| Mataram, Kembali ke Jati Dirimu Emmanuel Subangun Yogya, Sabtu (27/5) pukul 5.53.58, sama dengan New York, 11 September. New York dengan dua gedung kembar yang merupakan simbol kapitalisme dan ateisme Amerika Serikat luluh lantak oleh Al Qaeda dengan kaum jihadnya. Yogya dengan nafsu menggebu menjadi hub, titik simpul kegiatan
ekonomi, budaya, dan dagang juga luluh lantak oleh keperkasaan tokoh imaginer yang kita hormati, Nyai Loro Kidul! Kita wajib hormat pada Nyai Loro Kidul bukan karena "sosok", tetapi karena harus hormat pada seruan nenek moyang. Artinya, jika dengan pengetahuan dan teknologi seismologis kita tahu soal sabuk api Pasifik, lempeng benua, dan sesar Sanden-Pulung, nenek moyang kita dengan batin dan kedalaman hati sudah mengingatkan, tanah Ibu Kota Mataram, persis pada jalur imajiner kekuasaan Kyai Sapu Jagad yang bermukim di Merapi dan Kanjeng Nyai Kidul, penjaga lautan. Kehilangan jati diri Pengertian "mito"logi jangan disepelekan sebagai lebih rendah dari "tekno"logi. Cara berpikir "mito" sama indah dan benarnya dengan "tekno". Asal tidak "kongas" atau
membusungkan dada dan merasa serba tahu, kita akan melihat "kedalaman" mitologi dan "ketinggian" teknologi. Namun, nestapa sudah terjadi, tepatnya berulang lagi. Ketika Pangeran Mangkubumi mendirikan takhta Yogya setelah palihan nagari tahun 1755, ia adalah raja besar yang memiliki watak aristokratis Jawa yang diturunkan dari moyangnya di awal abad XVII, Sultan Agung. Watak aristokratis ini lalu memudar menjadi nafsu kewangsaan (dinasti), sekadar meneruskan tradisi menjadi raja dan mencapai puncaknya di saat ini. Sang raja, dalam hal ini Gubernur DI Yogyakarta, seakan tidak berkutik menyaksikan ribuan rakyatnya tewas dan hancur, mirip kehancuran perang daripada bencana alam. Berhari-hari rakyat menjerit kesakitan, pedih, dan putus-asa, sedangkan penguasa sibuk dengan rapat dan rapat, untuk akhirnya, setelah sepasar, diputuskan: potong
lekuk-liku birokrasi. Aristokrasi yang telah berubah menjadi birokrasi menjadikan Yogya kehilangan jati diri. Seakan mabuk dengan gadget, mal, ruko, dan segala kuil berhala konsumsi lain, hingga universitas perjuangan pun sudah jadi BHMN, demi kata sopan "komersialisasi" UGM. Birokratisme yang buta pada rakyat inilah yang memungkinkan Ambarrukmo Plaza, misalnya, diizinkan untuk dibangun pengusaha, meski masyarakat menentang. Betapa tidak? Bangunan itu diletakkan di kawasan warisan budaya keraton yang sebenarnya harus dijaga dan dihormati. Kalangan aktivis "Heritage" gusar. Kawasan itu merupakan daerah buangan saluran air warga sekitar sehingga soil mechanics selalu dipersoalkan. Karena itu, kaum "Amdal" tak habis mengerti mengapa bangunan bertingkat dan mewah itu diizinkan berdiri. Ditambah lagi, tanah itu (konon) milik pribadi Hamengku Buwono VII sehingga kerabat sendiri kurang nyaman dengan kuil berhala konsumsi itu. Selalu goyah Ketika gempa tektonik melanda ribuan rumah warga sepanjang sesar Sanden-Pulung dan memakan 5000-an anaknya sendiri, saya hanya bisa menangis. Saya sadar penuh, bumi Mataram bukan buatan kita dua abad silam. Ibu Pertiwi adalah sebuah graben/amblesan yang terbentuk sejak zaman Miosen, sekitar 5.000.000 tahun. Sebuah cekukan antara Gunung Kidul dan Bukit Menoreh. Lalu di bawah sesar Kali Opak itu tergaris lempeng benua yang bertemu di Palung Jawa, Lempeng Australia, dan Eurasia. Lebih lagi, kota ini ada dalam ring of fire Pasifik yang membentang jauh sepanjang lautan Teduh. Kita tinggal di sebuah titik yang selalu goyah. AA Navis, penulis dari Minangkabau, meratapi tanah leluhurnya dalam novel Robohnya Surau Kami. Al Qaeda yang geram dengan AS "mengirim" dua pesawat komersial untuk merobohkan World Trade Center. Kini Ibu Pertiwi yang murka dan menghardik putra-putrinya membiarkan lempeng benua itu bergerak, saling menunjam dan melepaskan keperkasaan energi primer berkekuatan 5,6 SR. Peringatan itu harap disambut dengan hati bersih. Sudah saatnya kuil berhala konsumsi di Ngayogyakarta Hadiningrat dirobohkan demi keselamatan rakyat. Dua kuil kembar, Saphire Square dan Ambarrukmo Plaza, ditegur sang ratu dengan retakan, robohan, dan kehancuran. Rusaknya dua kuil berhala konsumsi di bumi Mataram adalah ajakan untuk kaum cacah dari Yogya/Mataram untuk kembali ke jati diri. Lebih dari 5.000 nyawadipersembahkan kepada dewa nafsu bermodern ala Yogya. Ini adalah persembahan paling kolosal
sepanjang sejarah Mataram, sejak Pangeran Mangkubumi meletakkan istananya di tempat keraton sekarang ini. Mataram yang lupa jati diri adalah nagari yang bergerak tanpa roh dan mitologi serta dengan limpahan barang konsumsi saja. Putra-putri Mataram kalian adalah anak keturunan wong agung ngeksi gondo, Pangeran Mangkubumi pendiri wangsa kita. Kembalilah ke jati dirimu, bergerak antara mitologi dan teknologi. Emmanuel Subangun Pengamat Sosial Kebudayaan, Tinggal di Yogyakarta |