Buya Syafii: Guru Bangsa Kita
SUKIDI
Selasa (6/6) ini otobiografi Profesor Ahmad Syafii Maarif diluncurkan
di Jakarta. Dengan judul Titik-titik Kisar di Perjalananku, otobiografi
ini menjadi noktah hidup yang sangat bernilai. Ia bernilai sebagai cermin
untuk menata kembali pikiran dan sikap hati kita dalam membangun peradaban
bangsa.
Dengan pikiran yang jernih tanpa prasangka buruk, sikap hati yang
santun, dan karakter moral yang terbuka, egaliter dan demokratis Buya
Syafii benar-benar menjadi sebuah teladan untuk menata kembali peradaban
bangsa kita.
Teladan moral tentu hikmah kearifan pertama yang dapat kita petik. Buya
Syafii adalah figur moral par excellence yang lebih dari sekadar pantas
untuk dinobatkan sebagai "guru moralitas". Ia mengajarkan moralitas hidup
yang konsisten, berkampanye antikorupsi yang disertai hidupnya yang bersih
dan lurus dan bersikap "kritis" terhadap pemerintah yang disertai sikap
"loyal" pada negara dan cita-cita bersama, serta berjuang untuk demokrasi
yang disertai sikap dirinya yang egaliter, kosmopolit, dan demokrat. "
Orang tidak mungkin dapat membangun sebuah demokrasi yang sehat tanpa
adanya para demokrat dalam wacana dan praktik sebagai pendukung utamanya
"
tuturnya, seperti dikutip pengantar otobiografi ini.
Moralitas yang konsisten itu juga terefleksikan pada pola hidupnya yang
sederhana dengan menempati rumah BTN tipe 54 yang cicilannya entah sudah
lunas ataukah belum. Ketika berkunjung ke rumahnya untuk suatu riset,
seorang peneliti luar negeri terkejut luar biasa menyaksikan kesederhanaan
hidup pemimpin organisasi Islam modernis terbesar di dunia Islam itu.
Padahal, sekiranya ingin hidup sedikit lebih mewah saja, yang masih tidak
sebanding dengan kemewahan elite kita, pasti bisa dan mudah. Namun,
jangankan Buya Syafii berpikir untuk itu, sekadar bermimpi pun tampaknya
tak mau.
Sebagai ulama yang benar-benar "alim" sehingga dipanggil Buya, pilihan
hidup sederhana benar-benar merefleksikan kondisi umatnya yang sederhana,
serba miskin dan penuh penderitaan. Ia resapi kondisi umatnya itu dalam
kehidupan. Peran profetiknya ibarat seorang "nabi" yang oleh (alm)
Nurcholish Madjid ditafsirkan sebagai "guru moralitas" dan "guru
kebenaran". Hidupnya diabadikan untuk menyertai dan mengabdi pada umat dan
bangsa, dalam menggapai moralitas dan kebenaran yang diperjuangkan secara
konkret, tidak sekadar dalam ide dan angan- angan.
Di tengah bertaburan elite agama yang menjadikan umatnya sebagai modal
dan mobilisasi politik, Buya Syafii justru menjauhi sifat itu. Ia
mentransendensikan dirinya dari nafsu birahi politik. Kepada umat, ia
tebarkan pencerahan dengan akal rasional dan budi pekerti yang baik, juga
sebuah peringatan. "Aku ingatkan bahwa cara-cara radikalisme itu sepanjang
sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal!," tutur Buya di
otobiografinya.
Keinsyafan total
Chicago menjadi titik kisar perjalanannya menjadi Muslim moderat yang
hanif, toleran dan penuh sikap lapang dada dalam mencari kebenaran.
Bersama Nurcholish Madjid, Buya Syafii rajin mengaji Al Quran dengan Prof
Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Cita-cita politiknya untuk, meminjam
apa yang saya konfirmasikan langsung ke Buya Syafii, tetap ingin mengubah
Indonesia menjadi negara Islam, mengalami pergeseran intelektual dan
keinsyafan total. Ia segera melakukan reorientasi total terhadap "Islam
sejarah" dan "Islam cita-cita" dalam spirit Al Quran. Menurut Buya Syafii
(1983), slogan penerapan syariat dan negara Islam sama artinya dengan
perbuatan bunuh diri, emosional, dan hanya mengantarkan Islam dengan
"wajah bopeng dan memilukan hati."
Tidak sekadar kritik, tetapi juga disertai solusi, yakni sikap moderat
dalam beragama. Buya Syafii menyegarkan kembali pemahaman Islam yang
terkandung dalam Al Quran agar menjadi umatan wasathan (2:143). Yakni,
umat Islam yang moderat, berada di tengah, tidak ekstrem ke kutub mana
pun, dan selalu berpihak pada keadilan, keseimbangan, dan kebenaran.
Itu pula wajah moderat Muhammadiyah ketika dikendalikan Buya Syafii.
Muhammadiyah yang sering dipersepsikan rigid dan "puritan" secara sosial
keagamaan diubah citra dan karakternya menjadi sejuk, moderat, toleran,
dan sebagai rumah bersama. Karakter itulah yang terefleksikan pula pada
sosoknya. Sungguh, kearifan dan kebaikan hati Buya mengatasi perbedaan.
Demikian pesan yang dikirim Bhiksu Pannyavaro. Ego keakuan benar-benar
lebur total menjadi rasa kebersamaan yang mengatasi perbedaan dari segi
apa pun. "Inilah rupanya yang bernama persaudaraan antarmanusia," ujar
Buya secara pribadi.
Visinya tentang keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan terbingkai
rapi dan terpadu dalam otobiografi ini. Untuk itu, Muhammadiyah ditariknya
ke "tengah", ke gerakan antikorupsi, gerakan moral bangsa, pemerintahan
yang bersih, dan agenda demokratisasi. Kader-kadernya didorong agar setia
mengawal dan menyertai perjalanan bangsa yang sedang transisional, entah
ke mana arahnya.
Kader bangsa
Di tengah situasi bangsa yang hampir tenggelam, Buya Syafii selalu
menebarkan harapan dan optimisme, setidaknya ke umatnya di Muhammadiyah
agar selalu setia menjadi kader bangsa, kader umat, dan kader
persyarakitan (Muhammadiyah). Kepentingan bangsa harus jauh lebih
diutamakan ketimbang kepentingan pribadi dan golongan.
Kecintaan dan patriotisme pada bangsa harus jauh lebih diprioritaskan
ketimbang pada organisasi Muhammadiyah. "Buya" yunior, Hajriyanto,
menceritakan "buya" seniornya, "Apa pun yang diminta oleh bangsa dan
negara ini, Muhammadiyah akan memberikannya asalkan negara tidak meminta
iman dan akidah Islam!"
Otobiografi ini hadir sebagai saksi sejarah atas kesetiaan, pengabdian,
dan persembahan hidup Buya Syafii untuk bangsanya tercinta. Kesetiaannya
pada Pancasila, UUD, NKRI, dan Ikrar Kebhinnekatunggalikaan tak pernah
luntur sedikit pun. Menjadi Muslim yang otentik ternyata justru memperkuat
sosoknya sebagai patriot dan nasionalis sejati.
Karena itu, jika di sana sini banyak orang memperbincangkan Buya Syafii
sebagai salah satu di antara sedikit guru bangsa Indonesia, kita,
setidaknya saya dan keluarga besar Muhammadiyah, dengan tulus dan rendah
hati menyatakan "amin" dan "alhamdulillah".
SUKIDI
Mahasiswa PhD in Religion, Harvard University,
Cambridge, dan Kader Muhammadiyah