Opini
Senin, 09 Oktober 2006
Beijing Consensus, Mengapa Tidak?
I Wibowo
Ramai-ramai mengkritik "Washington Consensus", mengapa kita tidak saja memilih "Beijing Consensus"? Sebabnya jelas. "Washington Consensus"—sebagaimana dirumuskan oleh John Williamson—sebetulnya bukanlah konsep untuk pembangunan. Ia adalah konsep yang ditemukan oleh para bankir agar negara pengutang di Amerika Latin membayar utangnya tepat waktu.
Cuma, herannya IMF maupun Bank Dunia bersemangat memasarkan "Washington Consensus" ke seluruh dunia, seakan obat mujarab. Yang lebih mengherankan adalah bahwa konsep yang tidak dirancang untuk pembangunan dipakai oleh IMF dan Bank Dunia di mana-mana di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sebagai resep pembangunan. Tentu saja kebodohan ini harus dibayar amat mahal.
Meraba-raba batu
China tidak pernah tergiur dengan "Washington Consensus". Ia mencoba mencari jalan sendiri, menurut istilah Deng Xiaoping, "meraba-raba batu, menyeberangi sungai" (mozhe shitou, guo he). China memang tidak memberinya nama "Beijing Consensus". Adalah Joshua Coper Ramo dari The Foreign Policy Centre, Inggris, yang menciptakan istilah itu. Nama itu baru muncul pada saat Ramo merumuskannya pada tahun 2004. Sekali lagi, istilah ini tidak diciptakan oleh pemimpin China, melainkan oleh orang luar China yang mengagumi apa yang terjadi di China.
Bagaimana China bisa sampai kepada konsep itu, sulit dilacak karena China tidak mempunyai cetak biru pada awalnya. Di antara para pemimpin tertinggi waktu itu malah terjadi pertikaian, diiringi dengan gejolak sosial yang luar biasa. Masing-masing faksi menyatakan bahwa pendapatnya saja yang benar. Di dalam masyarakat muncul demonstrasi dan protes, yang kemudian meledak menjadi "Peristiwa Tian’anmen" pada tahun 1989. Pada saat itu setiap faksi saling tuding, dan setelah terjadi peristiwa berdarah itu, pemimpin China bahkan pernah sampai pada kesimpulan untuk menghentikan reformasi.
Ketika Deng Xiaoping mendobrak dengan pidato-pidatonya selama perjalanannya di China selatan pada awal tahun 1992, dia sebenarnya juga tidak mempunyai rencana yang sudah jelas. Satu-satunya yang jelas adalah bahwa China harus mencapai taraf xiaokang (hidup pantas) yang diukur dengan angka 1.000 dollar AS per kapita pada tahun 2000. Jiang Zemin dan Zhu Rongji berusaha keras menerjemahkan garis besar ini menjadi kebijakan-kebijakan.
Memajukan warga negara
"Beijing Consensus" berbeda dari "Washington Consensus": kalau yang disebut terakhir ini bertitik tolak dari kepentingan para bankir, yang pertama dari keprihatinan akan warga negara. Pemimpin China berusaha untuk memajukan warga negaranya yang masih ketinggalan dalam hal pembangunan. Hu Jintao melontarkan rumus: "tiga dekat" (san ge tiejin), dekat dengan realitas, dekat dengan rakyat, dan dekat dengan kehidupan. Memang akan terjadi kegoncangan dalam proses mengejar ketinggalan ini, mungkin juga terjadi instabilitas. Tugas pemerintah adalah menahan goncangan ini dan tetap menjaga stabilitas, termasuk di sini adalah stabilitas kekuasaan Partai Komunis China.
Ini tidak berarti bahwa tidak dibuka kemungkinan inisiatif dan kreativitas "dari bawah". Pemimpin China telah mempelajari bagaimana partai tunggal gagal satu demi satu (KMT di Taiwan dan PRI di Meksiko), dan tiba pada kesimpulan bahwa harus ada keseimbangan antara pembatasan-pembatasan dan inisiatif individu. Maka, sistem pasar tidak dinafikan, tetapi kecenderungan sistem pasar yang mengarah kepada chaos harus dikendalikan secara cermat. Walaupun di China di banyak aspek tampak seperti negara kapitalis, masih ditemukan "jejak-jejak" peran negara.
Hal ini berlaku juga bagaimana China menyambut globalisasi. Sudah sejak awal reformasinya China mengumumkan "keterbukaan" (kaifang), sebuah rumus yang mencerminkan keberanian China untuk memasuki globalisasi. Maka, masuklah aktor-aktor global ke China, dari IMF dan Bank Dunia, juga WTO, sampai semua MNC raksasa. China dilanda "Crazy English", anak-anak sampai orang dewasa ingin mencapai skor 600 dalam TOEFL. Mode pakaian paling mutakhir dan arsitektur Barat di garda depan, semua mendapat sambutan hangat di China.
Meski demikian, China tidak kehilangan kebudayaan dan peradaban China yang telah berumur ribuan tahun itu. "Washington Consensus" yang bertujuan menyeragamkan seluruh dunia dalam satu rumus ditepis oleh China. Jangan terkejut kalau China menghasilkan rumus: sosialisme dengan ciri khas China (you zhongguo tese de shehuizhuyi). Atau yang lebih spektakuler: ekonomi pasar sosialis (shehuizhuyi shichang jingji).
Kombinasi baru
Dengan demikian kita dapatkan beberapa kombinasi yang belum pernah ada: pasar bebas memang, tapi masih ada intervensi negara, perdagangan bebas juga, tetapi masih ada negara, privatisasi perusahaan negara tentu saja, tapi mempertahankan beberapa yang besar, investor asing diundang, tapi jangan masuk terlalu dalam, globalisasi OK, tapi tidak total. Di bidang politik, Partai Komunis China masih berdiri di atas semua, tapi memberi ruang bergerak bagi warga negara mendekati 100 persen. Dan sebagainya. Dalam "meraba-raba batu", China menemukan jalannya ke seberang dengan hasil yang spektakuler.
Memang orang mencoba memaksakan "Beijing Consensus" dalam kerangka perdebatan klasik antara "kapitalisme" dan "sosialisme". Atau, mau memasukkan dalam kerangka "Keynesianism" atau "Third Way". Tapi, orang segera menemukan bahwa usaha itu tidak mungkin dan harus mengakui, "Beijing Consensus" adalah sesuatu yang sama sekali baru. Yang sudah kandas dengan kerangka lama, mengapa tidak menoleh ke "Beijing Consensus"?
I Wibowo
Ketua Centre for Chinese Studies Universitas Indonesia


Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke