My own experienced too!!!
 
Thnk's & Rgrds,
 
Tristina
MG Sport & Music
 


For all parents....

Akibat Orangtua Berlidah Tajam dan Kejam ...

Ada kalanya orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata yang kejam memiliki kekuatan lebih hebat ketimbang palu godam sekalipun.

Kendalikan ucapan Anda, bila tak ingin anak-anak mengalami luka batin

hingga memengaruhi perkembangan mereka.
Dari penampilan fisiknya, Rudy adalah pria yang sangat menarik. Tubuhnya

atletis, wajahnya tampan dengan rambut hitam lebat.

Dengan profesinya sebagai dokter dan mapan secara ekonomi, sempurnalah

pria 46 tahun ini sebagai sosok idaman.

Namun, di balik gambaran ideal itu, Rudy memiliki kekurangan yang sangat
besar. Setiap kali berbicara, yang keluar hanya suara sangat lirih,
sehingga pasien maupun lawan bicaranya sering kesulitan untuk

mendengarkan ucapannya.

"Saya sangat sensitif terhadap kata-kata orang lain. Saya selalu
berpikir bahwa setiap orang pasti menertawakan saya.
Sepertinya istri
saya selalu mengejek saya, begitu juga pasien saya. Pada tengah malam

saya selalu terbangun, lalu merenungkan setiap kata yang diucapkan
orang-orang hari itu kepada saya," cerita Rudy, yang sempat mengira
dirinya sakit jiwa.

Ketika ditelusuri, di masa kecilnya ia selalu menjadi bahan ledekan atau
ejekan ayahnya. Tanpa disadari oleh sang ayah, Rudy kecil memendam rasa
malu yang luar biasa. Tak lain karena ia merasakan bahwa ledekan atau
ejekan-ejekan sang ayah merupakan suatu hinaan.

Ayah sering menyebut saya 'si cacing' karena tubuh saya sangat kurus.
Dia juga sering berkata bahwa saya bukan anaknya, melainkan anak yang
dipungut dari tempat sampah," kisah Rudy memelas.

Dalam hati kecil Rudy sangat membenci ayahnya, sekaligus membenci
dirinya sendiri karena merasa begitu buruk dan tak berguna. "Cacing dan

tempat sampah adalah dua hal yang sama-sama menjijikkan," tambah Rudy
yang sedang menjalani terapi ini.

Kekerasan Verbal

Boleh jadi orangtua yang menyebut anaknya "Si Goblok" atau "Si Biang
Kerok" atau Si "Pengacau" atau "Si Lelet" dan sejenisnya menganggap
semua itu sebagai hal biasa saja. Bahkan, julukan semacam itu mungkin
diberikan dengan harapan anak yang bersangkutan menyadari kekurangannya.
Mungkin Anda tak pernah membayangan bahwa julukan buruk, sebutan
negatif, komentar melecehkan, kritik yang bernada menghina, dan ungkapan

yang merendahkan itu memberikan pesan yang luar biasa negatif kepada anak-anak tentang siapa diri mereka.

Banyak anak yang mengalami kekerasan secara verbal (menggunakan

kata-kata) menyangkut penampilan fisik mereka, kecerdasan, kemampuan,
hingga nilai mereka sebagai manusia.
Menurut DR. Susan Forward dalam bukunya ToxicParents, kekerasan secara
verbal disampaikan melalui dua gaya. Yang pertama menyerang anak secara
langsung, terbuka, dan secara jahat merendahkan si anak.
Contohnya adalah memberikan julukan-julukan seperti yang disebutkan di
atas, termasuk menyebut si anak "tak berguna" atau yang paling keras
adalah menyatakan "menyesal telah melahirkannya."
Semua, itu memiliki dampak jangka panjang terhadap perasaan anak, dan
memengaruhi citra diri mereka.

Kekerasan verbal juga bisa disampaikan secara tidak langsung, tetapi

sangat menghina dan melecehkan mereka. Seringkali orangtua membungkus
kekejamannya itu dengan nada humor atau canda yang sarkastis.
Contohnya, "Lihat tuh kelakuan si jelek dia kan dipungut dari rumah
sakit, Kalau anak Mama Papa nggak kayak gitu deh...."

Dan jika si anak atau anggota keluarga lain memprotesnya, orangtua akan
membela diri dengan berkata, Ah, 'kan Cuma bercanda."
Orangtua semacam ini lupa bahwa anak-anak sangat mempercayai apa yang
diucapkan oleh orangtuanya.
Jika orangtua bilang si anak jelek dan bodoh, ia percaya dirinya
betul-betul jelek dan bodoh.
Karena itu, tidak mudah bagi mereka jika diharapkan mampu membedakan
apakah ucapan ayah/ibunya itu serius atau hanya bercanda.

 

Maksudnya Baik?


Semua orang maklum bahwa kadang-kadang kita sebagai orangtua merasakan jengkel, kecewa, bahkan marah terhadap anak. Kalau mengikuti lirik lagu grup band Serieus: orangtua juga manusia, ayah juga manusia, ibu juga manusia.
Kadang-kadang anak-anak memang sulit diatur, suka berbuat sesuka hati,
mengotori rumah tanpa henti, prestasi di sekolah kurang bagus, maunya
bermain melulu, kadang berantem, ada yang mulal belajar bohong, kamar
tidurnya berantakan, dan sebagainya.
Ditambah dengan beban pekerjaan dan urusan-urusan lain yang berat, semua
perilaku anak itu kadang membuat orangtua tidak tahan.
Ada saja orangtua yang memilih kekerasan verbal terhadap anak-anak
dengan tujuan mendidik, dilandasi oleh maksud yang baik. Mungkin mereka
tidak tahu bahwa tak akan pernah ada hasil yang baik jika proses untuk

mencapai tujuan itu tidak baik.

Maksud dan tujuan baik hanya akan terwujud baik jika dilakukan dengan
cara-cara yang baik pula.
Kekerasan fisik maupun verbal, bukanlah cara yang tepat dalam mendidik
anak, kata DR. Forward. Ia bahkan menyebut "kejam", jika ada orangtua
yang tahu bahwa anak-anak sangat percaya pada ucapannya, tetapi tetap
mengucapkan hal-hal yang dapat melukai perasaan anak.
Bagaimanapun, anak juga manusia, punya rasa punya hati. Ucapan-ucapan
bernada menghina dan merendahkan itu akan direkam dalam pita memori
anak, makin lama makin bertambah dan dirasa berat, sehingga akhirnya
anak memiliki citra diri negatif.
Mengganggu Perkembangan Citra diri yang negatif itu di kemudian hari menyebabkan anak tidak mampu tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Anak akan memiliki rasa malu yang kuat, bersikap ragu-ragu, dan lebih suka menarik diri dari pergaulan.
Seperti yang terjadi pada Rudy di atas. Meskipun sudah bisa membuktikan
dirinya sebagai dokter dan dapat menghidupi keluarganya secara baik, ia tetap tidak percaya diri dan menyimpan perasaan malu luar biasa.
Pada anak yang lain, citra diri negatif tersebut bahkan dapat membentuknya tumbuh sebagai pribadi pemberontak, kasar, bodoh, jorok, lamban, pengacau, dan sebagainya.

Pendek kata, anak akan menampilkan diri sesuai dengan julukan yang
diberikan kepadanya oleh orangtua. Anak-anak itu sangat percaya pada
ucapan yang berkali-kali keluar dari mulut ayah ibu mereka.
Dengan kata lain, jika kita sebagai orangtua mengharapkan anak-anak
tumbuh sebagai pribadi yang baik, sehat, cerdas, berbudi luhur tentu
kata-kata, sikap, dan perilaku kita pun harus sesuai dengan harapan
tersebut.

Jika orangtua menampilkan diri sebaliknya, perkembangan anak-anak pun
akan terganggu, tidak sesuai dengan harapan. Tidak mungkin kambing
beranak kuda, bukan? Mari kita jaga lidah kita.

Daftar Ucapan Kejam

1.     Memberikan julukan negatif kepada anak misalnya Si Dungu, Si Goblok,Si Lelet, Si Biang Kerok, Si Pemalas, Si Pengacau, Si Penipu dansebagainya

2.     Mengecilkan arti si anak misalnya orangtua menyebut anak sebagai tak berguna atau percuma dilahirkan

3.     Memberikan kesan bahwa si anak tidak diharapkan misalnya dengan menyebutnya sebagai anak pungut atau diambil dari rumah sakit atau diambil dari tempat sampah atau menyatakan, "Nggak mungkin anak Papa-Mama," dan sebagainya.

4.     Menganggap anak sebagai sumber kesialan dengan berkata, "menyesal sudah melahirkan."

5.     Melecehkan kemampuan anak seperti, "Ah mana mungkin ia bisa," atau "Sudahlah kamu ngerti apa?" atau "Aku jamin kamu pasti gagal..." Kadang juga lebih halus, "Pengen deh lihat kamu berhasil tapi itu mustahil."

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke