Kompas  -  Senin, 18 September 2006

Berbisnis
Memadukan Nalar, Etika, Hati

ST SULARTO

Judul diskusi menawarkan berbagai penafsiran. Kesan itu tertangkap dari berbagai komentar saat undangan beredar. Diskusi tentang sosiologi agama, tentang advokasi bagi pengusaha agar tidak serakah, tentang realisasi semangat keberagamaan, atau tentang tanggung jawab sosial perusahaan?

Komentar seorang calon pembicara, "Jangan saya. Saya bukan pengusaha yang saleh. Urusan bisnis dan urusan surga itu berbeda."

Panitia penyelenggara, Majelis Buddayana Indonesia dan Harian Kompas, tidak ingin membuat teka-teki silang. Bola dilempar dengan sengaja agar memancing perdebatan, menemukan kesamaan persepsi, dan membangun niat bersama.

Sedikitnya pengusaha yang hadir—disesalkan oleh Sulastomo, Koordinator Gerakan Lurus—sempat membuat cemas. Cemas atas kondisi sikap tak mau tahu, apatis, atau bahkan semua terhenti dalam ruang wacana. Tidak ada pembalikan, tak ada pertobatan, sehingga sia-sia.

Rasa cemas terobati ketika moderator diskusi, Djisman Simanjuntak, menggarisbawahi pernyataan Jakob Oetama, pertemuan setengah hari itu hendaknya awal sesuatu yang besar. Hendaknya kricikan menjadi grojokan. Maksudnya, yang kecil diharapkan berkembang jadi besar.

Rasa cemas juga surut ketika seorang panelis memberi harapan tentang keterlibatan pelaku bisnis dalam proses demokratisasi. "Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak boleh hanya didominasi pemerintah dengan regulasinya dan LSM dengan advokasinya. Menyangkut kesejahteraan sebuah bangsa, masyarakat bisnis harus diikutsertakan di dalamnya," kata seorang panelis, yang juga seorang pengusaha sukses.

Masyarakat bisnis sebaiknya didudukkan seimbang dengan institusi sipil dan pemerintahan.

Diskusi sehari itu sekadar tendangan pertama. Diskusi semacam itu perlu terus dilakukan. Kricikan air hendaknya jadi grojokan. Pembicaraan dengan peserta terbatas itu diharapkan menjadi awal dari pertemuan- pertemuan berikutnya, yang pada gilirannya menjadi sebuah gerakan.

Salah satu cara di antaranya dengan mendorong masyarakat bisnis melakukan self transformation dengan cara membangun perusahaan secara benar dan ideal. Masyarakat bisnis tidak hanya mengejar kesejahteraan materi, tetapi juga kesejahteraan sosial dan spiritual, hidup harmonis dengan lingkungan sesuai prinsip saling ketergantungan.

Berbisnis tidak sekadar mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, melainkan menyatukan nalar, etika, dan hati.

Panggung masyarakat bisnis

Pemikir Inggris, Anthony Giddens, di antaranya, mengingatkan, reformasi negara dan pemerintah harus menjadi prinsip dasar politik Jalan Ketiga. Untuk itu, perlu dibentuk kemitraan antara pemerintah dengan agen-agen lain dalam masyarakat madani, dalam hal ini lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat bisnis.

Pemikiran third way (jalan ketiga) Giddens memang tidak "meledak", terkesan "kurang laku". Tetapi, tidak berarti tak ada yang menangkapnya sebagai penguatan atas keyakinan reflektifnya selama ini.

Dalam konteks demokratisasi, Jakob Oetama, misalnya, mengingatkan perlunya "menyapa" masyarakat bisnis. Media seharusnya dan sudah saatnya memberi panggung pada masyarakat bisnis, seperti halnya sudah dilakukan terhadap birokrasi dan masyarakat warga.

Mengapa masyarakat bisnis? Sebab ditempatkan dalam konteks demokrasi, kemajuan ekonomi merupakan salah satu tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Ukuran kemajuan ekonomi itu jelas terukur. Ada semacam sikap yang rasional, yang teratur, yang ulet, yang produktif (pidato pada Koentjaraningrat Memorial Lecture I, 15/9/04).

Adalah sebuah buku bunga rampai kumpulan makalah hasil penelitian berjudul Culture Matters. How values shape human progress (2000) yang disunting Samuel P Huntington dan Lawrenge Harrison. Makalah-makalah itu sebelum dibukukan telah dibahas dalam sebuah seminar serius di Universitas Harvard.

Salah satu makalah menyampaikan data konkret dari lapangan. Ghana dan Korea Selatan (Korsel) pada tahun 1960-an menduduki tingkat perkembangan ekonomi yang sama. Tiga puluh tahun kemudian, bisa disaksikan perbedaan kemajuan kesejahteraan bangsa di antara kedua negara itu.

Korsel berkembang sepuluh kali lipat. Tumbuh menjadi negara industri raksasa, ekonomi terbesar nomor 14 di dunia. Karena apa? Karena culture matters. Ghana berkembang dalam kultur statis (static culture), sebaliknya Korsel dengan kultur progresif (progressive culture), meminjam istilah Lawrenge Harrison dalam artikel buku yang disuntingnya bersama Huntington itu.

Kultur progresif yang dihidupi Korsel, di antaranya, memiliki unsur orientasi ke masa depan, hemat, kerja tuntas, pendidikan, penghargaan prestasi, dan penegakan hukum. Unsur-unsur itu berlaku sebaliknya dalam kultur statis.

Relevansi dengan kita, Indonesia, rendah hati itulah kultur kita, kultur Timur yang pernah dibesar-besarkan sebagai penghambat walaupun pernah diangkat sebagai amat positif dalam Asian Culture oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Kita, bangsa Indonesia secara keseluruhan sebagai kelompok budaya, justru seolah makin tersaruk-saruk dalam keterbelakangan—cermin dari budaya statis—boleh dikata mirip Ghana.

Iklim yang kondusif

Dalam konteks makro di atas, utamanya mengingatkan peranan masyarakat bisnis, topik yang disorot dari berbagai dimensi —dari sisi agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu—seminar ini ibarat gayung bersambut. Lebih jauh lagi yang disasar sebenarnya roh atau spirit agama-agama. Mengintegrasikan pendekatan spiritual—terwujud dalam faktor-faktor budaya progresif—dengan bisnis tidak hanya membuat perusahaan maju, tetapi juga menjadi industri terbaik di bidangnya.

Agama-agama, selain membawakan nilai-nilai keabadian (perennial), juga menawarkan nilai- nilai yang dari sisi pandang agama dinilai sementara, di antaranya kesejahteraan fisik, lebih konkret lagi kemajuan ekonomi.

Penafsiran kebijakan "hidup sekadar mampir ngombe" (istirahat sejenak) perlu dibongkar menjadi bermakna positif-progresif. Budaya unggul dalam arti menghasilkan kinerja terbaik, dari sisi finansial maupun cara, menjadi cara kerja yang terus dikejar, yang antara lain disemangati hidup keberagamaan.

Kemajuan Korsel yang diidentikkan berkat konfusianisme terjadi oleh karena kondisi masyarakat-negara yang kondusif. Pemerintah Korsel melakukan perencanaan industri yang berjangka panjang, dan dilaksanakan secara konsisten. Iklim yang berkembang menyuburkan etik konfusianisme yang paralel dengan etik Weberian di Eropa maupun samurai di Jepang.

Dan kondisi ini berbeda dengan kita, Indonesia, yang terus tersaruk-saruk dengan saling mencari kambing hitam, dan urusan perebutan kekuasaan politis. Di kita, spiritualitas agama- agama yang coba dibangkitkan tidak memperoleh iklim yang kondusif sehingga terhenti pada perkembangan sisi keabadiannya.

Seorang panelis lain menyinggung pentingnya posisi kepemimpinan sebagai bagian dari iklim yang kondusif berkembangnya nilai etik agama-agama.

Diharapkan, dalam kondisi yang kondusif itu berkembang kelompok masyarakat bisnis —konkretnya kapitalis-kapitalis —yang tidak saja berorientasi keuntungan finansial, melainkan kapitalis spiritual. Kapitalis spiritual ini berusaha ikut menciptakan dunia yang lebih baik dengan ikut serta memperjuangkan kesejahteraan, perdamaian, dan kemanusiaan.

Bisnis mereka adalah mandala spiritualitas di mana semua potensi diaktualisasikan, seluruh satya didarmakan, dan segenap darma dibaktikan untuk sesama, bangsa, dan negara.

Semangat itu tercipta lebih subur, selain oleh kondisi masyarakat juga oleh falsafah perusahaan yang menjadi pedoman, sistem, dan cara kerja perusahaan. Untuk itu, dibutuhkan satu pemimpin usaha yang bisa dijadikan role model, yang tidak hanya memberikan arahan jangka panjang, tetapi juga yang mendampingi dengan segala kesabaran, keuletan, dan ketekunan. Tanpa pemimpin yang kuat dan konsisten-berwibawa, core values walau didukung sistem dan infrastruktur lengkap tidak akan jadi perilaku yang berpola untuk seluruh karyawan.

Seminar menyinggung corporate social responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan)—moderator menyebutnya bukan tanggung jawab, tetapi kewajiban sosial—di antaranya sebagai bagian utuh dari vitalisasi spiritualitas. Dengan memahami kekayaan berfungsi sosial, di tengah semakin banyaknya "korban" globalisasi, CSR perlu memperoleh penjabaran dan realisasi yang lebih besar. Apalagi sosial-kemasyarakatan tidak langsung berpengaruh pada keberhasilan dan kepercayaan usaha, keniscayaan sebuah usaha.

Dalam konteks politik, pendekatan mengingatkan roh keberagamaan dalam dunia usaha sejalan dengan pengembangan teori-teori manajemen yang menyentuh masalah etika agama akhir-akhir ini. Itu menjadi lebih bermakna ketika masyarakat bisnis didudukkan tanpa rasa curiga dalam kesamaan pemahaman dengan dua panggung lainnya—birokrasi dan LSM.

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke