Catatan : Prof. Syafii Maarif merupakan anggota Dewan Konsultatif MBI (Majelis Buddhayana Indonesia)
 
 
Kompas - Selasa, 06 Juni 2006

Buya Syafii: Guru Bangsa Kita

SUKIDI

Selasa (6/6) ini otobiografi Profesor Ahmad Syafii Maarif diluncurkan di Jakarta. Dengan judul Titik-titik Kisar di Perjalananku, otobiografi ini menjadi noktah hidup yang sangat bernilai. Ia bernilai sebagai cermin untuk menata kembali pikiran dan sikap hati kita dalam membangun peradaban bangsa.

Dengan pikiran yang jernih tanpa prasangka buruk, sikap hati yang santun, dan karakter moral yang terbuka, egaliter dan demokratis Buya Syafii benar-benar menjadi sebuah teladan untuk menata kembali peradaban bangsa kita.

Teladan moral tentu hikmah kearifan pertama yang dapat kita petik. Buya Syafii adalah figur moral par excellence yang lebih dari sekadar pantas untuk dinobatkan sebagai "guru moralitas". Ia mengajarkan moralitas hidup yang konsisten, berkampanye antikorupsi yang disertai hidupnya yang bersih dan lurus dan bersikap "kritis" terhadap pemerintah yang disertai sikap "loyal" pada negara dan cita-cita bersama, serta berjuang untuk demokrasi yang disertai sikap dirinya yang egaliter, kosmopolit, dan demokrat. "… Orang tidak mungkin dapat membangun sebuah demokrasi yang sehat tanpa adanya para demokrat dalam wacana dan praktik sebagai pendukung utamanya…" tuturnya, seperti dikutip pengantar otobiografi ini.

Moralitas yang konsisten itu juga terefleksikan pada pola hidupnya yang sederhana dengan menempati rumah BTN tipe 54 yang cicilannya entah sudah lunas ataukah belum. Ketika berkunjung ke rumahnya untuk suatu riset, seorang peneliti luar negeri terkejut luar biasa menyaksikan kesederhanaan hidup pemimpin organisasi Islam modernis terbesar di dunia Islam itu. Padahal, sekiranya ingin hidup sedikit lebih mewah saja, yang masih tidak sebanding dengan kemewahan elite kita, pasti bisa dan mudah. Namun, jangankan Buya Syafii berpikir untuk itu, sekadar bermimpi pun tampaknya tak mau.

Sebagai ulama yang benar-benar "alim" sehingga dipanggil Buya, pilihan hidup sederhana benar-benar merefleksikan kondisi umatnya yang sederhana, serba miskin dan penuh penderitaan. Ia resapi kondisi umatnya itu dalam kehidupan. Peran profetiknya ibarat seorang "nabi" yang oleh (alm) Nurcholish Madjid ditafsirkan sebagai "guru moralitas" dan "guru kebenaran". Hidupnya diabadikan untuk menyertai dan mengabdi pada umat dan bangsa, dalam menggapai moralitas dan kebenaran yang diperjuangkan secara konkret, tidak sekadar dalam ide dan angan- angan.

Di tengah bertaburan elite agama yang menjadikan umatnya sebagai modal dan mobilisasi politik, Buya Syafii justru menjauhi sifat itu. Ia mentransendensikan dirinya dari nafsu birahi politik. Kepada umat, ia tebarkan pencerahan dengan akal rasional dan budi pekerti yang baik, juga sebuah peringatan. "Aku ingatkan bahwa cara-cara radikalisme itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal!," tutur Buya di otobiografinya.

Keinsyafan total

Chicago menjadi titik kisar perjalanannya menjadi Muslim moderat yang hanif, toleran dan penuh sikap lapang dada dalam mencari kebenaran. Bersama Nurcholish Madjid, Buya Syafii rajin mengaji Al Quran dengan Prof Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Cita-cita politiknya untuk, meminjam apa yang saya konfirmasikan langsung ke Buya Syafii, tetap ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam, mengalami pergeseran intelektual dan keinsyafan total. Ia segera melakukan reorientasi total terhadap "Islam sejarah" dan "Islam cita-cita" dalam spirit Al Quran. Menurut Buya Syafii (1983), slogan penerapan syariat dan negara Islam sama artinya dengan perbuatan bunuh diri, emosional, dan hanya mengantarkan Islam dengan "wajah bopeng dan memilukan hati."

Tidak sekadar kritik, tetapi juga disertai solusi, yakni sikap moderat dalam beragama. Buya Syafii menyegarkan kembali pemahaman Islam yang terkandung dalam Al Quran agar menjadi umatan wasathan (2:143). Yakni, umat Islam yang moderat, berada di tengah, tidak ekstrem ke kutub mana pun, dan selalu berpihak pada keadilan, keseimbangan, dan kebenaran.

Itu pula wajah moderat Muhammadiyah ketika dikendalikan Buya Syafii. Muhammadiyah yang sering dipersepsikan rigid dan "puritan" secara sosial keagamaan diubah citra dan karakternya menjadi sejuk, moderat, toleran, dan sebagai rumah bersama. Karakter itulah yang terefleksikan pula pada sosoknya. Sungguh, kearifan dan kebaikan hati Buya mengatasi perbedaan. Demikian pesan yang dikirim Bhiksu Pannyavaro. Ego keakuan benar-benar lebur total menjadi rasa kebersamaan yang mengatasi perbedaan dari segi apa pun. "Inilah rupanya yang bernama persaudaraan antarmanusia," ujar Buya secara pribadi.

Visinya tentang keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan terbingkai rapi dan terpadu dalam otobiografi ini. Untuk itu, Muhammadiyah ditariknya ke "tengah", ke gerakan antikorupsi, gerakan moral bangsa, pemerintahan yang bersih, dan agenda demokratisasi. Kader-kadernya didorong agar setia mengawal dan menyertai perjalanan bangsa yang sedang transisional, entah ke mana arahnya.

Kader bangsa

Di tengah situasi bangsa yang hampir tenggelam, Buya Syafii selalu menebarkan harapan dan optimisme, setidaknya ke umatnya di Muhammadiyah agar selalu setia menjadi kader bangsa, kader umat, dan kader persyarakitan (Muhammadiyah). Kepentingan bangsa harus jauh lebih diutamakan ketimbang kepentingan pribadi dan golongan.

Kecintaan dan patriotisme pada bangsa harus jauh lebih diprioritaskan ketimbang pada organisasi Muhammadiyah. "Buya" yunior, Hajriyanto, menceritakan "buya" seniornya, "Apa pun yang diminta oleh bangsa dan negara ini, Muhammadiyah akan memberikannya asalkan negara tidak meminta iman dan akidah Islam!"

Otobiografi ini hadir sebagai saksi sejarah atas kesetiaan, pengabdian, dan persembahan hidup Buya Syafii untuk bangsanya tercinta. Kesetiaannya pada Pancasila, UUD, NKRI, dan Ikrar Kebhinnekatunggalikaan tak pernah luntur sedikit pun. Menjadi Muslim yang otentik ternyata justru memperkuat sosoknya sebagai patriot dan nasionalis sejati.

Karena itu, jika di sana sini banyak orang memperbincangkan Buya Syafii sebagai salah satu di antara sedikit guru bangsa Indonesia, kita, setidaknya saya dan keluarga besar Muhammadiyah, dengan tulus dan rendah hati menyatakan "amin" dan "alhamdulillah".

SUKIDI
Mahasiswa PhD in Religion, Harvard University, Cambridge, dan Kader Muhammadiyah

 

 

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke