SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Pikiran Melakukan Semua

Otak kita memproses berbagai data dan informasi, baik secara sadar maupun
tak sadar. Dalam dinamika hidupnya, manusia mewujudnyatakan olahan ingatan
otak yang telah berproses sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
kebutuhan. [Pembaruan/YC Kurniantoro]

ahukah Anda, di mana letak kekuatan utama manusia? Betul, pada pikiran.
Otak kita memproses berbagai data dan informasi, baik secara sadar maupun
tak sadar. Sadar ketika kita melakukan upaya pengumpulan informasi,
misalnya dengan membaca buku. Tak sadar ketika berbagai informasi merembes
ke dalam ruang pikiran yang terbuka dengan mengakses sumber data tanpa
batas yang terserak di area kehidupan kita.

Penampungan data dan informasi di dalam ruang pikir manusia tidak sekadar
duduk diam, mengantuk dan tidur. Jika demikian tentu saja kita tidak akan
punya pikiran pikir (kognitif), pikiran rasa (afektif), dan pikiran laku
(psikomotor/behavior). No action, no talk, no feel, nothing.

Dalam dinamika hidupnya, manusia mewujudnyatakan olahan ingatan otak yang
telah berproses sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan. Penerima
rasa dipahami berada dalam hati. Sakit hati mendorong kita menyentuh
selubung hati dan jantung yakni di sekitar dada. Kendati, kumpulan data
dan ingatan tentang segala hal berkaitan dengan stimulus sakit hati itu
ada di pikiran, di otak yang ada di dalam kepala kita. Tapi mana pernah
orang mengatakan sakit hati sambil menepuk-nepuk kepala?


Hasil Olah Pikir

Di jagad ini banyak sekali pilihan tersedia. Tinggal diambil saja sesuai
kebutuhan dan berdasarkan pertimbangan masing-masing orang. Pertimbangan
berproses di dalam otak. Mind can do everything, pikiran melakukan semua.
Baik pikiran yang terolah secara logis maupun intuitif. Perlu diketahui,
tak selamanya logika berperan baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Ingat
lagu yang dinyanyikan Vina Panduwinata beberapa masa lalu? Katanya,
asmara... tak kenal dengan logika. Pikiran memang tak hanya logika, ada
yang namanya intuisi. Kerja sama kedua faktor pikiran tersebut sering kali
menghasilkan peristiwa dan tindakan yang luar biasa, sampai-sampai kita
pun sulit mempercayainya.

Logika menekankan sistematika berpikir, intuisi mengarah pada kepekaan
bagaikan sedang istirahat berpikir, saat di pikiran tiba-tiba berkelebat
"A ha!" Seperti ketika Archimedes berteriak girang, "Eureka... eureka..."
Sering kali orang menyebutnya insting, feeling, pertanda, firasat, sense,
dan sebagainya. Salah atau benar pilihan yang kita ambil tergantung pada
proses pengambilan dan konteks setelah pilihan itu dibuat. Artinya, setiap
pilihan mengandung risiko, baik positif maupun negatif, berat ataupun
ringan. Saat manusia menanggung risiko dari pilihan-pilihannya itulah
wujud tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal-budi ditampilkan.

Dalam psikologi perilaku (behaviorism) dikenal teori stimulus-respons,
perilaku seseorang merupakan tanggapan (respons) dari rangsangan
(stimulus) yang muncul. Jika ada stimulus, maka muncullah respons.

Saat seseorang hendak merespons sebuah stimulus, terjadi proses olah pikir
yang mula-mula membuka pintu kehendak bebas manusia. Pilihlah ini, maka
risikonya begini, dan seterusnya. Faktor ingatan yang tersimpan, baik di
alam sadar (consciousness) maupun alam bawah sadar (unconsciousness)
manusia berupa partikel-partikel materi dan nonmateri.

Partikel tersebut merupakan benda-benda keras (hard), yakni segala materi
yang tampak (visible) besar- kecil, dan lunak (soft) yang meliputi
perasaan, aktivitas dan perilaku. Tersusun atas tumpukan peristiwa dari
berlapis-lapis episode, pengalaman, pengamatan dan kepekaan. Pikiran
manusia dan kekuatannya menguasai segenap partikel di sekelilingnya.

Membalas cacian dengan ribuan caci, pukulan dengan pukul-pukulan,
merupakan pilihan perilaku yang reaktif. Proses olah pikir hampir tak
memiliki ruang dan waktu di situ. Maka muncullah bentrok antarwarga,
etnis, suku, agama, dan sebagainya. Kekerasan di mana-mana, manusia
seperti kehilangan makna kemanusiaannya sendiri. Sebuah pernyataan
merupakan stimulus yang dapat memicu pertentangan apabila kurang berkenan
bagi kalangan tertentu.

Sayangnya sering kali pihak yang kurang berkenan langsung berespons tanpa
memberi jeda bagi diri sendiri untuk berpikir lebih dalam. Respons
tersebut bersifat reaktif yang mengemuka akibat dorongan impulsif.
Berbagai kepentingan diri membuat orang cenderung impulsif dan agresif.

Padahal pilihan begitu banyak, ingatan dan kepekaan begitu dalam, tapi
manusia cenderung menggunakan pikiran sekenanya. Padahal, pikiran punya
kekuatan dahsyat men-dorong munculnya perilaku.

Kecurigaan yang membabi-buta atas ucapan-ucapan seseorang, telah menutup
sebagian pintu simpanan ingatan positif di otak. Stimulus yang memperkuat
kecurigaan hanya berisi curiga, tidak terima, tolak, "dia benci saya, maka
saya harus segera me- lawannya", dan seterusnya. Apa yang orang pikirkan,
lebih-lebih jika sudah masuk dalam level obsesif, pikiran itulah yang akan
terjadi. Buktikan saja.


Kendalikan Diri

Salah satu target ketika bulan suci Ramadan tiba adalah mempertebal
pengendalian diri. Mengendalikan diri tidak makan-minum setelah imsak
hingga saat berbuka puasa, mengendalikan kemarahan, dan sebagainya.

Sesungguhnya setiap orang wajib melakukan pengendalian diri
(self-controlling) dalam berbagai kesempatan, waktu dan tempat.
Mengendalikan diri berarti melakukan apa yang benar. Tujuannya antara
lain, mengendalikan emosi, menjaga keseimbangan pikiran (pikir, rasa dan
laku), membuang cara-cara yang kurang tepat dalam interaksi sosial dan
memilih perilaku positif.

Kekuatan pikiran luar biasa penting dalam mengendalikan diri. Untuk
mengakomodasi dua kunci utama pengendalian diri, yakni mengenali diri
sendiri (know ourself) dan memilih cara yang baik (choose ourself),
diperlukan pemusatan pikiran. Proses dari kedua kunci utama itu mencakup
kepekaan, pemahaman, menelaah konsekuensi, mengevaluasi, memotivasi diri,
dan melakukan pilihan yang paling baik. Dapat disimpulkan bahwa seluruh
proses melibatkan logika dan intuisi.

Albert Ellis, salah satu pakar terapi perilaku mengembangkan metode
pengendalian diri yang cukup efektif. Teorinya disederhanakan sedemikian
rupa sehingga mudah diimplementasi setiap orang. Ada empat tahap yang
perlu dilakukan seseorang ketika ia berada dalam konflik yang membutuhkan
pertimbangan-pertimbangan dan pengendalian diri.

Pertama, pikirkan konsekuensi ketika kita memilih untuk melakukan suatu
tindakan. Katakanlah marah dan menyakiti seseorang di hadapan kita yang
telah menciptakan situasi buruk bagi kita. Bayangkan situasi yang akan
terjadi jika hal itu benar- benar kita lakukan.

Kedua, lakukan percakapan batin yang sering dikenal dengan self-talk.
Proses ini adalah upaya kita memahami apa yang tengah terjadi di dalam
pikiran kita. Mengapa kita sampai memiliki pikiran berkaitan dengan
situasi dalam hubungan kita dengan seseorang itu.

Ketiga, sentuhlah sensitivitas kita, yakni berdebat dengan diri sendiri.
Tanyakan mengapa kita harus melakukan tindakan itu, apakah orang tersebut
benar-benar salah? Debatlah keyakinan yang merusak, yang menimbulkan
prasangka buruk.

Keempat, saksikan efek dari tiga langkah sebelumnya, apakah yang terjadi?
Keajaiban dari olah pikir kita akan nyata pada akhir proses ini.

Pikiran mengendalikan diri kita berarti pikiran melakukan hampir semua hal
bagi kita. Itulah sebabnya ungkapan think positive tidak pernah pupus
termakan zaman. Setiap saat orang masih sering mendengungkannya, terutama
pada saat-saat sulit.

Pikiran para ibu rumah tangga hampir tak disadari ternyata berkekuatan
besar membuat nasi lekas basi. Silakan lakukan percobaan ini. Sediakan
berdampingan dua piring nasi yang baru matang dan dimasak dalam panci yang
sama.

Pikirkan dan katakan di hadapannya bahwa nasi di piring sebelah kiri tidak
enak, tidak putih, bau, pahit dan menjijikkan. Sebaliknya pikirkan nasi di
piring kanan sangat pulen, harum, putih dan nikmat. Nasi di piring mana
yang lebih cepat berjamur dan membusuk?

Rinny Soegiyoharto,

Psikolog, Anggota HIMPSI JAYA,Bekerja di BPK PENABUR JAKARTA



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 4/10/06



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke