Kompas - Senin, 18 September 2006

Nasional
Upaya Mempertemukan Dua Kutub

Pepih nugraha

Moeslim Abdurrahman melontarkan tanya, apakah bisa spiritualitas dipersandingkan dengan ekonomi dalam bentuk kegiatan bisnis dan kapitalisme. Dua hal yang berbeda, ibarat langit dan bumi atau Kutub Utara dan Kutub Selatan. Spiritualitas berorientasi nonprofit yang jauh dari keduniawian, sedangkan bisnis memang untuk mencari profit.

Meski demikian, cendekiawan Muslim itu berharap agar kedua kutub yang berbeda itu dicarikan titik temunya, setidak-tidaknya diperhadapkan lebih dekat lagi kalau tidak bisa direkatkan sama sekali. "Kita harus berani melakukan exercise yang berangkat dari tradisi kita, yakni keyakinan kita dan kultur usaha kita," kata Moeslim, panelis dalam Seminar "Vitalisasi Spiritualitas dalam Pemberdayaan Ekonomi" di Bentara Budaya Jakarta, 1 September lalu.

Bagi Sudhamek Agung WS, panelis lainnya, kebiasaan sementara orang yang memahami filsafat Barat sering kali terjebak atau bahkan terbelenggu pemikiran dikotomis. Misalnya, spiritualitas dipertentangkan dengan ekonomi. Padahal, menurut dia, banyak hal dalam kehidupan yang kita bayangkan sebagai dikotomi tetapi sesungguhnya sekadar paradoks.

Paradoks diartikan sebagai suatu keadaan di mana dua fenomena atau lebih yang di permukaan terlihat bertentangan, tetapi saat diperdalam lagi dapat direkonsiliasikan. Artinya, paradoks sebagai sesuatu yang dapat direkonsiliasikan, sama seperti dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau kita melihat ini sebagai paradoks, kita tidak terjebak dalam pemikiran dikotomis; mau pilih spiritual atau bisnis," ujarnya.

Dengan mencontohkan pengalaman dirinya selaku pemimpin perusahaan Garuda Food, Sudhamek mengemukakan, kehidupan antara bisnis dengan spiritual merupakan suatu paradoks yang dapat direkonsiliasikan. Pertanyaannya, bagaimana menarik prinsip-prinsip bisnis ke arah spiritual, sebagaimana disentil moderator seminar Djisman Simandjuntak.

"Untuk menarik prinsip-prinsip itu, maka spiritualitas harus menjadi roh dari sebuah perusahaan dan itu harus dimulai dari pucuk pimpinannya. Kalau pucuk pimpinan sendiri tidak memiliki pandangan seperti itu, jangan pernah berharap akan terjadi perubahan pada perusahaan itu," papar Sudhamek.

Hal kedua, lanjut Sudhamek, karena menarik prinsip bisnis ke arah spiritual menyangkut hal yang sangat mendasar, yakni manajemen strategis yang mengajarkan bagaimana keberlanjutan sebuah organisasi tetap terjaga, maka keberlanjutan itu harus digarap dengan penuh kesabaran dari bawah.

Hal yang paling bawah itu, menurutnya, tidak lain apa yang disebut corporate core value dalam bentuk filosofi perusahaan. Misalnya, spirit bahwa sukses itu lahir dari kesabaran dan keuletan dengan diiringi doa.

"Kalau kami rapat, baik dengan karyawan ataupun tamu dari luar, kami selalu memulainya dengan doa dan ditutup dengan doa pula. Bahkan, kita sudah tekankan bahwa doa itu bukan lagi kita nyatakan dalam bentuk permohonan, tetapi adalah bagaimana kita melakukannya dengan cara-cara yang lebih mediatif, sebab dari situlah akan lahir kreativitas," ungkapnya.

Sudhamek mengingatkan, jangan sampai kita terjebak dalam pemikiran dikotomis dengan mengutip sebuah pernyataan, yakni science is below the mind, spirutality is be on the mind. Tiga arah, yakni sains, pikiran, dan spiritualitas, menurutnya, harus direkonsiliasikan agar tercapai suatu titik temu.

"Masih banyak hal yang belum dapat dijelaskan oleh sains, misalnya, sehingga kita tidak bisa semata-mata bertumpu kepada hasil yang dicapai sains, meski harus diakui sains telah memberikan sumbangan besar bagi kehidupan manusia," katanya.

Menurut Sudhamek, sekarang titik temunya sudah kelihatan dengan ditemukan spiritualitas dalam kuantum fisik. Bahwa apa yang dikatakan ultimate reality dalam pandangan Buddhis, katanya, terdapat pula dalam kuantum fisik, setidak-tidaknya banyak kemiripan.

Di sini terlihat pendekatan sains dengan spiritual bisa direkonsiliasikan. "Arahnya bahwa kita baru mulai merekonsiliasikan spiritualitas dengan bisnis sudah benar. Arah itu baru bisa kita sepakati kalau kita berpikir rekonsiliatif," ucapnya.

Pemutihan spiritual

Moeslim mengakui, spiritualitas dan bisnis merupakan dua level perbincangan yang berbeda. Jika hendak direkonsiliasikan antara materi (bisnis) dengan spiritual, adalah dengan cara pemutihan spiritual.

"Berusaha dengan cara apa pun, asalkan mendapat sesuatu yang baru setelah diputihkan," katanya. Ia menyebut pengusaha yang pergi haji, melakukan umroh, atau menyantuni yatim piatu sebagai praktik pemutihan spiritual dimaksud.

Menjawab pertanyaan peserta apakah spiritual bisa mendorong kemajuan dalam proses kapitalisme, dan sebaliknya apakah kapitalisme mampu mendorong spiritualisme, Moeslim menjelaskan, dalam Islam belum ada orang yang menggagas "kapitalisme Islam", tetapi yang ada "sosialisme Islam".

Dia menambahkan, salah satu semangat lahirnya Islam adalah untuk mengoreksi kapitalisme. Mengapa Islam lebih dekat pada sosialisme, tanyanya, karena ada semangat kolektivisme dan emansipatoris yang kuat dalam Islam.

"Sebenarnya dorongan di Islam itu seimbang, karena kalau kita dengar di pengajian selalu dikatakan, ’Carilah untuk duniamu seolah-olah kamu tidak pernah mati, tetapi carilah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati esok hari.' Juga dikatakan, ’Bohong kamu merasa Islam karena melaksanakan shalat, tetapi kamu tidak memedulikan orang-orang yang menderita, seperti orang-orang miskin'. Kira-kira begitu," papar Moeslim.

Itulah sebabnya, ujar Moeslim, dalam praktiknya Islam memerlukan negara, tidak hanya sekadar individu-individu. Negara harus memaksa setiap orang Islam untuk membayar zakat, sebab zakat adalah rezeki yang merupakan bagian orang miskin. Zakat merupakan kewajiban, obligation, sekaligus semacam kewajiban sosial korporat.

"Karenanya, kalau ada orang Islam tidak mengeluarkan zakat padahal sudah waktunya, negara bisa mengambilnya secara paksa. Tetapi, kalau orang sudah berzakat namun masih punya kelebihan rezeki, orang itu dianjurkan untuk sadaqoh. Artinya, sadaqoh merupakan mekanisme karitatif, tetapi zakat merupakan kewajiban yang dapat dipaksakan," papar Moeslim.

Ia justru mengkhawatirkan spiritualitas religiositas benar-benar terpisah dari kegiatan bisnis dan menjadi sesuatu yang segmented, di mana antara kesalehan dan tanggung jawab sosial tidak ada kaitannya.

Padahal, katanya, bisnis akan bermakna apabila kapitalisme yang tidak human menjadi kapitalisme yang humanis, sebab ekonomi yang sekarang ada lebih banyak menjadi kekuatan Barat. "Kita sebagai orang dari tradisi agama-agama dan orang Timur jangan sampai larut," ujarnya, mengingatkan.

Dalam paparan makalahnya, Sudhamek menganggap dua sistem perekonomian yang ada sekarang, yakni sosialisme dan kapitalisme, mengandung permasalahan.

Sistem sosialis, katanya, terbukti tidak mampu mengangkat kesejahteraan hidup manusia dari aspek material. Sementara, kapitalisme mampu mengangkat kehidupan secara material tetapi menimbulkan sejumlah ekses yang mengganggu kehidupan manusia, antara lain kemiskinan absolut dan kerusakan lingkungan yang parah.

"Mimpinya, bagaimana pengusaha yang semula sekadar komunitas bisnis menjadi agen perubahan sosial, baik melalui perusahaannya maupun melalui individu-individunya," papar Sudhamek.

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke