Justru itu, kita harus membuka diri terhadap semua metode dalam menyebarkan Dharma (bukan dalam artian Buddhisme secara sempit). Saya pikir yang penting adalah motivasinya. Selama motivasi kita murni, maka "go ahead!" (8)Anda mengatakan: "Di atas saya sudah katakan memang sayang sekali tentang apa yang tertulis dalam kitab suci Kristen." Tanggapan saya: Nah, itulah Bro! Khan saya sudah bilang bahwa mengajarkan kebenaran tidak perlu dengan kata-kata sadistik. Saya malah lebih tersentuh dan kadang-kadang meneteskan air mata bila membaca Sutra-sutra Buddhis, seperti Sutra Damamukanidana (Xianyujing = Wise and Foolish Sutra) dan Sutra Saddharmapundarika. Waktu membaca Xianyujing, hingga ke kalimat: ".... dan Tiga Permata-pun terwujud di dunia ini." Entah kenapa ada getaran memasuki hati saya dan mata ini meneteskan air mata. Jadi jelas sekali ajaran berisikan kalimat welas asih akan lebih tepat dan menyentuh dalam menyebarkan kebenaran. Buku Beyond Belief justru hendak menyadarkan kita akan hal ini, sehingga saya merasa bahwa buku Beyond Belief mengandung Dharma yang luas dan dalam. (9)Anda mengatakan: "Maka bukankah lebih baik mentransformasikan cara pandang mereka tentag Tuhan dari yang personikasi menjadi yang transenden alih-alih dgn menyanggahnya." Tanggapan saya: Mentransformasikan seseorang itu tidak mudah dan sungguh menyakitkan. Kadang agar seseorang mau bangun dari tidurnya, kita harus mengguyurnya dengan air. Buku Beyond Belief ibaratnya adalah guyuran air itu. Memang kebenaran itu pahit. Sekali lagi saya nyatakan bahwa buku Beyond Belief tidak berusaha menyanggah agama lain, melainkan mencoba menempatkannya pada posisi yang benar. Transformasi pikiran itu kadang-kadang sangat menyakitkan dan membutuhkan metode yang tidak lazim. Anda pernah baca riwayat Milarepa? Topik III (1)Anda mengatakan: "Wah Bukan tidak merasa, saya malah gak tahu lho kalo beliau itu seorang bhikkhu." Tanggapan saya: Nah, kalau begitu Anda sekarang sudah tahu. (2)Anda mengatakan: "Seandainya memiliki motivasi dan dana yang cukup, belum tentu dapat dengan mudah membangun fasilitas itu, karena semuanya tergantung pada dukungan dari berbagai pihak, sumber daya manusia, dan banyak faktor lainnya." Tanggapan saya: Kalau mau bangun sekolah Buddhis yang bermutu, saya akan bantu dengan menyumbangkan saran, karena saya belakangan ini sudah melakukan studi sekolah-sekolah bermutu. Kalau SDM-nya sebenarnya banyak umat Buddha yang bermutu. Mengapa tidak kita rangkul mereka semua? (3)Anda mengatakan: "Bahkan ada organisasi Buddhist X yang tidak senang sama organisasi Buddhist Y melebihi ketidak senangan mereka pada agama lain." Tanggapan saya: Nah, daripada Anda dan Pak Hadi mengkritik buku Beyond Belief. Bukankah lebih baik kita "gojlog" umat-umat Buddhis dari organisasi X yang sesat dan buta itu? Mari kita bersatu padu "menggojlog" mereka habis-habisan, agar sadar dari ketersesatannya, bertobat, dan kembali ke jalan yang benar. Mendingan kita satukan kemampuan kita untuk menyadarkan mereka. Diskusi dengan topik ini sebenarnya tidak ada gunanya, tetapi saya masih mau menanggapi Anda, karena merasa bahwa Anda adalah orang baik. (4)Anda mengatakan: Emangnya untuk apa? Tanpa "membeli" pun tidak ada masalah. Tanggapan saya: Ya saya pikir juga begitu, tanpa kita memberikan uang pada organisasi agama lain, sebenarnya tidak masalah. Karena itu khan saya bilang mendingan untuk membenahi dulu organisasi Buddhis kita. Tapi ini hanya pendapat saya saja yang timbul karena kepedulian terhadap kondisi umat Buddha. (5)Anda mengatakan: "Beliau tidak mau melekat pada pertimbangan ¡§ anak saya harus dapat makan dulu baru lu dapat makan." Tanggapan saya: Ya terserah, tapi kalau saya tetap tidak setuju. Bagi saya tetap "anak sendiri dulu harus tercukupi, baru orang lain." Kalau tidak sanggup mengasihi yang dekat dengan Anda, bagaimana mungkin dapat mengasihi yang jauh? Memang pendapat tiap orang berbeda- beda. Seperti yang saya kemukakan pada posting terdahulu, tiap orang berhak untuk memiliki pendapat berdasarkan apa yang dianggapnya benar (kalau kita berpegang pada sesuatu yang kita anggap salah, bukankah itu munafik namanya?). Jadi saya pikir ini tidak perlu dipermasalahkan lagi. Kalau Master Chingkung memiliki kebijaksanaan demikian, ya silakan saja. Saya toh tidak dapat memaksa Beliau untuk merubah pandangannya. Begitu pula halnya dengan saya, yang tidak dapat dipaksa menerima pandangan Master Chingkung sebagai kebenaran. Karenanya, kita saling toleransi. Biarlah Master Chingkung menjalankan apa yang Beliau anggap baik dan saya menjalankan apa yang saya anggap baik. Hal yang sama juga berlaku pada buku Beyond Belief. Pihak yang pro silakan jalan sendiri. Pihak yang kontra silakan jalankan metodenya sendiri yang dianggap baik. Asalkan tidak saling mengganggu dan memiliki tujuan mulia, maka silakan jalan sendiri- sendiri. Beres bukan? (6)Anda mengatakan: "Saya lebih suka Kitab suci Buddhist diterjemahkan oleh sebuah tim bukan perorangan." Tanggapan saya: Nah, ini dia! Anda selalu melihat dari sudut pandang idealis. Padahal pembentukan tim semacam itu masih mustahil. Tanpa dukungan sponsor dana yang kuat hal itu sangat mustahil. Siapa yang memberikan akomodasi dan makanan bagi anggota tim yang ratusan itu? Butuh dana gedhe. Di zaman dahulu saja, yang sanggup melakukan (mensponsori) penterjemahan adalah kalangan istana. Kalau saya, saya biasanya mendorong kawan-kawan saya untuk melakukan terjemahan individual dulu. Hasilnya kita kumpulkan di milis tripitaka_indonesiana. Tunggu beberapa puluh tahun lagi sampai umat Buddha bangkit rasa cintanya terhadap Tripitaka, barulah mungkin mereka bersedia untuk mempelajari dan memperbaiki terjemahannya. Kita tidak mungkin menunggu orang lain lain sebagai pelopor. Kalau kita bisa ya jalan sendiri dulu. Kalau di zaman sekarang alasan kehati-hatian dan keseriusan sehingga seseorang enggan menterjemahkan Tripitaka adalah cerminan kemalasan mereka saja. Analoginya dulu saya pernah hendak memberikan sumbangan uang pada pengemis di jalan. Tetapi kawan saya bilang, "Sudah tidak usah menyumbang. Nanti mereka tambah malas saja." Mungkin kata-kata kawan saya itu terdengar masuk akal, tetapi saya melihat bahwa itu cerminan rasa pelitnya saja. (7)Anda mengatakan: "Mungkin hal ini bisa anda bicarakan langsung dengan master Chingkung. Siapa tahu beliau akan menyokong anda. hehe..Bhiksu kok menyokong umat , bukannya disokong umat haha." Tanggapan saya: Lho saya tidak minta disokong kok. Saya khan bicara masalah korban tsunami. Pada kalimat mana saya meminta sokongan Master Chingkung. (8)Anda mengatakan: "Cuma yang berbeda adalah saya ga tahu kalo beliau itu seorang bhikkhu." Tanggapan saya: Bukankah Anda pada posting terdahulu mengatakan bahwa kesalahan yang tidak disadari juga dapat membuahkan karma buruk? (9)Anda mengatakan: "Bhikkhu yang melanggar sila (tertentu) kan bisa pulih lagi setelah diberi sanksi di hadapan sangha." Tanggapan saya: Tentu saja setelah pelanggaran itu dipulihkan, kita harus tetap menghormatinya kembali. Bhikkhu juga manusia yang bisa berbuat salah, sebenarnya itu inti maksud saya. Kita janganlah mendewa-dewakan bhikkhu. Jangan hanya karena ia berjubah dan bercukur gundul. (10)Anda mengatakan: "Umat yang baik adalah menghormati para bhikkhu tanpa memandang usia masa vassanya, tanpa memandang kesucian ataupun noda2nya." Tanggapan saya: Benar sekali, dan ini tidak hanya berlaku bagi bhikkhu saja, tetapi bagi semua manusia. Jadi ini bukan hak istimewa bhikkhu. Ini adalah hal penting yang hendak saya sampaikan. Seorang Tan, seorang Chingik, dan siapa saja pasti punya kesalahan-kesalahan dan kelemahan. Tetapi kita harus tetap saling menghormati. (11)Anda mengatakan: "Ibaratnya mahayana itu lebih pro umat awam." Tanggapan saya: Menurut Hans Wolfgang Schumann atau David J Kalupahana Mahayana itu tumbuh di kalangan biara (monastik), jadi masih belum ada kesepakatan mengenai hal ini. Oleh karena itu, kita melihatnya dari inti pesannya saja. Saya melihat bahwa hal itu mengandung semacam pelembagaan "hak istimewa" bagi para biarawan. Padahal sebagaimana yang sudah saya kemukakan di atas, kita hendaknya tidak hanya hormat bagi para biarawan saja, melainkan pada seluruh umat manusia. Kita semua adalah anggota Sangha. Jadi tidak ada hak istimewa bagi para bhikkhu. Anda tidak boleh mengkritik para bhikkhu dengan semena-mena, tetapi apakah menurut Anda kita lantas boleh mengkritik teman kita sesama umat awam dengan semena-mena? Tentu tidak boleh juga bukan? (12)Anda mengatakan: "Kita tentu bukan menjunjung bagian wrong nya." Tanggapan saya: Setuju, memang kita hendaknya tidak menjunjung bagian "wrong"nya. Tetapi mengabaikan bagian wrong tersebut seolah- olah tidak ada adalah juga sesuatu yang salah. Kalau ada 500 bhikkhu yang datang ke rumah saya, maka kita tetap harus selektif. Jangan sampai kita berikan bantuan pada bhikkhun (bhikkhu tapi dukun) yang agak marak belakangan ini. Ingat syarat berdana juga harus diberikan pada orang yang tepat. Bukankah ini yang dinamakan medan kebajikan (merit field)? Yakni menanam kebajikan pada orang yang tepat? Anda memberi pada orang kaya, jelas berbeda dengan memberi pada orang kaya, bukan? Saya kira sampai di sini cukup dulu ulasan saya mengenai hubungan bhikkhu dan umat awam, saya tidak perlu menanggapi lagi bagian lainnya, karena pandangan dan pokok pikiran saya telah cukup saya tuangkan pada posting-posting terdahulu. Saya akan lebih tertarik untuk memperbincangkan topik baru berikut ini: TOPIK BARU : Tentang Sutra Ini topik diskusi yang sangat menarik menurut saya: (1)Anda mengatakan: "Tapi Jangan terlalu gegabah mengetuk palu dengnan mengatakan Yuanjuejing dan Fanwangjing adalah karangan orang tiongkok" Tanggapan saya: palu tidak akan pernah bisa diketukkan sampai kapanpun juga. Orang bisa mengumpulkan bukti keasliannya sebanyak bukti kepalsuannya. Meskipun demikian, pembahasan semacam ini hanya dalam lingkup Buddhologi saja. Kita sebagai umat Buddhis hendaknya melihat dari semangat dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Ini perlu saya jelaskan agar tidak timbul kesalah pahaman bahwa saya merendahkan kitab2 tersebut. Saya masih menjadikan Sutra Shurangama dan Yuanjuejing sebagai acuan. Bahkan saya sudah menterjemahkan Sutra Yuanjuejing. Tetapi di lain pihak, saya juga menyenangi kajian-kajian Buddhologi. Bagi saya yang paling menarik di antara tanggapan Anda ini bagi saya adalah informasi dan kajian mengenai Sutra-sutra tersebut. Kajian Buddhologi juga penting karena akan membebaskan Buddhisme dari dogmatisme. (2)Anda mengatakan: "Dalam jaman dinasti Tang aja sudah ada pengklasifikasikan mana yang merupakan Sutra asli India, mana yang merupakan karangan orang Tiongkok." Tanggapan saya: Anda benar, di zaman Dinasti Tang sudah ada pengkategorian itu. Ada sutra "palsu" yang dianggap "asli," karena isinya tidak bertentangan dengan sutra yang lebih "asli" (padahal sesungguhnya diragukan apakah ada sutra yang benar-benar "asli) dan sutra yang palsu sama sekali. Sutra "palsu" tetapi "asli" dikategorikan dalam golongan Yi jing. Sutra Penerangan Sempurna termasuk golongan ini dan disebut Yuanjue siutuoluo yijing. Ini merupakan kajian dan diskusi yang sangat menarik. Saya senang diskusi dan pembahasan semacam ini. Apakah Anda punya buku-buku karya Prof. Nan huaijin? (3) Tentang Menjual Peti mati dalam Fanwanjing. Anda mengatakan: "Mengenai sila bodhisattva yang tidak boleh jual peti mati, saya dapat mengatakan bahwa bisa saja orang salah menangkapnya, jika saya pribadi teliti secara tekstual, itu tidak menuju pada peti mati, melainkan papan/kayu pengangkut mayat. Jika yang disebut adalah peti mati, maka seharusnya hanya tertulis GuanChai (peti mati). Tapi yang tertulis adalah Guanchai Banmu Shengsi zhi Ju(papan kayu peti mati untuk menenaruh mayat). Karena bangsa China tidak mengenal alat meletakkan mayat untuk kremasi seperti bangsa India, maka bisa saja penerjemah memberi penjelasan tambahan dengan menggunakan istilah guanchai." Tanggapan saya: Pendapat yang cukup menarik. Tetapi saya masih ada pertanyaan lagi. Yang saya ketahui dari tradisi India, biasanya papan penaruh mayat semacam itu tidak pernah diperjual-belikan dan baru dipersiapkan setelah seseorang meninggal. Jadi nuansa kitab itu kok tetap bersifat "Tiongkok" ya? Lalu pertanyaan berikutnya, mengapa berjualan peti mati dianggap buruk? Bukankah kalau tidak ada peti mati orang juga akan kerepotan? Mau ditaruh di mana mayatnya? Mungkin Anda akan mengatakan bahwa berjualan peti mati mengharapkan banyak orang meninggal. Tetapi bukankah itu juga berlaku dengan dokter dan apotik yang juga mengharapkan banyak orang sakit/ susah? Saya tidak melihat adanya pesan moral dalam larangan ini. Bagaimana pendapat Anda? (4)Anda mengatakan: "Suranggama juga oleh para peneliti professional dan para ahli dari barat juga ikut2an mengatakan sebagai Sutra karangan orang tiongkok. Akhirnya ditemukan teks sanskritnya, maka polemiknya pun reda dengan sendiri. Tanggapan saya: Mana ada teks Sanskritnya? Kok saya tidak pernah dengar? Kalau Sutra Shuramgamasamadhi memang dianggap "asli." Tetapi ini beda dengan Sutra Shuramgama (Lengyanjing). Mohon informasi selengkapnya. (5)Anda mengatakan: "Reputasi pencapaian spiritual beliau sudah tidak diragukan lagi, apakah hanya bebarapa kalimat dari scholar barat yang meragukannya lalu meluluh lantakkan keabsahan sutra itu? Tanggapan saya: O tentu tidak! Bagi saya "asli" atau "tidak asli" menurut kriteria Barat tidak ada hubungannya dengan "keaslian" kualitas spiritual sutra itu. Jadi dalam berbicara mengenai sutra, saya harus jelas posisi saya, sebagai umat Buddha atau scholar. Sebagai scholar dan ilmuwan saya menerima metodologi kritik teks Barat, tetapi sebagai umat Buddhis saya tetap meyakini isinya sebagai "asli." Ini pandangan saya. Saya kira ini saja dulu tanggapan saya karena cukup panjang dan saya sudah kelelahan menulis lebih panjang lagi. (6)O ya apakah Anda mengetahui bahwa di dalam Yuanjuejing terdapat metode penentuan metode latihan dengan menggunakan semacam penarikan ciamsie? Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini? Metta, Tan ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
