Saya setuju dengan perkataan bro/sis (saya lupa yang mana) yang mengatakan bahwa, perbuatan baik harus disertai juga dengan kebijaksanaan. Sangat tidak bijaksana sekali jika kita tetap membiarkan tikus2 itu membuat risih. Yah, untuk mengusirnya kan tidak perlu dibunuh, mungkin bisa beli perangkap tikus. Setelah tikusnya ketangkap, dibuang jauh2, gak perlu dibunuh. Tul gak?

Dari cerita ini kan kita bisa belajar bahwa untuk berbuat baik juga harus dengan kebijaksanaan. Misal, contoh tambahan, gak mungkin dong kita berdana sisir kepada bhante -> ini contoh ekstrim nih ^^
Berdana kan berbuat baik, tapi apa yang didanakan itu tidak dipilih dengan baik, tidak bijaksana.


On 10/3/06, pompadoum <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Karma adalah action, perbuatan, buah karma adalah akibat perbuatan.
Karma, bukan cuma dari kehidupan lampau, tapi juga dari 10 tahun lalu, 3 bulan lalu, sampai satu detik lalu. Kalau saya menampar muka seseorang lalu dia balas, ya jelas karma toh... baru sedetik lalu saya tampar dia, balasannya kebetulan cepat sekali.. hehehe..
 
Demikian pula kejadian yang menimpa si ibu tadi. Sangat menyedihkan memang.
Sebagai ibu yang menjaga sila, ia harus bisa melihat dan menimbang mana yang baik mana yang buruk, mana yang bisa ia tanggung, mana yang ia tidak sanggup menanggung.
Selain punya compassion, kita juga harus punya wisdom, ibarat pedang Manjushri, satu pedang punya dua sisi, satu adalah compassion, satu adalah wisdom. Tanpa compassion, wisdom akan menjadi dingin, cold, without heart. Sedangkan tanpa wisdom, compassion jadi keblinger. Susahnya bagi mahkluk yang belum suci adalah menemukan komposisi yang tepat, semana wisdom dan semana compassion yang diperlukan supaya pas....
 
Jika seseorang sudah memutuskan bulat mau menjaga sila dan sama sekali tidak mau membunuh tikus2 tsb, misalnya si ibu itu,
ia harus pula memikirkan solusi yang aman buat kesehatan dan keamanan bayinya... tidak bisa main cuek begitu saja. Kalau memang mau cuek, ya harus bersedia pula menanggung akibatnya...
 
Saya rasa agama Buddha itu sangat dewasa, tidak ada larangan untuk ini dan itu... yang ada adalah kedewasaan, jika kamu lakukan ini, maka akibatnya akan begini, jika kamu lakukan itu, maka akibatnya adalah begitu... tinggal kita yang harus pandai merenungkan baik baik untung ruginya jelek baiknya dan situasi kita, lalu memutuskan mau apa, dan jika sudah putuskan ya harus pula berani menerima buah nya...
 
Dalam hal tikus dan ibu ini, ..hal2 yang bisa dilakukan misalnya dengan tidak meninggalkan si bayi sembarangan apalagi sendirian, atau menaruh si bayi dalam tempat yang aman, yang tidak bisa dipanjat tikus.
atau mengusir tikus dengan kucing seperti saran bro Andy, atau pakai electronic rodent repeller .. (belum tentu sukses sihh)
atau menangkap tikus tersebut dengan perangkap tikus yang tidak membunuh...
 
Ohya, omong2 sebenarnya banyak pula bayi yang mati karena hewan lainnya, ada yang digigit anjing, ada yang digigit rubah, dan ini benar2 kejadian yang tak diduga. 
 
Jadi mungkin saja memang karma si bayi itu, dengan karma si ibu kebetulan cocok makanya mereka menjadi ibu dan anak..
Tragis. Tapi saya harap kejadian ini tidak membuat bro/sis jadi meragukan ajaran sang Buddha, eg ; 'Buddha tidak adil yah... masa si ibu yg sudah sangat menjaga sila kok malah anaknya dimakan tikus...' loh ??   hehehe....
 
 
 
----- Original Message -----
From: robin wiliam
Sent: Monday, October 02, 2006 11:28 AM
Subject: [Dharmajala] Tikus dan ibu yang malang

Bro Sumedho,
 
Ini adalah kisah nyata yang terjadi dichina pada tahun 2001 dan cerita ini sangat menggugah saya sehingga saya mencoba sharing bro and sis disini.
Tidak ada maksud apa2 dan terimakasih atas pendapatnya.
 
Salam dari jambi,
                                                
                                                                           Robin Williams Idris 
                                                                            Dokter Pelipur Hati




--
Salam,

€ric £anvin ^^ __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke