Kompas, Jumat, 21 Juli 2006
(Jangan) Mengolok-olok Bencana
Seorang anak menangis sejadi-jadinya. Ia kehilangan kedua orangtuanya. Yang lain, seorang ibu (tampak sebagai seorang istri) juga menangis. Ia bahkan kehilangan anak, suami, dan rumahnya.
Si anak dan si ibu, sama-sama menangis. Emosi mereka tercurah, seperti derasnya aliran air mata pada kedua pipi mereka. Tapi bencana yang dialami tidak akan pernah mengembalikan orangtua, suami, anak, dan rumah mereka. Semua amblas dilahap bencana.
Di balik bencana, yang rentetannya panjang—dari kelaparan, banjir, tanah longsor, gempa dan tsunami, gunung meletus, lumpur panas, sampai kecelakaan kereta api—kelihatan jelas bahwa manusia itu sesungguhnya kecil; mikro-kosmos yang tidak berdaya. Ia cuma "binatang" dari sejumlah binatang. Berdiri tegak, berpikir, merasakan sesuatu, tetapi tidak sanggup mencerna lebih dalam "misteri" yang akan menimpa dirinya sendiri. Takluk!
Bencana merupakan olok- olokan terhadap rasionalitas modern. Air mata adalah pengakuannya. Apa pun yang menjadi alasan di balik bencana beruntun yang menimpa Indonesia ini, haruslah diakui bahwa ilmu pengetahuan tidak mampu meramalkan secara pasti apa yang akan terjadi. Lagi pula ilmu pengetahuan pun menjadi lemah berhadapan dengan tragis dan maha dahsyatnya kekuatan yang memorak-porandakan itu serta akibat yang ditimbulkan.
Tingkat pengukuran yang kasat mata dan objektif bukan merupakan penggambaran yang mewakili sejumlah asumsi dasar dari kejadian tersebut. Kejujuran kata-kata dan angka-angka dari peristiwa itu justru semakin melukai manusia sebagai pemilik pengetahuan itu sendiri. Dan, dari keadaan itu, manusia semakin tersudut. Kemanusiaannya pun semakin terlucuti.
Kalaupun orang yang selamat dari bencana itu membaca dan mencerna kata-kata dan angka-angka itu, ia tidak juga pernah menemukan dirinya dalam keadaan selamat seperti sebelum bencana datang. Ia bahkan merasa dikucilkan dari kehidupannya karena pribadi, suasana, kekerabatan, kemasyarakatan tinggal sebagai "anonim" dalam kata-kata dan angka-angka itu. Ia benar-benar merasakan kehilangan yang sesungguhnya.
Yang bergoyang terguncang
Bumi dan segala isinya sedang bergoyang. Iramanya menunjukkan denyut alamiah dari inti dirinya. Bumi tidak mampu menipu dirinya bahwa peristiwa penciptaan bukan merupakan kejadian yang sekali jadi langsung sempurna. Ada bagian yang mesti dilengkapinya sendiri dari keseimbangan orde kosmos yang harus dipeliharanya.
Sejatinya, manusia dan segala makhluk di Bumi mesti bersedia menerima konsekuensinya. Sesungguhnya Bumi sama sekali tidak pernah pura-pura untuk menunjukkan geliat alamiahnya. Sebab, karena "kebetulan" saja manusia ada di atas permukaannya. Karena itu, ia turut bergoyang dalam "irama" alam.
Untuk Bumi, gerakannya adalah sebuah goyangan. Namun bagi manusia itu adalah guncangan. Skenario pun dibuat. "Bencana" dihadirkan sebagai drama kolosal yang tragis, penuh tangis, darah, dan chaos.
Bencana adalah kaca mata manusia. Ia ada sejalan dengan penderitaan yang dirasakan getir dalam gerakan orde kosmos itu. Manusia pun menganggap Bumi itu kejam. Bumi tidak berpihak kepada manusia. Bumi tidak bersahabat kepada manusia. Siapa yang salah?
Tuhan yang salah!
Seorang agamawan meneriakkan kata-kata itu dalam hatinya. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Bencana itu sangat tidak sesuai dengan sifat Tuhan yang adil, yang maha baik.
Tuhan menciptakan Bumi seperti sebuah lukisan. Kekuatan lukisan itu ada pada keseimbangan unsur-unsurnya. Pencahayaan, warna-warni, keras lembut merupakan jiplakan dari lukisan Tuhan yang pertama. Sebagai sebuah jiplakan, lukisan manusia sesungguhnya tidak nyata, tidak benar-benar hidup. Manusia hanya bisa memberikan napas buatan. Tetapi Tuhan? Ia sungguh memberikan roh pada setiap lukisan-Nya. Ada denyut kehidupan!
Roh yang dimaksud adalah roh keseimbangan. Segala sesuatu yang Tuhan lukis ada secara seimbang dalam identitas dan kebebasannya. Ia tidak pernah mendatangkan ketidakteraturan, sama seperti arti "bencana" rekaan manusia. Dan, segala sesuatu yang dilukiskan Tuhan itu akan bergerak mencari keseimbangannya sesuai dengan identitas dan kebebasannya masing-masing.
Mencair, membeku, menguap, mengalir, meluap, meledak, jatuh-roboh, tegak-berdiri adalah sifat-sifat yang diberikan Tuhan dalam hukum-hukum lukisannya. Dan mereka tidak dapat menyimpang dari hukum ini.
Yang menjadi soal adalah ketika sebuah keseimbangan orde kosmos dari lukisan Tuhan itu diubah, diintervensi, bahkan dirusakkan, maka hukum keseimbangan itu akan mencari dalil untuk menyempurnakan kembali perubahan itu. Sifatnya bukan balas dendam, bukan juga karena kemarahan, atau iri hati.
Bentuknya pun jauh dari kriminalitas. Ia hanya berusaha mengisi "kekurangan" dari keseimbangan yang sudah dirusakkan. Mempertahankan kebaikan, harmoni dengan mencari keseimbangan baru dari perubahan yang sudah terjadi. Alam sedang menyembuhkan dirinya sendiri dari luka akibat dirusakkan.
Tuhan tidak bersalah!
Keajaiban solidaritas
Lalu apa yang akan kita lakukan pada manusia yang "kebetulan" ada di permukaan Bumi ini? Solusi yang dikemukakan Leibniz dalam "monade-monade"-nya yang mencukupi dalam dunianya sendiri terasa terlalu memberatkan untuk menghadirkan kembali dunia yang benar-benar terbaik dari yang terbaik.
Rumah, keluarga, mata pencaharian yang raib adalah keburukan yang tidak bisa diandaikan dapat menyembuhkan dirinya sendiri dalam bangunan monade Leibniz. Titik zero bukan dunia yang terbaik buat berdiri tegak di atas kemalangan. Hipotesis ini tidak dapat dipakai!
Anjuran Brown dalam Da Vinci Code yang mengkriminalkan Gereja karena membunuh identitas perempuan suci, mengurungkan konsep kesempurnaan yang erotis, di titik jasmaniah dan profan belaka pun bukan obat yang mujarab. Yang suci yang bersenggama! Terlalu jasmaniah, erotik, dan membabibuta. Tidak ada nilai yang lebih tinggi selain kulit luar dengan nikmat sesaat.
Keseimbangan yang dibutuhkan. Dan, timbangan yang dapat menakar semua penderitaan itu adalah solidaritas. Barangkali alam tahu bahwa individualisme, sukuisme, konco-isme sudah jauh merasuk dalam kehidupan bermasyarakat sekarang. Hubungan baik bisa saja terjadi dalam take and give.
Lebih dari itu, hanya orang yang merasa terpanggillah yang mampu memberikan dirinya secara utuh untuk orang lain. Padahal justru itulah yang sangat dibutuhkan oleh sesama kita. Berada bersama dan menyatakan keberpihakan secara nyata. Sudah banyak yang menderita oleh egoisme kita!
Alexander SUSANTO
Koordinator Lintas Batas Woman Writing Club


Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke