|
33. Kepada Siapa Pemberian Harus Diberikan? Suatu ketika Vacchagotta si kelana menghampiri Sang Buddha dan berkata demikian: (29) "Telah saya dengar, Guru Gotama, bahwa Petapa Gotama berkata: 'Hadiah harus diberikan hanya kepadaku dan bukan kepada yang lain; hadiah harus diberikan hanya kepada siswa-siswaku dan bukan kepada siswa-siswa yang lain. Hanya apa yang diberikan kepadaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada yang lain; hanya apa yang diberikan kepada siswa-siswaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada siswa-siswa yang lain.' Guru Gotama, apakah mereka yang mengatakan demikian itu benar-benar menyampaikan kata-kata Guru Gotama dan tidak salah mewakili Beliau? Apakah mereka menyatakan hal ini sesuai dengan ajaran-ajaran Guru? Apakah pernyataan mereka itu tidak menimbulkan alasan untuk dicela? Kami tentu saja tidak ingin salah mewakili Guru Gotama." "Mereka yang mengatakan demikian, Vacca, tidak melaporkan kata-kataku dengan benar, melainkan salah mewakiliku. Pernyataan mereka tidak sesuai dengan ajaran-ajaranku dan pernyataan mereka yang salah tentu saja akan menimbulkan penyebab celaan. "Vacca, siapapun yang mencegah orang lain agar tidak memberikan dana berarti menyebabkan penghalang dan kesukaran bagi tiga orang: dia menghalangi si pemberi untuk melakukan suatu tindakan yang berjasa, dia menghalangi si penerima untuk menerima pemberian itu, dan sebelum itu, dia merendahkan dan merugikan wataknya sendiri. Inilah, Vacca, apa yang sesungguhnya kuajarkan: bahkan seandainya seseorang melempar air bekas cucian mangkuk atau cangkir ke kolam desa, dengan harapan bahwa makhluk-makhluk hidup di sana bisa memperoleh makanan dari itu - bahkan perbuatan ini pun akan menjadi sumber perbuatan jasa, apalagi memberikan sesuatu kepada manusia. "Tetapi aku memang menyatakan bahwa persembahan yang diberikan kepada mereka yang luhur akan memberikan buah yang kaya, dan buah persembahan tidak akan sebanyak itu bila diberikan kepada mereka yang tidak luhur.(30) Orang yang luhur telah meninggalkan lima sifat dan memiliki lima sifat lain. Apakah lima sifat yang telah dia tinggalkan itu? Nafsu indera, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kecemasan, dan keraguan: inilah lima sifat yang telah dia tinggalkan. Dan apakah lima sifat yang dia miliki? Dia memiliki keluhuran, konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, dan pengetahuan serta visi pembebasan dari orang yang telah sempurna latihannya. Inilah lima sifat yang dimilikinya. "Memberi kepada orang yang telah meninggalkan lima sifat itu dan yang memiliki lima sifat ini - inilah yang kunyatakan akan memberikan buah yang kaya." (III, 57) 29 Si kelana Vacchagotta sering muncul di dalam sutta yang melibatkan Sang Buddha di dalam pertanyaan-pertanyaan yang gencar tentang pokok-pokok metafisika yang spekulatif, dan Sang Buddha menolak menjawabnya; lihat MN 72, SN Bab 33, SN 44:7-11. Menurut MN dia akhirnya menjadi bhikkhu di bawah bimbingan Sang Buddha dan mencapai tingkat arahat. 30 Ini mengacu pada jasa kamma yang diperoleh dengan memberikan persembahan kepada para brahmana dan petapa. Menurut Sang Buddha, "kemampuan berbuah" dari suatu perbuatan memberi - yaitu kemampuannya untuk memberikan manfaat kepada si pemberi - bergantung pada interaksi dua faktor: niat dari si pemberi dan kemurnian dari penerima. Pemberian yang diberikan dengan keyakinan, kerendahan hati dan rasa hormat oleh seorang pemberi yang bijaksana akan memberikan lebih banyak buah daripada pemberian yang diberikan secara asal-asalan oleh seorang yang tidak bermoral. Dan suatu pemberian yang diberikan kepada seorang petapa yang luhur dan lurus akan memberikan lebih banyak buah daripada pemberian yang diberikan kepada orang yang secara spiritual tidak berkembang. Pemberian yang diberikan kepada arahat, ladang jasa yang paling tinggi, merupakan perbuatan paling berjasa, seperti yang dijelaskan oleh Sang Buddha. Untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai tema ini, lihat MN 142. Sifat-sifat yang ditinggalkan (persis di bawah ini) adalah lima rintangan. Sifat-sifat yang dimilliki adalah lima "kelompok-dhamma" dari "orang yang sempurna di dalam latihan" (asekha), yaitu arahat. ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
