Sahabat Kong Ming,

Saudara ipar saya itu banyak yang kristen, salah satunya pendeta.
Yang bukan pendeta beberapa waktu lalu konsultasi dengan istri saya
dan juga ngomong soal bencana dst dst.

Saya melalui istri menjawab dengan referensi dari diskusi saya
dengan seorang teman yang telah almarhum, aktivis gereja kristen
yang dituakan di gerejanya.

Secara umum, kalimat itu boleh dikatakan sebagai propaganda saja
alias jualan obatlah, nah sayangnya jualannya rasa asem dan (sori)
menjijikkan, semoga para rekan Buddhis tidak meniru ini walaupun
sering saya mengamati ada juga yang mulai meniru cara yang sama.

Saya mencoba menulis sebuah artikel yang pada bagian bagiannya itu
menjelaskan bahwa, kita semua, tahu ataupun tidak tahu, sadar maupun
tidak, percaya maupun tidak, akan selalu menerima apa yang kita
tanamkan, nah, sahabat saya yang telah almarhum itu pernah bilang
bahwa kalau ybs itu masih ingat dia pernah menanam mungkin dia bisa
lalu jadi sadar dan menerima dengan ikhlas apa yang dia tuai entah
itu bencana entah itu hadiah.

Soal bencana bagi manusia, akhir jamannya manusia itu kan ilmu
pengetahuan juga tidak bisa mengatakan pasti walaupun banyak teori
yang mengatakan, secara logika sederhana saja, ucapan umat kristen
yang mengatakan akhir jaman itu telah dekat semestinya diartikan
sebagai akhir jamannya dia sebagai dia manusia itu tidaklah lama,
jadi semestinya selama hidup dia wajib melatih diri untuk bisa
menjadi manusia yang lebih baik, penuh kasih dst dst dst, singkatnya
jalankanlah perintah Tuhannya dia tanpa lalu mesti menarik-narik dan
mengiming-imingi atau membodoh-bodohi orang lain dengan licik.

Kita yang belum mencapai pencerahan ini tentu tahu dan mengerti
bahwa kalau kita berakhir sebagai kita sekarang, belum tentu kita
bisa mengenal Dhamma, ajaran Sang Buddha, atau secara umum di aliran
kebatinan itu dikatakan bahwa untuk terlahir sebagai seekor tikus
pun itu dibutuhkan karma baik yang sangat banyak, apa lagi menjadi
manusia, tentu sangaaaaaat banyak. Dan apa lagi mengenal ajaran
kebenaran, ajaran yang benar-benar mengajarkan kebaikan itu butuh
karma baik yang sangaaat banyak, dan untuk bisa mengerti dan lalu
memahami itu sudah tidak terhitung dah karma baik yang ikut andil di
dalamnya disamping tentunya usaha dan kerja keras kita. Tapi kita
mesti tidak lupa bahwa berbuat baik itu tidak perlu untuk menabung
karma, tapi berbuatlah dengan tulus, bukan demi karma baik tapi demi
menolong, demi kebaikan bersama.

Sama seperti halnya mengajarkan Dhamma atau kebenaran sejati, bukan
demi penyebaran dhamma, bukan demi karma baiknya, tapi agar lebih
banyak yang sadar dan mengerti, sukur-sukur banyak yang lalu bisa
membina diri dengan lebih giat dan tekun.

Jadi, kalau menerima sms akhir jaman itu , jawablah, ya manusia
bertobatlah sebelum engkau berakhir sebagai dirimu, karena dengan
demikian engkau telah menyelamatkan dirimu dari neraka, mbok jangan
ngajak orang ikut ke neraka dong, situ sendiri blom terselamatkan,
kok... :)

salam canda dari yang bo ceng li....

yang buruk datang tidak mengapa
yang baik muncul biarkan saja

nikmati dan jalani tanpa melekat
tanpa keluh kesah

mari kita coba menjadikan diti tanpa beban
bebas mengarungi dunia

....:)

--- In [email protected], Kong Ming <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Dear all,
>  
>   beberapa hari terakhir ini ada bunyi sms yang mengatakan bahwa
bencana  tsunami, gempa di nias, dan gempa di yogja ada kaitan
dengan kuasa  Tuhan, karena bencana tersebut terjadi sehari sesudah
perayaan hari  besar agama K. Mereka mengaitkan bencana alam dengan
pertanda dari Yang  Di Atas untuk membuat manusia bertobat, dan
menandakan bahwa kerajaan  Surga telah dekat.
>  
>   Attached file merupakan jawaban buddhis atas logika mereka.
>
>            
> ---------------------------------
> Be a chatter box. Enjoy free PC-to-PC calls  with Yahoo! Messenger
with Voice.
>






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke