Opini
Kamis, 05 Oktober 2006
REDAKSI YTH
Menghilangkan Anak Jalanan
Jika belum diubah, diamandemen, diganti, atau dihapus, dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ada pasal yang berbunyi: "Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara negara". Kita paham bahwa negara belum mempunyai kemampuan untuk itu, tetapi bukan berarti menghapus kewajiban negara begitu saja dan bahkan, sebaliknya, menganggap mereka sampah belaka.
Pada hari Selasa siang tanggal 26 September 2006, di Metro TV disiarkan penertiban gepeng (gelandangan dan pengemis) di Kota Jambi oleh aparat ketenteraman dan ketertiban (tramtib). Mereka yang digaruk kemudian dibuang di perbatasan Jambi (kota/provinsi?). Ikut ditangkap seorang bocah lelaki yang mungkin baru berusia empat atau lima tahun, yang meskipun menangis meronta-ronta dan memanggil-manggil orangtuanya, tetap saja dimasukkan ke dalam truk dan dibawa pergi.
Apakah anak tersebut dibuang ke luar Jambi? Apakah memang dia sengaja dibiarkan mati kelaparan atau diterkam binatang buas di sana?
Pemerintah seharusnya mengakui bahwa adanya mereka menunjukkan kegagalan atau ketidakmampuan pemerintah mengayomi rakyatnya. Jangan kegagalan itu ditutupi dengan menghilangkan mereka. Jika hal seperti ini dibiarkan, mungkin saja suatu saat akan terjadi seperti yang dilakukan oleh salah satu negara di Amerika Selatan beberapa tahun lalu untuk menghilangkan anak jalanan, yaitu mereka ditembak mati oleh polisi.
Petugas tramtib memang hanya melakukan tugas, tetapi seharusnya tidak seperti robot yang tidak mempunyai hati nurani. Apakah para petugas tramtib tidak mempunyai anak? Mengapa anak itu tidak dikembalikan saja kepada orangtuanya atau ditangkap bersama orangtuanya? Kepada yang peduli, tolong telusuri nasib anak tersebut. Jack A Pellondou Jalan Menteng II, Lagoa, Jakarta


Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke