Saudara/i dalam Dharma,
 
Sekuntum teratai untuk anda, seorang calon Buddha.
 
Banyak orang ingin berubah menjadi lebih baik, tapi hanya sedikit sekali yang benar-benar mengalami transformasi. Mengapa? Karena ingin berubah saja tidak cukup. Untuk mengalami transformasi yang membawa pada penyembuhan dan bahkan pembebasan, kita perlu belajar, berlatih, dan berbagi Hidup Berkesadaran secara konsisten. Program Dharmajala menyediakan empat jenis latihan berkesinambungan bagi peserta yang mengikutinya yaitu latihan pribadi harian, latihan kelompok kecil, latihan kelompok besar, dan latihan di masyarakat. 
Kita tahu betapa tidak mudahnya untuk belajar dan berlatih sendirian, oleh karena itu, kita membutuhkan Sanggha, sebuah komunitas praktik yang mendukung latihan kita. Komunitas Praktik Dharmajala, disingkat KPD, merupakan sarana bagi para praktisi untuk membawa keluar latihan pribadinya ke konteks yang lebih besar yaitu sebuah komunitas praktik dan keluarga spiritual yang maksimum terdiri dari 15 orang Kalyana mitra yang belajar, berlatih, dan berbagi Hidup Berkesadaran secara bersama baik melalui latihan mingguan KPD, aksi lapangan berkala, maupun di saat anggota KPDnya mengalami peristiwa suka ataupun duka. Seiring dengan semakin mendalamnya praktik seseorang, dia akan mampu melampaui cangkang kecil KPDnya dan terintegrasi ke dalam masyarakat, menjadi anggota masyarakat yang memancarkan praktik Hidup Berkesadaran dalam keseharian hidupnya di mana pun ia berada. 
 
Latihan Mingguan KPD
Latihan mingguan KPD adalah latihan kesadaran bersama seminggu sekali selama 3 jam. Latihan yang idealnya dilakukan di rumah anggota KPD di luar hari minggu ini terdiri dari meditasi jalan, meditasi duduk, dan meditasi DBD (dengar, baca, dan diskusi). Banyak peserta keliru memahami bahwa DBD adalah ajang belajar Dharma melalui diskusi. Bukan, sama sekali bukan itu tujuannya. Intisari dari latihan mingguan KPD adalah latihan kesadaran dan bagaimana kita mengaplikasikan perhatian murni kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam kehidupan sehari-hari. Objek utama meditasi DBD adalah suara, sedangkan objek tamu adalah fenomena fisik ataupun batin dominan yang muncul pada saat ini. Karena DBD adalah latihan kesadaran berkesinambungan yang disertai dengan naskah Dharma pilihan, maka peserta pasti akan belajar Dharma dengan sendirinya. Tapi itu hanyalah salah satu dari sekian banyak manfaat DBD. Melalui latihan ini, peserta yang konsisten akan belajar kesabaran, toleransi, mendengarkan orang lain secara mendalam, mampu berbeda pendapat, berani mengomunikasikan pendapatnya, latihan bicara di depan umum secara tidak langsung, menumbuhkembangkan bodhicitta, belajar berbicara dengan penuh cinta kasih, latihan konsentrasi, berlatih untuk tetap dalam keadaan sadar, berbagi pengalaman; baik dari kehidupan sehari-hari maupun pengalaman batin, membiasakan diri duduk bersila di lantai sehingga dapat lebih tahan dalam meditasi duduk, belajar mendahulukan orang lain ketimbang dirinya, dan segudang manfaat lainnya.
Latihan mingguan KPD dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, ia merupakan jembatan untuk menghantarkan pemula ke latihan pribadi yang lebih solid. Bagi peserta yang baru bersentuhan dengan praktik Dharma, latihan ini merupakan sarana untuk mengakarkan diri pada latihan pribadi harian. Sudut pandang kedua, bagi praktisi yang sudah cukup solid latihan pribadinya, ia merupakan sarana untuk belajar, berlatih, dan berbagi dengan yang lain dalam arti yang seluas-luas dan sedalam-dalamnya.     
 
Aksi Lapangan
Aksi lapangan adalah membawa latihan kita ke tengah masyarakat. Latihan ini mempunyai tiga tahap. Di tahap pertama, aksi lapangan seperti bakti sosial, pergi ke panti asuhan, ke rumah jompo, membezuk orang sakit, pengobatan massal, dan lain sebagainya bagi mayoritas kita hanyalah kesempatan untuk berbuat baik. Selesai acara, kita merasa senang karena telah berbuat kebajikan. Lalu kembali ke rutinas sehari-hari, business as usual, tanpa mengalami perubahan yang berarti.
Di tahap kedua, seiring dengan semakin dalamnya pengertian dan latihan kita, semakin meningkatnya kemampuan kita untuk menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat ini di dalam maupun di luar diri kita, kita mulai dapat melihat secara lebih jelas bahwa di sela keindahan dan kebahagiaan buatan yang ditampilkan di etalase toko, layar TV, maupun layar perak, ada begitu banyak penderitaan dalam masyarakat seperti kelaparan, pengangguran, kemiskinan, narkoba, pelacuran, penindasan, kekerasan struktural, kebingungan, ratap tangis, keputusasaan, ketiadaanharapan, dsbnya. Kita melihat bahwa duka pribadi kita erat terkait dengan duka sosial dan duka sosial tak terpisahkan dari duka pribadi. Kita mulai memahami hakikat interbeing (saling menjadikan) kita dan masyarakat.       
Di tahap ketiga, paham akan hakikat interbeing kita dan masyarakat, bahwa kita dan masyarakat manunggal adanya. Kita sakit masyarakat menjadi sakit, sebaliknya masyarakat sakit kita pun ikut sakit. Kita tidak lagi sekadar menempelkan tensoplas tanpa mengobati luka yaitu tidak lagi sebatas memberikan santunan kepada mereka yang membutuhkan, melainkan mengobati luka tersebut dengan melihat sebab-sebab yang memiskinkan mereka, yang meminggirkan mereka, baik yang bersifat personal maupun struktural dan  melakukan berbagai hal yang memungkinkan terjadinya perubahan sosial. Untuk memfasilitasi terjadinya perubahan sosial, mengikis dan melenyapkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan yang mengakar dalam diri kita saja tidak cukup, pada saat yang sama, kita juga harus berjuang untuk mengikis dan melenyapkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan yang melembaga.
 
Dukungan Dalam Peristiwa Suka Maupun Duka
 
Dalam kehidupan nyata, berapakah dari kita yang benar-benar beruntung memiliki keluarga ideal yang harmonis, papa mama yang rukun, yang dengan penuh pengertian dan cinta kasih selalu mendukung kita tanpa mendikte? Kakak dan adik yang saling mengasihi dan saling mendukung? Suami istri yang sepaham dan sejalan, pasangan ideal yang harmonis dengan anak-anak yang baik-baik dan manis-manis? Berapakah dari kita yang seberuntung itu? Kebanyakan yang kita dapati di masyarakat justru adalah kebalikkannya, "setan-setan kelaparan yang tidak bisa menerima diri mereka, keluarga mereka, masyarakat mereka, ataupun tradisi mereka."
Dalam konteks tersebut di atas, KPD pertama-tama idealnya berfungsi sebagai keluarga yang menerima dan memberikan para anggotanya tempat berlindung, sebuah oasis yang dapat meredakan rasa haus mereka, yang menyejukkan tubuh dan batin mereka. Tempat di mana mereka diterima dengan tulus dalam atmosfir kekeluargaan, didengarkan secara mendalam tanpa prasangka, tempat di mana mereka dibantu untuk mengalami sesuatu yang indah dan benar untuk mereka yakini. Sesuatu yang membuktikan kepada mereka bahwa hidup memang berarti. Setelah orang mengalami transformasi yang membawa pada penyembuhan baru kemudian dibantu untuk mengalami transformasi yang membawa pada pembebasan.
Singkatnya, KPD mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai sebuah komunitas praktik dan keluarga spiritual yang memberikan dukungan pada anggotanya baik dalam peristiwa suka maupun duka. Saling asah, asih, dan asuh dalam atmosfir Sanggha. Belajar, berlatih, dan berbagi Hidup Berkesadaran secara bersama guna memfasilitasi terjadinya Transformasi Diri, Transformasi Sosial, dan Pelestarian Lingkungan Hidup.

Salam Perjuangan

JL

(Sugatadasa)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke