Tanggapan Tan terhadap Sdr. Chingik Tertanggal 8 Februari 2006

Saudara Chingik yang budiman,

Terima kasih atas tanggapannya, mari kita lanjutkan diskusi yang 
semakin menarik ini.

Topik I Masalah Transenden

(1)Anda mengatakan: "Ya saya tahu. Wong Buddha yang terbentuk dalam 
pikiran saya juga masih yang ilusif,yang masih berinteraksi dengan 
dosa,lobha, moha, hehe.."

Tanggapan saya: Ya tentu saja, "Buddha" yang ada dalam benak Anda, 
saya, dan kita semua adalah "konsep tentang Buddha" dan bukannya 
Buddha yang sebenarnya. Ini tidaklah masalah, asalkan Anda tidak 
memaksakan "konsep Buddha" Anda pada orang lain, sebagaimana halnya 
penganut agama-agama tertentu memaksakan "konsep tentang mahadewa" 
mereka pada orang lain. Kalau orang lain tidak mau menerima, maka ada 
dua tanggapan mereka:

a.Dalam tataran yang paling rendah akan merasa tidak
b.Dalam tataran yang lebih tinggi ingin membunuh orang yang tidak mau 
menerima tersebut.

Kedua hal ini sangat nyata dalam sejarah penyebaran agama-agama 
tersebut. Oleh karena kita menyadari bahwa "konsep Buddha" 
atau "konsep mahadewa" kita adalah bentukan permainan pikiran semata, 
maka tidak seyogianya dipaksakan pada orang lain. Tiap orang berhak 
untuk mengembangkan "konsep" mereka sendiri dan sesungguhnya tidak 
ada benar dan salah, karena semuanya adalah bagian dharmadatu. Satu-
satunya hal yang salah adalah menganggap konsep tersebut sebagai 
sesuatu yang absolut. Kendati "yang tidak absolut" tersebut bukanlah 
lawan "yang absolut." Beberapa waktu yang lalu saya baru belajar dari 
kursus Abhidhamma, bahwa sankhatadhamma bukanlah lawan 
asankhatadhamma. Namun, adalah hal yang tidak benar, bila kita 
mengacaukan sankhatadhamma dengan asankhatadhamma, dimana pengacauan 
itu sekali lagi adalah permainan pikiran kita belaka.

(2)Anda mengatakan: "Tapi jika mengatakan buku BB dapat menjadi 
sarana untuk membantu orang memahami Tuhan yang sejati, berarti 
ulasannya masih kurang jelas dan lengkap. Setidaknya bagi pembaca 
awam seperti saya. Buktinya tidak sedikit orang yang salah menangkap, 
dan contohnya ya pak Hadi. Beliau juga tidak menangkap bahwa buku BB 
ini adalah sarana untuk membantu orang memahami Tuhan sejati. Berarti 
masih kurang jelas, kurang lengkap."

Tanggapan saya:

Mustahil memberikan ulasan yang lengkap mengenai Tuhan yang sejati 
dengan kata-kata atau buku. Tinta sejumlah alam semesta dan tumpukan 
kertas setinggi Gunung Sumeru tidak akan cukup untuk 
menggambarkannya. Jadi ya wajar kalau tidak lengkap. Lagipula Tuhan 
yang sejati tidak akan dapat dipahami hanya dengan membaca buku. 
Karena itu "tuntutan" Anda terhadap buku Beyond Belief sangatlah 
tidak masuk akal. Saya memahami "sekilas" mengenai Tuhan yang sejati 
bukan dari hasil membaca buku, melainkan melalui melihat keindahan 
alam dan kicauan burung. Tiba-tiba entah mengapa saya merasa bahwa 
deru angin dan kicauan burung itu semuanya melantunkan," Namo 
Amiduofo." Semuanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kalau ada 
orang yang salah menangkap, jangan salahkan bukunya, salahkan wawasan 
pandangan orang itu yang masih agak dangkal. Ibaratnya Anda 
tersandung batu dan jatuh, maka jangan salahkan batunya, tanyalah 
pada diri Anda mengapa Anda kurang awas.

Justru pemahaman atas Tuhan yang sejati tidaklah didapat dari membaca 
kitab-kitab suci. Anda perlu membebaskan diri dari dogma agar dapat 
memahami Tuhan yang sejati walau hanya sekilas. Karena itulah buku 
Beyond Belief, justru hendak menunjukkan bahwa konsep Tuhan menurut 
kitab suci itu mengandung kejanggalan atau tidak membawa pada "yang 
sejati," oleh karena itu... tinggalkanlah! Masuklah pada alam 
permenungan dharmadatu yang sejati. Bebaskan dirimu dari belenggu 
dogmatisme kitab suci. Demikianlah pesan yang diberikan oleh buku 
Beyond Belief. Bila Anda tidak dapat menangkap pesan itu, mohon 
jangan menyalahkan buku tersebut, yang notabene juga ditulis oleh 
seorang bhikkhu.

(3)Anda berkata: "Wah, suruh aja Fransiscus Xaverius yang jelasin. 
Beliau pasti tidak melihatnya begitu bukan?"

Tanggapan saya:

Hahahahaha... Jika diminta menjelaskan ayat tersebut St. Fransiscus 
akan berkata, "Buat apa aku menjelaskannya? Apa yang tertulis 
hanyalah "sampah" dan tidak membawa pada kesejatian. Akulah kitab 
suci sejati dan kitab suci adalah aku. Aku telah 
mencapai "Manunggaling Kawula Gusti." Untuk apa menafsirkan kembali 
sesuatu yang "tidak dapat ditafsirkan." " 

Anda paham maksud saya? Prinsip ini sebenarnya sudah ada dalam 
Samdhinirmocana Sutra.

(4)Anda kemudian memberikan tafsiran sebagai berikut sebagai 
tanggapan pertanyaan saya: 

"Bangsa x adalah ibarat dosa, maka kita disuruh membunuh dosa2 dalam 
batin kita. Gadis2 perawan adalah nilai2 positif yang masih ada di 
dalam batin kita, maka pertahankanlah nilai2 itu, jangan ikut 
dibunuh. ¡§untuk bebas dinikahi bangsa Y¡¨ berarti meleburkan diri 
menyatu dengan kesucian (bangsa x adalah noda batin, dan bangsa y 
adalah kesucian batin).¡§Bunuhlah dan kejarlah¡¨ berarti 
kikislah..¡§orang yang tidak percaya¡¨ berarti tidak memiliki 
keyakinan.¡§mahadewa¡¨ berarti hukum kebenaran (Karena mereka 
menganggap Tuhan adlah kebenaran itu sendiri). Jadinya: Kikislah 
ketidakyakinan pada hukum kebenaran."

Tanggapan saya:

Penjelasan Anda seolah-olah masuk akal. Tetapi ingatlah:

a.Berdasarkan konteksnya, ayat itu harus dijalankan secara harafiah, 
yakni terhadap bangsa Amalek, kalau tidak percaya baca saja kitab 
Bilangan. Itu adalah perintah mahadewa terhadap Musa. Dalam memahami 
suatu ayat, Anda harus mengetahui konteksnya.

b.Tafsiran itu tidak masuk akal, karena untuk menjelaskan mengenai 
hukum kebenaran tidak perlu menggunakan kata-kata sadis seperti itu. 
Kebenaran adalah cinta kasih dan tentu saja bertolak belakang dengan 
kata, "bunuhlah," "bantailah," "rebuslah," "gorenglah," dan lain 
sebagainya.

Jadi saya masih belum dapat menerima tafsiran Anda. Sekedar tambahan, 
kalau Anda bisa menafsirkan ayat yang bunyinya negatif demikian 
menjadi sesuatu yang "positif," mengapa Anda tidak dapat 
menafsirkan "ayat-ayat" Beyond Belief menjadi sesuatu yang positif 
pula?

(5)Anda mengatakan: "Tapi seiring dengan berjalannya waktu, 
Kekristenan sudah merambah sedimikian rupa di dunia ini, maka kita 
harus menetralisir isi alkitab melalui penjelasan yang sesuai dengan 
hukum dharma (kebenaran universal). Bukan dengan cara menyanggahnya."

Tanggapan saya: Buku Beyond Belief tidaklah menyanggahnya, melainkan 
meletakkannya pada tempat yang benar.

(6)Anda mengatakan: "Jadi saya katakan dharma yang universal dapat 
diaplikasikan di mana dan kapan saja, bahkan pada kitab suci kaum 
tirtika. Ini yang disebut transformasi pikiran."

Tanggapan saya: Mengapa Anda tidak menganggap Beyond Belief juga 
sebagai salah satu kitab suci kaum tirtika? Sehingga dengan demikian 
transformasi pikiran Anda menjadi lebih sempurna.

(7)Anda mengatakan: "Pendapat saya ini tidak sepenuhnya benar, tapi 
saya yakin cara ini tidak lebih buruk dari cara dan misi BB. Atau 
bila perlu disinergikan ."

Tanggapan saya: Saya sangat setuju untuk mensinergikannya. Justru 
itu, kita harus membuka diri terhadap semua metode dalam menyebarkan 
Dharma (bukan dalam artian Buddhisme secara sempit). Saya pikir yang 
penting adalah motivasinya. Selama motivasi kita murni, maka "go 
ahead!"

(8)Anda mengatakan: "Di atas saya sudah katakan memang sayang sekali 
tentang apa yang tertulis dalam kitab suci Kristen."

Tanggapan saya: Nah, itulah Bro! Khan saya sudah bilang bahwa 
mengajarkan kebenaran tidak perlu dengan kata-kata sadistik. Saya 
malah lebih tersentuh dan kadang-kadang meneteskan air mata bila 
membaca Sutra-sutra Buddhis, seperti Sutra Damamukanidana (Xianyujing 
= Wise and Foolish Sutra) dan Sutra Saddharmapundarika. Waktu membaca 
Xianyujing, hingga ke kalimat: ".... dan Tiga Permata-pun terwujud di 
dunia ini." Entah kenapa ada getaran memasuki hati saya dan mata ini 
meneteskan air mata. Jadi jelas sekali ajaran berisikan kalimat welas 
asih akan lebih tepat dan menyentuh dalam menyebarkan kebenaran. Buku 
Beyond Belief justru hendak menyadarkan kita akan hal ini, sehingga 
saya merasa bahwa buku Beyond Belief mengandung Dharma yang luas dan 
dalam.

(9)Anda mengatakan: "Maka bukankah lebih baik mentransformasikan cara 
pandang mereka tentag Tuhan dari yang personikasi menjadi yang 
transenden alih-alih dgn menyanggahnya."

Tanggapan saya: Mentransformasikan seseorang itu tidak mudah dan 
sungguh menyakitkan. Kadang agar seseorang mau bangun dari tidurnya, 
kita harus mengguyurnya dengan air. Buku Beyond Belief ibaratnya 
adalah guyuran air itu. Memang kebenaran itu pahit. Sekali lagi saya 
nyatakan bahwa buku Beyond Belief tidak berusaha menyanggah agama 
lain, melainkan mencoba menempatkannya pada posisi yang benar. 
Transformasi pikiran itu kadang-kadang sangat menyakitkan dan 
membutuhkan metode yang tidak lazim. Anda pernah baca riwayat 
Milarepa?

Topik III

(1)Anda mengatakan: "Wah Bukan tidak merasa, saya malah gak tahu lho 
kalo beliau itu seorang bhikkhu."

Tanggapan saya: Nah, kalau begitu Anda sekarang sudah tahu.

(2)Anda mengatakan: "Seandainya memiliki motivasi dan dana yang 
cukup, belum tentu dapat dengan mudah membangun fasilitas itu, karena 
semuanya tergantung pada dukungan dari berbagai pihak, sumber daya 
manusia, dan banyak faktor lainnya."

Tanggapan saya: Kalau mau bangun sekolah Buddhis yang bermutu, saya 
akan bantu dengan menyumbangkan saran, karena saya belakangan ini 
sudah melakukan studi sekolah-sekolah bermutu. Kalau SDM-nya 
sebenarnya banyak umat Buddha yang bermutu. Mengapa tidak kita 
rangkul mereka semua?

(3)Anda mengatakan: "Bahkan ada organisasi Buddhist X yang tidak 
senang sama organisasi Buddhist Y melebihi ketidak senangan mereka 
pada agama lain."

Tanggapan saya: Nah, daripada Anda dan Pak Hadi mengkritik buku 
Beyond Belief. Bukankah lebih baik kita "gojlog" umat-umat Buddhis 
dari organisasi X yang sesat dan buta itu? Mari kita bersatu 
padu "menggojlog" mereka habis-habisan, agar sadar dari 
ketersesatannya, bertobat, dan kembali ke jalan yang benar. Mendingan 
kita satukan kemampuan kita untuk menyadarkan mereka. Diskusi dengan 
topik ini sebenarnya tidak ada gunanya, tetapi saya masih mau 
menanggapi Anda, karena merasa bahwa Anda adalah orang baik.

(4)Anda mengatakan: Emangnya untuk apa? Tanpa "membeli" pun tidak ada 
masalah.

Tanggapan saya: Ya saya pikir juga begitu, tanpa kita memberikan uang 
pada organisasi agama lain, sebenarnya tidak masalah. Karena itu khan 
saya bilang mendingan untuk membenahi dulu organisasi Buddhis kita. 
Tapi ini hanya pendapat saya saja yang timbul karena kepedulian 
terhadap kondisi umat Buddha.

(5)Anda mengatakan: "Beliau tidak mau melekat pada pertimbangan ¡§ 
anak saya harus dapat makan dulu baru lu dapat makan."

Tanggapan saya: Ya terserah, tapi kalau saya tetap tidak setuju. Bagi 
saya tetap "anak sendiri dulu harus tercukupi, baru orang lain." 
Kalau tidak sanggup mengasihi yang dekat dengan Anda, bagaimana 
mungkin dapat mengasihi yang jauh? Memang pendapat tiap orang berbeda-
beda. Seperti yang saya kemukakan pada posting terdahulu, tiap orang 
berhak untuk memiliki pendapat berdasarkan apa yang dianggapnya benar 
(kalau kita berpegang pada sesuatu yang kita anggap salah, bukankah 
itu munafik namanya?). Jadi saya pikir ini tidak perlu 
dipermasalahkan lagi. Kalau Master Chingkung memiliki kebijaksanaan 
demikian, ya silakan saja. Saya toh tidak dapat memaksa Beliau untuk 
merubah pandangannya. Begitu pula halnya dengan saya, yang tidak 
dapat dipaksa menerima pandangan Master Chingkung sebagai kebenaran. 
Karenanya, kita saling toleransi. Biarlah Master Chingkung 
menjalankan apa yang Beliau anggap baik dan saya menjalankan apa yang 
saya anggap baik. Hal yang sama juga berlaku pada buku Beyond Belief. 
Pihak yang pro silakan jalan sendiri. Pihak yang kontra silakan 
jalankan metodenya sendiri yang dianggap baik. Asalkan tidak saling 
mengganggu dan memiliki tujuan mulia, maka silakan jalan sendiri-
sendiri. Beres bukan?

(6)Anda mengatakan: "Saya lebih suka Kitab suci Buddhist 
diterjemahkan oleh sebuah tim bukan perorangan."

Tanggapan saya: Nah, ini dia! Anda selalu melihat dari sudut pandang 
idealis. Padahal pembentukan tim semacam itu masih mustahil. Tanpa 
dukungan sponsor dana yang kuat hal itu sangat mustahil. Siapa yang 
memberikan akomodasi dan makanan bagi anggota tim yang ratusan itu? 
Butuh dana gedhe. Di zaman dahulu saja, yang sanggup melakukan 
(mensponsori) penterjemahan adalah kalangan istana. Kalau saya, saya 
biasanya mendorong kawan-kawan saya untuk melakukan terjemahan 
individual dulu. Hasilnya kita kumpulkan di milis 
tripitaka_indonesiana. Tunggu beberapa puluh tahun lagi sampai umat 
Buddha bangkit rasa cintanya terhadap Tripitaka, barulah mungkin 
mereka bersedia untuk mempelajari dan memperbaiki terjemahannya. Kita 
tidak mungkin menunggu orang lain lain sebagai pelopor. Kalau kita 
bisa ya jalan sendiri dulu.
Kalau di zaman sekarang alasan kehati-hatian dan keseriusan sehingga 
seseorang enggan menterjemahkan Tripitaka adalah cerminan kemalasan 
mereka saja. Analoginya dulu saya pernah hendak memberikan sumbangan 
uang pada pengemis di jalan. Tetapi kawan saya bilang, "Sudah tidak 
usah menyumbang. Nanti mereka tambah malas saja." Mungkin kata-kata 
kawan saya itu terdengar masuk akal, tetapi saya melihat bahwa itu 
cerminan rasa pelitnya saja.

(7)Anda mengatakan: "Mungkin hal ini bisa anda bicarakan langsung 
dengan master Chingkung. Siapa tahu beliau akan menyokong anda. 
hehe..Bhiksu kok menyokong umat , bukannya disokong umat haha."

Tanggapan saya: Lho saya tidak minta disokong kok. Saya khan bicara 
masalah korban tsunami. Pada kalimat mana saya meminta sokongan 
Master Chingkung.

(8)Anda mengatakan: "Cuma yang berbeda adalah saya ga tahu kalo 
beliau itu seorang bhikkhu."

Tanggapan saya: Bukankah Anda pada posting terdahulu mengatakan bahwa 
kesalahan yang tidak disadari juga dapat membuahkan karma buruk?

(9)Anda mengatakan: "Bhikkhu yang melanggar sila (tertentu) kan bisa 
pulih lagi setelah diberi sanksi di hadapan sangha."

Tanggapan saya: Tentu saja setelah pelanggaran itu dipulihkan, kita 
harus tetap menghormatinya kembali. Bhikkhu juga manusia yang bisa 
berbuat salah, sebenarnya itu inti maksud saya. Kita janganlah 
mendewa-dewakan bhikkhu. Jangan hanya karena ia berjubah dan bercukur 
gundul.

(10)Anda mengatakan: "Umat yang baik adalah menghormati para bhikkhu 
tanpa memandang usia masa vassanya, tanpa memandang kesucian ataupun 
noda2nya."

Tanggapan saya: Benar sekali, dan ini tidak hanya berlaku bagi 
bhikkhu saja, tetapi bagi semua manusia. Jadi ini bukan hak istimewa 
bhikkhu. Ini adalah hal penting yang hendak saya sampaikan. Seorang 
Tan, seorang Chingik, dan siapa saja pasti punya kesalahan-kesalahan 
dan kelemahan. Tetapi kita harus tetap saling menghormati.

(11)Anda mengatakan: "Ibaratnya mahayana itu lebih pro umat awam."

Tanggapan saya: Menurut Hans Wolfgang Schumann atau David J 
Kalupahana Mahayana itu tumbuh di kalangan biara (monastik), jadi 
masih belum ada kesepakatan mengenai hal ini. Oleh karena itu, kita 
melihatnya dari inti pesannya saja. Saya melihat bahwa hal itu 
mengandung semacam pelembagaan "hak istimewa" bagi para biarawan. 
Padahal sebagaimana yang sudah saya kemukakan di atas, kita hendaknya 
tidak hanya hormat bagi para biarawan saja, melainkan pada seluruh 
umat manusia. Kita semua adalah anggota Sangha. Jadi tidak ada hak 
istimewa bagi para bhikkhu. Anda tidak boleh mengkritik para bhikkhu 
dengan semena-mena, tetapi apakah menurut Anda kita lantas boleh 
mengkritik teman kita sesama umat awam dengan semena-mena? Tentu 
tidak boleh juga bukan?

(12)Anda mengatakan: "Kita tentu bukan menjunjung bagian wrong nya."

Tanggapan saya: Setuju, memang kita hendaknya tidak menjunjung 
bagian "wrong"nya. Tetapi mengabaikan bagian wrong tersebut seolah-
olah tidak ada adalah juga sesuatu yang salah. Kalau ada 500 bhikkhu 
yang datang ke rumah saya, maka kita tetap harus selektif. Jangan 
sampai kita berikan bantuan pada bhikkhun (bhikkhu tapi dukun) yang 
agak marak belakangan ini. Ingat syarat berdana juga harus diberikan 
pada orang yang tepat. Bukankah ini yang dinamakan medan kebajikan 
(merit field)? Yakni menanam kebajikan pada orang yang tepat? Anda 
memberi pada orang kaya, jelas berbeda dengan memberi pada orang 
kaya, bukan?

Saya kira sampai di sini cukup dulu ulasan saya mengenai hubungan 
bhikkhu dan umat awam, saya tidak perlu menanggapi lagi bagian 
lainnya, karena pandangan dan pokok pikiran saya telah cukup saya 
tuangkan pada posting-posting terdahulu. Saya akan lebih tertarik 
untuk memperbincangkan topik baru berikut ini:

TOPIK BARU : Tentang Sutra

Ini topik diskusi yang sangat menarik menurut saya:

(1)Anda mengatakan: "Tapi Jangan terlalu gegabah mengetuk palu 
dengnan mengatakan
Yuanjuejing dan Fanwangjing adalah karangan orang tiongkok"

Tanggapan saya: palu tidak akan pernah bisa diketukkan sampai 
kapanpun juga. Orang bisa mengumpulkan bukti keasliannya sebanyak 
bukti kepalsuannya. Meskipun demikian, pembahasan semacam ini hanya 
dalam lingkup Buddhologi saja. Kita sebagai umat Buddhis hendaknya 
melihat dari semangat dan makna spiritual yang terkandung di 
dalamnya. Ini perlu saya jelaskan agar tidak timbul kesalah pahaman 
bahwa saya merendahkan kitab2 tersebut. Saya masih menjadikan Sutra 
Shurangama dan Yuanjuejing sebagai acuan. Bahkan saya sudah 
menterjemahkan Sutra Yuanjuejing.

Tetapi di lain pihak, saya juga menyenangi kajian-kajian Buddhologi. 
Bagi saya yang paling menarik di antara tanggapan Anda ini bagi saya 
adalah informasi dan kajian mengenai Sutra-sutra tersebut. Kajian 
Buddhologi juga penting karena akan membebaskan Buddhisme dari 
dogmatisme.

(2)Anda mengatakan: "Dalam jaman dinasti Tang aja sudah ada 
pengklasifikasikan mana yang merupakan Sutra asli India, mana yang 
merupakan karangan orang Tiongkok."

Tanggapan saya: Anda benar, di zaman Dinasti Tang sudah ada 
pengkategorian itu. Ada sutra "palsu" yang dianggap "asli," karena 
isinya tidak bertentangan dengan sutra yang lebih "asli" (padahal 
sesungguhnya diragukan apakah ada sutra yang benar-benar "asli) dan 
sutra yang palsu sama sekali. Sutra "palsu" tetapi "asli" 
dikategorikan dalam golongan Yi jing. Sutra Penerangan Sempurna 
termasuk golongan ini dan disebut Yuanjue siutuoluo yijing. Ini 
merupakan kajian dan diskusi yang sangat menarik. Saya senang diskusi 
dan pembahasan semacam ini. Apakah Anda punya buku-buku karya Prof. 
Nan huaijin?

(3) Tentang Menjual Peti mati dalam Fanwanjing.

Anda mengatakan: "Mengenai sila bodhisattva yang tidak boleh jual 
peti mati, saya dapat mengatakan bahwa bisa saja orang salah 
menangkapnya, jika saya pribadi teliti secara tekstual, itu tidak 
menuju pada peti mati, melainkan papan/kayu pengangkut mayat. Jika 
yang disebut adalah peti mati, maka seharusnya hanya tertulis 
GuanChai (peti mati). Tapi yang tertulis adalah Guanchai Banmu 
Shengsi zhi Ju(papan kayu peti mati untuk menenaruh mayat). Karena 
bangsa China tidak mengenal alat meletakkan mayat untuk kremasi 
seperti bangsa India, maka bisa saja penerjemah memberi penjelasan 
tambahan dengan menggunakan istilah guanchai."

Tanggapan saya: Pendapat yang cukup menarik. Tetapi saya masih ada 
pertanyaan lagi. Yang saya ketahui dari tradisi India, biasanya papan 
penaruh mayat semacam itu tidak pernah diperjual-belikan dan baru 
dipersiapkan setelah seseorang meninggal. Jadi nuansa kitab itu kok 
tetap bersifat "Tiongkok" ya? Lalu pertanyaan berikutnya, mengapa 
berjualan peti mati dianggap buruk? Bukankah kalau tidak ada peti 
mati orang juga akan kerepotan? Mau ditaruh di mana mayatnya? Mungkin 
Anda akan mengatakan bahwa berjualan peti mati mengharapkan banyak 
orang meninggal. Tetapi bukankah itu juga berlaku dengan dokter dan 
apotik yang juga mengharapkan banyak orang sakit/ susah? Saya tidak 
melihat adanya pesan moral dalam larangan ini. Bagaimana pendapat 
Anda?

(4)Anda mengatakan: "Suranggama juga oleh para peneliti professional 
dan para ahli dari
barat juga ikut2an mengatakan sebagai Sutra karangan orang tiongkok. 
Akhirnya ditemukan teks sanskritnya, maka polemiknya pun reda dengan 
sendiri.

Tanggapan saya: Mana ada teks Sanskritnya? Kok saya tidak pernah 
dengar? Kalau Sutra Shuramgamasamadhi memang dianggap "asli." Tetapi 
ini beda dengan Sutra Shuramgama (Lengyanjing). Mohon informasi 
selengkapnya.

(5)Anda mengatakan: "Reputasi pencapaian spiritual beliau sudah tidak 
diragukan lagi, apakah hanya bebarapa kalimat dari scholar barat yang 
meragukannya lalu meluluh lantakkan keabsahan sutra itu?

Tanggapan saya: O tentu tidak! Bagi saya "asli" atau "tidak asli" 
menurut kriteria Barat tidak ada hubungannya dengan "keaslian" 
kualitas spiritual sutra itu. Jadi dalam berbicara mengenai sutra, 
saya harus jelas posisi saya, sebagai umat Buddha atau scholar. 
Sebagai scholar dan ilmuwan saya menerima metodologi kritik teks 
Barat, tetapi sebagai umat Buddhis saya tetap meyakini isinya 
sebagai "asli." Ini pandangan saya.

Saya kira ini saja dulu tanggapan saya karena cukup panjang dan saya 
sudah kelelahan menulis lebih panjang lagi. 

(6)O ya apakah Anda mengetahui bahwa di dalam Yuanjuejing terdapat 
metode penentuan metode latihan dengan menggunakan semacam penarikan 
ciamsie? Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?



Metta,

Tan






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke