Nasional
Spiritualitas
Bisnis dan Sebuah Proses Transendensi
Brigitta Isworo L
"Perusahaan pada hakikatnya adalah mesin uang." Demikian diungkapkan
seorang panelis dalam panel diskusi "Vitalisasi Spiritualitas dalam
Pemberdayaan Ekonomi" yang diadakan oleh Pengurus Pusat Majelis Buddhayana
Indonesia bersama Kompas.
Dengan meyakini pernyataan tersebut, jati diri sebuah perusahaan
akhirnya tinggal sebagai pengganda kapital belaka, atau kapitalis.
Selanjutnya panelis itu mengupas empat jenis kapitalis, mulai dari
kapitalis buas yang bertingkah semacam binatang ekonomi. Menelan segala,
tanpa peduli apa pun demi harta dan laba. Mereka ini menindas buruh,
menginjak hak konsumen, "bersahabat dekat" dengan penguasa demi usahanya,
dan harta negara dijarahnya.
Dalam perburuhan sikapnya pun jelas; jika satu buruh mundur, masih
seribu buruh mengantre mencari kerja. Mereka tidak memusingkan buruh.
Tidak ada pemangku kepentingan (stakeholders) selain pemilik modal dan
eksekutif perusahaan. Dan ini biasanya orangnya pun sama. Uang menjadi
sebuah nilai absolut dan sukses hanya berarti satu: kaya. Kapitalis jenis
inilah yang oleh Karl Marx disebut kaum burjouis.
Jenis kedua adalah kapitalis egois yang, antara lain, memandang
buruhnya seperti memandang "angsa bertelur emas". Buruh diperlakukan
dengan lebih ramah. Namun, jangan salah. Sikap itu bukan lantaran
kesadaran etis yang meningkat, melainkan karena mereka sudah cukup cerdas
untuk menyadari bahwa produktivitas buruh yang lapar akan sangat rendah.
Dari perbuatan baiknya kepada buruh, dia mendapat imbalan laba.
Kapitalis jenis ini hanya peduli kepada dirinya sendiri dan alat
produksinya yang berupa buruh. Kepada pelanggannya, partner usahanya,
lingkungannya, dan kepada negara, mereka belum begitu peduli. Mereka masih
menggelapkan pajak, masih berkolusi dengan pejabat, dan masih melanggar
hak konsumen.
Selanjutnya, kapitalis jenis ketiga adalah pengusaha yang sudah
menyadari arti tanggung jawab sosial. Mereka menyadari bahwa kehidupan
usahanya adalah sebuah realitas saling ketergantungan, interdependen di
dalam sebuah ruang sosial yang rentan terganggu keseimbangannya.
Domain stakeholders mulai melingkupi pemasok, pelanggan, buruh,
pesaing, dan masyarakat luas. Pemasok mulai dibina agar kualitas dan
kuantitas pasokan selalu terjamin. Pesaing bukan dipandang sebagai musuh,
profesionalisme dipraktikkan. Mutu produksi pun diutamakan, dan pelayanan
mulai dibudayakan.
Hubungan dengan masyarakat luas mulai dibina dengan memberikan
sumbangan-sumbangan sosial yang masih sarat dengan pamrih promosi.
Keharmonisan dengan masyarakat sekitarnya sudah menjadi sebuah
keniscayaan. Sumbangan-sumbangan sosial dianggarkan. Semua itu dilakukan
semata-mata untuk mendapatkan citra yang positif. Sikap sosialnya ini pun
masih amat labil. Maka, ketika usahanya menemui kesulitan, dana sosial itu
pun langsung menguap begitu saja.
Sementara itu, pengusaha jenis keempat sudah memiliki wawasan global
dan memiliki misi universal. Kepedulian sosial mereka tidak lagi bersifat
lokal, melainkan sudah mendunia dengan peduli pada isu-isu global seperti
isu jender, demokrasi, hak asasi manusia, hak-hak binatang, dan demokrasi.
Kita tahu ada sebuah produsen alat kecantikan yang menentang penggunaan
binatang sebagai kelinci percobaan sebuah produk baru.
Mereka ini sudah berlaku independen dan profesional. Mereka tidak
berusaha mendekati penguasa untuk mendapatkan privilese. Mereka tidak
membuang limbah sebelum diolah. Mereka mengembangkan sumber daya
manusianya dengan memberikan pendidikan dengan tujuan meningkatkan
kemanusiaan karyawannya. Mereka ini memiliki kepedulian yang tinggi kepada
karyawannya. Karyawan tidak dipandang semata-mata sebagai alat meraup
profit dan meningkatkan produktivitas semata.
Berkaca pada kenyataan keseharian yang kita alami, mungkin kita harus
bisa menerima kenyataan bahwa di mana-mana kita bisa temukan kapitalis
buas dengan amat mudah. Masyarakat luas telah menjadi korbannya karena
sebagai pelanggan sering kali tertipu. Sebaliknya, amat sedikit kapitalis
spiritual kita temukan di kehidupan nyata yang semakin lama semakin berat
tantangannya, dan permasalahannya pun semakin kompleks.
Gerakan Muhammadiyah
Dengan melihat ke belakang untuk menggali kaitan antara spiritualitas
dan kebangkitan ekonomi itu, seorang panelis lainnya menunjuk pada sejarah
pergerakan Islam ketika pada awal abad ke-19 terjadi reformasi Islam.
Ketika itu gerakan ekonomi Muhammadiyah yang diawali dari isu sentral
pemurnian agama dipelopori oleh kaum pedagang Laweyan (Solo) dan
Pekajangan (Pekalongan) yang melahirkan rasionalitas Islam. Mereka tidak
mau kompromi dengan budaya lokal atau beragam ritual lokal dan sebagainya.
Semua kegiatan ritual yang dianggap membuang uang karena harus mengadakan
berbagai upacara, ditransformasikan menjadi kegiatan yang lebih produktif
berupa aktivitas sosial.
Jadi, surplus ekonomi para pedagang Muhammadiyah itu tidak digunakan
untuk mengadakan selamatan atau untuk mendoakan orang yang sudah
meninggalseperti tradisi semula, melainkan digunakan untuk membangun
sekolah, rumah yatim, dan pelayanan kesehatan.
Itulah sumbangan terbesar dari gerakan purifikasi Islam, yaitu ketika
biaya ritual konsumtif beralih menjadi sebuah gerakan sosial yang
produktif. Orang-orang Muhammadiyah dikenal mempunyai etos yang tinggi,
pekerja keras, dan hemat.
Akan tetapi, kemajuan yang dicapai Muhammadiyah itu bukannya tidak
membawa implikasi. Menyaksikan kiprah orang-orang Muhammadiyah yang
dianggap lebih profesional, pemerintah mulai menarik mereka ke dalam
birokrasi. Orang Muhammadiyah belajar menjadi pejabat, menjadi Korpri,
bukan lagi menjadi pembawa inspirasi dalam spirit kapital. Muhammadiyah
kini tinggal mewarisi.
Alhasil, kini semua kiprah sosial dalam bisnis Muhammadiyah itu,
menurut seorang panelis, sudah menjadi rutinitas belaka. Jiwa
enterpreneurship hilang.
Apa yang dikerjakan gerakan Muhammadiyah pada waktu itu merupakan salah
satu contoh konkret tentang bagaimana sebuah perusahaan bisa berkiprah
untuk membawa rahmat bagi masyarakatnya. Diingatkan, nilai-nilai apa pun,
termasuk nilai spiritualitas sekalipun, perlu atmosfer yang sesuai.
Misalnya, bagaimana sampai etos pengusaha Korea bisa mendongkrak
perkembangan ekonomi Korea sedemikian pesat, yang sering diduga itu juga
didasari ajaran konfusianisme.
Proses transendensi
Lalu, bagaimana sebenarnya spiritualitas berperan dalam bisnis? Pada
tataran spiritualitas, bisnis kita tidak bisa lagi melulu bicara profit,
transaksi, manajemen, akuntansi, atau strategi bisnis saja, tetapi kita
juga harus mampu berbicara tentang pelayanan, pengembangan komunitas,
martabat manusia, tanggung jawab sosial, preservasi lingkungan hidup,
keadilan, kebenaran, ibadah, cinta, bahkan tentang kemuliaan Tuhan.
Spiritualitas ini tidak muncul secara otomatis, tetapi berproses
melalui proses-proses transendensi, yaitu olah pikir dalam batin atau
kontemplasi yang mendalam dan sistematik sehingga akhirnya berkarakter
spiritual, kental dengan nilai-nilai religius, dan sarat dengan pengalaman
rohani. Transendensi berarti proses melampaui (to transcend). Yang
dilampaui adalah hal-hal biasa, hal-hal yang umum, batas-batas normal.
Proses transendensi terjadi ketika kita bisa mengatakan, "cangkir
adalah alat untuk memuliakan tamu" daripada sekadar berpikir "alat untuk
minum". Kita masih bisa mengatakan lagi, "cangkir adalah perkakas budaya
maju, dengan cangkir kita menerima limpahan karunia Tuhan, minum dengan
cangkir membuat kita lebih bermartabat", dan seterusnya.
Dalam konteks berbisnis, dengan cara sama kita bisa mengatakan,
berbisnis adalah lebih dari sekadar mencari uang. Namun, bisa kita
katakan, berbisnis adalah cara untuk memakmurkan bangsa, mengangkat harkat
dan derajat karyawan, memerangi kemiskinan, mendistribusikan kebaikan, dan
sebagainya.
Jika semua itu telah berproses, terbentuklah spiritualitas bisnis. Dari
yang duniawi bergeser ke spiritual, dari monodimensi menjadi multidimensi.
Bisnis menjadi sebuah ekosistem, bukan sekadar arena persaingan dan medan
perang.
Di dalam ekosistem tidak ada yang menindas dan ditindas. Semua yang ada
dalam ekosistem saling membutuhkan dan saling melengkapi. Ekosistem selalu
mencari keseimbangan dan keberlanjutan.
Dari uraian itu, secara intuitif terasakan bahwa bisnis dengan
spiritualitas yang kental akan lebih sukses dibandingkan bila tanpa
spiritualitas. Dua profesor dari Stanford University, James C Collins dan
Jerry I Porras, menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan berusia panjang
dan sangat sukses, yang ditandai dengan menjadi pemimpin pasar tingkat
dunia, ternyata diwarnai oleh sejumlah karakter yang bersifat spiritual.
Perusahaan yang mereka teliti termasuk 3M, American Express, Merck,
Hewlett-Packard, Wal-Mart, dan Walt Disney.
Di antara perusahaan-perusahaan itu memunculkan nilai-nilai spiritual
dalam nilai-nilai perusahaan yang dianutnya. Misalnya: Strong Culture:
True Believer on Idealistic ValuesBudaya yang kuat, keyakinan kuat pada
nilai-nilai ideal, atau Walt Disney dengan to make people
happymembahagiakan orang.
Menuju ke spiritual bisnis di tengah suasana gerah bangsa ini jelas
tidak mudah dan mungkin tujuan menjadi sering terdistorsi. Seorang panelis
mengutip sebuah seminar di "negeri impian" yang pembicaranya melontarkan
retorika atau bisa dikatakan permenungan.
Kutipan itu di antaranya adalah:
"Jika sukses itu bermakna, mengapa gedung-gedung kita semakin tinggi,
tetapi emosi kita semakin dangkal?",
"Jika sukses itu berarti, mengapa rumah dan mobil kita semakin besar,
tetapi kebahagiaan kita semakin kecil?",
"Jika sukses itu patut dikejar, mengapa harta benda kita semakin
bertambah, tetapi kebajikan kita semakin berkurang?", dan
"Jika sukses itu anugerah, mengapa kita sudah menaklukkan angkasa luar,
tetapi hati kita semakin takluk pada kebencian dan angkara murka?"
Pertanyaan-pertanyaan itu pun dijawab Capra,
"Kita telah terlalu saintifik dan kurang intuitif",
"Kita telah terlalu matematikal dan kurang artistik",
"Kita telah terlalu maskulin dan kurang feminin", dan
"Kita telah terlalu material dan kurang spiritual."