Jam 4 pagi kami bangun, dan langsung melakukan meditasi cinta kasih. Pada awalnya, kami sepertinya cukup mendalam sampai pada dimana, tiba-tiba lagu-nya tersendat-sendat, seperti kaset kusut, sehingga buyarlah pula, konsentrasinya. Sebelumnya saya mau minta maaf karena mungkin terlalu banyak kritik. Setelah itu kami lanjutkan dengan ngondro. Ada yang karena tidak ikut sesi ini, tapi menjadi bodhisattva dalam membantu menyiapkan makanan. Dan kita juga kedatangan koki dari Singapur, jadi ternyata biaya yang kita keluarkan untuk semua fasilitas dan makanannya sudah termasuk sangat murah.
Kami melakukan ngondro, namaskara sebanyak 108 kali. Dalam menghitung jumlah yang cukup banyak tersebut dan ditambah perlu ada nya visualisasi dan pelafalan sekaligus tindakan, maka saya menggunakan HP sebagai alat bantu. Jadi 1x namaskara sama dengan 1 karakter seperti kita mengetik SMS, jadi kita sudah tidak pusing dengan hitung-hitungannya lagi. Pada awalnya saya pikir ini untuk yang pertama kalinya dan mungkin saya tidak akan sanggup, tapi entah kenapa, ditengah-tengah, saya bisa mendapatkan entah tenaga dari mana, ibarat batere HP baru penuh, tiba-tiba saya bisa merasa segar kembali dan semangat sekali dan bisa terus-terusan melanjutkan sampai target yang telah ditetapkan itu, dan saya merasakan hal tersebut sebanyak 3x, dan karena itu pulalah, saya tidak merasakan lelah, setelah melakukan namaskara sebanyak itu. Setelah itu, kami lanjutkan dengan sarapan pagi.
Jam 7:30 kami mulai dengan meditasi jalan, kemudian mulai dari jam 8, meditasi duduk selama 1 jam, kemudian meditasi jalan lagi 1 jam, dan selang-seling begitu seterusnya sampai jam makan siang. Meditasi yang kami lakukan dasarnya adalah Latihan Hidup Berkesadaran. Dari sini pula saya baru bisa merasakan teori relativitas Einstein, kenapa pada saat tidur, 6 jam terasa cepat sekali, tetapi pada saat meditasi, berasanya sudah 1 jam lebih, tapi ternyata ½ jam saja belum sampai. Tapi cukup banyak juga pengalaman yang didapat pada saat meditasi.
Selama ini, pada saat meditasi, waktu eling jauh lebih sedikit daripada waktu melayang-layang, tapi pada meditasi kali ini ada kemajuan, terutama pada saat kaki sakit, ternyata itu sangat membantu sekali untuk bisa tetap sadar. Yang saya lakukan pada saat mengamati kaki yang sakit adalah ibarat mengangkat dan menunjukan sebuah bola dan mengatakan ini loh, bola, jadi seperti itu pula, saya mengamati rasa sakit tersebut, bukan mengatakan aku atau kakiku sakit tapi hanya ini dia loh, sakit dan kemudian tidak bereaksi, dan aneh bin ajaib, rasa sakit itu pun hilang, walaupun tidak lama, muncul lagi dengan rasa sakit yang lebih besar, tapi ternyata cara mengamati seperti ini cukup efektif untuk bisa duduk dalam waktu yang lumayan lama (menurut saya dan bagi saya). Begitu pula pada saat meditasi jalan, sambil menyadari makhluk-makhluk kecil yang ada disekitar agar tidak terinjak, saya pun mencoba menyadari setiap gerak langkah, dan bereksperimen dengan berjalan dibanyak tempat, dari keramik yang datar (terasa dingin), keramik yang ada coraknya, karpet (terasa gelombang-gelombang kecilnya, dan setiap menginjaknya, akan terdengar bunyi-bunyi kecil) dan tikar yang terasa halus dan berbulu, dari setiap rasa, kontak dilantai itu saya jadikan lonceng kesadaran untuk terus menapak.
Mendekati jam 12, perut mulai memanggil-manggil dan belum ada tanda-tanda bahwa makanan sedang disiapkan sampai terdengar berita bahwa makanan sedang dibeli, mungkin akan agak telat karena pada bulan suci Ramadhan ini, memang agak sulit untuk mencari makanan untuk mereka yang tidak menjalankan puasa. Akhirnya jam makan siang, diganti dengan sesi meditasi sampai sekitar 45 menit, baru terdengar, piring-piring disiapkan.
Akhirnya kami pun makan, ala kadarnya. Makan kami lakukan dengan hening. Kami awali dengan membaca Makan dengan hening dan perenungan, sayangnya awal dari perenungan terasa kurang khidmat, karena ada yang menjadi lonceng kesabaran buat kita semua, dengan cara bacanya yang unik, saya sendiri tidak sanggup menahan tawa. Kita mulai dengan menyadari bahwa makanan ini, walaupun hanya terdiri dari nasi, sayur nangka dan telur, tetap saja terdapat begitu banyak penderitaan dan kerja keras, mulai dari petani yang menanam sampai berbulan-bulan, mereka yang mengantar sampai ke pabrik, untuk diolah, orang yang memasaknya, dan salah satu bodhisattva yang adalah dari kami, yang rela mengorbankan latihannya dan pergi keluar mencari demi untuk makan siang kita semua, dan panitia yang sudah mendatangkan koki dari Singapur dan berkolaborasi dengan koki Indonesia, sehingga bisa terbentuk sepiring nasi didepan ini. Belum lagi makhluk-makhluk yang mati dalam proses tersebut. Dan mereka-mereka yang sedang kelaparan, yang bisa saja untuk sepiring makanan yang (menurut saya) sederhana apabila dibandingkan dengan makanan saya sehari-hari, bisa saling membunuh. Ini membuat saya sangat menghargai makanan yang sederhana tapi terasa begitu nikmat, karena pikiran dan tubuh saya benar-benar sedang melakukan aktifitas makan. Setelah itu saya (sesuai jadwal) istirahat sampai jam 2, baru kembali melanjutkan meditasi. Saya sendiri sempat kebablasan dan keterusan beberapa menit, karena rasa malas, sampai baru akhirnya sadar, akan untuk apa sebenernarnya saya disini. Dan saya pun melanjutkan seperti tadi sesi pagi, 1 jam meditasi jalan, 1 jam meditasi duduk dan sebaliknya. Ditengah-tengah meditasi saya punya teman Sangha, yang saya panggil teman kecil yang terus membantu saya untuk terus sadar. Karena si teman kecil terus hinggap di rambut, hidung, mulut, mata, telinga. Kadang ada muncul perasaan geli, muncul juga perasaan jijik, perasaan takut, perasaan gatal tapi si teman kecil berhasil membantu saya untuk tetap sadar pada semua perasaan-perasaan tersebut, tapi tidak bereaksi terhadapnya, saya sendiri sangat berterima kasih pada teman kecil tersebut, si lalat. Oleh karena itu, sangatlah dianjurkan untuk bermeditasi di tempat yang banyak lalat untuk membantu kesadaran anda agar bisa berkesinambungan. :D
Menjelang jam-jam terakhir, saya terus berkata pada diri sendiri bahwa, hari latihan saya sudah hampir selesai, maka saya harus memanfaatkan sisa waktu ini secara sebaik-baiknya, tapi sayangnya justru di saat-saat menjelang akhir, rasa sakit perut lebih dominant, sedangkan kalau hanya sekadar diamati, takut kebablasan, jadi terpaksa ditahan, sampai waktu selesai. Selesai meditasi, maka, kami dibebaskan, ada yang ngobrol, ada yang istirahat, mandi, dan saya sendiri melanjutkan meditasi di WC hahaha.
Sekitar jam 7 malam, kami kumpul kembali, dan disuguhkan dengan film jalan Bodhisatva, yang menjelaskan esensi-esensi ajaran Buddha, dan ketiga tradisi, kemudian dilanjutkan dengan video tentang pembunuhan hewan, seperti anjing laut, singa laut, lumba-lumba, paus yang penangkapan dan pembunuhannya dengan teknologi yang cukup maju, ada juga sapi yang setelah dipotong, dibiarkan hingga kehabisan darah dan mati, kemudian ayam, yang setelah dipenggal kepalanya, ternyata badannya masih bisa bergerak dan terlihat sangat kesakitan sekali, padahal kalau manusia setelah dipenggal kepalanya, seharusnya sudah tidak bergerak lagi, dan jadilah semua itu, makanan yang terlihat enak, yang kita makan di restoran, ada juga tentang kera, yang masih hidup, kemudian disuguhkan kepada pelanggannya, dan dijadikan semacam hiburan untuk pelanggan, dimana, pelanggan diberi palu, untuk mengetok mati sendiri kera tersebut, setelah kera tersebut mati, kemudian, dibelah kepalanya, dan diambil otaknya yang masih berdarah-darah tersebut, dan lucunya lagi, pelanggan tersebut mampu untuk makan dengan begitu nikmatnya, dan sebenarnya masih banyak lagi. Setelah melihat semua itu, kemudian saya teringat sebuah buku dari agama lain, Heaven is so real dan kalau ini Hell is so real. Diluar dari konteks ini karma buruk atau bukan, dosa (dalam pengertian agama lain) atau bukan, tidak ada rasa kasihan sama sekali, si pelaku bahkan terlihat sangat menikmati hal-hal yang dilakukan itu, sehingga yang terekspos dan secara tidak sadar sudah tertanam jiwa kejam dalam diri si pelaku. Setelah itu kami lanjut dengan menonton film Im not stupid.
Ditengah-tengah, ada tim dari Jakarta yang menyusul, yang menurut saya sangat sayang sekali karena mereka tidak ikut justru bagian yang lebih penting dimana tujuan kita disini bagi saya adalah retret 1 hari. Mereka datang dengan membawa es krim 1 M (baca: ember), dan juga kita kedatangan kawan kecil, yang merupakan lonceng kesabaran buat kita semua, terutama pada saat perenungan dan esok harinya.
Terakhir, kami melanjutkan dengan perenungan sambil merayakan 1 tahun LPD (Lembaga Pelayanan Dharmajala). Sambil menyalakan lilin, kita mengingat kembali tekad yang telah kita buat 2 bulan yang lalu, apakah kita sudah menjalankan tekad tersebut, ada juga sambil menyanyikan lagu yang hampir sama dengan Mindfulness 2 bulan yang lalu. Walaupun ada gangguan-gangguan kecil, saya sendiri sempat mereview, akan seperti apa saya ini apabila tidak masuk dalam Dharmajala ini. Saya sendiri sudah lama tahu tentang Dharmajala, dan sudah kenal (bertemu) dengan Ko Jimmy cukup lama, mungkin karena karma belum sampai (lebih dikarenakan malas sih), sehingga belum sempat untuk tahu lebih jauh tentang Dharmajala. Sebelumnya saya beranggapan bahwa meditasi itu yah, harus duduk diam, itu minimal sebagai fondasi. Tapi saya adalah orang yang tidak bisa diam, dan tidak akan tahan apabila disuruh duduk berjam-jam, lebih enak tidur, atau menonton televise, atau denger musik, oleh karena itu, saya sempat membuang jauh-jauh pikiran untuk meditasi, apalagi langsung terjun ke yang tradisional, dimana bisa berhari-hari kita melakukan meditasi. Tapi masih ingat pada saat retret pertama, selang antara meditasi duduk dan jalan, hanya setengah jam, sehingga pas sekali untuk pemula seperti saya, dan uniknya, ada sesi DBD (Dengar, Baca, Diskusi) yang belum pernah saya dengar sebelumnya, alternative meditasi jenis ini, meditasi senyum, meditasi peluk, yang membuat retret pemula tersebut sangat variatif, ditambah lagi presentasi tentang SEB, yang makin membuka mata saya. Apabila tidak ikut dalam retret, mungkin saya yang sekarang, masih adalah saya yang dulu, penuh dengan kongtai, tapi juga penuh dengan emosi, seperti bom waktu yang siap meledak setiap saat, dan kalau sudah meledak, itu bisa berlangsung berhari-hari, dan mungkin juga semakin hari, semakin parah. Walaupun pada saat itu, saya tahu, bahwa ada yang salah dalam diri saya, bahwa marah tidaklah benar, marah tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru memperburuknya, bahkan sampai sempat terbayang, apabila pada saat itu, saya tersenyum dan bukannya marah, mungkin keadaan akan berbeda tapi tetap saja, begitu kondisinya kena maka emosi kembali, dan setelah berhari-hari baru kemudian menyesal, kenapa waktu itu seperti itu, atau seperti ini.
Perubahan-perubahan dalam diri saya cukup signifikan setelah mengenal Dharmajala, walaupun belum total, dan masih cukup sering juga kebablasan, minimal sekarang, pada saat marah tersebut muncul, tidak lagi berlangsung berhari-hari, bahkan tidak sampai ½ jam (paling lama), tiba-tiba saja sadar bahwa sedang marah, dan marah tersebut saya jadikan lonceng kesadaran, yang artinya pada saat marah, saya harus kembali pada diri saya sendiri, mengamati nafas minimal 3x, kemudian mengamati rasa marah tersebut, bukan terlalu terfokus pada orang atau sesuatu kejadian yang membuat kita marah. Sudah menjadi semacam mantra saya, setiap pagi, Pada saat marah, maka itu harus jadi lonceng kesadaran buat saya itulah kalimat yang saya terus ucapkan berulang-ulang saat sebelum berangkat kerja, atau sewaktu dijalan menuju kantor. Selain itu, saya yang sempat membuang jauh-jauh pikiran untuk bermeditasi, minimal sudah mampu melewati mindfulness day ini yang mana, setiap sesi-nya berlangsung selama 1 jam, 1 jam, yang pada awalnya saya merasa itu waktu yang terlalu lama dan saya tidak akan sanggup bertahan. Setelah me-review semua hal tersebut, mampu membuat saya juga terenyuh, juga sangat berterima kasih pada Dharmajala, saya sendiri hampir meneteskan air mata bahagia karena akhirnya bisa berlatih bersama para Sangha disini, orang-orang yang mau berubah, mau belajar, berlatih, dan berbagi hidup berkesadaran bersama. Terima Kasih semua, anumodana, telah menjadi bagian dari hidup saya, dan bisa berjodoh dan bertemu dengan kalian semua sungguh suatu karma baik yang luar biasa bagi saya.
Setelah itu kamipun saling berpelukan (tentunya dengan penuh kesadaran, dan hanya pada sesame jenis) dan kemudian, foto-foto di depan kue ulang tahun Dharmajala, setelah potong kue dan memakan beberapa potong kue, kamipun beristirahat, karena waktu sudah menunjukan jam 2 pagi. Bayangkan, jam segini, masih ada yang bernafsu untuk menyantap kue, sepertinya untuk anggota Dharmajala (yang salah satunya adalah saya) perlu sesi meditasi khusus, khususnya sesi meditasi mengendalikan nafsu makan.
regards,
Yasaputra
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
