BUDDHA DAN MARA (2)
Setiap saat anda berlatih perhatian murniketika anda hidup dengan
penuh kesadarananda berada di dalam Buddha. Ketika anda hidup dalam
kelengahan, anda berada di dalam Mara. Tetapi janganlah berpikir bahwa
Buddha dan Mara adalah musuh yang menghabiskan seluruh harinya
bertikai satu sama lainnya. Tidak. Mereka adalah sahabat. Di bawah ini
ada sebuah cerita yang saya tulis.
Suatu hari, Buddha sedang tinggal di dalam sebuah gua, yang sejuk
suasananya. Ananda, pelayan Buddha, sedang berlatih meditasi jalan di
dekat gua, berusaha untuk menahan orang-orang banyak yang selalu
datang untuk untuk mengunjungi Buddha supaya Buddha tidak perlu
menerima tamu sepanjang hari. Hari itu, ketika Ananda sedang berlatih,
ia melihat seseorang menghampiri. Ketika orang itu semakin dekat,
Ananda mengenalinya sebagai Mara.
Mara telah menggoda Buddha pada malam sebelum Buddha mencapai
pencerahan. Mara telah berkata kepada Buddha bahwa ia dapat menjadi
seseorang dengan kekuasaan yang hebatseorang politikus, seorang raja,
seorang presiden, seorang menteri luar negri, atau seorang pebisnis
sukses dengan uang dan wanita-wanita cantikjika ia melepaskan latihan
perhatian murninya. Mara telah berusaha dengan sangat gigih untuk
meyakinkan Buddha, tetapi hal itu tidak berhasil.
Meskipun Ananda merasa sangat tidak nyaman dalam jangkauan Mara, Mara
telah melihatnya, jadi ia tidak dapat bersembunyi. Mereka menyapa satu
sama lainnya.
Mara berkata, "Saya mau bertemu Buddha"
Ketika kepala dari perusahaan tidak ingin bertemu seseorang, ia
meminta sekretarisnya untuk mengatakan, "Maaf, ia sedang ada pertemuan
saat ini." Meskipun Ananda ingin mengatakan seperti itu, ia mengetahui
hal itu adalah berbohong dan ia ingin berlatih sila keempat dari tidak
berbohong. Jadi ia memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di
batinnya kepada Mara.
"Mara, kenapa Buddha harus bertemu dengan kamu? Apa tujuannya? Apa
kamu tidak ingat bagaimana kamu dikalahkan oleh Buddha di bawah pohon
Bodhi? Bagaimana kamu berani untuk bertemu lagi dengannya? Apa kamu
tidak memiliki malu? Kenapa ia harus bertemu denganmu? Kamu adalah
musuhnya."
Mara tidak terpengaruh semangatnya oleh kata-kata Y.A. Ananda. Ia
hanya tersenyum dan mendengarkan pemuda itu. Ketika Ananda telah
selesai, Mara tertawa dan menanyakan, "Apakah gurumu benar-benar
mengatakan kalau ia memiliki musuh?"
Hal ini membuat Ananda menjadi sangat tidak nyaman. Baginya terlihat
tidak benar untuk mengatakan bahwa Buddha memiliki musuh, tetapi ia
telah mengatakannya! Buddha tidak pernah mengatakan bahwa ia memiliki
musuh. Apabila anda tidak berkonsentrasi dengan sangat dalam atau
dengan penuh kesadaran, anda dapat mengatakan hal-hal yang berlawanan
terhadap apa yang anda ketahui dan anda latih. Ananda menjadi bingung.
Ia memasuki gua untuk memberitahukan tentang Mara, berharap bahwa
gurunya akan mengatakan, "Beritahu dia aku tidak ada di rumah!" atau,
"Beritahu dia aku sedang ada pertemuan!"
Betapa terkejutnya Ananda, Buddha tersenyum dan mengatakan, "Mara!
Menakjubkan! Ajak ia masuk!"
Ananda menjadi bingung terhadap respon Buddha ini. Tetapi ia
melaksanakan seperti yang Buddha katakan dan mengundang masuk Mara.
Dan anda tahu apa yang Buddha lakukan? Ia memeluk Mara! Ananda tidak
dapat mengerti hal ini. Kemudian Buddha mengundang Mara untuk duduk
pada tempat yang terbaik di dalam gua, dan, berbalik kepada
pengikutnya terkasih, berkata, "Ananda, dapatkah engkau pergi dan
membuatkan teh untuk kita?"
Seperti yang anda bisa tebak, Ananda tidak begitu senang terhadap hal
ini. Membuat teh untuk Buddha adalah suatu halia bisa melakukannya
ribuan kali seharitetapi membuat teh untuk Mara bukanlah suatu hal
yang ia ingin kerjakan. Akan tetapi karena Buddha telah meminta ia
untuk melakukannya, ia tidak dapat menolaknya.
Buddha memandang Mara dengan penuh kasih. "Wahai sahabat," sapanya,
"bagaimana kabarmu? Apakah semua baik-baik saja?"
Mara menjawab, "Tidak, keadaan tidak baik sama sekali, sangat buruk.
Aku sangatlah lelah menjadi Mara. Aku ingin menjadi seseorang yang
lain, seseorang seperti kamu. Ke mana pun kamu pergi kamu diterima,
dan orang-orang membungkuk menghormatimu. Kamu memiliki banyak biksu
dan biksuni dengan wajah menyenangkan yang mengikutimu, dan kamu
diberikan persembahan pisang, jeruk, dan kiwi.
"Ke mana pun aku pergi," Mara melanjutkan, "aku harus menggunakan
kepribadian seorang MaraAku harus berbicara dengan sikap yang
menghasut dan mempertahankan sebuah pasukan Mara-Mara kecil yang
kejam. Setiap saat aku bernafas keluar, aku harus menghembuskan asap
dari hidungku! Tetapi aku tidak begitu sering memikirkan hal-hal
tersebut; yang lebih menggangguku adalah bahwa para pengikutku,
Mara-Mara kecil, telah mulai berbicara mengenai transformasi dan
penyembuhan. Ketika mereka berbicara tentang pembebasan dan
Kebuddhaan, aku tak tahan dengan itu. Itulah mengapa aku datang untuk
mengajukan kalau-kalau kita bisa bertukar peran. Kamu bisa menjadi
seorang Mara, dan aku akan menjadi seorang Buddha."
Ketika Y.A. Ananda mendengar ini, hal itu membuatnya begitu ketakutan,
ia berpikir jantungnya akan berhenti. Bagaimana jika Buddha memutuskan
untuk berganti peran? Maka Ananda akan menjadi pelayan Mara! Ananda
berharap Buddha akan menolaknya.
Buddha dengan lembut memandang Mara dan tersenyum. "Apakah menurut
pikiranmu mudah untuk menjadi Buddha?" ia bertanya. "Orang-orang
selalu salah memahami aku dan memakai mulutku untuk perkataan mereka.
Mereka membangun kuil-kuil dengan patung diriku yang terbuat dari
tembaga, semen, emas, maupun jamrud. Sekelompok besar orang
mempersembahkan aku pisang, jeruk, permen, dan benda-benda lainnya.
Kadangkala aku dibawa dalam prosesi, duduk seperti seorang pemabuk di
atas tumpukan bunga-bunga. Aku tidak menyukai menjadi Buddha yang
seperti ini. Terlalu banyak hal-hal buruk yang telah dilakukan dalam
namaku. Jadi kamu bisa melihat bahwa menjadi seorang Buddha juga
sangatlah sulit. Menjadi seorang guru dan membantu orang-orang
berlatih bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Nyatanya, aku tidak
berpikir kamu akan sangat menikmati menjadi seorang Buddha. Merupakan
suatu hal yang lebih baik jika kita berdua terus melaksanakan apa yang
kita lakukan dan berusaha melakukan yang terbaik."
Apabila anda sedang berada di sana bersama Ananda, dan jika anda
sedang dalam keadaan penuh kesadaran, anda akan merasakan bahwa Buddha
dan Mara adalah sahabat. Mereka berjumpa satu sama lainnya seperti
siang dan malam, seperti bunga dan sampah hadir bersama-sama. Ini
adalah ajaran yang sangat dalam dari Buddha.
Diterjemahkan oleh : Dayapala Steven
Diedit oleh : Bhante Dharmavimala
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/