From: BCL T <[EMAIL PROTECTED]>
[...].... ada satu istilah yang menarik di sini, tanpa aku, sebetulnya ini
mungkin terjemahan langsung dari istilah anatta atau yang oleh banyak orang dan
beberapa buku buddhis diterjemahkan sebagai "tanpa aku"
Di dalam zen itu ada satu uraian yang mengatakan..." kalau tiada aku, lalu
siapa yang bermeditasi apa boneka kayu atau orang-orangan sawah? kalau ada aku
lalu siapa yang terbebaskan dan mana mungkin aku bermeditasi untuk meniadakan
aku"... istilah iklannya masak jeruk makan jeruk ... hehehehe, namun tetap saja
banyak yang mencoba mengistilahkan anatta itu sebagai tanpa aku dan lalu tetap
mau memaksa diri untuk menjelaskan kondisi anatta itu seolah-olah tiada yang
perlu diraih dan perlu dicapai.
[...]
salam kasih
bclt
=============================
HUDOYO:
Yah, taraf pemahamannya baru sampai di situ, mau diapakan lagi. ... :-(
Barangkali bait dari kitab Visuddhi-magga ini akan disanggahnya pula:
"Penderitaan ada, tetapi tidak ada yang menderita;
Tindakan ada, tetapi tidak ada si pelaku tindakan;
Nibbana ada, tetapi tidak ada yang memasukinya;
Jalan Mulia ada, tetapi tidak ada pejalan yang terlihat menempuhnya."
[Visuddhi-magga, xvi]
Kalau tidak disanggah, jelas kepalanya akan pusing.
hudoyo
PS: Tolong ditampilkan REFERENSI OTENTIK dari pernyataan Anda tentang Zen: "
kalau tiada aku, lalu siapa yang bermeditasi apa boneka kayu atau orang-orangan
sawah? kalau ada aku lalu siapa yang terbebaskan dan mana mungkin aku
bermeditasi untuk meniadakan aku". Tolong ditampilkan seluruh konteks kalimat
itu. Saya kok tidak percaya ada Guru Zen yang berkata begitu!--atau mungkin
dicomot sepotong-sepotong.
==============================
ANATTAA
Oleh: Alm. YM NYANATILOKA
Diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio
'Anattaa' : 'bukan-diri', non-ego, tanpa ego, impersonalitas, adalah
karakteristik ketiga dari ketiga karakteristik eksistensi (ti-lakkhana).
Doktrin 'anattaa' mengajarkan bahwa di DALAM fenomena badan dan batin ini,
maupun di LUAR-nya, tidak ada sesuatu yang dalam arti terakhir (metafisikal)
dapat dianggap sebagai entitas-diri yang berada sendiri secara nyata (a
self-existing real ego-entitiy), roh atau substansi apa pun yang menetap.
Inilah doktrin sentral dari Buddhisme, yang tanpa memahami itu tidak mungkin
memahami Buddhisme secara benar. Doktrin itu adalah satu-satunya doktrin yang
spesifik Buddhis, yang di atasnya seluruh Struktur ajaran Buddha tegak atau
runtuh. Semua doktrin-doktrin Buddhis yang lain bisa sedikit banyak ditemukan
dalam sistem-sistem filsafat dan agama lain, tetapi doktrin anattaa hanya
diajarkan tanpa syarat oleh Buddha, dan dengan demikian Buddha dikenal sebagai
'anattaa-vadi', atau "Guru Impersonalitas".
Barang siapa belum menembus impersonalitas dari seluruh eksistensi, dan tidak
memahami bahwa dalam kenyataannya hanya ada proses timbul-lenyapnya fenomena
badan & batin yang membakar diri, dan bahwa tidak ada entitas-diri yang
terpisah di dalam maupun di luar proses ini, ia tidak akan bisa memahami
Buddhisme, yakni ajaran Empat Kebenaran Suci dalam pengertian yang benar. Ia
akan mengira bahwa egonya, personalitasnya yang mengalami penderitaan, bahwa
personalitasnya yang melakukan perbuatan baik dan buruk dan akan lahir kembali
sesuai dengan tindakan-tindakan ini, bahwa personalitasnya yang akan masuk ke
Nibbana, bahwa personalitasnya yang menempuh Jalan Suci Berunsur Delapan. Dalam
kitab Visuddhi Magga, xvi, tertulis:
"Penderitaan ada, tetapi tidak ada yang menderita;
Tindakan ada, tetapi tidak ada si pelaku tindakan;
Nibbana ada, tetapi tidak ada yang memasukiya;
Jalan Mulia ada, tetapi tidak ada pejalan yang terlihat menempuhnya."
Sementara dalam hal 'anicca' dan 'dukkha' dinyatakan bahwa 'segala bentukan'
(Sabbe sankhara) adalah 'tidak kekal' dan 'tidak memuaskan', maka untuk
'anatta' dikatakan " 'Segala sesuatu' adalah bukan-diri." (Sabbe dhamma
anatta). (Majjhima nikaya, 35, Dhammapada, 279). Ini untuk menekankan bahwa
pandangan salah tentang diri atau substansi yang menetap bukan hanya berlaku
untuk semua 'bentukan' atau fenomena yang terkondisi, tetapi juga untuk
Nibbana, Unsur Tak Terkondisi (asankhata dhatu).
Anatta-lakkhana-sutta, "Khotbah tentang Sifat Bukan-Aku", adalah khotbah kedua
setelah Pencerahan, yang dibabarkan oleh Buddha kepada kelima petapa yang
menjadi muridnya, dan yang setelah mendengar itu mencapai Kesucian sempurna
(arahat).
Perenungan akan anatta (anatta-nupassana) membawa pada pembebasan kekosongan
(sunnyata-vimokkha). Di sini daya batin kearifan (pannya-indriya) amat
menonjol, dan orang yang dengan cara itu mencapai keadaan Sotapatti, disebut
'Dhamma-nusari' (penganut Dhamma). Pada tingkat Sakadagami dan Anagami ia
disebut 'ditthippatta' (Pencapai visiun), dan pada tingkat arahat, ia dinamakan
'pannya-vimutta' (terbebas melalui kearifan).
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/